ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
133 EMOSI



"Awww ... sakit!" Zion memegang kupingnya yang sakit karena dijewer oleh mommynya saat sedang tidur.


"Kamu gimana sih, Zi. Lexa masuk rumah sakit tapi tidak memberi tahu kami."


Zion mengusap-ngusap kupingnya dan melihat jam. Masih jam lima pagi.


"Kelupaan aku. Tahu dari mana kami ada di sini?"


"Kemarin kami ke mansion tapi kalian enggak ada. Ditunggu sampai malam enggak pulang-pulang, dihubungi juga susah. Terus ke tempat Hannie, katanya kalian ke rumah sakit. Ya sudah kami nginap di sana mememani baby Kai."


Zion melihat baby Kai dalam gendongan bunda Lexa. Yang lain terbangun mendengar suara ribut-ribut.


"Loh, ada Kai."


Hannie langsung menggendong Kai dan mengajaknya bermain.


"Lexa sakit apa, kalian kok keterlaluan sih, tidak ada satu pun yang memberitahu kami."


"Maaf, kemarin kami panik, dan gitu Lexa ngedrama dulu."


"Tuh kan, ngomongin aku."


"Eh, my queen sudah bangun."


Zion langsung memeluk Lexa, mengalihkan fokus wanita itu agar tidak ada lagi drama air mata.


"Kamu sakit apa, Sayang."


"Kami mau punya baby."


Perasaan haru menyelimuti hati para orang tua itu. Doa mereka berikan agar kehamilan Lexa berjalan dengan lancar hingga persalinan nanti.


Siang ini kamar rawat Lexa sangat sepi. Yang lain sudah pergi bekerja kecuali Zion. Dia memang tidak akan meninggalkan istri tersayangnya itu. Bahkan ke kamar mandi saja dibuntuti oleh Zion.


"Kamu jangan angkat yang berat-berat, Yang, biar aku saja."


"Enggak usah lebay, deh. Aku kan hanya angkat bantal saja."


Sikap Zion memang berlebihan, tapi itu dia lakukan semata-mata hanya untuk menjaga Lexa, mengingat kandungannya masih rentan.


Malam ini mereka berkumpul, kecuali Hannie dan Kenzo, sambil mengemil kuaci. Lexa memang tidak muntah-muntah, tapi dia terlihat lebih kurus karena nafsu makannya yang menghilang, membuat Zion semakin cemas. Untung saja dia masih di rumah sakit, jadi dokter bisa langsung memantau perkembangan Lexa. Segala makanan yang baik untuk ibu hamil diolah dengan sedikit berbeda, untuk membangkitkan nafsu makan Lexa.


Tidak terasa satu minggu sudah Lexa dirawat, hari ini dia diizinkan pulang.


Dua hari kemudian, keluarga dan yang lain bersiap-siap melakukan syukuran di panti asuhan milik 12 F. Memang syukuran itu diadakan di sana, tetapi diwaktu yang bersamaan juga semua panti asuhan di penjuru negeri melakukan hal sama atas, mereka juga memberikan santunan dan renofasi untuk panti-panti kecil yang kurang mendapat perhatian.


Meskipun ditutupi serapat mungkin, tapi berita tentang syukuran dan santunan serempak itu tentu saja tercium media. Banyak yang bertanya-tanya dalam rangka apa acara itu diadakan.


Ada yang berpikiran kalau itu untuk doa agar nona muda William bisa segera hamil. Ada juga yang berpikiran kalau itu untuk mendoakan kelancaran kehamilan Lexa dan sebagainya.


☆☆☆


Lexa menahan tawanya saat pria-pria tampan berpenampilan nyentrik duduk manis di hadapannya tanpa rasa malu.


Sembilan orang pria berkemeja ngejreng.


Ada yang memakai kemeja merah, ungu, oren, hijau muda, kuning dan warna mencolok lainnya.


Bukan, ini bukan keinginan Lexa. Sepertinya mereka memang menggantikan Lexa mengidam. Namun yang tidak hilang dari Lexa adalah sikap usilnya itu. Dia merekam mereka dengan kamera ponselnya.


☆☆☆


Lexa tidak lagi bekerja di perusahaan. Semua urusan pekerjaannya dia lakukan di rumah. Lexa juga menggunakan kursi roda atas keinginan Zion.


Terdengar suara tangisan dari dalam kamar Lexa. Wanita itu sedang menangis sambil menggenggam erat ponselnya.


"Dasar suami brengsek, tukang selingkuh, tidak tahu diri. Memang kurang apa istrinya?"


Prang


Prang


Prang


Televisi, guci, vas bunga dan entah apa lagi sudah hancur berkeping-keping akibat ulah Lexa.


David dan yang lain langsung berlari menuju kamar Lexa. Mereka baru datang untuk mengadakan meeting.


"Ada apa?" tanya Ryu.


"Dari tadi nona Lexa tidak menjawab. Hanya menangis, berteriak dan memecahkan barang-barang."


"Kemana zion?"


"Belum pulang, Tuan."


"Kenapa tidak masuk?"


"Pintunya dikunci."


"Ya pakai kunci cadangan, dong."


Asisten rumah tangga itu memang masih baru, jadi dia bingung apa yang harus dilakukan. Sedangkan ART yang lain, sibuk mengurus pekerjaan yang lain dan tidak tahu akan hal ini karena ukuran mansion ini sangat besar.


"Saya tidak tahu dimana tempat kuncinya."


"Ck, lain kali kalau ada apa-apa cepat kasih tahu kepala ART atau menghubungi tuan Zion atau salah satu dari kami!"


