ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
80 RASA ITU SANGAT SAKIT



Suasana mansion mewah itu sangat ramai. Berbagai jenis makanan dan minuman tersaji di atas meja dengan bunga-bunga di semua sudut ruangan. Mereka berada di halaman samping, dimana banyak terdapat pohon rindang dan air mancur. Bunga berbagai warna juga ditanam du halaman itu. Kolam renang ada di bagian yang lain namun masih terlihat dari tempat mereka berada saat ini. Angin sepoi-sepoi menambah sejuk suasana yang penuh kekeluargaan, seolah tidak pernah terjadi masalah besar di masa lalu. Baik Zion maupun David juga terlihat santai, namun tidak ada yang tahu dengan pasti apa yang ada di dalam hati kedua pria tampan itu.


Zion tak bosan-bosannya melihat gadis yang duduk di hadapannya itu. Wajah yang semakin hari semakin mempesona dan membuat hatinya bergetar karena rasa cinta yang sangat besar dan dalam.


Dalam setiap kesempatan, Zion ingin selalu mengabadikan wajah bidadari itu dalam pikirannya. Agar tidak ada celah yang dapat menghilangkan Lexa dari pikirannya.


Zion ingin sekali mendekap tubuh Lexa dalam pelukannya. Mengatakan berjuta kata cinta dan menghujaninya dengan ciuman kasih sayang seorang suami kepada istrinya. Dia juga sangat ingin mengelus perut rata Lexa dan berdoa agar mereka segera dikarunia buah hati yang menggemaskan. Yang akan lebih mewarnai hidupnya dan Lexa. Anak laki-laki yang dia yakin akan lebih tampan darinya karena mewarisi wajah dia dan Lexa. Juga anak perempuan yang sama cantiknya dengan Lexa, karena bagi Zion tidak akan ada yang bisa melebihi kecantikan istrinya itu, hahaha.


Entahlah, Zion mungkin terlihat bucin, egois atau apalah namanya. Tetap saja baginya Lexa adalah wanita terbaik dalam hidupnya (selain mommy). Lexa adalah bidadarinya, penyemangat hidupnya, belahan jiwanya, masa depannya dan bidadari surganya.


Zion merasakan debaran di dadanya. Rasa cinta yang semakin hari semakin besar. Apakh ada hal yang dapat menghilangkan rasa cinta itu?


Setiap hari Zion selalu melihat cincin pernikahan dia dengan Lexa yang dia simpan di dalam dompetnya. Menyatu dengan foto Lexa yang masih terus ada di sana. Zion terpaksa harus melepasnya karena tidak ingin Lexa berpikir kalau dia sudah bertunangan apalagi menikah dengan orang lain.


Hanya Lexa yang akan menjadi istrinya. Selalu doa itu yang dia panjatkan kepada sang pencipta. Zion yakin doa yang dipanjatkan dengan ikhlas dan penuh keyakinan akan dikabulkan.


Saat ini Lexa sedang duduk di antara para sahabat dan keluarganya. Sesekali matanya melirik Zion lalu dia menghela nafasnya dengan kasar.


Lexa meremas tangannya yang berkeringat. Hal itu tidak luput dari penglihatan orang-orang yang ada di sekitarnya. Bagaimana tidak? Sedari tadi Lexa duduk dengan gelisah. Dia juga berkeringat padahal suhu di dalam ruangan cukup dingin.


"Kamu baik-baik saja sayang?" tanya bunda.


"Zion ... ayo kita berpisah!"


DEG!


Itu bukan hanya detak jantung dari Zion, tapi semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"M .. maksudnya apa, Xa?" suara Zion terdengar bergetar. Tidak ada lagi raut wajah yang penuh ketenangan yang selama ini dia tunjukkan pada orang-orang.


"Ayo kita bercerai!"


Tiga kata yang sangat menyakitkan. Zion memejamkan matanya. Ini seperti mimpi yang sangat buruk. Tidak ada yang bersuara. Semua masih terpaku dengan perkataan Lexa yang sangat tiba-tiba itu. Bukankah itu berarti ingatan Lexa sudah kembali? Tapi kapan dan bagaimana?


Baru beberapa hari yang lalu Zion dan Lexa jalan bersama. Mereka pergi ke taman bermain. Makan gulali dan es krim. Naik kincir angin juga permainan lainnya yang seting mereka naiki saat masih kecil dulu.


Tapi kini? Zion merasa seperti diterbang hingga langit ketujuh lalu dihempaskan begitu saja. Sangat sakit! Zion tidak ingin membuka matanya. Dia tidak ingin melihat Lexa yang duduk di hadapannya. Gadis yang sangat dia cintai namun yang memberikan luka teramat besar padanya.


Mommy Zion menangis dalam diam. Inikah akhir dari penantian putra tersayangnya?


David menatap Lexa yang masih menundukkan wajahnya. Dia tidak tahu apakah harus bahagia atau senang dengan keputusan Lexa yang tiba-tiba ini.


