ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
37 TENTANG DAVID DAN HANNIE



NB: TOLONG BACA CHAPTER SEBELUMNYA. PAS AKU LIHAT KOK ISINYA TIDAK FULL. PENTING! BIAR KALIAN TIDAK BINGUNG TIBA-TIBA PEMBUKANYA BEGINI!


Zion berdiri terpaku. Pikirannya semakin kacau. Kalau Hannie dan David bersaudara, berarti kemungkinan besar mereka akan kembali bersama.


Tidak, itu tidak boleh terjadi!


Zion juga menyadari kalau dia baru saja mengacaukan segalanya.


Pantas saja Lexa tidak percaya dengan perkataannya.


David dan Hannie adalah dua bersaudara. Mereka dua ayah satu ibu. Saat David masih dalam kandungan, ayah David meninggal karena penyakit kanker yang diderita olehnya.


Saat David berumur satu tahun, ibunya lalu menikah lagi lalu lahirlah Hannie.


Ayah Hannie hanyalah seorang buruh bangunan. Hannie dan David yang memang pintar, mendapatkan beasiswa di sekolah milik orang tua Lexa.


Sejak SD lah mereka sudah saling mengenal. Hannie merupakan anak yang pendiam, berbeda dengan Lexa yang selalu ceria kapanpun dimanapun.


Meskipun Lexa berasal dari keluarga yang sangat kaya, tapi dia tidak pernah sombong. Penampilannya juga biasa-biasa saja, tidak menunjukkan kemewahan.


Lexa tidak pernah memilih-milih dalam berteman, termasuk dengan Hannie dan David.


Saat memasuki SMP, Hannie sering dibully. Lexa lah yang selalu melindungi Hannie dan membelanya.


Lahir di keluarga yang tidak kaya menjadi alasan pembullyan itu.


Berbeda dengan David yang justru menjadi idola di sekolahnya meskipun dia dan Hannie kakak beradik.


David sangat tampan dan pintar. Dia mudah bergaul.


Lexa sering menginap di rumah Hannie, tidak peduli dengan keadaan rumah Hannie yang sempit dan jauh dari kata mewah. Hannie juga sering diajak Lexa untuk menginap di rumahnya.


Lexa juga sering memberikan barang-barang tanpa gadis itu minta.


Saat kelas dua SMP, kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan. Lexa lah yang selalu berada disisi mereka dan menghibur mereka.


Hannie dan Lexa seumuran dan mereka berbeda dua tahun dengan David.


Setelah lulus SMA, David mendapatkan beasiswa kuliah ke Jepang. Sebenarnya dia sangat berat untuk meninggalkan Hannie karena Hannie adalah satu-satunya keluarganya yang ada.


Lagi-lagi Lexa yang meyakinkan David untuk pergi dan berjanji akan selalu menjaga Hannie.


Setiap liburan panjang, Lexa akan mengajak Hannie ke Jepang untuk mengunjungi David karena akan memakan banyak biaha kalau David yang pulang ke Jakarta.


Semua biaya perjalanan sudah pasti ditanggung oleh Lexa. Dari situ jugalah hubungan Lexa dan Kenzo juga yang lainnya mulai terjalin.


☆☆☆


Dokter keluar dari ruangan. Debaran jantung mereka langsung berdetak labih cepat, khawatir dengan berita yang akan mereka dengar.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?"


"Mohon maaf sebelumnya!"


DEG!


DEG!


DEG!


DEG!


Hannie langsung menangis histeris padahal dokter belum mengatakan apa-apa.


"Pasien mengalami pendarahan di otaknya. Selain itu ... "


"Kenapa, Dok?"


"Apa pasien sering meminum obat penenang?"


"Apa?"


"Yosuke, apa kamu memberikan obat penenang pada Lexa?"


"Terakhir kali aku memberikannya saat dia sakit dulu. Itu juga dalam dosis yang rendah dan aku suntikan ke dalam cairan infusnya. Kalau dia konsultasi, aku hanya memberikan teraphy padanya!"


"Suruh orang untuk menggeledah kamarnya!"


Zion benar-benar terpukul dengan apa yang didengarnya.


"Lalu bagaimana, Dok?"


"Kami sudah berusaha, tapi pasien mengalami koma. Saya mohon maaf!"


Tiba-tiba saja Zion teringat sesuatu yang dia lupakan sejak tadi.


"Dokter ... bagaimana bayinya?"


"Bayi?"


"Lexa hamil?"


PLAK!


Kali ini Hannie lah yang menampar Zion. Sejak tadi dia sudah sangat menahan emosinya, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi.


Sepertinya Zion mendapatkan banyak hadiah di wajahnya.


