ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
99 MENONTON FILM YANG BEGITUAN BERDUA



WARNING!


LEBIH ENAK DIBACA MALAM-MALAM, APALAGI MALAM JUMAT. TAPI KERENA MALAM JUMAT MASIH LAMA DAN MUNGKIN KALIAN TIDAK SABAR NUNGGU, JADI AKU KASIH SEKARANG SAJA.


HAPPY READING ...


.


.


.


Berita tentang kehamilan Lexa yang meruak langsung menepis berita sebelumnya tentang keretakan rumah tangga Lexa dan Zion. Wajah Zion selalu terlihat cerah saat media meliput dirinya.


Terkadang paparazi akan mengambil gambar saat Lexa dan David bersama, namun banyak saksi mata juga yang sering melihat mereka bertiga, bahkan mereka berdua belas dalam format yang lengkap makan di sebuah restoran. Tidak ada yang benar-benar tahu seperti apa hubungan mereka sebenarnya.


David yang tidak canggung berada di antara Zion dan Lexa.


Zion yang terlihat cuek meski hatinya cemburu tingkat tinggi saat bersama Lexa dan Zion.


Lexa yang terlihat santai saat berada diantara dua pria itu.


Ditambah para pria lain yang merulakan sahabat yang selalu ada untuknya.


Terlihat sempurna, namun tak sesempurna seperti yang mereka lihat.


Tidak ada yang tahu masa lalu Lexa yang menyakitkan dan pernah dikhianati salah satu sahabat terdekatnya, apalagi semua itu hampir merenggut masa depannya bahkan nyawanya. Sekali lagi, untung saja Lexa tidak gila atau bunuh diri meskipun semua itu hampir saja terjadi kalau bukan karena David cs yang selalu menjaganya.


Jadi, apakah Lexa harus menjaga jarak dengan David dan yang lainnya walaupun sekarang dis sudah menikah? Tentu saja tidak, dan dia tidak akan pernah melakukan itu dan tidak ada yang dapat menjauhkan mereka termasuk Zion atau orang tua Lexa. Never!


☆☆☆


Malam ini Zion dan Lexa sedang bermalas-malasan di kamar.


"Beb, kamu ambil cuti aja sampai lahiran nanti, atau kalau enggak, berhenti kerja aja. Nanti perusahan ayah biar aku yang bantu ngurus."


"Aku baru aja selesai cuti berapa bulan kemaren jalan-jalan dengan kapal pesiar, masa mau cuti lagi. Aku juga enggak mau berhenti kerja."


Zion tahu Lexa akan menjawab seperti itu. Lexa bukanlah tipe wanita yang akan betah berada di rumah. Jiwanya adalah jiwa pengusaha yang di wariskan secara turun temurun.


"Beb, kamu lagi hamil jangan nonton yang begituan mulu, dong!"


Yang begituan?


Sebelum ada yang berpikir aneh, sebaiknya diperjelas dulu.


Film yang begituan maksud Zion adakah film hantu dan pembunuhan.


Lexa bukanlah tipe wanita yang menyukai film atau drama romance. Dia menyukai film yang mengandung misteri. Baik itu hantu, pembunuhan, petualangan, action.


"Nanti dedenya bisa takut atau jantungan, Beb."


Lexa berpikir, apa iya, ya?


"Sini deh, kamu temani aku nonton!"


Zion bersandar di sebelah Leza. Menikmati film dengan sound yang sudah pasti membuat jantung berdisco.


Zion mendekatkan pundaknya pada Lexa, siap siaga agar peremluan hamil itu dapat menyandarkan kepalanya di pundak Zion.


Sreng ... sreng ... sreng ...


Suara pisau yang diasah oleh sang pembunuh yang hanya menampilkan tangannya saja. Orang itu menggunakan sarung tangannya. Mengelus dengan pelan ujung pisau itu. Mata lancip pisau itu nampak mengkilat.


Dia berjalan perlahan.


Sreettt ...


Suara pisau yang berdesakan dengan tembok. Wanita yang menjadi targetnya bersembunyi dengan ketakutan. Keringat bercucuran membasahi wajah wanita itu. Suara langkah kaki semakin mendekat. Wanita bahkan menahan nafasnya. Jantungnya sudah hampir copot, air matanya mulai menetes.


"Kemarilah cantik!" suara sang pembunuh terdengar menakutkan.


"Aku tahu kamu ketakutan, ayo cepat keluar, akan aku hilangkan ketakutanmu secepat mungkin."


Brugh!


Wanita itu hampir menjerit. Andai saja ini mimpi, wanita itu ingin segera terbangun.


Suara kayu jatuh terdengar dari arah luar. Pembunuh itu langsung menjauhi tempat persembunyian wanita itu. Suara gesekan pisau di tembok masih terdengar, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa merinding di kulitnya.


Wanita itu bernafas lega. Setidaknya pembunuh itub udah menjauh. Wanita itu masih takut untuk keluar.


"Arrrgghhhh ... "


Dia menjerit ketakutan. Kakinya diseret dari belakang. Tubuhnya menyapu lantai yang berdebu. Badanya terasa sangat sakit dan kepalanya terbentur-bentur lantai.


