
Mereka membagi dua bagian. Para orang tua dan David cs memakamkan baby Arion di halaman mansion Zion Lexa yang ditumbuhi bunga-bunga yang cantik kesukaan Lexa.
David melihat bayi itu dengan tatapan sendu. Dia juga sangat menyayangi baby Arion sama seperti dia menyayangi baby Kai.
Baby Arion, kenapa kamu pergi? Semua uncle di sini sayang sama kamu. Uncle David sudah nungguin kelahiran kamu, tapi kenapa kamu lahir lebih dulu dan justru pergi?
Air mata David menetes, dia tidak dapat menahan kesedihannya. Hannie mengusap punggung David. Mereka semua memang menyayangi baby Arion.
Baby Arion mulai dimasukkan ke liang lahat. Mereka semua mencoba menahan tangis meski sangat sulit. Tanah mulai menutupi tubuh kecil tak berdaya itu. Jika Zion atau Lexa melihatnya, mereka pasti akan merasakan sesak. Terutama Lexa, dia mungkin akan menangis histeris.
Untung saja Zion tidak ikut.
Bunga-bunga dari pekarangan mansion mulai ditaburkan. Para pelayan, pengawal, security, sopir, tukang kebun, semua ikut menguburkan calon tuan muda mereka. Mereka semua berpakaian rapih untuk menghormati baby Arion.
Setelah memakamkan baby Arion, mereka menuju pemakaman sopir Lexa yang telah meninggal. Keluarga William dan Willson juga David cs tidak lupa memberikan santunan kepada keluarga yang ditinggalkan. Duka yang mendalam juga dirasakan oleh keluarga pak Anwar. Pak Anwar adalah tulang punggung mereka yang memiliki tiga orang anak yang masih sekolah.
Keluarga William dan Willson akan menjamin anak-anak pak Anwar hingga mereka lulus kuliah, membuat keluarga sederhana itu terharu ditengah kesedihan kehilangan kepala keluarga, dan mendoakan semoga Lexa bisa segera sadar juga mengucapkan turut berduka cita atas kehilangannya calon pewaris William dan Willson.
Setelah pemakaman pak Anwar selesai, tanpa menunggu lama mereka kembali ke rumah sakit. Yang harus mereka pikirkan sekarang adalah apa yang akan mereka katakan saat Lexa bangun nanti.
Sikap Lexa yang akhir-akhir ini sangat manis kepada Zion selalu terbayang.
Apakah semua itu sebuah pertanda kalau aku akan ditinggalkan? Jika memang seperti itu, lebih baik kamu selalu bersikap acuh kepadaku, asal kamu selalu berada di sisiku.
Kenapa kamu selalu senang menghukumku?
Bangunlah Yang, apa kamu sedang bermain dengan baby Arion? Kamu curang, kenapa kalian hanya bermain berdua tanpa mengajakku?
Zion benar-benar merasa terpukul, baby Arionlah yang telah menyatukannya dengan Lexa.
Kartika dan Hannie masih menangis diam-diam sambil berpelukan. Kartika sangat kaget mendengar berita kecelakaan Lexa. Dia langsung pulang dari Bandung begitu mendengarnya.
Para rekan bisnis yang mendapat konfirmasi khusus dari pihak William dan Willson datang membesuk walau hanya sampai di depan ruang ICU saja, itu pun hanya rekan bisnis tertentu saja yang mendapat konfirmasi. Tidak ada satupun dari keluarga William dan Willson atau rekan bisnis yang datang menjawab pertanyaan wartawan. Mereka keluar masuk dari jalur khusus yang sudah diberi pengamanan ketat.
Tiga hari kemudian
Lexa perlahan membuka matanya, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan dengan sinar lampu. Dia melihat Zion yang membuka pintu.
"Ziioonn ... " katanya pelan.
Zion yang masih mendengar suara Lexa yang pelan itu, langsung memeluk Lexa dan menangis sambil mengucap syukur. Zion memencet tombol agar dokter segera datang.
Yang ada di luar langsung tegang melihat dokter dan perawat berlari menuju kamar ruangan Lexa. Mereka langsung berpikiran buruk. Dokter langsung memeriksa kondisi Lexa.
"Kondisinya sudah stabil. Ini mukjizat, karena nona Lexa bisa sadar dan keluar dari masa krisisnya." Dokter tersenyum lega. Dia tahu kalau Lexa pernah mengalami koma selama beberapa bulan, karena dia salah satu dokter yang menangani Lexa saat itu.
Semua menghembuskan nafas lega.
Lexa dipindahkan ke ruang rawat VVIP.
Meskipun sudah sadar, tapi kondisi Lexa masih sangat lemah.
Lexa perlahan meraba perutnya yang sudah rata.
Ternyata bukan mimpi.
Mereka yang melihat itu langsung berubah tegang. Yosuke sudah bersiap-siap untuk menangani Lexa.
Namun yang aneh, Lexa justru tersenyum.
"Zi, baby aku mana? Sini aku mau gendong, dia juga harus dikasih ASI, kan?"
Tanpa sadar Zion meremas tangan Lexa. Wajah Lexa berbinar bahagia saat membicarakan babynya, dan itu sangat menyakitkan bagi Zion.
