
Entah berapa banyak psikiater maupun psikolog yang didatangi orang-orang untuk berkonsultasi. Bukan hanya para korban, bahkan saksi mata di tempat kejadian merasakan trauma yang besar. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat orang-orang terpental dari motornya, mobil-mobil saling bertabrakan dan terbalik, asap mengepul dari berbagai mobil, suara jeritan dan rintihan menyayat hati. Darah-darah mengalir dari tubuh para korban membanjiri aspal yang panas.
Kaki dan tangan ada yang diamputasi, ada yang koma, patah tulang, dan sebagainya. Banyak yang menghindari jalanan itu sekarang.
Di ruangan kosong di rumah sakit, mereka sedang melihat rekaman kejadian saat kecelakaan itu terjadi. Para wanita sebenarnya dilarang untuk melihatnya, tapi mereka bersikeras untuk tetap melihat bagaimana detik demi detik kecelakaan itu terjadi.
"Jadi mobil ini melaju dengan kecepatan tinggi, lalu tiba-tiba kehilangan kendali dan menabrak mini bus." Sandi menunjuk sebuah mobil.
Nafas mereka tertahan saat mini bus itu menabrak sebuah mobil yang mereka sangat tahu itu adalah mobil Lexa.
"Astagfirullah ... " ucap bunda saat melihat mobil itu menghantam dengan kuat mobil Lexa.
Video itu sangat jelas menunjukkan mobil Lexa ditabrak lagi oleh mobil yang ada di belakangnya, lalu terseret lagi oleh mobil-mobil lain lagi yang ada di belakangnya hingga mobil Lexa berputar seperti gasing.
"Ya Allah ... " Hannie dan Kartika menangis melihat kejadian itu sampai-sampai nafas mereka sesak.
Mobil Lexa lalu terbalik dan terjepit oleh beberapa mobil. Tabrakan dari dua jalur itu benar-benar mengerikan.
Saat-saat evakuasi juga terasa berat. Mereka dapat melihat bahwa polisi dan warga kesulitan mengeluarkan pak Anwar dan Lexa. Bahkan Lexa, dengan perutnya yang membesar itu sempat terjepit pintu, membuat hati mereka meringis merasakan bahwa saat itu Lexa pasti menderita.
Benar kata dokter, suatu mukjizat Lexa telah sadar dalam jangka waktu tiga hari tanpa amnesia atau kehilangan anggota tubuh seperti beberapa korban lain. Hanya saja mereka harus kehilangan baby Arion.
Aron dan David langsung merangkul Zion saat tubuh Zion gemetaran melihat keadaan istrinya seperti itu.
"Menurut keterangan beberapa saksi, sebelum mobil itu oleng, terdengar bunyi letusan. Kami sudah mendapatkan konfirmasi kalau ban mobil itu pecah, menyebabkan mobil itu kehilangan kendali."
"Lalu bagaimana sopir mobil itu?"
"Sudah meninggal."
"Seperti yang kalian lihat, kecelakaan ini terjadi dari dua arah, dari jalur Lexa yang menuju T dan dari jalur mini bus itu yang menuju JS, lalu mobil dari dua jalur ini akhirnya saling bertabrakan dan Lexa lah yang ada di tengah-tengahnya hingga mobilnya terbalik dan terjepit dari berbagai arah."
Sandi masih terus menjelaskan pada mereka kronologis kejadian.
☆☆☆
Lexa mengusap-ngusap perutnya yang kembali rata. Dia tidak mengatakan apa-apa, tidak juga menanyakan tentang babynya, karena dia sudah mengingat semuanya. Dia juga tidak mengatakan kalau dia sudah mengingat semuanya pada orang-orang, karena berusaha menyangkal semua kenyataan itu.
"Yang, dokter bilang, kalau kondisimu semakin membaik, dua hari lagi kamu sudah boleh pulang."
Lexa memakan apapun yang diberikan padanya, juga mendengarkan perkataan orang-orang. Dia tidak tersenyum juga tidak menangis. Hanya saja tidurnya selalu gelisah.
Hari ini kepulangan Lexa ke mansion.
"Jangan lewat jalanan itu!" kata Lexa. Mereka akhirnya tahu kalau Lexa sudah ingat kecelakaan itu.
Sepanjang perjalanan Lexa membaringkan tubuhnya di atas paha Zion sambil memeluk Zion, badannya gemetaran.
Zion mengusap-ngusap kepala Lexa. Mereka tahu kalau akan ada trauma, bukan hanya untuk Lexa, tapi juga semua korban. Mereka yang melihat kejadian itu dari video saja, merasa lemas dan ... entahlah. Apalagi mereka yang menyaksikan semua itu secara langsung. Kini jalanan itu sangat dihindari orang-orang.
