
Lexa memandangi Zion saat mereka makan di restoran. Perkataan Hannie terus terngiang-ngiang dalam pikirannya.
Memikirkan itu membuat Lexa merinding, ditambah beberapa hari lagi tepat enam tahun menjelang peristiwa itu.
Kini Lexa terbaring lemah di atas kasurnya. David dan Hannie yang memang sudah hafal dengan apa yang akan terjadi, langsung menghampiri Lexa ke mansion Zion.
Trauma itu kembali datang. Akhirnya kehadiran Yosuke di hadapan Zion tidak dapat dihindari lagi. David, Hannie dan Yosuke, mereka berusaha menenangkan Lexa tanpa menimbulkan kecurigaan.
“Hanya mimpi buruk!” seperti itulah yang Yosuke katakan. Memang tidak sepenuhnya berbohong. Mimpi buruk yang terus menghantui selama enam tahun yang membuat Lexa tersiksa.
Mereka tetap bungkam, meskipun orang tua Lexa bertanya. Berhari-hari David, Hannie dan Yosuke menunggui Lexa di kamarnya.
Jujur saja, David ingin sekali menghajar pria arogan itu habis-habisan. Dia tidak peduli kalau harus masuk penjara karena telah membunuh seseorang. Semua ini demi Lexa!
Lexa yang akan dia lindungi seumur hidupnya.
☆☆☆
Aku bertemu Tiara, sahabat lama yang sudah lama tidak aku ketahui kabarnya. Melihat kedekatan pria itu dengannya, aku tidak merasakan apa-apa. Aku hanya berpikir ternyata benar kalau Zion menyukai Tiara. Gadis sederhana yang berwajah cantik. Seorang model terkenal!
Tiara bilang, hubungannya sudah berlangsung selama empat tahun karena Zion yang memaksanya. Empat tahun pria itu habiskan dengan kebahagiaan. Sedangkan aku? Aku menghabiskan waktuku selama enam tahun dengan obat-obatan. Menghilangkan depresi yang disebabkan olehnya. Merepotkan orang-orang yang ada di sekitarku.
David! Pria yang selalu menemani hari-hariku. Yang meyakinkan aku kalau aku mampu melewati semua ini. Davidlah penyemangatku!
☆☆☆
Lexa ingin tertawa sekaligus marah kepada kedua orang pria yang duduk di hadapannya kini.
Hamil?
Lexa memejamkan matanya mencoba tenang sebelum dia mencakar Zion dan menjitak kecil David.
Tapi tunggu dulu? Hamil ya? Benar juga! Itu dia caranya!
Akhirnya Lexa membiarkan mereka berpikir kalau dirinya hamil. David langsung mengakui anak itu. Lexa sangat tahu mengapa David melakukan hal itu. Ini semua demi Lexa. Selalu karena Lexa. Lexanya yang selalu berharga!
“Itu anak aku!”
Ucapan Zion yang juga mengakui anak itu diluar prediksi Lexa. Dia pikir Zion akan marah lalu langsung menggugat cerai.
Tapi ternyata?
Apa maksudnya pria ini? Mau bersikap gentle? Mau menunjukkan kalau dia pria terbaik sedunia? Cih, jangan harap aku akan terharu dengan sikapnya. Sok bermurah hati! Aku tidak akan pernah kalah darimu, bastard! Aku tidak akan sebodoh dulu lagi.
Dulu aku pikir kamu selalu peduli padaku karena kamu menyayangiku. Entah itu sebagai sahabat atau lebih. Tapi nyatanya? Kamu lah yang menyakitiku lebih dari siapapun. Kalau bukan karena David dan yang lain, aku pasti hanya tinggal nama karena aku bunuh diri di malam naas itu!
☆☆☆
Lexa menjitak kening David. Saat ini mereka sedang berkumpul di apartemen Hannie dan Kenzo.
“Bisa-bisanya kamu mengira aku hamil!”
“Hah?” yang lain kaget karena perkataan Lexa.
“Kamu tidak hamil, kan, Lexa?” tanya Hannie.
Dia sudah sangat cemas. Siapa pelakunya?
“Tenang saja, semua aman!”
