
"Jangan salah paham tentang hubungan aku dan Zion!"
"Kenapa kamu harus berkali-kali menjelaskan? Bukankah malah terlihat aneh?"
Tiara langsung terdiam.
"Kamu mau pulang atau masih mau berkencan?" tanya Lexa pada Zion.
"Ayo kita pulang!" jawab Zion.
Lexa memasuki mobil Zion. Dia mengotak-ngatik ponselnya dan sesekali berdecak kesal. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi.
"Halo?"
"Bagaimana?"
"Ck, kamu meremehkan aku? Tentu saja aku akan ikut, suamiku itu sangat kaya. Uang sekecil itu tidak ada apa-apanya buat dia. Aku akan segera mentrasfernya, jadi kamu diam saja. Jangan bawel!"
Lexa mematikan ponselnya dengan memberengut kesal.
"Ada apa?"
"Temanku mengajak aku arisan!"
"Lalu?"
"Tidak boleh dari uang pribadi, tapi harus dari pemberian suami atau pacar."
"Jadi kamu mau meminta uang padaku" Zion tersenyum.
Inilah saatnya, Lexa. Akhirnya kamu membutuhkan aku juga!
"Tidak. Aku hanya mengatakannya saja. Aku bisa mendapatkan uang itu dari David. Dia pasti langsung memberikannya tanpa harus aku memintanya dua kali."
"Apa kamu bilang? Kamu ini masih lunya suami yang kaya, kenapa malah mintanya pada pria lain."
Diam-diam Lexa menahan senyumnya.
Akhirnya masuk jebakan juga dia. Dasar bodoh!
"Aku tidak mau dicap sebagai istri matre."
"Tapi kamu mau dianggap sebagai lacar matre?"
"David tidak akan berpikiran seperti itu. Dia selalu tulus padaku."
"Aku juga tulus padamu, bahkan lebih!"
"Kamu yakin akan memberikan uang itu padaku?"
"Tentu saja. Aku kan harus menafkahi kamu. Memangnya berapa banyak arisannya?"
"Hanya lima belas milyar!"
"Baiklah. Aku akan memberikannya padamu setelah kita sampai di rumah."
Uang untuk membebaskan peremouan itu hanya lima milyar. Tapi Lexa memintanya lima belas milyar.
Banyak sekali dia nilepnya!
Sesampainya di rumah, Zion langsung memberikan kartu pada Lexa.
"Ini untuk kamu. Pakailah sepuasnya!"
Lexa langsung mengambil kartu yang hanya orang tertentu saja yang memilikinya, tanpa mengucapkan terima kasih.
Lama-lama kamu juga akan semakin membutuhkan aku, Lexa.
☆☆☆
Lexa membaringkan badannya diatas kasurnya. Tidak lama kemudian dia tertidur.
Zion sudah selesai mandi. Dia melihat Lexa yang sudah tertidur nyenyak dari CCTV yang terhubung dengan laptopnya. Udara di kamar Lexa sudah di bersihkan, lalu dia masuk ke kamar itu melalui pintu rahasia.
Zion memandangi wajah Lexa. Menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya.
Zion mengambil ponsel Lexa dan mecoba membukanya tetapi tidak bisa. Ponsel itu terkunci.
Dia membaringkan badannya disisi Lexa dan mulai tertidur.
Di kamarnya sendiri, ponsel Zion terus berdering menandakan pesan masuk dan panggilan telepon berkali-kali.
"Apa dia sudah tidur, ya?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
Tiara lalu melihat-lihat foto Zion yang dia simpan, juga fotonya bersama Lexa.
"Kenapa jadi seperti ini?"
Tiara meneteskan air matanya. Dulu hubungannya dengan Lexa sangat baik. Mereka sering curhat dan jalan-jalan. Hubungannya dengan Lexa sudah seperti saudara.
Tapi komunikasi mereka hilang saat Lexa ke Jepang dan Tiara ke London. Pikiran Tiara mulai melayang ke masa lalu.
☆☆☆
Lexa terbangun dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi karena dia harus pergi bekerja.
Zion juga sudah bersiap-siap. Penampilan mereka berdua sangat sempurna.
Mereka bertemu saat akan menuruni tangga.
"Aku akan mengantar kamu ke kantor!"
Mereka sarapan dengan tenang. Pelayan membuatkan roti bakar untuk Lexa dan nasi goreng seafood untuk Zion.
"Aku juga mau itu!" ucap Lexa pada pelayan. Pelayan kemudian membawakan piring kosong. Lexa lalu mengambil nasi goreng dan memakannya.