"Lexa itu tidak pernah hamil. Mana mungkin gadis baik-baik seperti dia bisa hamil diluar nikah kecuali dengan cara paksa, dan kamu hampir saja melakukannya. Lexa itu masih virgin, tahu. Benar-benar bodoh!"


"Nona Lexa tidak sedang mengandung!" Dokter yang menegaskan perkataan Hannie.


Zion semakin bingung. Seharusnya dia merasa senang, kan?


Dia mencoba menelaah semua permasalahan dari awal.


"Tapi kenapa ... ?" tanya Zion menggantung.


"Itu hanya akal-akalannya saja biar kamu menceraikan, Lexa. Tapi kamu malah mau mengakui anak itu!"


Kalau dipikir-pikir secara akal sehat, pria yang normal akan murka saat tahu istrinya sedang hamil karena pria lain.


Tapi tidak!


Bukankah Zion itu pembawaannya memang tenang.


Tidak ceroboh atau gegabah.


Berpikirlah dengan tenang, maka kamu akan menang. Hal yang selalu dia lakukan.


Hanya satu kesalahannya!


Yaitu hal yang dia lakukan di kamar itu dan menyebabkan Lexa seperti ini.


Zion terduduk lemas.


Tidak pernah dia merasa sebodoh ini.


Dia tidak habis pikir kalau Lexa akan berpura-pura hamil.


Tapi bukan Lexa yang salah.


Kan sejak awal David dan Zion sendiri yang berpikiran seperti itu.


Lexa tidak pernah secara terang-terangan mengatakan kalau dirinya hamil.


Zion mengacak-ngacak rambutnya dan memukul-mukul keningnya sendiri.


Tidak lama kemudian seorang pelayan datang membawa paper bag.


"Saya menemukan ini di kamar Nona Lexa, Tuan!"


Pelayan itu memberikan paper bag itu kepada Zion.


Zion membuka isi paper bag itu.


Mereka tercengang.


Paper bag itu penuh dengan botol obat penenang yang isinya telah habis semua.


"Apa ini?"


"Ini obat penenang!"


"Kenapa Lexa meminum obat sebanyak ini? Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Ini semua gara-gara pria arogan ini. Tanyakan saja padanya apa yang telah dia lakukan!"


"Memangnya apa yang telah aku lakukan?"


"Dasar tidak tahu diri. Masih saja tidak mau mengaku!"


"Kalau kamu memang yang paling tahu, cepat katakan padaku apa yang telah aku lakukan?"


"David, sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Lexa selama ini?" tanya bunda Lexa.


"Sebaiknya kalian cari tahu saja sendiri. Kami sudah bersumpah tidak akan menceritakan apapun pada siapapun."


Diana dan Alex melihat David dan teman-teman Lexa satu persatu namun yang dilihat memalingkan wajah mereka.


Bungkam!


Tidak ada satu patah katapun yang keluar. Hanya isak tangis Hannie saja yang terdengar.


Wanita itu benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi dengan sahabat baiknya itu.


Bahkan persahabatan Hannie dan Lexa sudah seperti saudara.


Berkat Lexa lah Hannie bisa menikah dengan Kenzo, assisten David. Hubungan Kenzo dan Hannie tidak disetujui oleh ayah Kenzo.


Kenzo akhirnya meninggalkan keluarganya dan menikah dengan diam-diam dengan Hannie lalu dia bekerja dengan David.


Sebaik itu Lexa pada Hannie, sebaik itu juga Lexa pada David.


Lexa selalu memberikan semangat pada David. Mengenalkan David pada rekan-rekan bisnis orang tuanya. Memberikan masukan yang berarti karena Lexa sudah terbiasa sejak kecil dengan dunia bisnis berkat orang tuanya.


Lexa lah yang mendorong David untuk mendirikan perusahaan sendiri. Lexa sangat berarti bagi David dan Hannie.


Mereka saling menyanyangi dan menjaga.


Senyum bagi yang satu maka senyum bagi yang lain.


Duka yang satu maka duka juga bagi yang lain.


Air mata yang satu maka air mata yang lain.


Maka itulah yang kini tengah dirasakan oleh David dan Hannie.


Takut!


Takut kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Lexa. Tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


David merasa telah gagal melindungi Lexanya. Kalau saja dia datang lebih cepat!


Tidak!


Seharusnya dia bawa pergi saja Lexa sebelum dia menikah dengan pria itu.


Kini nasi telah menjadi bubur. Yang ada hanya penyesalan yang dipenuhi oleh air mata.


Hannie bahkan tidak ingat kalau dirinya kini tengah mengandung. Dia sudah sangat lemas.


Mereka menangis dalam diam.


Doa tidak henti-hentinya mereka panjatkan dalam hati.


Untuk anak


Untuk sahabat


Untuk orang terkasih