
“David!”
“Lexa?”
Lexa menghampiri David dan memeluknya. David tidak membalas pelukan itu, bukan karena dia tidak ingin. Hanya saja dia bingung apakah ini mimpi atau kenyataan.
“David, terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Untuk semuanya. Terima kasih karena telah dan selalu menjagaku hingga saat ini. Terima kasih atas perhatianmu dan kasih sayangmu!”
“Tidak, akulah yang seharusnya berterima karena kamu telah hadir dalam kehidupan aku. Terima kasih atas kasih sayang dan kepedulian kamu padaku dan Hannie. Terima kasih karena masih bersama kami hingga saat ini!”
“David, aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang kamu. Sangat sayang.”
“David, kalian harus bahagia!”
“Kamu juga harus bahagia!”
“Tentu saja, sekarang aku bahagia.”
David memandang wajah Lexa yang tersenyum. Masih terlihat pucat namun tidak mengurangi kadar kecantikannya. Gadis itu memakai gaun putih yang sangat indah.
“Maafkan aku David, karena selama ini selalu menyusahkan kamu dan membuatmu khawatir!”
“Kamu ini bicara apa? Kamu tidak pernah menyusahkan aku.”
“Aku bahagia sudah mengenalmu. Tapi kini aku sudah saatnya aku pergi.”
“Pergi?”
Lexa mengangguk.
“Pergi kemana?”
“Ke tempat yang jauh dan indah.”
David mengkerutkan keningnya, tidak mengerti.
“Jaga diri kamu baik-baik, David. Aku pamit!”
“Tidak, jangan! Lexa ... Lexa!”
☆☆☆
“Tidak!”
“Lexa!”
“Lexaaaa ... !”
Zion mengerjapkan matanya. Nafasnya tersengal-sengal seolah dia baru saja lari maraton ribuan meter.
Dia memandang ke sekelilingnya lalu menyadari kalau kini dia berada di ruang tunggu tempat Lexa di rawat. Matanya kini beralih ke pintu yang di dalamnya terdapat ruangan lagi, tempat Lexa di rawat. Dia bergegas ke ruangan itu. Dengan ragu-ragu dan bercampur cemas dan takut, Zion menarik gagang pintu itu lalu perlahan membukanya.
Dia melihat Lexa terbaring di brankar dengan berbagai alat medis yang masih terpasang.
Syukurlah!
Zion bersyukur bukan karena Lexa koma. Dia bersyukur karena tadi dia hanya bermimpi. Dia menepuk-nepuk dadanya yang masih terasa sakit akibat mimpi terkutuk itu.
Tanpa dia sadari air matanya perlahan menetes. Peluh membasahi wajah dan tubuhnya meskipun AC di ruangan itu sangat dingin.
Zion masih ingat dengan jelas akan mimpi tadi. Lexa menggunakan gaun putih dan terlihat sangat cantik. Bahkan Zion merasa kalau tadi dia benar-benar sedang memeluk Lexa dan berbicara dengannya.
Mereka saling mengungkapkan segala rasa yang terpendam. Menyelesaikan kesalah pahaman antara mereka. Saling mengucapkan kata maaf dan terima kasih.
Zion menggenggam tangan Lexa. Menggenggamnya dengan erat untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dia seperti orang yang linglung, bingung antara mana yang mimpi mana yang bukan.
Tidak apa aku menjadi gila, asal bisa terus melihatmu!
Sebuah bisikan dia ucapkan di telinga Lexa.
☆☆☆
Apa yang dirasakan oleh Zion, juga dirasakan oleh David. Seharian ini dia merasa cemas. Dia tidak dapat konsentrasi dalam bekerja. David menatap langit yang mendung. Tidak henti-hentinya pria berjas itu bergumam menyebut nama Lexa.
Andai saja tidak ada meeting penting dengan seorang client, dia ingin tetap di rumah sakit, menemani Lexa seharian meskipun perempuan itu tetap nyaman dalam mimpi indahnya.
“Lebih cepat sedikit, Ken!”
Mobil yang dikendarai oleh Kenzo itu berjalan pelan karena padatnya kendaraan yang memenuhi jalanan ibu kota.
“Macet, ini.”
David duduk dengan resah. Hujan mulai membasahi bumi. Kaca mobil nampak buram, seburam pikirannya saat ini.
Lexa, tunggu aku!
