
"Lexa punya kakak laki-laki, Yah?"
"Iya, tapi sudah meninggal beberapa jam setelah melahirkan. Bahkan ayah tidak sempat menggendongnya saat dia baru dilahirkan dan masih hidup. Saat itu ayah lagi di luar negeri karena perusahaan ayah sedang mengalami krisis."
Mereka menyimak hal yang baru mereka ketahui.
"Tapi jangan bahas ini di hadapan bunda, ya. Jangan tanya-tanya juga sama Lexa, karena dia tidak tahu."
Mereka mengangguk.
"Dulu sering terjadi hal-hal buruk pada kami, termasuk keluargamu, Zion. Banyak yang ingin menjatuhkan kami, tapi ayah dan daddy kamu saling membantu dan menyemangati. Oleh sebab itu juga kami sudah menjodohkan kalian sejak Lexa baru lahir."
Zion tersenyum kegirangan sambil melirik Davdav. Rasa cemburunya tak juga hilang ternyata.
Sedangkan Davdav yang memahami sifat Zion hanya menggelengkan kepalanya gemas.
"Tapi kalau Lexa ternyata jodohnya sama aku gimana, Om?" tanya Davdav.
"Ya mau diapain lagi, masa harus om paksa."
Zion langsung memberengut kesal. Davdav jadi semakin ingin memanas-manasi Zion.
"Om setuju, kan?"
"Ya setuju-setuju saja, yang penting Lexa bahagia. Dia adalah anak kami satu-satunya."
Zion semakin manyun.
"Lexa pasti bahagia Om, sama aku."
"Om percaya itu!"
Zion tidak menyadari semua orang sedang menahan tawa, termasuk daddynya sendiri.
Lexa, Hannie dan Kartika sedang berjalan menyusuri pantai untuk mengumpulkan kerang. Pantai ini memiliki pasir putih, lembut dan masih sangat bersih. Airnya juga jernih dan dingin. Sudah banyak kerang yang mereka kumpulkan, lalu mereka kembali ke villa.
"Kami sudah mengumpulkan kerang yang banyak, ayo para pria bikin kerajinan tangan!"
Lexa langsung duduk di sebelah Zion, membagikan kerang itu pada para pria. Dia mengambil alih baby Kai dari gendongan Kenzo.
Lexa menerima suapan potongan buah dari Zion, Zion sengaja menunjukkan keromantisannya dengan Lexa pada David.
Hari beranjak siang, mereka kini makan di depan villa sambil menikmati semilir angin pantai.
Lexa mengusap-ngusap perutnya, sambil mengeluh pelan.
"Perut kamu kenapa Beb, sakit?"
"Bukan, aku kekenyangan," ucapnya cengar-cengir tanpa rasa malu.
Lexa mulai mengantuk, lalu dia tertidur begitu saja dengan kepalanya yang bersandar di pundak Zion.
Malam harinya mereka melakukan barbeque, dengan berbagai seafood yang menggoda selera. Zion memberikan Lexa kepiting yang sudah dibuang cangkangnya dan udang yang sudah dibaluri dengan saos tiram. Minumannya ada air kelapa dengan perasan lemon dan sedikit es batu.
Lagi-lagi Lexa menguap, akhir-akhir ini dia memang cepat mengantuk dan mudah untuk tidur. Zion mengusap-ngusap tangan Lexa agar istrinya itu tidak kedinginan.
"Om dan Tante, cerita dong tentang masa muda kalian."
Orang tua Lexa dan Zion tersenyum.
"Kami bersahabat sudah sejak kecil, termasuk Yuka dan Yuta. Kami juga selalu satu sekolah. Ya, seperti yang sering orang-orang bilang, sahabat jadi cinta," ucap mommy Zion.
"Pernah terlibat cinta segitiga enggak, diantara kalian?"
Para orang tua itu terdiam sesaat sambil menghela nafas perlahan.
"Ada sih ... oya, kalian tahu tidak, dulu bunda Lexa dan daddy Zion itu ... diantara Alex, Ronald dan Yuta, bunda Lexa paling akrab dengan Ronald. Mereka bahkan sering jalan dan curhat tanpa sepengetahuan sahabat-sahabatnya yang lain." Para orang tua itu terkekeh.
Lexa yang tadinya sudah mengantuk kini matanya terbuka lebar. Dia dan Zion saling memandang.