"Tumben kamu makan banyak?"
"Aku sedang senang!"
Bagaimana tidak senang coba? Suaminya itu akan mengeluarkan uangnya sendiri untuk membebaskan wanita yang dia jebloskan ke dalam penjara, lalu akan masuk ke rekeningnya sendiri.
Secara materi ya tidak untung tapi juga tidak rugi.
Hanya saja ini lucu!
"Ck, aku kan sudah bilang kalau aku lagi senang!"
"Boleh aku tahu apa yang membuat kamh senang?"
"Soal arisan itu. Mereka selalu saja pamer kalau memiliki suami atau pacar yang sangat perhatian. Mereka juga suka pamer barang-barang branded!"
"Kamu iri? Kamu kan juga punya suami yang perhatian!"
"Ck, iya perhatian. Tapi sama pacarnya!"
"Ini masih lagi, Lexa. Jangan memancing pertengkaran!"
"Kamu sudah merusak suasana hatiku!"
"Ya sudah, maafkan aku!"
Selesai sarapan mereka lalu ke kantor bersama.
"Kamu mau apa?"
"Mengantarkan kamu sampai ke ruangan kamu. Sudah lama kita tidak terlihat bersama. Orang-orang bisa berpikir kalau hubungan rumah tangga kita merenggang."
Dasar pencitraan!
Zion membukakan pintu mobil Lexa lalu menggandeng tangan istrinya.
"Nanti kita makan siang sama-sama!"
"Jangan sampai aku bertemu lagi dengan salah satu pacarmu!"
"Kita akan makan di ruang VVIP."
☆☆☆
"Aku punya ide."
"Apa?"
Hannie lalu membisikan sesuatu pada Lexa.
"What? Apa kamu sudah gila?"
"Kenapa? Kamu takut kalau itu akan berbalik padamu?"
"Tidak!"
"Kalau begitu kenapa kamu takut?"
"Aku tidak takut, hanya saja ... "
"Mana Lexa yang kukenal, yang penuh rasa percaya diri?"
"Bagaimana kalau David sampai tahu dan marah?"
"Ya jangan sampai ketahuan. Ini antara kita saja!"
Hannie lalu membisikan sesuatu lagi padanya. Membuat Lexa memejamkan matanya dan menghela nafas panjang dan berat.
"Kamu benar. Baiklah, aku akan melakukannya, tapi tidak dalam waktu dekat ini."
"Nah, begitu dong. Itu baru sahabatku. Tenang saja, aku akan selalu mendukung dan menjagamu!"
Hannie tersenyum puas karena Lexa mau mendengar sarannya. Gadis itu berseringai licik.
Lihat saja, aku akan membalasmu! Dendam ini harus dibalas. Sakit hati ini harus dibayar tuntas!
Lima tahun sudah aku menunggu kesempatan ini. Kini saatnya telah tiba, tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Masuklah dalam perangkap dan aku akan tertawa melihat kehancuranmu!
Hannie kembali menatap Lexa dengan senyuman manisnya.
☆☆☆
Zion menjemput Lexa untuk makan siang bersama dan kini mereka tengah duduk berdua dalam ruangan VVIP.
Lexa menatap Zion dengan tatapan yang sulit untuk diartikan dan sesekali menghela nafas.
"Ada apa? Apa ada masalah dalam pekerjaan kamu?"
"Tidak ada!"
Mereka saling menatap hingga beberapa detik kemudian.
Zion memperhatikan Lexa yang sesekali menghela nafas, memanyunkan bibirnya, berdecik kesal lalu tiba-tiba tersenyum sendiri.
Aneh!
"Kamu sakit?"
Lexa menggelengkan kepalanya.
Pikirannya sangat fokus pada pembicaraannya dengan Hannie tadi pagi di kantornya.
Sesekali dia mencuri pandang ke arah Zion, dan jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
Tangannya mulai keringat dingin, wajahnya pucat.
"Kamu sakit? Muka kamu pucat banget. Ayo kita pulang."
Zion langsung memapah Lexa dan membawanya ke mobil. Dia membawa Lexa ke rumah sakit terlebih dahulu.
"Dia kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Istirahatlah yang cukup, jangan sampai setres berlebihan."
"Apa perlu di rawat di rumah sakit, Dok?"
"Tidak perlu. Cukup istirahat saja di rumah, tapi jika kondisi kesehatannya menurun, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kalian bisa pulang setelah infusnya habis."
"Baiklah, saya mengerti."
Dokter itu lalu meninggalkan Zion dan Lexa yang masih di infus.