
Lexa menyadari kalau akhir-akhir ini ayahnya nampak murung, mungkin karena dirinya. Haruskah dia mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan kedua orang tuanya?
Saat ini Lexa sedang bersiap-siap untuk ke bandara. Dia dan asistennya, Sari beserta Zion dan Aron akan ke Banjarmasin untuk memantau secara langsung proses pembuatan hotel.
Lexa menggunakan pakaian kasual, rambut dikuncir ekor kuda dan menggunakan sweater gombrong. Sudah ada Sari, Aron dan Zion yang menunggunya. Aron nampak terkesima dengan penampilan Lexa yang selalu cantik bagaimanapun penampilannya, dan dia berdecak kagum lalu bersiul pelan.
"Jaga sikapmu!" ucap Zion melihat wajah Aron yang mupeng.
"Oke, Pak Boss!
Lexa berjalan anggun dan memakai kaca mata hitam.
"Ayo, Sari!"
Lexa tidak mempedulikan Zion dan Aron. Zion hanya mendengus kesal.
"Halo Sayang, aku akan ke Banjarmasin sekarang."
"Dengan siapa?"
"Dengan Sari."
"Hanya berdua saja?"
"Tidak, masih ada dua orang lagi. Tapi tidak penting juga."
"Laki-laki?"
"Iya laki-laki."
"Tampan?"
"Tentu saja tampanan kamu. Kamu lah yang terganteng. Makanya aku bilang mereka tidak penting. Sudah jangan cemburu, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu."
"Hahaha ... kamu ini selalu bisa menyenangkan diriku. Baiklah aku percaya. Hati-hati ya, jaga selalu kesehatanmu. I miss you!"
"Oke. I miss you too and i love you so much. Bye Honey, muach!"
Zion dan Aron yang mendengar percakapan via telepon itu memberikan reaksi yang berbeda. Aron yang mengelus dada, sedangkan Zion lagi-lagi mendengus kesal.
Dia lebih tampan dariku? Memangnya siapa dia? Aku yakin sekali kalau ternyata dia lebih tampan dan kaya dariku, maka wanitanya pasti lebih banyak juga. Bersiap-siaplah kau menangis darah nona sombong, dan aku akan menyediakan pundak dan dada bidangku untuk kau bersandar dan menangis!
Benar-benar khayalan tingkat dewa.
Entahlah, sejak punya keinginan untuk membalas miss arrogant itu, Zion jadi sering mengkhayal. Masalahnya khayalan yang tidak diimbangi dengan kenyataan membuat dia setres sendiri. Untuk saat ini Aron yang masih menjadi sasarannya.
"Sari, kamu sudah punya pacar?"
Sari menatap Lexa dengan pandangan bertanya-tanya.
"Belum, Nona!"
"Diantara dua pria itu, kamu akan memilih siapa untuk kamu jadikan pacar?" Lexa melihat Zion dan Aron.
"Eh? Hmmm ... tidak dua-duanya, Nona!" Sari berkata dengan hati-hati, takut menyinggung kedua pria itu. Bagaimana mungkin dia memilih diantara dua pria itu. Zion dsn dia berada di level yang berbeda, jadi jangan bermimpi. Sedangkan Aron, yang dia tahu sedang dekat dengan seseorang.
☆☆☆
Sesampainya di Banjarmasin mereka langsung menuju lokasi proyek.
"Aku ingin tempat bermain untuk anak-anak ada di posisi yang strategis, jadi bisa terpantau dengan baik."
Setelah menambahkan konsep yang diinginkan kepada arsiteknya, mereka lalu menuju hotel untuk beristirahat.
Dua hari mereka akan berada di Banjarmasin. Suasana asri dan fasilitas untuk anak diutamakan dalam pembangunan hotel ini dan hotel-hotel di kota lainnha yang akan mereka bangun.
Di waktu luang Lexa dan Sari berjalan-jalan mengelilingi kota.
☆☆☆
"Lexa, bunda mau berbicara denganmu!"
Lexa meletakan ponselnya.
"Ada apa, Bun?"
"Nanti malam Zion dsn keluarganya akan makan malam disini. Bunda harap kamu menjaga sikapmu!"
"Lexa akan menjaga sikap kalau kalian tidak lagi menjodohkan aku dan pria itu."
"Memangnya kenapa dengan Zion? Dia baik, pintar dan tampan. Apanya yang kurang?"
"Dia itu tidak setia dan sombong. Sok tampan dan munafik."