Wanita itu melihat sebelah tangan pembunuh itu memegang pisau yang sangat tajam. Badannya masih diseret. Rasanya dia tidak sanggup lagi untuk menjerit apalagi meminta tolong. Ini adalah pabrik bekas yang sudah lama tidak digunakan. Mesin-mesin yang sudah berkarat nampak tak beraturan. Sarang laba-laba dan bau bangkai tikus merusak saluran pernafasan.


Pembunuh itu berhenti, seringai licik menghiasi wajahnya. Dia menginjak tangan wanita itu.


Dia kembali menyeret wanita itu, hingga tibalah mereka di suatu ruangan dengan cahaya remang-remang.


Wanita itu melihat sekitarnya. Dia tidak hanya sendiri. Banyak wanita tak bergerak yang tergeletak di sana. Entah masih hidup dan pingsan, atau memang sudah menjadi mayat.


Hatinya mencelos.


Entah harus merasa lega atau takut.


Dia berharap para wanita itu masih hidup, agar mereka dapat saling menolong dan menyelamatkan diri bersama.


Orang yang ada di hadapannya ini benar-benar seorang psikopat.


Wanita itu melihat lagi di lemari pojok ruangan.


Berbagai jenis senjata tajam berjejer rapih. Bahkan ada cangkul dan sekop. Untuk apa? Pikirannya mulai berkelana. Apakah itu untuk menggali tanah dan mengubur para korban?


Dia takut, sangat ketakutan. Ini benar-benar hari yang sial untuknya. Dia ingin menghitung berapa banyak wanita yang ada di ruangan itu, tapi matanya tak dapat beralih dari pisau bergerigi yang diarahkan padanya.


"To ... tolong jangan bunuh aku!" ucapnya tergagap.


Pembunuh itu tertawa bahagia. Mendengar nada ketakutan dan permohonan untuk dilepaskan sangat membahagiakan baginya.


"Arrgghhh ... "


Tanpa aba-aba pembunuh itu menggores wajah wanita itu dengan pisau bergerigi dan memiliki dua mata runcing.


Nafas dan jantungnya terasa berhenti. Badanya bergetar hebat. Inikah akhir untuknya? Tewas di tempat yang menakutkan seperti ini, bahkan jasadnya mungkin tidak dapat ditemukan.


Wanita menyesali dirinya. Kalau saja hari ini dia diam di rumah, mungkin sekarang dia masih baik-baik saja. Dia mungkin sudah tidur nyenyak dengan selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya.


Penyesalan tinggallah penyesalan.


Pembunuh itu memainkan pisaunya di hadapan wanita itu. Ekspresi itu membuatnya tertawa bahagia.


Dia sangat menyukai semua itu.


Jeritan


ketakutan


Tangisan


Kecemasan


Permohonan


Akhirnya orang-orang dapat merasakan apa yang dia rasakan dulu!


Sekali lagi, dia menggores wajah wanita itu, kali ini dengan silet.


Wanita itu menangis tersedu-tersedu.


"Wajahmu sungguh indah, dan suaramu sangat merdu."


Dia menyukai semua wajah yang telah dia lukis dengan pisau atau alat tajsm lainnya. Dia menyukai suara yang kesakitan akibat sayatan-sayatan yang mengeluarkan darah segar.


Dia tidak akan menyiksa orang-orang itu hanya dalam satu hari, apalagi hanya beberapa jam saja. Dia akan terus menyiksa mereka hingga dia mendapatkan korban baru untuk memuaskan hasratnya yang tidak pernah surut.


Setelah itu, dia akan membunuh orang itu, membiarkan tubuh mereka begitu saja selama dua hari dan me lalu mengambil organ-organ mereka untuk dikuburkan secara terpisah.


Dua hari kemudian ...


Wanita itu sudah lemas tak berdaya. Kalau dia tidak mati akibat tusukan, dia tetap akan mati karena kelaparan dan kehausan. Sungguh pilihan yang tidak menyenangkan. Pembunuh itu membuka pintu. Dia melihat wanita yang tangan, kaki dan mulutnya terikat itu dengan puas.


"Sebentar lagi penggantimu akan datang, Cantik!"


Sreng ... sreng ... sreng ...


Pisau yang masih tajam itu kembali diasah. Air mata membasahi wajah itu lagi. Pembunuh itu memperhatikan pisau itu dengan sangat puas.


Dia perlahan mendekati wanita itu.


Dia mengangkat pisaunya tinggi-tinggi. Mata mereka berdua beradu. Yang satu matanya memancarkan kebahagiaan ... yang satu lagi memancarkan ketakutan dan kepasrahan.


Pembunuh itu mulai mengayunkan pisau itu ke leher wanita itu ...


Zion langsung berlari terbirit-birit ke kamar mandi, mengeluarkan hasrat yang sejak tadi terpendam. Dia sudah tidak dapat lagi menahannya. Kan tidak lucu, kalau dia mengompol di sebelah Lexa.


Pundak yang tadi disediakan khusus untuk Lexa ternyata sia-sia. Tidak ada adegan peluk-pelukan atau mengusap punggung sambil berkata, "Jangan takut, Beb. Ada aku di sini!"


Backsound menyeramkan itu masih terdengar. Begitu juga dengan suara teriakan, bukan teriakan Lexa, tapi korban selanjutnya.


Nurunin siapa sih, hobi nonton film yang begituan.