ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
41 ZION BERUBAH



DEG!


DEG!


DEG!


Lexa memegangi dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdebar keras.


“Tiara, aku takut!”


“Takut apa?”


“Aku takut Zion tida menyukai kue buatan aku.”


Suara Lexa terdengar pelan. Dia benar-benar cemas.


“Dia pasti suka. Jangan khawatir! Mana Lexa yang aku kenal, yang selalu percaya diri?”


“Tapi kalau dia tidak suka bagaimana?”


“Dia pasti suka. Sudah, tenanglah!”


Tiara terus meyakinkan Lexa kalau Zion akan menyukai kue buatan Lexa.


Sesampainya di tempat futsal, Lexa kembali merasa cemas.


“Tiara, ayo kita kembali saja. Aku tidak jadi memberikan kue ini untuk Zion.”


“Ck, ayo kasih saja. Kalau kamu takut, biar aku yang menyampaikannya pada Zion. Kamu lihat dari sini saja.”


“Baiklah. Kamu saja yang menyampaikan ini buat Zion, aku akan melihatnya dari sini.”


Tiara mengangguk. Dia lalu berjalan ke arah Zion dan teman-temannya. Lexa melihat Tiara memberikan kue itu untuk Zion. Zion lalu mengambil paper bag itu lalu membuangnya ke tempat sampah.


DEG!


DEG!


DEG!


Sekujur tubuh Lexa langsung gemetaran. Dia menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia melihat Tiara yang sedang marah pada Zion. Zion mengangkat bahunya, seolah dia tidak peduli.


Tiara lalu berjalan kembali ke arah Lexa yang masih menunggunya. Wajah Tiara terlihat memerah dan Tiara langsung menangis di hadapan Lexa.


“Lexa, aku minta maaf. Aku ... Zion ... kuenya ... “


Suara Tiara terbata-bata.


“Aku tahu. Zion membuangnya, kan?”


“Maafkan aku Lexa. Seharusnya kita tadi kembali saja seperti ucapan kamu. Aku pikir Zion akan menyukainya. Kenapa Zion seperti itu? Padahal aku sudah bilang itu kue buatan kamu sendiri tapi dia tidak peduli.”


“Apa dia tahu aku ada di sini?”


“Aku sudah bilang kamu menunggunya di luar, tapi dia bilang dia masih sibuk dengan teman-temannya.”


“Ya sudahlah, ayo!”


Lexa dan Tiara masuk ke dalam mobil.


Suasana hati Lexa sangat kacau. Dia tidak pernah menyangka kalau Zion akan membuang kue buatannya, bahkan sebelum kue itu dimakan olehnya.


Kenapa? Apanya yang salah? Apa salah kue itu? Kalau dia tidak suka, dia kan bisa memberikannya kepada teman-temannya. Bukannya malah dibuang!


“Ini kue buat kamu, apa rasanya enak?”


Lexa memberikan satu kotak untuk Tiara. Akhirnya Tiara lah orang pertama yang merasakan kue buatannya. Tiara mengambil satu potong kue itu lalu memakannya di dalam mobil.


“Wah, Lexa ini enak sekali. Kamu benar-benar pintar membuat kue!”


Tiara langsung memakan kue itu dengan lahap.


“Ayo kamu makan juga, Lexa!”


“Tidak, kamu saja. Kamu tidak perlu berbohong untuk menyenangkan hatiku. Kalau tidak enak, bilang saja.”


“Aku tidak mungkin bohong, Lexa. Makanya kamu coba dulu sedikit.”


Tiara ingin menyuapi Lexa tapi Lexa menolaknya. Lexa mengantar Tiara ke rumahnya lalu dia langsung ke rumah David dan Hannie.


David dan Hannie memakan kue itu dengan nikmat.


“Bagaimana rasanya?”


“Ini enak sekali. Kamu sendiri yang membuatnya?” tanya David.


Lexa mengangguk.


“Benar, enak?”


“Tentu saja. Memangnya kamu tidak mencobanya?”


Lexa menggeleng. Lexa benar-benar ingin Zionlah orang pertama yang merasakan kue buatannya sampai dia sendiri tidak mencicipinya. Tapi kenapa malah seperti ini?


“Hei, kenapa muka kamu sedih begitu?”


Lexa mulai menangis. Sejak tadi dia sudah berusaha agar tidak menangis tapi pertanyaan David langsung membuatnya mengeluarkan air matanya.


David dan Hannie langsung menghentikan makannya.


“Zion membuang kue buatan aku ke tempat sampah. Dia bahkan tidak mencobanya sedikitpun. Padahal aku sudah membuatnya dengan sungguh-sungguh. Aku membeli sendiri bahan-bahannya di swalayan, aku membuatnya sendiri tanpa bantuan siapapun, bahkan aku sendiri yang mencuci perabotan memasak setelah selesai membuatnya. Kenapa dia begitu?”


Tangisan Lexa semakin kencang.


David dan Hannie terkejut mendengar perkataan Lexa. David sangat marah. Dia memang tidak mengenal Zion, tapi Lexa sering bercerita tentang Zion dan Tiara pada David dan Hannie.


David lalu memeluk gadis yang masih SMP itu. David sendiri sekarang sudah SMA. Lexa mempererat pelukannya. David mengusap-usap punggung Lexa, mencoba memberikan ketenangan seperti yang Lexa lakukan saat kedua orang tua pria itu meninggal.