"Dia tidak seperti itu."
"Dulu waktu masih kecil kalian sering main bersama dan akrab. Apa kamh sudah lupa?"
"Kan waktu masih kecil Bun, sekarang sudah besar jadi beda, lah."
"Sudah lah, susah bicara dengan anak yang keras kepala sepertimu."
Bunda langsung meninggalkan Lexa.
Sebenarnya siapa yang keras kepala? Kan mereka yang memaksa! Gara-gara Zion orang tuaku jadi sering memarahiku. Awas saja kamu, Zion.
Sesuai dengan yang direncanakan, jam tujuh Zion dsn keluarganya tiba di rumah Lexa. Lexa menatap Zion dengan pandangan membunuh sedangkan Zion menatap Lexa dengan pandangan menerkam.
"Lexa, menikahlah dengan Zion. Anggap saja ingin keinginan terakhir ayah."
"Yakin? Nanti setelah aku menikah dengannya, ada lagi kemauan yang lain. Minta cucu! Dapat cucu perempuan minta lagi cucu laki-laki. Aku tahu akal bulus kalian."
Mereka mengerjapkan matanya. Memang susah berbicara dengan Lexa. Pintar bicara dan selalu membalikan perkataan.
"Jangan haral aku akan menerima perjodohan ini!"
"Pernikahan ini akan tetap terjadi, suka atau tidak!"
Aku juga tidak mengharapkan pernikahan tanpa cinta, akan membuat kita menderita. Aku juga hanya ingin menikah dengan wanita yang aku cintai.
Kalau pernikahan ini sampai terjadi, jangan berharap aku akan menjadi istri yang baik untukmu. Akan aku buat kamu dan keluargamu menyesal karena sudah membiarkan pernikahan ini terjadi. Jangan kira aku akan diam saja. Pilihan ada ditanganmu, menjadi partner bisnis yang baik, atau rival yang akan aku hancurkan. Aku, Alexa Elora William tidak pernah setengah-setengah dalam bertindak! Bermimpilah sesuka hatimu selagi dirimu mampu!
Lexa mengepalkan tangannya.
"Aku mau bicara padamu!" ucap Lexa pada Zion.
Mereka lalu ke taman belakang.
"Apa kamun setuju dengan perjodohan ini?" tanya Lexa tanpa basa-basi.
"Asal kamu tahu, aku hanya ingin menikah dengan wanita yang aku cintai."
"Kalau begitu bilang pada orang tuamu!"
"Ck, tanpa kamu bilang pun, aku sudsh sering mengatakannya."
"Ayo kita buat kesepakatan!"
"Kesepakatan?"
"Iya. Kalau pernikahan ini benar-benar terjadi, sebaiknya kita buat kesepakatan. Kita akan menikah dalam kurun waktu enam bulan, syarat dan ketentuan lain berlaku. Selama menikah tidak ada kontak fisik seperti pegangan tangan, merangkul, memeluk, mencium apalagi berhubungan intim. Kamu tidak perlu menafkahiku lahir batin, aku juga tidak akan melayannimu lahir batin. Kita akan tinggal di tempat terpisah. Kalau bersama, maka akan di kamar yang berbeda. Jangan mencampuri urusan pribadiku, mengatur atau melarang ini itu."
"Ck ck ck ... hebat sekali kamu mengajukan persyaratan seperti itu!"
"Terima kasih atas pujianmu. Oya, sebagai jaminan kamu tidak akan melanggar, aku mau kamu menandatangani surat pengalihan saham milikmu atas namaku. Aku akan mengembalikannya jika perjanjian kita sudah berakhir. Kesepakatan kita juga harus legal. Pengacaraku akan mengurusnya."
"Bagaimana jika kamu yang melanggarnya?"
"Bukannya justru kamu yang untung, jika aku melanggarnya? Hati-hati, kamu tahu kan dalam bisnis kalau bermain curang maka kamu akan menuai kerugian dikemudian hari, karena lawanmu pasti akan mencari cara untuk menghancurkan kamu!"
Zion benar-benar kesal mendengarnya.
Wanita ini benar-benar menantangku. Kamu belum tahu siapa aku yang sebenarnya, Lexa! Apa kamu pikir aku pria bodoh yang akan mengikuti permainanmu begitu saja. Aku Zion Melviano Wilson tidak akan tinggal diam. Kita lihat siapa akan kalah. Aku akan menghancurkan kesombonganmu dan membuatmu menyesal**.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca dan mendukung.