"Ck, lama banget sih, Zi. Ayo aku sudah enggak sabar. Ngomong-ngomong, kok aku bisa di sini sih?"
Mereka semakin bingung dan segera memanggil dokter. Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa Lexa tidak mengalami amnesia, dia hanya masih belum ingat akan kejadian yang terakhir dia alami karena syok , tapi nanti dia akan ingat lagi.
"Ih, pada ngeselin banget, sih. Baby aku mana?"
"A ... ada di rumah, Beb."
Ya, di rumah, tapi di kubur dalam tanah sebagai tempat peristirahatannya.
"Ya sudah ayo pulang. Kok pada tega banget sama baby aku ninggalin dia di mansion. Kenapa semua malah ngumpul di sini?"
Zion melirik yang lain, meminta pendapat mereka. Yosuke mengangguk, mengatakannya saat di rumah sakit akan lebih baik, karena banyak dokter yang akan segera memberikan pertolongan saat terjadi sesuatu nanti.
"Beb, kamu yang sabar ya. Baby kita sudah di surga."
Zion kembali meneteskan air matanya, berat rasanya mengatakan kebenaran ini pada Lexa.
"Maksudnya?"
"Baby kita sudah enggak ada, Yang."
"Maksudnya?"
Zion memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Baby kita sudah ... meninggal saat kamu mengalami kecelakaan beruntun empat hari yang lalu."
"Jahat banget kamu bilang baby aku sudah meninggal. Kemarin aku masih masih main dan gendong dia kok. Anak aku laki-laki kan? Dia sama kaya kamu, ganteng. Tapi aku sebel, masa dia mirip banget sama kamu. Pasti takut tuh enggak diakui sama kamu. Kamu kan dulu enggak mau mengakui dia."
Dalam keadaan normal, Zion pasti akan tersenyum bahagia dia dibilang ganteng dan babynya mirip dia. Tapi hanya ada kesedihan di saat ini.
"Aku enggak bohong, Yang. Kamu kan hamil masih tujuh bulanan. Coba kamu tanya sama yang lain."
Namun Lexa tidak bertanya. Dia tetap ngotot dengan pikirannya sendiri.
"Aku tuh sampai kemarin masih main dan gendong anak aku."
Zion hanya diam saja.
"Oh aku tahu ... pasti kamu sengaja kan mau misahin aku sama anak aku. Kamu mau nyariin dia mami baru? Biarin, nanti aku cariin papi baru juga buat dia."
Dalam keadaan normal, ingin sekali Zion menyentil kening Lexa. Bisa-bisanya Lexa berpikiran seperti itu.
"Kamu pasti mau balas aku kan, gara-gara waktu aku hamil sering minta ini itu sama kamu. Kamu enggak ikhlas, kan, melakukannya?"
Zion meneteskan air matanya, mengingat semua hal yang Lexa minta saat dia mengandung. Tapi Zion sama sekali tidak marah, justru dia sangat bahagia Lexa mau meminta ini itu padanya, karena yang dikandung Lexa adalah anaknya, anak mereka.
"Mana anak aku? Jangan diumpetin!"
"Sudah meninggal, Yang."
"Balikin gak, anak aku. Buruan balikin!"
Jika itu mainan yang direbut, Zion akan mengembalikannya, bahkan membelikan Lexa yang baru dan lebih banyak.
Tapi ini anak ...
Bagaimana Zion mengembalikan janin tujuh bulan yang sudah meninggal? Tidak ada satu kekuatan manusia pun yang bisa melakukannya.
Lexa mulai menangis histeris.
"Cepat kembalikan anak aku. Jangan pisahkan aku sama dia." Lexa memukuli dada Zion.
"Kalian kenapa diam saja? Mau bersekongkol sama dia?"
Yosuke langsung menyuntik Lexa dengan obat penenang yang memang sudah dia siapkan sejak awal.
Tubuh Lexa mulai melemah dan tertidur dalam pelukan Zion.
"Jangan tinggalkan dia sendirian. Meskipun sedang tidur, tetap harus ada yang mengawasi."
Mereka mengangguk mengerti. Zion mengusap air mata Lexa.
Mereka sama-sama terluka dan kehilangan. Calon anak pertama yang sangat dinanti-nanti harus pergi sebelum dilahirkan karena kecelakaan.
Mungkin bukan hanya Lexa Zion yang merasakannya. Mungkin saja ada korban lain juga yang sedang hamil dan harus kehilangan bayinya.
Lexa gelisah dalam tidurnya. Dia bermimpi tentang kecelakaan mobil yang tadi dikatakan oleh zion.
Zion yang melihat kegelisahan Lexa, meskipun sudah diberi obat penenang, langsung membaringkan tubuhnya di sebelah Lexa dan memeluknya, mencoba memberikan ketenangan.
"Jangan sedih lagi, Yang. Nanti kita akan memiliki anak lagi dan adik-adik untuk baby Arion."
Akhirnya Zion ikut tertidur di sisi Lexa, berbagi duka entah dalam kehidupan nyata atau dalam mimpi.