Kamu harus baik-baik saja!
Jangan tinggalkan aku!
Jangan tinggalkan kami!
☆☆☆
David berlari dengan cepat setibanya di loby rumah sakit.
Kamu harus baik-baik saja, Lexa!
Di depan pintu ruangan VVIP itu, David mengatur nafasnya yang memburu. Perlahan dia membuka pintu itu dan masuk ke dalamnya disusul oleh Kenzo.
Di dalam ruangan itu sudah dipenuhi oleh yang lain.
Hannie duduk sambil mengusap-usap perutnya. Kenzo menghampirinya dan duduk di sebelahnya, lalu istrinya itu menyandarkan kepalanya di pundak Kenzo.
Lexa sahabatku, aku bahagia bisa mengenalmu. Kamu bukan hanya sebagai sahabat, tapi sudah seperti saudaraku sendiri. Sadarlah saudaraku! Aku merindukanmu. Apa kamu begitu kesakitan jadi tidak ingin bangun? Sudah cukup kamu terlelap. Ayo bangun dan berbahagialah!
Keresahan itu sepertinya dirasakan oleh banyak orang. Entah apa yang akan terjadi, namun mereka merasakan seperti akan terjadi sesuatu yang buruk. Langit yang sangat gelap, hujan deras disertai angin kencang dan kilat juga suara petir yang menggelegar semakin menambah perasaan tidak nyaman itu menjadi ketakutan yang ada.
Ada yang duduk dengan gelisah.
Ada juga yang berjalan mondar-mandir, membuat orang yang melihatnya semakin pusing dan ingin marah-marah.
Mereka sepertinya harus memiliki kualitas jantung yang bagus karena sedari tadi jantung itu ikut merasakan kegelisahan pemiliknya.
Bunda Lexa meneteskan air matanya.
Perasaan apa ini?
Kenapa hatiku tidak tenang beberapa hari ini.
Jangan tinggalkan bunda, sayang.
Apa yang dirasakan oleh sang istri juga dirasakan oleh sang suami.
Sayang, kamu putri kami satu-satunya.
Kami belum melihat kamu bahagia.
Maafkan kesalahan kami selama ini.
Sadarlah!
Jangan tinggalkan ayah dan bunda.
Kamulah satu-satunya harta berharga kami.
Hati tak berhenti berdoa.
Ada orang tua yang cemas.
Ada kekasih hati yang risau.
Ada sahabat yang gelisah.
☆☆☆
Lexa ...
Gadis yang bergaun putih itu semakin jauh melangkah dari tempat asalnya. Di depan sana, dia melihat ada sebuah gerbang yang kokoh dan terlihat sangat berkilau. Gerbang itu dikelilingi oleh sungai, air terjun dan bunga-bunga yang jauh lebih indah dari yang pernah dia lihat sebelumnya. Bibir merahnya mengembangkan senyum.
“Lexa, pulanglah!”
“Lexa, jangan pergi!”
Lagi-lagi Lexa mendengar suara itu. Suara yang didengar bersamaan angin yang berhembus. Lexa mendengar suara itu yang terdengar pilu. Meskipun begitu dia tetap melangkah.
Lexa semakin mendekati gerbang itu.
Dia ingin membukanya. Sesekali dia menengok ke belakang, lalu dia kembali melihat gerbang indah itu. Dia ingin memasukinya.
Lexa tidak tahu kemana dia harus melanjutkan langkahnya. Haruskah dia tetap melangkah dan membuka gerbang itu? Haruskah dia kembali menuju tempatnya sebelum dia berada disini?
Sejenak dia ragu.
Gerbangnya indah, pasti apa yang ada di dalamnya akan lebih indah lagi.
Untuk apa ragu?
Bukalah, dan masuklah!
Di sana adalah tempat terbaik untukmu.
Apalagi yang kamu risaukan?
Lexa memejamkan matanya.
Dia harus meyakinkan dirinya sendiri di tengah kegalauannya.
Satu hal yang dia rasakan dalam hatinya ...
Jika dia membuka gerbang ini dan selangkah saja memasukinya, maka dia tidak akan pernah kembali lagi. Tidak ada lagi jalan untuk kembali.
Perlahan ...
Lexa mulai menyentuh gerbang itu dan semilir angin yang menyejukkan dapat dia rasakan ...
Akankah Lexa membukanya?