
Tanggal 12 jadwalnya anak-anak dari 12 panti asuhan yang berbeda setiap bulan bermain dengan ceria. Ada yang berenang, main prosotan, ayunan, mandi bola dan yang lainnya.
Memang setiap bulan akan dipilih 12 panti lain, jadi akan adil hingga tidak menimbulkan kesenjangan. Entah berapa banyak panti asuhan yang ada.
Mata Lexa terus bergerak melihat keceriaan yang membuat senyum terukir di wajahnya.
Lexa mendongakkan wajahnya ke bawah, saat ada anak kecil yang menarik bajunya.
"Halo adik kecil." Lexa menggendong anak yang kira-kira berumur dua tahun itu.
Zion dan yang lain mengamati interaksi Lexa dan anak itu. Mereka lalu mendekati Lexa yang mencolek pipi mulus malaikat kecil itu.
Seketika mereka saling menatap dan menganggukkan kepala.
"Itu anak Tiara!"
Ya, tentu saja mereka tahu. Selama ini mereka tidak pernah melepaskan 'perhatian' dari Tiara. Mereka tahu dimana anak Tiara berada dan fotonya.
"Jauhkan anak itu dari Lexa, jangan sampai anak itu menjadi masalah dikemudian hari," kata Andre yang diangguki oleh yang lain.
"Apa Lexa tidak tahu siapa anak itu?"
"Mana mungkin tidak tahu. Lexa itu bukan wanita bodoh."
"Tapi kenapa dia mau menggendongnya?"
"Dia pasti rindu baby Arion."
Lexa berjalan mendekati mereka setelah bocah kecil tadi dibawa oleh salah seorang pengurus panti.
"Zi, aku mau adopsi anak."
Deg
"Noooo!" Zion langsung menolak dengan lantang.
"Kenapa?" Lexa sudah mulai kesal dan sedih.
"Mendingan bikin sendiri, Beb ... lebih terjamin kualitasnya karena kita tahu dari mana bibitnya."
Zion sudah deg-degan. Bukannya dia ingin merendahkan anak yatim piatu atau berpikiran buruk, sama sekali bukan itu. Tapi yang dia khawatirkan adalah ... bagaimana kalau Lexa memilih anaknya Tiara. Jika Lexa sudah memilih, maka pilihannya yang harus diambil. Seandainya anak lain yang Lexa pilih, Zion tak masalah.
Zion tidak ingin ada Tiara kedua dalam kehidupan mereka. Anak itu bisa menjadi serangga kecil yang menganggu dan ketika besar akan menjadi boomerang.
"Tapi kan aku enggak bisa punya baby lagi!" Lexa langsung meninggalkan mereka dengan menahan air matanya.
Sedangkan mereka kaget dan terenyuh mendengar perkataan Lexa dengsn suara bergetar itu.
Zion tidak mengejar Lexa karena dia tahu Lexa ingin sendiri. Zion juga tahu Lexa bukan perempuan yang mudah dirayu dengan kata-kata manis atau dibelikan barang-barang mewah maka hatinya akan luluh. Saat dia kesal, biarkan dulu dia sendiri untuk menangis, saat perasaanya sudah baik, baru diajak ngomong. Karena mengajak bicara disaat mood orang sedang buruk akan menambah keruh keadaan. Jika Lexa menjadi api, maka Zion yang akan menjadi air.
"Kalian tahu kan aku tidak mau Lexa dekat dengan apapun yang berhubungan dengan si ulat bulu?"
Mereka mengangguk mengerti, karena para sahabat itu juga berpikir hal yang sama seperti Zion ... lebih baik mencegah daripada mengobati.
Di tempat Lexa
Lexa meletakkan bunga diatas makam baby Arion. Tidak ada kata-kata yang dia ucapkan, namun air mata dan helaan nafas berat berkali-kali sudah mewakili apa yang dia rasakan.
Di tempat Zion
"Kalian adopsi anak lain saja."
"Tapi feeling aku enggak enak saat Lexa menggendong anak itu."
"Apa Lexa mau mengadopsi anak itu?"
"Mungkin."
"Buat kesepakatan kalau kalian tidak akan memilih anak itu."
"Sebenarnya kasihan juga anak itu. Gara-gara mamanya, anaknya jadi korban dan terlantar."
"Bapaknya kemana sih? Tidak mungkin dia tidak tahu kan kalau Tiara hamil."
"Sampai sekarang masih belum jelas."
"Dan cuci tangan agar skandalnya tidak diketahui orang-orang."
"Kita harus hati-hati."
"Benar, karena kita yang menjebloskan Tiara ke penjara."
