
Di dalam bangunan yang menakutkan untuk banyak orang, seorang gadis cantik dengan perut yang mulai membesar mengelap peluh yang membasahi wajahnya. Entah sudah berapa lama dia menyikat kamar mandi dan membersihkan area lainnya, seorang diri.
Tidak ada yang peduli kalau dirinya tengah hamil. Tidak ada yang membantunya dan tidak ada juga yang menanyakan apakah dia baik-baik saja.
Selesai mengerjakan semua pekerjaan itu, dia langsung mengistirahatkan dirinya.
Para napi lain hanya melihatnya. Tidak ada satupun yang berbicara padanya. Ada yang terang-terangan menertawakan dirinya. Ada yang memandang sinis. Ada juga yang mencemooh.
Terkadang dia akan mendapatkan tamparan keras. Bukan hanya dari satu orang, tapi beberapa orang.
Sementara yang satu sedang memulai penderitaannya, di lain tempat ada yang bahagia.
Zion mendapatkan laporan dari anak buahnya mengenai Tiara.
[Buat dia lebih menderita lagi!]
Zion langsung menghapus isi pesan itu. Di hadapannya kini tengan duduk perempuan cantik yang telah merebut hatinya sejak masih kecil. Siapa lagi kalau bukan Lexa, sang istri tercinta.
Zion sangat menikmati pemandangan cantik yang ada di hadapannya kini. Lexa yang sedang menggambar bunga dan kupu-kupu, tak lupa dia juga mewarnainya.
"Zion, bagus tidak?"
"Bagus! Apapun yang kamu gambar selalu bagus."
Lexa terlihat senang akan perkataan Zion. Ekspresi Lexa itu sangat menggemaskan di mata Zion. Dia menyesali waktu yang dia lewatkan begitu saja tanpa Lexa.
☆☆☆
Seorang pria sedang disiksa habis-habisan. Darah mengucur dari hidur dan mulutnya. Pukulan dan tendangan datang bertubi-tubi di tubuhnya. Sebut saja dia pria A.
"Aku tidak mengenal kalian, kenapa kalian seperti ini?" tanya si pria A.
"Siksa terus dia. Besok kita akan membawanya ke markas besar!" ucap seorang pria yang sepertinya pemimpin diantara mereka.
Cambukan kencang langsung diterima pria A yang tidak memakai baju. Tidak hanya itu. Dia bahkan disiram dengan air garam dan cabe, menambah perih luka yang ada.
Dia pikir nasib baik menyertainya saat dia berhasil kabur dari penjara tujuh hari yang lalu. Nyatanya, dia justru bertemu beberapa orang pria yang membawanya ke suatu bangunan tua dan langsung menyiksanya. Siksaan yang lebih menyakitkan dari pada perkelahian yang sering terjadi antara sesama napi.
Bukan hanya secara fisik, dia juga selalu diberikan makanan dan minuman yang membuat perutnya selalu merasa sakit.
Terlalu pedas
Terlalu asin
Terlalu manis
Terlalu asam
Sepertinya mereka sangat berniat untuk menyiksa pria A. Tapi dia tidak akan dibiarkan mati begitu saja.
Dia terus berpikir punya kesalahan apa kepada mereka?
Sudah bertahun-tahun dia melakukan tindak kejahatan, apakah mereka musuh lamanya? Apakah dia pernah menipu mereka.
Sudah tiga tahun dia mendekam dalam penjara. Kalau sepertinya jadinya, mungkin dia lebih memilih untuk tetap berada di dalamnya.
☆☆☆
Tiara memuntahkan makanannya. Makanan basi itu membuatnya mual. Tiara menahan tangisannya dan memegang perutnya.
Tidak dapat lagi tidur nyaman di kasur yang empuk.
Tidak bisa lagi memakai pakaian bagus dan bermerek.
Semua hilang begitu saja karena kesalahannya sendiri. Tapi dia belum menyesali perbuatannya yang menyebabkan dia harus berada di tempat yang menyeramkan ini.
Di dalam mansion mewah, seorang wanita cantik sedang tertawa bersama seorang pria. Mereka adalah Lexa dan David. David membawakan banyak makanan kesukaan Lexa. Gadis itu menikmati makanannya sambil sesekali menyuapi David.
