
Selesai makan malam, Zion langsung berlari terbirit-birit menuju kamar tanpa berniat untuk mengobrol dengan siapapun seperti malam-malam sebelumnya.
“Kenapa dia?”
“Kebelet, kali.”
Mereka mengobrol di ruang keluarga dan bermain bersama baby Kai, setelah baby Kai mengantuk, mereka akhirnya kembali ke kamar masing-masing.
Lexa membuka pintu kamarnya, sudah ada Zion yang berbaring dengan santai.
“Lama banget sih, Beb?”
“Kamu ngapain?”
“Berbaring sambil nungguin kamu.”
Lexa mengangguk-ngangguk walau sebenarnya dia tidak mengerti.
Ya, sejak selesai makan malam, Zion langsung menuju kamar, sebab dia harus memastikan bahwa dia harus lebih dulu berada di kamar sebelum Lexa, terutama di kasur. Dia tidak ingin lagi kejadian malam sebelumnya terulang kembali. Melarang Lexa tidur duluan, dijawab iya tapi tetap saja Lexa tidur lebih dulu.
Lexa memasuki kamar mandi dan berganti baju di ruang ganti. Sedangkan Zion lagi menerka-nerka lingerie warna apa yang akan Lexa pakai malam ini.
Pintu ruang ganti terbuka ...
"Beb, kamu kok enggak pakai lingerie lagi?"
"Ah, malas aku pakai yang begituan."
"Kenapa? Kemarin malam kamu mau kok pakai yang begituan," ucap Zion mengikuti kata-kata Lexa, 'Yang begituan'.
"Ck, aku mah hanya penasaran doang, Zi, Gimana rasanya pakai lingerie."
Ck, ini nih sifat Lexa yang sering bikin Zion waswas ... rasa penasaran yang tinggi. Dulu gara-gara penasaran dengan minuman berakhohol menyebabkan Lexa meminum berbagai jenis minuman itu, walau memang harus diakui itu mendatangkan keuntungan bagi Zion. Lalu karena penasaran dengan club malam, Lexa nekat menjadikan mansion club malam KW walau hanya satu malam di saat hamil.
Sekarang? Penasaran dengan lingerie?
Ya ampun, yang benar saja ...
"Beb, sekali-sekali dong rasa penasaran kamu itu untuk hal yang lebih bermanfaat!"
"Contohnya? Lagian itu juga bermanfaat kok."
"Misalnya, aku ditambah kamu menjadi apa?"
"Ya menjadi kita, dong."
Ck, enggak ngerti kode, nih!
Entah siapa yang sebenarnya bodoh di sini. Zion langsung mendekati Lexa dan memeluk tubuh yang beraroma lavender itu.
☆☆☆
Hari ini ada pesta para pengusaha yang akan dihadiri oleh Lexa - Zion dan David cs. Meskipun Yosuke bukan seorang pengusaha, tetapi dia datang untuk mendampingi Kartika. Hannie datang bersama David dan Kenzo.
Mereka menyapa Lexa dan mengucapkan turut berduka cita atas kehilangan baby Arion. Zion menggenggam tangan Lexa, memberikan kekuatan agar Lexa tidak bersedih. Inilah yang membuat Zion enggan untuk datang ke pesta ini. Dia tidak ingin orang-orang mengingatkan Lexa akan kecelakaan itu dan baby Arion.
"Halo Zion, kita bertemu lagi," sapa Jasmine tanpa embel-embel tuan.
Lexa melihat Jasmine yang menatap Zion dengan tatapan memuja. Jasmine tersenyum menggoda dan memandang sinis pada Lexa.
CUP
Zion mengecup pipi Lexa, memamerkan kemesraan mereka pada orang-orang. Jasmine mengepalkan tangannya, menahan emosi.
"Kamu pasti Lexa, kan?"
"Tidak perlu basa-basi, apa kamu kurang update?" jasab Lexa ketus, dia tidak perlu berbasa-basi seperti yang Jasmine lakukan.
"Aku turut berduka atas kehilangan calon anak kalian. Aku tahu Zion pasti sangat sedih, kasihan sekali. Seharusnya kamu sebagai istri bisa menjaga diri, saat hamil besar seperti itu tidak perlu kemana-mana, cukup di rumah saja."
"Zion pasti menginginkan istri yang patuh, yang akan menunggunya di rumah dan menyambut kepulangannya. Bukan istri yang sibuk dengan pekerjaan dan berkumpul dengan banyak pria."
