ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
126 MENYINGKIRKAN DAN MENGUNJUNGI PANTI



"Apa aku harus menyingkirkan anak itu?"


Saat ini Zion kembali berunding dengan Aron dan David cs.


"Menyingkirkan?"


"Ya."


"Membunuhnya?"


"Sialan kau! Aku ini memang sangat benci pada ibunya tapi aku mana mungkin tega membunuh balita tak berdosa itu."


"Kemana kamu membawanya?"


"Hmmm ... mungkin ke Kutub Utara ... Hutan Amazone ... Segitiga Bermuda ... Pedalaman Afrika ... Gurun Sahara ... atau mungkin ke salah satu planet. Menurut kalian mana yang bagus?"


Kali ini Zion yang nendapat toyoran dari sembilan orang pria.


"Itu sama saja membunuhnya, bodoh!"


Mereka tertawa terbahak. Walaupun membicarakan hal serius, tapi tetap saja ada canda tawa diantara mereka, agar mereka tidak setres. Bukan hanya Zion yang sering membuat ulah, tapi yang lain juga.


"Kamu sudah membicarakan tentang adopsi anak pada Lexa?"


"Belum, moodnya sedang naik turun, lagi sensian dia."


"Apa sebaiknya kamu langsung saja membawa seorang anak ke mansion?"


"Aku juga berpikir begitu, tapi takut Lexa tidak menyukainya. Memilih baju saja harus yang cocok, apalagi mengadopsi anak, harus ada ketertarikan satu sama lain. Jangan sampai nanti anak itu aku kembalikan ke panti atau Lexa merasa terpaksa membesarkannya."


"Betul juga."


"Aku punya kenalan dokter obigyn terbaik di dunia dan sudah menghubunginya membahas masalah Lexa. Dia akan segera ke Jakarta."


"Kita juga bisa melakukan pengobatan alternatif. Di Indonesia banyak sekali pengobatan alternatif dan ramuan-ramuan tradisional."


"Itu benar. Jika kurang, kita bisa melakukan pengobatan tradisional Jepang, Cina, Kores atau negara lain."


"Yang penting jangan putus asa."


"Jadi bagaimana dengan bocah itu?"


"Aku tetap akan menyingkirkannya. Aku tidak mau Lexa dekat-dekat dengan dia."


"Kemana?"


Zion mengambil sebuah map yang di dalamnya ada foto anak Tiara dan mengamatinya baik-baik.


"India."


"Serius?"


Zion mengangguk mantap.


Kenapa India? Untuk saat ini hanya Zion yang tahu alasannya.


"Halo Petter, siapkan penerbangan ke India secepatnya dan bawa anak Tiara yang ada di panti. Lakukan diam-diam. Hilangkan jejak tentang anak itu dan siapkan orang-orang terbaikmu untuk mengawasi anak itu 24 jam setiap hari sampai waktu yang tidak ditentukan."


Zion memutuskan sambungan telepon itu setelah memberikan instruksi pada anak buahnya.


"Kamu akan mengatakannya pada Lexa?"


"Selama dia tidak bertanya, aku tidak akan menceritakannya."


"Kalau dia bertanya?"


"Maka aku akan pura-pura amnesia, pura-pura tuli atau pura-pura bisu."


Mereka mendengus kesal, pengen banget noyor Zion lagi.


"Itu sama saja diam, bodoh!"


"Nah itu kalian tahu."


Ish, benar-benar ngeselin si Zion ini.


☆☆☆


Zion sudah mendapatkan laporan dari Petter kalau mereka sudah tiba di India dan membawa anak itu ke panti asuhan. Zion tidak akan menghalangi jika ada orang yang ingin mengadopsi anak itu, dan dia tetap akan mengawasinya bahkan hingga dia dewasa nanti.


Kini dia bisa sedikit Lega karena sudah membawa jauh anak itu dari Lexa.


Zion menyuapi Lexa bubur yang berkali-kali ditolak oleh Lexa.


"Makan bubur dulu ya, habis ini baru makan salad."


"Aku mau rujak."


"Iya tapi rujaknya nanti siang ya, habisin dulu buburnya."


"Udah ah, aku tambah eneg kalau makan bubur ayam."


"Terus maunya sekarang apa?"


"Bubur kacang hijau sama ketan hitam saja."


Zion langsung menghubungi koki dengan telepon agar membuatkan Lexa bubur sesuai pesanannya.


"Cepat sehat ya, Beb. Nanti aku ajak jalan-jalan."