Zion yang baru saja datang dan melihat pemandangan itu nampak menahan emosi. Dia mengatur nafas agar tidak melampiaskan kekesalannya.
"Hai Lexa!" seru Zion.
Lexa menyambut Zion dengan senyuman hangat, yang langsung meredakan emosinya tadi.
Zion dan David saling melihat tapi tidak berkata apa-apa.
"Aku akan meminta bibi membuatkan minuman untukmu," kata Lexa lalu pergi meninggalkan kedua pria tampan tersebut.
"Jangan dekat-dekat dengan Lexa, dia itu istriku!"
"Saat ini posisi kita semuanya sama dalam pandangannya, sahabat!" David tertawa mengejek.
Zion mendengus kesal. Memang benar, posisi Zion, David, Yosuke dan yang lain adalah sama. Mereka dianggap sahabat oleh Lexa. Hal itu membuat Zion waswas. Bisa saja kan Lexa akan menyukai salah satu dari pria-pria itu. Bagaimana kalau itu Aron, sahabatnya sendiri? Rasanya Zion ingin langsung memukul Aron, padahal itu belum tentu terjadi. Dia menjadi cemas.
Lexa yang dulu nampak angkuh saja, banyak pengusaha muda yang menyukainya. Apalagi sekarang, saat Lexa selalu memberikan senyuman manis ke orang-orang, sapaan ramah dan bersahabat. Kalau saja orang-orang tidak tahu kalau Lexa sudah menikah dengan Zion dan mereka tahu keadaan Lexa yang sebenarnya saat ini, tentu saja mereka tidak akan menyia-nyiakan kesemoatan yang ada. Mereka akan merebut Lexa dari Zion.
Tidak, itu tidak boleh terjadi!
☆☆☆
"Bunda ... bundaaa?"
Lexa terus memanggil-manggil bundanya. Dia lalu masuk ke dalam kamar orang tuanya namun tidak melihat sang bunda di dalam kamar itu. Matanya melihat dua buku yang berada di atas nakas. Dia mengenali salah satu buku itu. Buku hariannya!
Lexa lalu membuka buku itu.
"Lexa, kenapa kamu ada di sini?"
Bunda lalu mengambil buku itu dari tangan Lexa dan langsung menyimpan keduanya. Dia tidak ingin Lexa membaca kedua buku itu. Setidaknya tidak sekarang.
"Bunda, ayo kita main ke rumah Zion!"
Bunda melihat wajah anak gadisnya itu. Ada perasaan sedih melihat kondisi Lexa sekarang. Tapi dia juga bersyukur Lexa sudah sadar dari koma. Mungkin inilah yang terbaik bagi Lexa. Melupakan semua rasa sakit itu dengan dengan cara amnesia.
Diana, Alex dan kedua orang tua Zion juga sering membicarakan tentang kelanjutan masa depan anak mereka. Bagaimana harus menjelaskan tentang hubungan Lexa dan Zion kepada Lexa. Haruskah dipertahankan atau dilanjutkan?
Bagi Zion, Lexa adalah kebahagiannya. Lalu bagaimana dengan Lexa sendiri?
Lexa yang berumur 24 tahun namun bersikap dan berpikir bagai anak berusia sebelas tahun. Tentu saja belum mengenal cinta. Kalaupun sudah mengenal, apakah itu untuk Zion? Bagaimana kalau itu untuk David atau bahkan orang lain? Bisa-bisa menimbulkan masalah baru!
Terlihat sepele tapi ini sungguh ujian yang berat untuk mereka. Masalah hati bukanlah masalah yang simpel. Lihat saja apa yang sudah dilakukan oleh Tiara. Cinta dan obsesi bercampur menjadi satu ditambah iri dan ambisi menjadikannya wanita yang jahat dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Zion.
Zion sendiri bukan pria yang mudah jatuh cinta.
Sebagai orang tua tentu saja mereka ingin anak-anaknya bahagia. Sebagai sahabat dan besan tentu saja mereka juga ingin anak mereka tetap bersama selamanya dan memberikan mereka cucu-cucu.
Namun hal tersebut sepertinya masih sangat jauh mengingat keadaan Lexa saat ini yang tidak memungkinkan untuk memberikan seorang cucu. Apalagi orang tua Lexa juga harus mencari tahu kebenaran tragedi enam tahun yang lalu.