"Dulu kami semua itu, susah senang sama-sama. Kalau ada pria yang mendekati salah satu dari dari sahabat perrmpuan kami, maka para pria yang akan menghalanginya."
"Begitu juga sebaliknya, jika ada para gadis yang mendekati sahabat pria kami, maka kami yang akan menggagalkannya."
Lagi-lagi mereka tertawa, mengingat masa muda mereka yang penuh suka duka.
"Kenapa begitu?"
"Ya karena kalau salah satu dari kami ada yang pacaran, meskipun dengan orang lain, maka dia akan sibuk dengan pasangannya. Belum tentu mereka suka pada kami, begitu juga sebaliknya."
"Kalian dijodohkan, juga?"
"Ya enggak dong. Memangnya jaman Siti Nurbaya?"
"Dih, Ayah enggak nyadar diri apa ngomong kaya gitu? Aku sama Zion kalian jodohkan!"
"Ya enggak apa-apa, Xa. Kita kan memang jodoh dunia akhirat. Walaupun tidak dijodohkan juga aku tetap menikahi kamu." Zion yang menjawabnya.
Obrolan masih terus berlanjut hingga larut malam. Para muda-mudi itu masih mendengarkan cerita para orang tua yang merintis dan mengembangkan perusahaan mereka.
☆☆☆
Lexa berjalan sambil bergelayut manja di lengan Zion. Setelah pulang dari pantai, Lexa memang terlihat lebih manja. Kalau makan selalu ingin disuapi oleh Zion, memakan masakan Zion, bahkan kalau tidur harus dielus-elus dulu oleh Zion. Tentu saja Zion kegirangan dan tanpa diminta dua kali langsung melakukannya. Akhir-akhir ini Lexa juga selslu ingin dekat Zion. Jika dia sedang tidak sibuk, mala Lexa akan ke ksntor Zion hanya untuk tidur siang di sofa empuk milik depan meja kerja Zion.
Ngomong-ngomong soal ruang kerja Zion, setelah penyidikan tentang kasus Gladis, Zion langsung merenovasi ruang kerjanya. Dia juga mengganti semua furniture yang ada di situ.
"Beb, kamu tidur di kamar saja, deh. Nanti badan kamu sakit."
"Kamar kamu renovasi juga?"
"Iya, biar lebih luas. Masa kata teman-teman aku yang sudah nikah, istri mereka minta kamar di ruangan mereka di gedein. Jadi sebelum kamu minta, mendingan aku perluas saja."
"Emang kenapa gitu?"
"Katanya sih, mereka keseringan baca novel online yang ada adegan plus-plus dan ingin praktek katanya. Kamu juga mau, Beb?"
"Aku sering baca dan nonton cerita thriller, dimana tokohnya memutilasi pasangannya dan membiarkannya begitu saja sampai berhari-hari. Kamu juga mau, My Hubby?"
Zion langsung menngelengkan kepalanya, serem sendiri dia membayangkannya. Sedangkan Lexa menahan tawa melihat ekspresi Zion.
☆☆☆
Saat ini, di ruang tamu, Lexa sedang tidur di atas paha Zion dengan Zion yang mengelus-ngelus rambut Lexa.
"Lagi ngapain?" tanya David yang datang tiba-tiba bersama yang lain dengan membawa buah-buahan dan berbagai macam kue.
"Nyari kutu, uban sama ketombe!" kata Zion cuek.
"Awww!" Zion meringis kesakitan, pasalnya perutnya dicubit oleh Lexa.
"Kamu kira aku kutuan? Ketombean? Ubanan?"
"Aku kira kamu tidur, Beb!" Zion hanya cengengesan.
Lexa melirik bawaan yang dibawa oleh David cs. Ya, setiap akhir pekan mereka tidak pernah absen untuk berkumpul.
Lexa langsung mengambil salah satu makanan, onde-onde. Dia memang menyukai kue-kue tradisional yang menurutnya sangat enak itu, tidak kalah dengan kue modern yang biasa ada di restoran.
"Nemu berapa?" tanya Andre pada Zion.
"Apanya?"
"Kutunya."
Zion mendelik tajam pada Andre. Masih saja dibahas, pikir Zion.
"Mamanya sepuluh, telurnya tiga puluh." Dijawab juga oleh Zion yang semakin ngawur.