ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
28 HAMIL



Malam ini Zion dan Lexa harus menghadiri pesta ulang tahun perusahan salah satu rekan bisnis mereka.


Lexa sangat memukau dengan gaun hitam dan lipstik merah, rambutnya digulung. Sorot matanya yang tajam menambah pesona alami yang ada pada dirinya.


Zion pun terlihat sangat tampan. Mereka memasuki ruang pesta yang telah dipenuhi oleh para tamu.


Lexa dan Zion mengucapkan selamat kepada sang pemilik acara yang sudah memasuki usia lima puluh tujuh tahun.


Para pengusaha dari berbagai umur nampak berbincang mengenai perkembangan perusahaan mereka. Ini juga bisa menjadi ajang perjodohan bisnis. Saling mencari mangsa. Kalau saja Lexa dan Zion belum menikah, mereka bisa menjadi target utama, termasuk David.


"Aku ke toilet sebentar!" bisik Zion di telinga Lexa.


Zion meningalkan Lexa yang masih berbincang dengan pemilik SUN Group dan STAR Group juga beberapa pengusaha muda lainnya yang ingin menjalin kedekatan dengan mereka.


Seorang pria berdiri di sisi Lexa dan tangannya (entah sengaja atau tidak) menyentuh tangan Lexa. Lexa lalu menjauhkan tangannya. Kemudian tangan pria itu kembali menyentuh jari Lexa dan mengelusnya dengan pelan.


Bugh!


"Aww!"


"Jaga tanganmu, Brengsek!"


Lexa menendang pria itu tepat di alat vitalnya dan memelintir tangan yang telah menyentuh tangannya.


Yang banyak orang tidak tahu, termasuk kedua orang tua kandungnya sendiri, kalau Lexa sangatlah jago bela diri. Bahkan dengan menggunakan gaun dan heels tinggi, tendangannya itu nampak kokoh.


Orang-orang langsung diam melihat kejadian itu.


Ada yang langsung pucat.


Ada yang berusaha menelan salivanya dengan susah payah.


Ada juga yang gemetar.


Mereka mungkin sama-sama berpikir tamatlah sudah riwayat pria itu. Dulu seorang wanita dijebloskan karena mengganggu ketenangan tuan Zion. Sekarang seorang pria dengan terang-terangan mengganggu istrinya. Benar-benar pria bodoh, tidak belajar dari pengalaman orang.


"Ada apa?" Zion dan David datang bersamaan.


Zion datang dari toilet sedangkan David memang baru datang ke acara itu dan langsung melihat Lexa yang menendang pria itu.


David memang tahu kalau Lexa bisa bela diri. Lexa akan terlihat seperti wanita anggun, tetapi dibalik itu dia bisa membuat orang terbaring koma.


"Dia sudah berbuat lancang padaku!"


Lexa langsung meninggalkan pesta itu.


Sementara Zion dan David saling memberikan kode pada bodyguard mereka yang berbaur sebagai tamu, hanya untuk jaga-jaga saja bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti saat ini, misalnya.


Zion dan David juga langsung meninggalkan pesta begitu saja.


"Suami macam apa kamu, tidak bisa menjaga istri sendiri!"


"Apa sekarang kamu sudah mengakui kalau dia adalah istriku?"


"Never!"


"Cih, akui saja kekalahanmu!"


"Aku tidak kalah. Apa Lexa sudah mencintaimu?"


"Kenapa diam? Tidak, kan? Jadi jangan berpikir kalau aku kalah, baby boy!"


David meninggalkan Zion dengan senyum meremehkan.


Dia akan jatuh cinta padaku, seumur hidupnya!


Zion memasuki mobil. Di sebelahnya duduk Lexa yang wajahnya sudah terlihat sangat kesal.


"Maafkan aku yang tadi sempat meninggalkan kamu!"


Tidak ada tanggapan dari Lexa.


Beberapa menit kemudian suara perut Lexa memecah keheningan. Zion tertawa pelan.


"Ayo kita makan dulu. Kamu mau makan apa?"


"Aku mau makan sate!"


"Oke!"


Lexa memesan sate ayam dan kambing dengan lontong ditambah gulai kambing juga rawon.


Zion hanya geleng-geleng kepala.


Wanita ini benar-benar menakjubkan.