Ini adalah hari ulang tahun pernikahan kedua orang tua Lexa yang hanya dihadiri oleh mereka saja. Tapi hari ini juga Lexa membuat mereka terkejut. Hannie, Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Andre, Malvin, Samuel dan Aron juga tidak dapat berkata apa-apa.


Aron menatap penuh iba pada sahabatnya itu. Dia tidak akan mengatakan sabar atau ikhlas, karena dia tahu itu hanyalah kata-kata penghiburan dari mereka yang tidak merasakan hal yang dirasakan oleh si penderita. Namun seiring waktu, Aron berharap bahwa Zion akan baik-baik saja. Walau dia sendiri tidak yakin.


"Bisa kita bicara berdua saja, Xa?"


Lexa tidak mengiyakan, tapi dia langsung berdiri dan diikuti oleh Zion. Semua orang menatap kepergian sepasang suami istri yang statusnya pernikahan mereka sudah diambang kehancuran itu.


Para orang tua kini hanya dapat mengandalkan doa. Berharap ada mukzizat yang akan menyatukan anak-anak mereka. Agar mereka selalu dapat bersama hingga maut memisahkan. Berharap kalau mereka akan memberikan cucu yang lucu-lucu untuk keluarga William dan Wilson.


"Kenapa Xa?" tanya Zion pada Lexa dengan tatapan sendu yang sangat menyedihkan.


"Bukankah ini kesepakatannya?"


"Kesepakatan?"


"Iya. Bukankah kita sepakat hanya akan menikah selama satu tahun saja. Kurang dari dua minggu lagi sudah mencapai waktu satu tahun. Berarti harus berakhir kan, kontraknya? Aku juga tidak berminat untuk memperpanjangnya."


Zion menahan semua gejolak yang ada di hatinya. Sungguh dia ingin sekali marah pada Lexa. Apakah pernikahan ini baginya hanya sebuah bisnis yang akan diperpanjang bila menguntungkan dan berakhir bila merugikan?


Apakah dia tidak cukup baik untuk menjafi suami bagi Lexa? Menjadi satu-satunya pria yang mengisi hati Lexa? Sungguh sangat disayangkan cintanya bertepuk sebelah tangan. Dimana banyak wanita yang berharap untuk dapat menjadi istri dari seorang Zion. Jangankan menjadi istri, menjadi kekasih Zion saja para wanita itu sudah sangat bahagia.


Apakah Lexa tidak menyadari kalau kejahatan Tiara selama ini karena wanita itu ingin menjadi satu-satunya wanita yang dekat dengan Zion? Apakah Lexa tidak mensyukuri nikmat yang sudah diberikan untuknya?


"Kamu sudah ingat semuanya?"


Lexa hanya mengangguk. Sebenarnya selama satu bulan ini dia sudah mulai mengingat banyak hal. Namun hanya hal-hal yang bagus saja yang dia ingat.


FLASHBACK ON


Empat hari yang lalu, setelah dia pulang dari jalan-jalan bersama Zion, dia masuk ke dalam gudang. Matanya terbelalak saat melihat foto pertunangan dan pernikahannya bersama Zion. Dia juga melihat dua buku harian yang dulu pernah dia lihat di kamar orang tuanya.


Lexa mulai membaca buku itu. Buku pertama sebagian dia sudah tahu isinya, karena itu buku harian saat dia masih SD. Degup jantungnya berdebar kencang saat dia membaca apa yang tertulis di dalamnya. Air matanya mengalir tanpa dapat dicegah. Perlahan ingatan-ingatan itu kembali muncul disertai rasa sakit kepala yang teramat hebat. Dia berlari ke kamarnya dengan menggenggam kedua buku itu. Lexa memuntahkan semua isi perutnya di dalam kamar mandi. Badannya mulai keringat dingin. Dia menyembunyikan kedua buku itu dalam lemari.


Sepanjang hari Lexa sangat gelisah. Pagi ini Zion datang ke kediaman Lexa karena sangat merindukan istri tersayangnya, meskipun kemarin mereka sudah menghabiskan waktu seharian.


"Kamu kenapa, Yang?"


Setelah pulang dari Sidney, Zion selalu memanggil Lexa dengan sebutan Say atau Yang. Zion perlahan ingin menunjukkan pada Lexa kalau dia sangat mencintai gadis itu.


Lexa menatap Zion dengan pandangan yang sulit diartikan. Melihat Zion membuatnya teringat akan peristiwa tersebut. Malam dimana dia menunggu Zion di taman dan hari dimana dia terjatuh dari tangga.


Wajah Lexa semakin pucat dan nafasnya tersengal. Lexa jatuh dalam pelukan Zion. Sebelum mata gadis itu tertutup rapat, dia sempat melihat wajah Zion yang dipenuhi oleh rasa cemas dan cinta. Cinta yang dulu sangat dia harapkan. Cinta yang dulu pernah menyakitinya. Haruskah cinta itu pertahankan?


Lexa tidak ingin kecewa dan sakit hati lagi.