Satu minggu kemudian


Lexa dan Zion ada di salah satu panti asuhan. Selama enam hari ini, di sela-sela waktu kerjanya, Zion selalu mengajak Lexa untuk ke panti asuhan untuk memberikan santunan dan bermain. Ini adalah panti asuhan yang ke enam.


Lexa terlihat ceria bermain bersama anak-anak itu. Untuk yayasan sosial milik bersama (milik mereka 12) yang salah satunya panti asuhan juga sudah mereka kunjungi, namun hingga saat ini Lexa tidak menunjukkan sikap ingin mengadopsi salah satu dari mereka.


☆☆☆


"Beb, katanya kamu mau adopsi anak."


"Kata kamu enggak boleh!"


"Boleh kok, tapi jangan sembarang anak."


"Aku bingung."


"Bingung kenapa?"


"Mereka lucu-lucu. Nanti kalau aku pilih satu, yang lain pasti iri kan, Zi!"


"Terus? Kalau kamu mau semuanya mah sama aja kita bikin panti asuhan baru, Beb. Kalau gitu juga kita sudah punya kan di Yayasan 12."


Lexa terkekeh.


"Nanti deh Zi. Aku bingung mau yang mana. Enggak tega aku kalau lihat mata mereka yang polos itu."


"Senyamannya kamu saja."


"Dua boleh enggak, Zi? Cewek dan cowok?"


"Jangan dua deh, Beb."


"Ya sudah satu saja."


"Jangan."


"Terus?"


"12 aja, kita dua. Nanti sisanya kita bagi-bagiin ke yang lain."


"Kamu kira sembako!" ujar Malvin sambil melempar kentang goreng pada Zion.


Mereka tertawa. Saat ini mereka memang sedang berkumpul seperti biasanya.


"Persiapan pembukaan ELF gimana, Xa?" tanya Hannie.


"Sudah siap semua."


Para pria langsung merinding.


☆☆☆


Mereka berdua belas kini ada di panti asuhan milik Yayasan 12 mereka, membagikan pakaian, sembako, cemilan untuk anak-anak, peralatan sekolah juga uang.


Baby Kai asik bermain dengan teman-teman sebayanya. Anak dari usia beberapa hari hingga belasan tahun ada di panti itu karena berbagai alasan.


Ada yang ibunya meninggal saat melahirkan tanpa diketahui siapa suami atau anggota keluarga lainnya.


Ada yang kedua orang tuanya meninggal dan pihak keluarga tidak mau mengurusnya.


Ada yang dibuang.


Ada yang ditinggalkan di depan panti.


Para pria dewasa bermain bola bersama anak laki-laki.


☆☆☆


Di mansion Lexa


"Xa, kamu masih ragu untuk adopsi anak?" tanya Hannie.


"Enggak tahu juga Han. Aku takut Zion terpaksa hanya karena pengen aku senang."


"Dia tidak akan merasa terpaksa selama anak yang diadopsi bukan anak perempuan itu."


Hannie tidak perlu berbasa-basi dengan Lexa, karena dia juga tidak akan pernah setuju.


"Jangankan Zion, kami dan orang tua kalian juga tidak akan setuju."


"Iya, saking enggak setujunya Zion bawa kabur tuh anak ke India segala."


"Hah? Masa?"


"Memang David atau Kenzo enggak cerita?"


"Enggak."


"Jangan marah sama mereka kalau tidak cerita sama kamu. Mereka hanya takut aku tahu."


"Loh, terus kamu tahu dari mana?"


"Jangan pernah meremehkan kemampuan seorang Alexa Elora William. Informasi tentang orang lain saja bisa aku dapatkan dengan mudah apalagi mengawasi segala kegiatan suamiku sendiri."


Para pria yang diam-diam mendengarkan percakapan itu saling memandang. Tersenyum, menggelengkan kepala dan merinding dengan kemampuan yang Lexa miliki.


"Tapi kenapa India."


"Nanti juga kalian akan tahu."


"Kamu tahu?"


"Hanya menebak."


Hannie mengangguk dan sangat penasaran.


"Ngomong-ngomong soal India ... Han, kamu enggak lagi hamil?"


"Enggak, memang kenapa?"


"Kalau kamu hamil, suruh mereka nyanyi dan joget India, Han!"


Kedua wanita itu tertawa, sedangkan para pria langsung kabur diam-diam sebelum imajinasi Lexa terlontar.


.


.


.


.


Tenang, bukan hanya kalian kok yang tidak setuju. Jadi Zion langsung bertindak menyingkirkan anak Tiara ke India.