"Saya tidak ... "


"Sudah diam, tidak becus banget kamu kerjanya."


Suara Lexa masih terdengar menangis.


"Cepat panggil kepala ART!" perintah David pada ART itu.


"Aku akan menghubungi Zion."


Namun belum sempat Kenzi menelepon Zion, Zion sudah tiba lebih dulu disusul oleh Andre dan Samuel.


"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul di depan kamarku?"


"Dasar suami tukang selingkuh!"


Mereka memandangi Zion dengan tatapan membunuh, sedangkan yang dipandang menggelengkan kepala tanda tak mengerti.


"Berani-beraninya dia bermain api. Memang kurang apa istrinya? Aaarrggghh ... dasar sialan."


Oke, spertinya ada yang harus diluruskan.


Zion langsung membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu dikantonginya. Keadaan kamar itu sudah seperti telah terjadi pertumpahan darah. Warna merah seperti darah berceceran di lantai membuat mereka sedikit panik.


Zion langsung memeluk Lexa yang menangis sesenggukan.


"Beb, kamu kenapa? Tenang ya, kamu lagi hamil loh."


"Dasar suami tukang selingkuh tidak tahu diri!"


"Kamu bicara apa sih? Aku enggak pernah selingkuh sedikit pun."


Lexa masih menangis sesenggukan lalu memandang Zion dan yang lain. Dia mengatur nafasnya dan menggigit bibirnya meredakan tangisnya.


"Siapa yang bilang aku selingkuh? Apa buktinya?"


Lexa menunjukkan ponselnya yang ada dilantai namun sudah hancur. Apa yang mau dilihat kalau sudah begitu?


"Aku habis nonton drama tentang perselingkuhan. Nyebelin banget itu suami terkutuk!"


Zion dan yang lain melebarkan matanya.


"Apa kamu bilang?"


"Aku habis nonton drama perselingkuhan, Zi!"


"Sejak kapan kamu suka nonton yang drama? Biasanya nonton thiller."


"Sudah satu minggu."


"Jadi selama satu minggu ini ... "


Zion mengatur nafasnya menahan emosi, sedangkan yang lain juga sama bingungnya.


"Ponsel kamu setiap hari hancur gara-gara itu?"


Lexa mengangguk mantap.


"Aku nonton sinetron di TV ceritanya tentang perselingkuhan. Aku kan sebel, terus aku banting deh HP aku."


"Terus?"


"Nonton drama asia, begitu juga. Aku baca novel online juga kebanyakan tentang perselingkuhan."


Lexa kembali terisak.


"Aku sakit hati. Gak terima aku! Janjinya setia. Waktu susah sama-sama. Giliran udah sukses, disodorin paha mulus dada montok aja langsung tergiur. Hiks ... hiks ... "


Zion dan yang lain saling memandang dan menghela nafas. Ingin sekali mereka memarahi Lexa.


"Itukan hanya cerita."


"Ya tapi tetap aja ngeselin. Banyak juga kok yang kenyataannya seperti itu."


"Makanya kalau enggak sanggup dan baperan, jangan nonton dan dibaca."


"Aku kan penasaran. Kamu gimana sih, kok enggak ngerti-ngerti."


Lagi, Zion menghela nafasnya, kenapa jadi dia yang dimarahi?


"Zi, aku harus beli ponsel baru."


"Dalam tujuh hari ini, sudah tujuh ponsel dan tujuh TV yang sudah dibeli." Zion melirik Lexa, antara gemas dan kesal.


Lexa hanya tersenyum imut.


"Pantas saja TV sama ponsel kamu hancur terus, Xa."


"Memang kapan selera kamu jadi berubah gitu?"


"Ngomong-ngomong, ini darah beneran bukan, sih?"


"Kapan kamu nonton, Xa."


"Pantas, selain ponsel dan TV, ada saja yang hancur."


Lexa bingung mana dulu yang harus dijawab dari pertanyaan sahabat-sahabatnya itu.


"Aku nonton kalau Zion lagi rapat di luar. Itu mah cat kuku."


"Aku gak pernah lihat kamu pakai cat kuku."


"Ya pengen beli aja, emang gak boleh?"


"Pantas, setiap kali aku mau lihat CCTV kenapa kamu selalu bilang 'Ya elah, cuma guci doang yang hacur. Kalau hati aku yang hancur berkeping-keping, baru kamu harus khawatir.'"


David dan yang lain menahan tawa mendengar perkataan itu. Si tersangka hanya cengar-cengir.


"Pokoknya kamu enggak boleh lagi nonton dan baca yang seperti itu!"


"Kenapa? Gara-gara aku sering hancurin barang?"


"Bukan masalah barangnya, Xa. Emosi kamu lagi gak stabil. Baca dan nonton yang lain saja. Nanti aku carikan cerita Donal Bebek atau yang lain."


Dikira bocah?


"Ingat, harus nurut kata suami!"


"Apapun yang mau kamu nonton dan baca, harus bilang dulu sama aku."


Lexa memang lagi hobi nonton dan baca cerita romance, entah kenapa seleranya tiba-tiba berubah, mungkin bawaan bayi. Entah dia yang terlalu menghayati dan ditambah hormon, akhirnya dia jadi kesal sendiri lalu membanting HP dan ada saja barang lain yang dihancurkan sama dia. Tapi kalau ceritanya romatis banget, dia akan senyum-senyum sendiri dan hatinya berbunga-bunga seolah dia yang digombalin.