
"Eh, abang ganteng ... ngulek sambel goyang-goyang ... "
Beberapa hari ini Lexa selalu saja menyanyikan lagu jadul yang berjudul abang pulang, yang dia plesetin itu.
Zion rasanya frustasi, benar-benar frustasi. Ingin dipites, tapi istri sendiri. Mana lagi hamil, lagi.
Tidak dapat dipungkiri akhir-akhir ini mereka (kecuali Hannie) selalu waswas kalau Lexa menghubungi mereka dan minta untuk berkumpul. Yah, tapi anggap saja lah mereka latihan kalau nanti mereka telah menikah dan istri mereka hamil.
"Ini untuk kalian!"
Lexa memberikan gantungan ponsel berbentuk panda, tidak hanya itu, bahkan dia juga memberikan boneka panda.
"Taro di ruangan kerja kantor kalian, ya!"
Tuh kan!
Hannie selalu cekikikan saat Lexa mengidam dan minta ini itu pada mereka.
Saat ini Lexa sedang menggendong baby Kai. Zion mengamati interaksi Lexa dengan baby Kai. Hatinya menghangat, rasanya tidak sabar menunggu kelahiran anaknya.
Zion mengambil baby Kai dari gendongan Lexa, menimang-nimang bayi itu dengan hati-hati.
"Eh, abang ganteng ... "
"Ya ampun, Xa. Jangan nyanyi lagu itu terus, dong!"
"Duh, abang ganteng ... adek cantik minta uang ... " Lexa menjulurkan tangannya.
"Uang buat apaan?"
"Buat beli begituan, Bang ... "
"Begituan apaan?"
"Begiiiinniiian ... "
Lexa masih saja dengan gaya menyanyinya, membuat David dan yang lain menahan tawa.
"Tahu ... bulat ... digoreng ... dadakan ... "
Suara tawa itu akhirnya pecah juga.
Ya Allah, berilah hamba-Mu ini kesabaran ...
Antara gemas-gemas ngeselin!
"Rooooti anget ... roooti anget rootiiii ... "
Zion masih diam.
"Mana uangnya?"
Eh, benaran?
Zion lalu memberikan uang seratus ribuan sebanyak tiga lembar. Bisa dapat berapa banyak itu?
Lexa lalu menyuruh asisten rumah tangga untuk membeli roti anget dan tahu bulat.
Setengah jam kemudian asisten rumah tangga itu kembali dengan membawa pesanan Lexa.
"Kalian makan, gih!"
Padahal perut mereka masih kenyang karena baru saja makan berbagai jenis sate.
Sepertinya mereka mulai paham. Lexa tidak ingin gendut sendiri. Nanti saat perutnya mulai membesar, dia ingin yang lainnya juga seperti itu. Bukankah itu harus disiapkan sejak sekarang?
Benar-benar cerdas, pantas saja dia dijuluki sebagai wanita seribu ide. Dia tidak pernah kalah dalam tender dan perusahaan William semakin berkembang di bawah kepemimpinannya.
"Ayo jangan malu-malu!"
Bukan malu, tapi mereka sudah benar-benar begah. Tampang mereka sudah seperti orang bodoh. Lexa sih enak, hanya mencoba satu tusukan dari setiap jenis sate itu.
"Beb, aku sudah gak sanggup!"
"Aku juga!"
Yang lain juga mengangguk kecuali Hannie. Dia juga hanya makan sedikit, walau tidak sesedikit Lexa.
"Biar cepat gemuk, jadi harus banyak makan!"
Memangngnya mereka anak kecil, yang disuruh makan banyak agar sehat dan cepat gemuk.
☆☆☆
Hari ini Lexa kembali ke kantor Zion. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Saat lift terbuka, dia melihat seorang perempuan sedang melingkarkan tangannya manja pada leher Zion.
"Aarrgggg ... lepas!"
Lexa langsung menjambak rambut perempuan itu. Menyeretnya hingga keluar lift. Lexa menarik wanita itu hingga ke loby.
Plak
Plak
Plak
Plak
"Dasar perempuan j****g, berani sekali kamu menggoda suamiku!"
Lexa kembali menjambak rambut wanita itu.
"Dasar perempuan barbar, berani sekali kamu menyakitiku!" balas wanita itu.
"Heh, perempuan enggak laku, kenapa aku harus takut padamu, hah?"
"Kamu tidak tahu siapa aku?" tanya wanita itu.
"Tentu saja aku sangat tahu kamu," jawab Lexa.
Wanita itu tersenyum puas.
"Kamu adalah Pika ... "
"Bukan Pika, tapi Diska!"
