ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
139 SANG PENJAGA TELAH MENEPATI JANJINYA



Tuuttt tuuttt tuuuutttt ...


Detak jantung dan pernafasan David semakin melemah. Wajah tampannya sudah sepucat kapas.


Zion memeluk Lexa dengan erat. Tubuh istrinya itu bergetar hebat akibat rasa ketakutan yang menghantam dirinya.


"Dav, berjuanglah, aku mohon."


Hannie tidak dapat berkata apa-apa. Dia mencengkram tangan Kenzo dengan sangat erat, memberi rasa nyeri meski kuku Hannie tidak panjang.


Lexa menepuk-nepuk dadanya. Sesak sekali rasanya.


Air mata berlinang seperti hujan. Lexa ingin berteriak, namun suaranya tercekat.


Kenangan-kenangan masa kecil mereka melintas dalam pikirannya.


Tidak, dia tidak ingin kehilangan David, sama seperti dia tidak ingin kehilangan Zion.


Kenapa semua ini terjadi?


Kenapa harus terjadi?


Apa yang salah dengan dirinya?


"Daviiiddd ... aku mohon sadarlah!"


Akhirnya teriakan itu keluar juga dari mulut Lexa.


Dokter terus memacu degup jantung David.


Namun ...


Tuuutttttttt ...


Hilang sudah harapan yang ada.


"Aarrrrggghhh ...."


Lexa dan Hannie berteriak histeris.


Lexa memeluk tubuh David dengan sangat erat.


"Pasien dinyatakan meninggal pukul 22.45 WIB ...."


Dokter menghela nafas panjang saat mengatakan itu.


"David, aku mohon bangun. Jangan tinggalkan aku dan Hannie. Kamu sudah berjanji akan selalu menjaga aku seumur hidupmu!"


Bukankah benar?


David berjanji akan menjaga Lexa seumur hidupnya, bukan seumur hidup Lexa. Dan kini hidupnya telah berakhir ... untuk melindungi Lexa.


Sang penjaga telah menepati janjinya.


Kini tugasnya telah selesai.


Bagai pahlawan yang gugur di arena pertempuran.


Air mata mengiringi langkahnya yang terakhir.


Pergilah dengan tenang.


Damailah di sana, di peristirahatanmu yang terakhir.


"David, maafkan aku. Aku mohon bangunlah. Jangan pergi, please, jangan pergi."


Hanya air mata yang mengisyaratkan semuanya. Memangnya apa yang bisa mereka ucapkan saat ini?


Kata-kata penghiburan rasanya tak berguna.


Lexa masih memeluk tubuh David dengan sangat erat. Tidak ada larangan dari Zion, karena Zion tahu apa yang Lexa rasakan saat ini.


Hatinya pun sakit.


Rivalnya itu telah pergi.


Kini dengan siapa lagi dia bisa bersaing?


Dengan siapa lagi dia akan melakukan pertengkaran yang berakhir dengan gelak tawa dari Lexa dan yang lain?


Dengan siapa lagi dia akan berlomba saham-saham siapa yang lebih mahal?


Dengan siapa dia akan main congklak dengan taruhan yang kalah akan melakukan tarian 'jarang goyang'


Dengan siapa lagi dia akan ....


Hahh


Untuk yang pertama kalinya ....


Bagi Zion Melviano Willson, menangisi seorang pria ....


"Aku mohon, bangun Daviddd!"


Lexa masih tidak terima.


Tusss, sesuatu mengalir dari bagian bawah Lexa.


Air ketuban dan darah berceceran mengotori lantai berkeramik putih.


Zion dan yang lain panik.


Belum waktunya Lexa melahirkan.


Maka sudah bisa dipastikan, jika harus melahirkan sekarang, maka prematur di usia kehamilan delapan bulan.


"Sayang!"


"Sa ... sakittt ...."


Zion langsung menggendong Lexa menuju ruang ... dia sendiri jadi bingung harus ke mana.


Yosuke menuntun Zion yang menggendong Lexa menuju ruang persalinan.


Hannie ....


Dilema, antara mendampingi Lexa atau tetap berada di sisi David. Dia memejamkan matanya.


Aku akan mengingat janji kita Kak, akan selalu mendampingi Lexa dalam suka dan duka.


Kakak pasti menginginkan aku untuk menemani Lexa, kan. Keponakan kita akan lahir. Doakan keselamatan dan kesehatan mereka. Tenanglah di sana. Aku akan meneruskan perjuanganmu. Jangan pernah khawatir.


Istirahatlah dengan tenang. Kakak tidak akan lagi merasakan sakit.


Sampaikan salam sayangku untuk orang tua kita.


Karena kondisi yang tidak memungkinkan, Lexa harus dioperasi untuk melahirkan anaknya.