Salah satu hal unik yang dia dapati dari Lexa adalah perempuan itu tidak lernah jaim soal makanan. Dia akan memakan apapun yang dia mau makan tanpa takut gemuk.


☆☆☆


"Apa kamu tidak pernah memasakan makanan untuk suami kamu?" tanya bunda.


"Apa gunanya pelayan kalau harus aku juga yang memasak?"


"Cari saja pelayan yang bisa dia nikahi. Jadi dia bisa dimasakin setiap hari, mencuci dan menyetrika bajunya."


Astaga, memang susah berbicara dengan Lexa.


Kalau seperti ini terus, kapan hubungan mereka akan membaik? Aku juga ingin segera memiliki cucu.


☆☆☆


Lexa melihat Zion dan Tiara yang sedang duduk berhadapan di salah satu restoran. Jika biasanya dia akan menghampiri mereka dan mengeluarkan kata-kata penuh sindiran, kali ini dia hanya ingin melihat mereka dari kejauhan saja.


Entah apa yang mereka bicarakan tetapi dilihat dari wajah Tiara, pasti hal yang menyenangkan.


Lexa meninggalkan restoran itu. Dia pulang menuju apartemennya yang hanya diketahui oleh Hannie dan David saja.


Pandangan matanya kosong, pikirannya tidak fokus. Dia merasakan sakit dan langsung meminum obatnya. Bulir-bulir keringat keluar dari kulitnya yang putih mulus.


David dan Hannie menanyakan keberadaannya. Tidak lama kemudian mereka datang bersamaan.


Mereka melihat botol obat yang ada di meja ruang tamu.


"Kamu baru minum obat itu?"


Lexa mengangguk. David lalu memapah Lexa menuju kamarnya. Pria itu terus menunggui Lexa hingga wanita itu tidur.


"Dia sudah tidur?" tanya Hannie saat David menutup pintu kamar Lexa. David mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu pucat, sakit?"


"Ada yang mau aku sampaikan sama kamu."


"Apa?"


Mereka lalu duduk di sofa ruang tamu.


"Aku hamil, tiga minggu!"


"Apa? Coba katakan sekali lagi!"


"Aku hamil David, sudah tiga minggu!"


David tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Kamu yakin, tidak salah kan?"


"Ya yakin, dong. Aku kan dokter!"


David terdiam lagi.


"Kamu kok sepertinya tidak senang kalau aku hamil. Kenapa?"


"Mana mungkin aku tidak senang. Aku hanya kaget saja. Ya sudah, mulai sekarang jaga kondisimu. Jangan banyak pikiran. Aku tidak ingin anak ini kenapa-kenapa!"


Mereka berdua tersenyum dan memandang dengan perasaan sayang. David memeluk Hannie dan mencium puncak kepalanya. Tangannya mengusap lembut perut Hannie yang masih rata itu dengan kehati-hatian dan kasih sayang.


"Yang sehat terus ya, Dede Bayi!"


"Lalu bagaimana dengan Lexa?"


"Biar aku yang mengurusnya. Mulai hari ini jangan banyak pikiran. Aku tidak ingin kalian berdua kenapa-kenapa!"


Hannie mengangguk.


"Ya sudah, istirahatlah di kamar sebelah. Biarkan Lexa tidur dikamarnya sendiri."


Hannie memasuki kamar itu ditemani oleh David. David menunggui Hannie hingga wanita itu juga tidur.


☆☆☆


David dan Hannie nampak mengobrol dengan riang.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Lexa yang baru saja.


"Ayo makan!"


Bukannya menjawab, David malah menyuruh Lexa makan. David sudah memasak menu sehat untuk wanita hamil yang sekarang duduk di hadapannya.


Mereka makan dengan lahap.


"Ayo tambah Han, ini enak loh!" ucap David.


Lexa mengeryitkan keningnya.


"Aku mau itu, dong!" tunjuk Hannie pada ikan goreng. Dengan sigap David langsung memberikannya pada Hannie.


Lagi-lagi Lexa mengernyitkan keningnya.


Kok aneh ya?


Lexa diam-diam memperhatikan sikap David dan Hannie tapi dia juga tidak bertanya apa-apa pada mereka.


Apa ada yang aku tidak tahu? Apa yang terjadi selama aku tidur tadi?