Jasmine terus saja mencecar Lexa, menyudutkan perempuan itu di hadapan orang-orang.
"Lexa istri yang sangat baik untukku. Kamu pikir jika dia tidak baik aku akan menikahinya dan bertahan dengannya hingga saat ini? Akulah yang lebih dulu mencintainya bahkan sejak kami masih kecil. Aku yang mengejar-ngejarnya dan memohon agar dia tidak meninggalkanku!"
Zion tidak malu mengakui itu di hadapan orang orang, meskipun dia seorang CEO terkenal di dunia.
"Kalian kan di jodohkan."
"Kata siapa? Kamu pikir aku orang yang bisa menerima perjodohan begitu saja tanpa berhak memilih? Jika aku dijodohkan denganmu, aku akan menolak mentah-mentah. Kamu tidak sesuai dengan seleraku."
"Aku bisa memberikanmu anak yang lucu dan tampan. Aku tahu istrimu ini sulit untuk hamil lagi, kan!"
Lexa mengepalkan tangannya, sedangkan Zion berusaha menenangkan Lexa.
"Kamu Jasmine, kan?" tanya Andre tiba-tiba.
"Benar, kamu mengenalku?" tanya Jasmine angkuh.
"Tentu saja tidak ... tapi aku mengenal Adrian."
"Adrian?"
"Iya ... "
"Oh, ini Jasminenya si Adrian?" tanya Kenzi.
Maka dimulailah gosip ala CEO yang disponsori oleh David cs dan Zion cs ...
"Iya."
"Bagaimana kabar Adrian?"
"Halah Vin, sok-sokan nanya."
"Jasmine pacarnya Adrian?"
"Bukan!"
"Terus?"
"Jasmine adiknya Adrian."
"Memang Adrian punya adik?"
"Adik ketemu gede, kali."
"Punya, tapi enggak diakui."
Jasmine mulai gelisah dan ingin meninggalkan pesta ini namun dicegah oleh Malvin.
"Gimana ceritanya?"
"Jadi dulu ibunya Adrian itu susah punya anak, lalu beliau menyuruh suaminya menikah siri agar memiliki anak. Nah si ibunya Jasmine deh yang dipilih dengan bayaran yang fantastis, tapi dengan kesepakatan begitu mereka punya anak, anak itu akan menjadi anak ibunya Adrian. Saat ibunya Jasmine hamil, ternyata ibunya Adrian juga hamil ... "
"Terus, terus?"
"Yah, biasanya istri kedua lebih unggul dong ..."
"Terus?"
"Buruan napa ceritanya, jadi penasaran!"
"Tapi ibunya Jasmine ini malah diceraikan dan anaknya ya tetap anaknya, tidak menjadi anak ibu Adrian. Apalagi istri pertama melahirkan anak laki-laki dan istri siri melahirkan anak perempuan. Jasmine diabaikan begitu saja ... "
Jasmine menunduk menahan malu.
"Like mother like daugther!"
"Ibunya jadi yang kedua lalu ditinggalkan, sekarang anaknya menawarkan diri jadi yang kedua."
"Ibu dan anak terobsesi jadi istri CEO."
Jasmine meninggalkan pesta itu dengan wajah marah dan malu.
Kartika menatap heran pada pria-pria itu, sedangkan Hannie dan Lexa saling memandang.
Mereka memang sangat kesal dengan perkataan Jasmine yang mengatakan bahwa Lexa tidak bisa hamil lagi. Juga ada dendam pribadi Samuel dan Malvin dengan Jasmine dan ibunya. Samuel dan Malvin adalah saudara sepupu (ibu mereka saudara kandung) dan masalah ini diketahui oleh Lexa dan David cs karena mereka memang berbagi suka dan duka sejak pertama kali berkenalan.
"Memang benar ya, kalau aku susah punya anak lagi?" tanya Lexa pelan. Dia sudah tidak sabar menanyakan hal ini dan tidak ingin menundanya hingga mereka sampai di mansion.
"Enggak benar, Yang. Jangan kamu dengarin perkataan kuntilanak itu. Dia sengaja manas-manasin kamu." Zion mengusap lembut tangan Lexa.
"Iya. Kamu kan tahu sendiri, mereka itu ibu dan anak memang suka merusak rumah tangga orang."
"Nanti juga kalian punya baby lagi, kok."
Kalian bohong! Aku tahu kalian bohong, karena aku mendengar sendiri dokter mengatakan itu saat aku masih di rumah sakit ...