David tidak peduli kalau bajunya basah karena air mata dan ingus Lexa yang bercampur.


“Sudah, jangan menangis lagi!”


Tapi Lexa masih saja menangis dalam pelukan David.


Ini adalah air mata pertama Lexa yang keluar karena Zion.


☆☆☆


Sejak kejadian itu, hubungan Lexa dan Zion menjadi canggung. Lexa sudah tidak terlalu sering lagi bertemu dengan Zion.


Hari ini dia membuat steak. Dia ingin memberikannya pada Zion.


“Hai Lexa!”


“Hai Tiara.”


“Iya, aku ingin memberikannya pada Zion.”


“Oh. Good luck ya!”


Tiara memberikan semangat. Lexa ingin mengajak Tiara bertemu Zion, tapi gadis itu menolaknya. Dia bilang dia masih kesal dengan sikap Zion saat itu.


Lexa tiba di tempat bermain futsal. Dengan langkah percaya diri dia menghampiri Zion yang sedang tertawa bersama teman-temannya.


“Zion!” panggil Lexa.


Zion menghampiri Lexa dengan malas-malasan. Lexa lalu menyerahkan paper bag berisi steak itu kepada Zion. Zion mendengus kesal.


“Sudah aku bilang jangan bawakan aku makanan lagi. Tidak mengerti juga!”


Lexa mencengkeram tali paper bag itu.


Lagi-lagi dia berusaha menahan air matanya.


“Memangnya kenapa?”


Lexa bartanya dengan lembut.


“Aku tidak suka dengan yang membuatnya. Apa harus ditanya lagi? Apa masih kurang jelas?”


Sangat jelas dan sangat menyakitkan!


Seperti inikah rasanya ditolak mentah-mentah? Bahkan ditolak sebelum kita menyatakan perasaan kita.


Entah kata apa yang tepat untuk mengungkapkan semuanya.


Sakit?


Perih?


Pilu?


Terluka?


Kecewa?


Sedih?


☆☆☆


Lexa menuju rumah David dan Hannie dengan membawa paper bag yang isinya masih utuh itu. Dia berjalan lunglai lalu mengetok pintu rumah David.


Lagi-lagi David melihat wajah murung Lexa. Dia juga melihat Lexa yang menenteng paper bag. David merangkul Lexa dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Hannie baru saja selesai menjemur baju dan melihat Lexa yang sedang menangis dalam pelukan David.


Akhir-akhir ini sahabatnya itu terlihat sedih. Hannie ingin membantu tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.


David dan Hannie semakin geram pada Zion. Kenapa pria itu bersikap seperti itu pada Lexa.


Apa salah Lexa pada Zion?


David menghela nafas perlahan, mencoba menenangkan dirinya yang saat ini tersulut emosi.


Dia tidak ingin melihat kesedihan di wajah gadis itu. Tidak ingin melihat air mata itu, apalagi disebabkan oleh pria seperti Zion. Benar-benar tidak layak!


David sudah berjanji akan selalu menjaga Lexa. Sekarang dia malah melihat Lexa-nya bersedih dan menangis. Itu membuatnya terluka.


☆☆☆


Tiara benar-benar kesal saat mendengar cerita Lexa.


“Awas saja dia. Biar aku yang membalasnya!”


“Jangan!”


“Jangan halangi aku. Kali ini aku yang akan membelamu dengan kemampuanku. Kamu duduk dan lihat saja!”


Tiara lalu menuju dapur dan Lexa mengikutinya. Tiara membuat kue coklat asal-asalan lalu dia memasukkan sesuatu ke dalamnya.


“Hei, apa yang kamu masukan itu?”


“Obat pencuci perut!”


“Dari mana kamu mendapatkannya?”


“Dari pelayan. Sudah kamu tenang saja.”


“Jangan! Nanti Zion sakit perut!”


“Memang itu tujuanku. Sudahlah Lexa, kamu tenang saja. Aku yang akan bertanggung jawab!”


Setelah kue itu selesai dibuat, Lexa dan Tiara kini berada di kamar Lexa. Lexa sedang mandi sebelum nanti dia dan Tiara ke tempat Zion berada.


Setiap hari Minggu Zion pasti akan bermain futsal bersama teman-temannya.


Lexa selesai mandi. Dia dan Tiara lalu pergi dengan suasana hati yang saling bertolak belakang. Tiara yang bersemangat sedangkan Lexa yang cemas.


“Apa dia mau memakannya? Selama ini kan dia tidak pernah mau makan makanan buatan aku!”


“Tapi ini kan bukan buatan kamu, tapi aku! Aku akan mengatakan ini buatan aku, jadi kalau dia memakannya dan sakit perut, dia tidak akan marah. Kita coba saja peruntungan kita saat ini.”


Lagi-lagi Lexa melihat dari jauh saat Tiara memberikan kue abal-abal itu kepada Zion.


Zion menerimanya dengan senyum merekah.


DEG!


DEG!


DEG!


Zion memakan kue itu! Bahkan hingga habis tanpa membaginya kepada siapapun!


DEG!


DEG!


DEG!


Tiara kembali dengan senyum ceria dan dia mengedipkan matanya pada Lexa.


“Misi berjalan sukses!”


Tiara tertawa bahagia.


Rasanya sakit, tapi kenapa? Zion, tahu kah kamu apa yang aku rasakan saat ini?


Aku kecewa dan terluka. Itu sangat menyakitkan!