ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
74 HATI



Lexa mencoba mendalami hatinya yang tidak dia pahami. Setiap dia melihat Zion dan David bersama wanita cantik, ada perasaan yang tidak nyaman. Apa dia cemburu? Kepada kedua pria tampan itu? Terdengar serakah memang. Apa dia terlalu posessif dengan para sahabatnya itu? Bagaimana pun juga, kedua pria itulah yang paling akrab dengannya selama ini. Ada perasaan tidak rela jika mereka memiliki kekasih. Dia takut dilupakan dan diabaikan.


Zion ...


Sahabat sejak dia baru lahir ke dunia ini. Pria pertama (selain ayahnya) yang menggandeng dan menggendong dirinya, yang menemaninya bermain masak-masakan dan boneka juga rumah-rumahan. Yah, pokoknya segala permainan anak perempuan, Zion selalu menemaninya.


David ...


Pria pertama yang dia kenal sejak dia masuk kelas satu SD. Pria pertama yang menunggu dan mengantarnya di depan kelas.


Meskipun Lexa tidak ingat apa-apa, tapi Davidlah pria pertama yang memakan makanan buatannya dan yang memasak secara khusus untuknya.


Pikiran dan perasaan Lexa sepertinya sudah mulai beralih dari anak-anak menuju remaja. Hal yang tidak dapat dihindari meskipun ingatannya hilang.


Perasaan tidak dapat dibohongi dan dimanipulasi.


Itulah yang tidak disadari oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka hanya fokus pada kesehatan fisik dan keamanannya saja tapi tidak dengan hatinya.


Ingin dia menceritakan segala kegalauan hatinya pada sang bunda. Tapi sang bunda yang bersahabat dengan orang tua Zion membuat dia mengurungkan niatnya.


Ingin dia menceritakannya pada Hannie. Tapi Hannie yang merupakan adik David membuat dia mengurungkan juga niatnya.


Akhirnya dia jadi bingung sendiri.


☆☆☆


Seperti biasa, di hari Minggu sahabat-sahabatnya akan berkumpul di rumahnya. Lexa memasuki dapur dan melihat bahan-bahan kue. Nalurinya berkata kalau dia ingin membuat sebuah kue. Dengan ragu-ragu dia mulai mengolah bahan-bahan tersebut. Tanpa disadari dengan cekatan dia mengolah bahan-bahan itu dan tidak membutuhkan waktu lama akhirnya kue itu jadi. Karena takjub dengan apa yang baru saja dia kerjakan, Lexa kembali mengolah bahan makanan yang ada. Di dapur tidak ada orang karena sekarang bukan waktunya para koki untuk memasak.


Lexa benar-benar senang dengan apa yang dia kerjakan saat ini.


"Kamu sedang apa?" tanya Zion. Di belakang Zion menyusul David cs.


"Aku baru saja selesai memasak. Kalian duduklah!"


Leza segera mengambil kue buatannya dan memotongnya.


Potongan pertama ...


Potongan pertama itu akhirnya dia berikan pada Zion, sahabat pertamanya.


"Zion, ini pertama kalinya aku membuat kue. Bagaimana, enak tidak?"


Zion langsung memakan kue itu.


Jadi seperti ini rasanya?


"Iya, ini enak banget!"


Zion berusaha menetralkan suaranya agar tidak bergetar. Zion, David dan Hannie tahu itu adalah kue yang sama yang dibuat oleh Lexa beberapa tahun yang lalu. Kue yang Zion buang ke tempat sampah. Kue pertama yang David makan.


Ada rasa penyesalan dalam diri Zion meskipun tidak sepenuhnya salah dia. Kalau bukan karena Tiara, maka dialah yang akan menjadi orang pertama yang akan mencicipi masakan Lexa dan dia juga pasti akan setiap hari memakan makanan buatan Lexa.


Tiara sialan!


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, Lexa mengajak Zion, Aron, David dll untuk makan masakan yang tadi sudah dia masak dengan sepenuh hati.


Lagi-lagi hati Zion mencelos. Di meja sudah ada steak dan beberapa makanan lainnya. Melihat steak itu kembali mengingatkan Zion akan kejadian bertahun-tahun yang lalu. Steak yang Lexa bawakan untuknya dengan wajah tersenyum bahagia dan Zion dengan teganya menolak mentah-mentah makanan itu. Lagi-lagi itu karena Tiara.