Mereka tiba di mansion. Lexa berjalan dipapah oleh Zion. Lexa menghentikan langkahnya sesaat. Dia perlahan melangkahkan kakinya ke taman, seperti ada kekuatan yang membuat hati dan pikirannya ingin ke sana. Lexa yang melangkah ke taman, namun yang lain yang berdebar-debar.
Mata Lexa kini tertuju pada gundukan kecil yang ditaburi bunga dan dikelilingi tanaman bunga kesukaannya. Di atasnya atap seperti rumah kaca namun terbuat dari sulur-sulur yang merambat dari pohon yang alami. Tang dibawahnya pasti akan merasa sejuk.
Lexa semakin mendekati gundukan kecil itu. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat.
Kesayangan mami ... kenapa kamu pergi? Kamu marah ya sama mami karena sering isengin papi kamu?
Tidak lama kemudian Lexa pingsan dalam pelukan Zion.
☆☆☆
"Untuk sementara ini kalian tinggal di sini saja dulu." Zion meminta kepada orang tuanya, mertuanya, Aron jufa David cs.
Saat ini Lexa sedang tidur di kamarnya, diawasi oleh asisten rumah tangga.
"Lexa suka dengan keramaian, kalau sepi takutnya dia ingat akan baby Arion dan kecelakaan itu."
"Tapi apa tidak kenapa-kenapa Lexa nanti melihat baby Kai?" tanya Hannie.
"Kita lihat dulu nanti. Yosuke memang sangat dibutuhkan di sini."
"Oya Ron, aku akan bekerja di rumah. Aku enggak mau jauh-jauh dari Lexa."
Aron mengangguk mengerti. Setelah berbicara, mereka ke kamar untuk istirahat, sedangkan pakaian mereka akan di urus oleh asisten mereka masing-masing.
Total ada tujuh kamar yang disediakan untuk orang tua Lexa, orang tua Zion, Kenzo - Hannie, Aron dan David cs.
David sekamar dengan Aron. Yosuke dangan Kenzi, Ryu dengan Malvin dan Samuel dengan Andre.
☆☆☆
Makan malam bersama ini sangat berbeda dari yang biasanya. Jika biasanya mereka berkumpul dan dipenuhi canda tawa, tapi sekarang hanya ada keheningan selain suara sendok dan garpu. Jika biasanya orang sakit akan disuapi, tapi berbeda dengan Lexa. Dia makan sendiri tanpa disuapi oleh siapapun.
Sesekali mereka melirik Lexa yang tanpa ekspresi. Sikap Lexa memang sedikit aneh bagi mereka, karena apa saja yang diberikan untuknya dimakan olehnya.
Setelah makan, Lexa segera kembali ke kamarnya dan disusul oleh Zion.
"Tunggu ... pastikan di kamar kalian tidak ada obat tidur atau obat penenang!" kata Yosuke. Zion mengangguk.
Mereka takut Lexa kembali meminum obat penenang tanpa pengawasan seperti dulu lagi.
☆☆☆
Sudah satu minggu sejak kepulangan Lexa. Dia tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, namun waktunya makan, dia akan ikut makan di ruang makan. Zion juga sama sekali tidak pernah meninggalkan Lexa. Jika dia ke kamar mandi atau ke ruang kerja untuk membahas pekerjaan bersama Aron, maka akan ada asisten rumah tangga yang menemani Lexa, walaupun Lexa sedang tidur.
Sore ini Lexa sadang duduk di taman. Matanya menatap kuburan kecil itu dari kejauhan. Zion memeluk Lexa, mengusap punggungnya dengan pelan.
"Zi, aku mau anak aku." Lexa akhirnya menumpahkan air matanya ysng sudah berhari-hari dia tahan.
"Kamu mau anak kamu, Beb?"
Lexa mengangguk, masih dalam pelukan Zion dan menangis.
"Ya sudah, yuk kita buat dulu."
Hening
Hening
Hening
"Xa?"
"Beb?"
"Yang?"
Zion melonggarkan pelukannya.
Tidur?
Zion lalu membaringkan Lexa di atas pahanya. Tidak lama kemudian yang lain datang, melihat Lexa yang tidur di atas paha Zion. Zion sendiri tidak berniat langsung memindahkan Lexa ke dalam kamar. Akhir-akhir ini Lexa mengurung diri di kamarnya, jadi dia butuh sinar matahari dan udara segar.
"Kok baju kamu basah?"
"Oh ... ini cairan milik Lexa," ucap Zion santai.
"Hmmm ... cairan?"
"Iya cairan. Hasil kolaborasi yang apik antara air mata, ingus, iler dan keringat!"
Suara tawa langsung terdengar dari para orang tua dan muda-mudi itu. Ini adalah tawa pertama yang di dengar sejak Lexa kecelakaan dan kepergian baby Arion.