"Kalau dia tidak mencintai Tiara, maka tidak ada masalah."
"Belum tentu. Bisa saja dia menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan kita."
"Samuel benar."
"Bagaimana dengan anak itu?"
"Tidak ada yang mencurigakan hingga saat ini."
"Tidak ada tamu panti yang terlihat seolah tertarik dengan anak itu."
"Ya ampun, kita benar-benar dikerjai oleh wanita licik itu!"
"Kenapa?"
"Kita jadi harus selalu mengawasi bocah itu hingga dewasa. Sudah seperti menjaga anak sendiri dari jarak jauh."
"Benar-benar s****n wanita itu!"
"Jadi bagaimana dengan Lexa?"
"Aku akan bicara pelan-pelan padanya di waktu yang tepat. Dia boleh mengadopsi anak bahkan tiga sekaligus, asal bukan anak si ulat bulu."
Ruang VVIP restoran itu masih ramai dengan pembicaraan tentang Lexa. Kasihan sekali anak kecil itu, dia yang tidak bersalah kini ikut mendapat dampak dari perbuatan ibunya tang saat ini masih di dalam penjara.
☆☆☆
Lexa membaringkan tubuhnya membelakangi Zion. Tiba-tiba saja dia merasa mual dan langsung berlari ke kamar mandi untuk muntah.
Jangan salah paham!
Lexa tidak hamil!
Bukankah sejak dulu dia memang akan seperti itu jika sudah setres berlebih.
Zion memijit tengkuk Lexa dengan pelan. Setelah keluar dari kamar mandi, Zion memberikan Lexa obat dari Yosuke yang setiap kali Lexa meminumnya selalu dalam pengawasan Zion. Jangan sampai Lexa meminumnya diatas dosis yang diberikan oleh Yosuke, bahkan setiap hari Zion hatus mengecek obatnya.
Lexa kembali merebahkan dirinya membelakangi Zion.
Zion merasakan Lexa yang gelisah dalam tidurnya, lalu dia mengusap lembut punggung Lexa.
Setelah Lexa mulai tenang, Zion lalu mengusap perut Lexa dan berdoa semoga saja ada keajaiban dan mereka bisa memiliki anak.
Tidak perlu empat, satu juga sudah cukup. Yang penting dia lahir dengan selamat dan sehat, begitu juga dengan istriku, dia melahirkan dengan sehat dan selamat. Berikan kami keluarga yang lengkap dan bahagia, Ya Allah.
Zion meneteskan air matanya. Rasanya sakit saat pertama kali mendengar dokter mengatakan kondisi rahim Lexa karena kecelakaan dan keguguran itu. Mereka yang kehilangan calon anak juga harus mendapati hal buruk lainnya, terutama bagi Zion yang meratapi Lexa terbaring tak sadarkan diri selama empat hari.
Dia dan yang lain berusaha mati-matian untuk menutupi fakta itu dari Lexa. Zion harus terlihat tegar di hadapan Lexa, padahal dalam hati sama menjeritnya, sama sakit dan terluka. Dia harus menahan air matanya agar tidak ikut meleleh dihadapan Lexa.
Jika dia lemah, maka siapa yang akan menguatkan Lexa?
Hatinya sangat sakit melihat Lexa bersedih dan menangis.
Bahkan hingga saat ini Lexa sering menonton video-video saat Zion dan yang lain melakukan kekonyolan saat dia mengidam dan minta ini itu.
Jika menonton semua itu disaat baby Arion telah lahir dengan selamat dan sehat, tentu saja semua itu lucu dan menggemaskan. Namun semua itu kini hanya menimbulkan kenangan yang menyedihkan dan menghasilkan air mata saat Lexa menontonya seorang diri.
Sebuah film yang seharusnya berakhir dengn happy ending, justru berubah drastis menjadi sad ending.
Di tanggal dua belas ini, tepat dua tahun yang lalu baby Arion pergi. Di tanggal dan bulan ini yang menjadi kesedihan Lexa setiap tahunnya. Menangis dalam diam dan kesendirian tanpa ada yang berniat untuk mengganggunya mengenang baby Arion.
Kamar yang seharusnya menjadi milik baby Arion, kini menjadi tempat pelarian Lexa yang merindukan tangis bayi dan celotehan-celotehan khas anak kecil.
Kamar yang sudah dipenuhi dengan mainan-mainan dan baju-baju bukan hanya dari Lexa dan Zion, tetapi juga dari para kakek nenek, buyut, dan para uncle aunty. Bahkan hingga saat ini semua itu masih ada.
Kini semua itu sia-sia ...