Tiara benar-benar sialan.


Kembali hatinya mengumpat.


Zion menikmati gigitan demi gigitan setiap makanan yang Lexa buat. Ingin sekali dia menghabiskan semua makanan itu tanpa berbagi dengan yang lain.


Dia memanyunkan bibirnya.


"Enak banget kok!"


"Kok mukanya cemberut gitu?"


"Kurang, aku mau lagi, dong!"


Aron melihat wajah Zion yang terlihat sendu. Dia tahu Zion sedang galau. Di satu sisi Zion senang tapi juga sedih. Kasihan sekali sahabatnya itu. Yah, antara Zion dan Lexa ... keduanya sebenarnya sama-sama menderita dan belum merasakan kebahagiaan. Sebagai sahabat, dia hanya bisa mendoakan agar kedua sahabatnya itu bisa bahagia bersama. Bukan bahagia masing-masing.


Sebagaimana dengan Aron, begitu juga dengan David cs. Mereka bisa melihat gurat kesedihan di wajah Zion.


"Aku bisa memasak yang lain buat kamu!"


Lexa mengatakan itu dengan antusias.


"Beneran?"


"Hmmm ... iya. Setial hari aku bisa membuat makan siang untuk kalian!"


"Kalian?"


"Iya, kalian. Kamu, Aron, David, Hannie, Kenzo, Kenzi, Ryu, Yosuke, Andre, Samuel dan Malvin."


Kirain spesial buat aku. Kenapa harus buat mereka juga?


☆☆☆


Lexa memasuki lift menuju ruangan Zion. Sesampainya di depan ruangan Zion, Lexa tidak mendapati sekretarisnya atapun Aron. Dengan cueknya Lexa memasuki ruangan itu tanpa mengetok pintu terlebih dahulu karena dia pikir Zion tidak ada di dalam ruangannya.


Di dalam ruangan itu ternyata ada Zion dan seorang wanita cantik.


"Ayo duduk sini!"


Zion langsung menggenggam tangan Lexa dan mengajaknya duduk di sebelah Zion.


Zion masih berbicara dengan wanita itu mengenai pekerjaan. Sesekali Lexa melirik wanita tersebut dan menghela nafas perlahan.


Saat mata Lexa bertatapan dengan mata Zion, Zion akan langsung memberikannya senyuman yang menawan. Lexa yang disenyumi, tapi perempuan lain yang baper.


Pipi Lexa yang dielus lembut, tapi perempuan lain yang merasa meleleh.


Lalu dengan cueknya Zion menarik kepala Lexa dan menyandarkan kepala gadis itu di pundaknya dan membelai kepalanya.


Aku tidak kuat melihat ini ... arrghh ... harus dicari kemana pria seperti ini? Ucap wanita itu dalam hati.


Wanita itu dengan buru-buru ingin menyelasaikan pembicaraan bisnis yang diselingi dengan drama romantis yang membuatnya ngenes sendiri.


Setelah pintu ditutup dan perempuan itu pergi, Lexa langsung menyosor kening Zion.


"Aw ... "


Wah, istri songong. Eh tidak, dia adalah istriku yang sangat baik dan menggemaskan. Dia hanya tidak tahu saja apa yang sedang dia lakukan.


"Kok ditoyor sih, Xa?"


"Kamu sengaja ya, kayak tadi? Mau manfaatin aku ya, buat manas-manasin dia?"


"Emang!"


Aku emang sengaja manas-manasin dia. Aku mau nunjukkin ke orang-orang kalau hanya kamu dan cukup kamu yang ada di hati aku, tidak ada yang lain. Aku sudah punya kamu, jadi tidak butuh yang lain. Mau secantik dan seseksi apapun perempuan yang ada di hadapan aku.


Tinggal memakai baju seksi, maka semua perempuan akan terlihat seksi, kamu juga bisa seperti itu. Tinggal operasi pelastik, maka akan banyak perempuan cantik.


Karena yang aku butuhkan bukanlah perempuan cantik dan seksi, tapi yang bisa membuat aku nyaman, senang dan hatiku selalu berdebar dan itu adalah kamu, istriku!