"Terserahlah, enggak penting nama kamu untuk aku ingat. Kamu seorang wanita yang payah. Payah dalam dunia bisnis dan hanya mengandalkan kekayaan orang tua. Sepuluh kali berturut-turut gagal dalam audisi Putri Indonesia. Audisinya saja kalah, sepuluh kali berturut-turut, sungguh prestasi yang luar biasa. Kamu juga pernah di-DO dari kampusmu. Lima kali ditinggal nikah oleh kekasihmu ... hmmm ... apalagi, ya ... Ck, pokonya banyaklah. Bagaimana? Bukankah aku sangat tahu tentang dirimu?"
Orang-orang yang melihat dan mendengarnya terpana. Yang pertama, syok akan sikap Lexa yang menjambak dan menampar seorang wanita yang kondisinya hampir tak berbentuk. Rambut acak-acak, baju sobek karena tarikan Lexa, heels sepatu yang patah ...
Yang kedua syok dengan pernyataan Lexa. Darimana Lexa tahu tentang informasi seperti itu?
Ada yang menahan tawa, ada juga yang meringis.
"Dengar baik-baik ya, aku Alexa Elora William tidak akan segan-segan menghancurkan orang yang mengusik hidupku. Kamu mau Zion, ambilah dia, tapi nanti setelah aku bosan padanya. Silahkan kamu menikmati barang bekasku! Bukankah kamu tempat penampungan sampah? Tapi aku tidak yakin Zion mau denganmu ... seleranya sangat berkelas!"
Segala macam hinaan Lexa lontarkan untuk wanita itu.
"Coba lihat dirimu? Kemampuanmu hanya menggoda pria, itupun sering ditolak. Kamu hanya berakhir sebagai daun pisang, sekali pakai langsung dibuang."
Jleb ... sakit banget rasanya.
Aron yang sejak tadi ada di loby saat Lexa datang, benar-benar kehilangan kata-kata. Apalagi Zion, dia bagai patung. Tidak berusaha melerai.
"Ini berlaku untuk siapapun, siapapun yang berniat mengusik seorang Lexa, silahkan tinggalkan perusahaan ini dengan cara baik-baik sebelum melakukannya. Jika ada satu saja yang berani menggangguku, maka aku akan menghancurkan hidupnya."
"Kempeskan ban mobil miliknya!" perintah Lexa pada sekuriti.
Sekuriti itu langsung menurut, takut diamuk singa hamil.
"Jangan ada yang membantunya sedikitpun. Larang semua taksi memasuki wilayah perusahaan ini, biarkan dia menunggu taksi atau jemputannya di pinggir jalan sana!"
Wanita itu kesulitan untuk bangun. Tidak ada yang mau menolongnya atau meminjamkan jas untuk menutupi bajunya yang sudah compang-camping.
"Biar orang-orang bisa melihat kulitmu itu, bukankah kamu senang menggoda pria! Bahkan aku tidak sudi jika salah satu sahabatku memungutmu!"
Prok prok prok ... suara tepukan tangan.
"Kamu keren banget, Yang! Aku berasa lagi nonton film action!"
Sekarang bukan hanya Aron yang kehilangan kata-kata, tapi para pegawai yang lain. Tadi tidak melerai, dan sekarang malah kelihatan sangat bangga.
"Memang seharusnya begitu, Yang! Tugas kamu hancurkan semua pelakor, dan tugas aku menyingkirkan para pebinor."
Wanita itu benar-benar malu, pinggangnya sakit hingga membuat dia sulit untuk bangun.
"Tangan kamu enggak apa-apa kan, Yang? Sakit, gak? Lecet, gak? Kuku kamu patah, gak? Apa ke salon aja biar bisa perawatan? Kulit kamu ada yang tergores, gak? Baju kamu lecek, gak?"
Sepertinya Aron butuh cuti ... mendadak dia seperti orang linglung.
"Aron, buang nih jas aku, tadi habis disentuh sama cacing kremi!"
"Cacing kremi?" tanya Aron tak mengerti.
"Tuh!" Zion menunjuk wanita itu.
"Kayaknya kita harus minum obat cacing deh, Beb!"
Kali ini Aron tertawa.
Dulu si Tiara dipanggil ulet bulu, sekarang seorang wanita dipanggil cacing kremi.
"Buruan Ron, bakar. Habis itu jangan lupa cuci tangan pakai sabun. Kamu juga, Beb. Jangan sampai nanti kamu gatal-gatal, kasihan baby kita."
Zion mendelik kesal pada wanita itu.
"Heh, cacing kremi, sana pergi. Jangan sampai semua karyawan disini kena penyakit menular."
Suami istri itu ternyata mulutnya pedas juga.
"Untuk semuanya aku peringatkan, jangan sekali-kali menggoda Zion, atau nasibnya akan sama atau lebih buruk lagi dari wanita ini!"
"Dengerin tuh, apa kata nyonya muda!" ucap Zion tersenyum bangga.