"*Lexa!"


"David?"


"Kamu harus kuat dan melahirkan keponakanku dengan selamat."


"Jangan tinggalkan kami, Dav!"


"Tolong jaga Hannie dan Kai."


"Jangan tinggalkan kami."


"Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Kamu bukan hanya baik padaku dan Hannie, tapi juga pada orang tua kami."


"Jangan tinggalkan kami."


"Sampaikan salam sayangku pada ayah dan bunda."


"Jangan tinggalkan kami."


"Maafkan aku yang tidak dapat lagi menjagamu."


"Tugasmu belum selesai, Dav!"


"Sudah ada Zion yang akan menjagamu, sudah ada Kenzo yang akan menjaga Hannie. Sudah ada Kai yang akan menghibur Hannie, dan sebentar lagi akan ada bayi mungil yang akan menghiburmu."


"Aku juga butuh kamu, Dav."


"Ada Zion."


"Zion beda. Dia berbeda dengan kalian. Kalian kakakku. David, Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Malvin, Andre dan Samuel adalah kakak laki-laki tersayangku. Yang selalu menjagaku dan menghiburku saat aku berada di titik terendahku."


"Aku sayang kamu, Lexa. Sangat sayang."


"Aku juga sayang kamu, Dav. Makanya jangan pergi."


"Saatnya kamu melahirkan keponakanku. Berjuanglah!"


"Jangan pergi*!"


Sebagian orang hilir mudik di depan ruang operasi. Sebagian lagi masih ada di ruangan David.


Keadaan seperti ini membuat mereka menjadi tidak fokus.


Rasanya seperti otak dan jantung kalian dibelah menjadi dua bagian, lalu dipisahkan dengan jarak tertentu.


Ya, seperti itu. Yang sebelah untuk Lexa dan yang sebelah lagi untuk David.


Zion meremas rambutnya, dia ingin masuk menemani istrinya melahirkan tapi keadaan tidak memungkinkan.


Zion tidak tahu apakah melahirkan harus selama ini?


Tidak ada yang berkata, "Tenanglah!" karena mereka sendiri juga tidak tenang. Bahkan orang tua Lexa dan Zion juga diam saja melihat Zion yang mondar-mandir membuat mata mereka lelah dan kepala semakin pusing.


Masih ada sisa air mata di wajah mereka. Jangan ditambah lagi dengan mendapat kabar buruk tentang Lexa.


Oeekkk ...


Oeekkk ...


Oeekkk ...


Oeekkk ...


Oeekkk ...


"Mom!" Zion memeluk mommynya.


Bukannya tersenyum, Zion malah menangis terisak.


"Aku kaya lagi berhalusinasi mendengar suara bayi."


Tidak ada yang menyahuti perkataan Zion, karena mereka sendiri juga pikirannya tidak ada yang fokus.


Pintu ruangan operasi terbuka.


"Bagaimana, Dok?"


"Bayinya selamat ... tapi ...."


JANGAN LAGI!


Jangan lagi bilang kalau Lexa kenapa-kenapa.


"Nona Lexa mengalami pendarahan hebat dan komplikasi. Dia membutuhkan banyak tranfusi darah dan harus segera mendapatkannya."


"Aku saja, golongan darah kami sama," ucap Malvin.


"Siapa lagi yang memiliki golongan darah yang sama?"


"Seharusnya David, golongan darah mereka juga sama. Aku dan David golongan darahnya beda," ucap Hannie lirih.


Bundanya Lexa juga memiliki golongan darah yang sama, tapi tidak memungkinkan untuk mendonor. Sedangkan Lexa dan ayahnya memiliki golongan darah yang berbeda.


"Aku akan mendonor," kata Aron yakin.


Bertahanlah, adikku. Aku memiliki banyak hutang budi padamu. Darah yang akan aku donorkan tidak ada artinya jika dibandingkan kebaikanmu selama ini. Sama seperti David, aku berjanji akan selalu menjagamu, ucap Malvin dalam hatinya.


Setelah melakukan pemeriksaan, darah Malvin dan Aron bisa didonorkan untuk Lexa.


Mereka masih harus menunggu lagi. Bahkan belum bisa melihat anak Lexa yang dilahirkan secara prematur tadi.


"Tunggu, ngomong-ngomong ... anakku sudah lahir?" tanya Zion.


Yang lain saling memandang dengan tatapan bingung dan bertanya.


Sepertinya bukan hanya Zion saja yang tidak fokus, tapi semuanya. Mereka bahkan lupa bertanya apakah bayinya telah lahir dengan selamat, meskipun sebenarnya tadi dokter sudah mengatakannya, dan apakah bayinya laki-laki atau perempuan.