
Alex menyuruh para bodyguardnya mencari Lexa.
"Bunda!"
Lexa memasuki rumah dengan tangan memegang keningnya yang berdarah.
"Lexa, kamu kenapa sayang?" tanya sang bunda panik.
Lexa tidak langsung menjawab. Dia masih merasa pusing dan kepalanya berdenyut sakit.
"Hannie, kita punya teman SMA yang bernama Yudha?"
"Iya, kenapa? Apa dia yang menyakitimu?"
"Bukan! Tadi aku ke mall. Ada seseorang yang tiba-tiba memegang pundakku. Kammu tahu apa yang aku lakukan?"
"Aku melakukan seperti ini ... "
Tanpa aba-aba Lexa lalu memelintir dan membanting Kenzo ke lantai.
"Awwww ... badanku!"
"Eh, jadi tadi aku benaran membanting Yudha, ya? Aku pikir tadi itu hanya khayalan aku saja. Tapi kok bisa? Woowww ... hebattt!"
Lexa justru terlihat senang dan antusias. Sedangkan yang lain hanya meringis melihat Kenzo yang kesakitan.
"Maaf ya, Kenzo. Aku tadi hanya mengetes saja, beneran bisa atau tidak!" ucap Lexa merasa bersalah tapi wajahnya cengar-cengir tak berdosa.
"Terus itu keningmu kenapa?"
"Tadi setelah dari mall, aku ke taman."
"Apa?" tanya David cs kaget.
Pasalnya setelah kejadian itu Lexa juga trauma dengan taman. Dia tidak pernah mau lagi pergi ke taman manapun. Sepertinya Lexa telah benar-benar melupakan masa lalunya yang kelam hingga tak berbekas sedikitpun.
"Lalu apa yang terjadi?"
"Aku hanya duduk di dalam mobil di depan taman itu selama dua jam lebih. Saat aku mulai menjalankan mobil tiba-tiba saja terdengar bunyi letusan dan mobilku oleng, lalu menabrak pohon. Kepalaku terbentur stir mobil. Hmmm ... mungkin ban mobilnya pecah."
Diana menghela nafas.
"Lain kali kamu harus hati-hati, Sayang. Jangan pergi sendirian lagi!"
"Oya Hannie, kata si Yudha itu nanti ada reoni dan kita harus datang dengan pasangan. Bagaimana kalau kamu pergi dengan Zion dan aku dengan David?"
Ada yang mau marah!
"Tidak boleh!"
Bukan hanya Zion, tapi juga Kenzo yang protes.
Bagaimana mungkin Zion membiarkan istrinya pergi dengan pria lain. Begitu juga dengan yang dipikirkan Kenzo. Hannie itu kan istrinya, kenapa malah pergi dengan suami orang.
"Ya sudah, kalau begitu aku dengan Kenzo saja!" ucap Lexa polos.
"Enak saja!" Kali ini Hannie yang protes.
"Ya sudah kalau begitu, gambreng saja!"
Dasar bocah!
Mungkin begitulah yang ada dalam pikiran orang-orang dewasa yang 'normal' itu.
☆☆☆
Lexa memijat kepalanya yang terasa sakit dan pusing. Dia juga merasa mual. Mungkin karena benturan yang cukup keras saat mobilnya menabrak tadi.
Dia mencoba untuk tidur namun tidak bisa. Selama ini dia selalu bertanya pada orang tuanya dan Zion kemana Tiara berada. Dengan ketusnya Zion menjawab, "Pergi ke alam kubur!" Sedangkan orang tuanya jufa tidak peduli dengan keberadaan Tiara meski tidak seketus Zion.
Ngomong-ngomong soal Zion, dia juga merasa kalau Zion dan David terlihat tidak saling menyukai. Dia berpikir mereka seperti dua anak laki-laki yang memperebutkan mainan mobil-mobilan.
Lagi-lagi Lexa memegang kepalanya yang sakit seperti dipukul dengan palu besar.
☆☆☆
Alex, Zion dan David membaca laporan rekening Tiara delapan sampai enam tahun yang lalu. Saldo yang ada di rekening itu memang sangat fantastis. Dimulai dari tujuh tahun yang lalu. Ditabung secara cash dengan nominal pertama seratus juta. Tidak pernah melalui transferan, jadi tidak dapat dilacak siapa pemberinya.
"Mungkin saja dia menjual keperawanannya." Zion mendengus jijik.
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku kan bilang, MUNGKIN. Mengingat dia menyukai barang-barang mewah dan tidak mau hidup susah. Aku juga sudah melacak tempatnya kuliah dulu. Dia bisa kuliah di sana bukan karena beasiswa tapi dengan biaya sendiri. Darimana dia mencukupi kebutuhan hidupnya di sana? Membeli tiket pesawat dan mengurus semua berkas?"
"Bukan kamu yang membiayai hidupnya?"
"Dih, buat apa? Sok penting banget dia. Teman bukan, saudara bukan, pacar bukan, istri apalagi, enggak mungkin banget! Amit-amit deh!"
Alex dan David diam-diam menahan senyum melihat ekspresi Zion yang sungguh lucu. Ekpresi kesal, geli dan mau muntah.
"Selama di London, apa saja yang dia kerjakan untuk memperoleh uang?"
"Ck, mana aku tahu. Aku kan bukan pengasuhnya. Aku hanya sebatas mengenalkannya pada agensi di sana. Selanjutnya ya urusan dia. Tapi aku sudah menyuruh orang-orangku untuk menyelidikinya. Seperti yang kalian pernah dengar di berita. Dia terlibat banyak skandal dengan para pengusaha. Aku rasa itulah pekerjaan utamanya. Seorang model hanya menjadikannya terkenal, tidak bisa langsung kaya mendadak, kan! Apalagi pasti banyak persaingan dengan kualitas yang berbeda-beda. Mereka akan menggunakan orang dalam demi mencapai apa yang mereka inginkan!"
Alex dan David mengangguk setuju.
Persaingan dalam pekerjaan itu pasti terjadi. Mereka ingin menjadi yang terbaik. Tidak ingin tertinggal apalagi tak dianggap.
Rasanya akan sulit bagi Tiara yang seorang gadis biasa dapat bersaing dengan mudah menjadi seorang model profesional. Banyak yang lebih cantik, seksi dan kaya. Bermodal keberuntungan saja juga akan sulit. Karena kenyataannya hidup tak seindah cerita dongeng masa kecil.
"Kalau memang dia mendapatkan uang itu dengan cara jual diri, mungkin memang hanya dia dalang semua ini."
"Apa ayah punya musuh yang menyimpan dendam?" tanya Zion pada Alex.
"Kalau musuh tentu saja banyak. Dunia bisnis itu kejam, tidak seindah yang dipikirkan orang-orang. Banyak persaingan yang akan saling menjatuhkan dan menghancurkan. Kalian juga pasti tahu itu."
Kali ini Zion dan David yang mengangguk setuju.
☆☆☆
Tiara kembali meminum susu yang diberikan oleh wanita yang sama, namanya Marni. Ada perasaan sedih setiap kali dia meminum susu itu. Selalu mengingatkannya akan masa lalu.
"Jadi, kejahatan apa yang kamu lakukan hingga harus berakhir di sini?" tanya Marni.
Tiara tidak menjawab, Marni juga tidak terlalu peduli apakah pertanyaannya akan dijawab atau tidak.
Marni hanya sebatas memberikan susu kotak pada Tiara. Susu yang diberikan oleh ibunya saat mengunjungi dirinya. Marni juga terkadang memberikan buah dan kue, atau nasi beserta lauk pauknya.
Semakin mengingatkan Tiara pada Lexa!
Membuat hatinya memanas akan ingatan-ingatan masa lalu.
Hampa!
Itulah yang dia rasakan kini.
Masih seperti hari-hari sebelumnya, Tiara diharuskan membersihkan area penjara. Dia juga harus memijit beberapa napi bergantian. Badannya semakin kurus walaupun dia sedang hamil.
Tiara juga seharusnya kontrol kesehatan untuk mengetahui perkembamgan penyakit yang sedang dideritanya.
Hidup memang tak selalu indah ... namun langkah yang diambilnya dulu membuat hidupnya semakin suram. Tidak ada jalan untuk kembali. Yang ada adalah jalan untuk terus melangkah ke depan, memilih untuk memperbaiki kesalahan masa lalu atau melanjutkan kesalahan yang ada karena dendam dan dengki.