“Astaga Lexa, kamu bikin aku cemas. Berhari-hari aku tidak tenang karena memikirkan ini!”
David langsung memeluk Lexa, menunjukkan kalau dia sangat lega.
“Aku pikir pria itu melecehkan kamu! Kalau kamu hamil, biar aku saja yang membesarkan anak itu. Aku tidak akan membiarkan pria itu menyakitimu lagi dengan menggunakan anak ini,” ucapnya lagi.
“Tapi kenapa kamu sampai berpikir Lexa hamil?” tanya Kenzi.
“Itu karena dia seperti orang ngidam!”
“Kok bisa?” Malvin ikut-ikutan bertanya.
“Itu karena Hannie. Dia yang hamil, aku yang ngidam. Ya mau rujaklah, muntah-muntahlah! Inilah itulah. Pokoknya aku minta pertanggung jawabanmu, Hannie! Kamu sudah berjanji padaku akan bertanggung jawab!”
Hannie hanya tertawa.
“Tentu saja my sister, my twins. Kalau anak aku lahir, kamu yang akan memberi nama, ya?”
“Janji, ya?”
“Iya janji.”
“Terus?” Andre penasaran dengan cerita seutuhnya.
David dan Lexa lalu menceritakan kejadian tadi saat bersama Zion.
“Trik apalagi yang akan dia lakukan? Mengambil hatimu?”
“Jangan harap!”
☆☆☆
Aku melemparkan makanan yang dia buat untukku. Bagaimana perasaannya saat itu? Apakah sakit hati? Seperti itulah yang aku rasakan dulu saat dia membuang masakan pertamaku ke tempat sampah.
Aku tidak akan menghargai apapun yang dia berikan padaku sama seperti yang dia lakukan dulu. Dulu dia bilang sendiri di hadapanku, secara langsung, kalau dia tidak menyukai orang yang memberikan masakan itu? Kini aku pun begitu, aku tidak menyukai pemberinya.
Cukup David saja satu-satunya pria yang memasak khusus untukku. Tidak perlu yang lain, aku sudah bahagia.
Aku memanfaatkan kehamilan palsu ini untuk mempermainkannya. Dengan bodohnya dia menuruti semua itu. Aku menyuruhnya memasak ini itu tapi tidak pernah aku sentuh sedikit pun. Aku akan berpura-pura menangis sambil mengusap-mengusap perutku yang tidak pernah ada bayi di dalamnya.
Jujur saja, selama ini aku juga sering muntah-muntah, pusing dan sakit kepala bukan hanya karena menggantikan Hannie ngidam. Tapi karena setres.
Aku selalu gelisah saat berdekatan dengan pria itu. Semakin lama konsumsi obatku semakin bertambah. Apakah aku akan menjadi seorang pecandu? Aku tidak dapat tidur tanpa obat itu.
☆☆☆
“Hahaha!” suara tawa dari sekelompok orang memenuhi ruangan itu.
“Kenapa tidak sekalian saja kamu bilang ngidam kobra atau harimau. Suruh dia yang makan!”
“Dih, amit-amit!” ucap Hannie sambil mengusap-usap perutnya.
“Coba deh, kamu bangun malam-malam terus suruh dia ini itu.”
“Maunya sih begitu, tapi aku kesulitan bangun malam!”
Perkataan Lexa itu membuat yang lain saling memandang heran.
Kesulitan bangun malam? Selama ini Lexa justru kesulitan tidur meskipun malam telah larut. Apa yang terjadi sebenarnya?
☆☆☆
Aku mendengar berita tentang Zion dan Tiara di televisi. Pria itu bilang akan membahagiakan aku. Cih, belum apa-apa saja dia sudah membuat banyak skandal.
Aku melihat Zion dan Tiara di salah satu restoran. Aku juga mengikuti mereka ke rumah sakit saat Tiara pingsan.
Hamil? Tiara hamil? Anak Zion?
Dasar bastard! Benar-benar bastard.
Aku ingin sekali mencabik-cabik Zion. Bukan karena aku cemburu. Aku tidak peduli dengan wanita mana dia bersama.
Dia bilang dia akan bertanggung jawab pada anakku. Lalu Tiara? Dia pasti akan bertanggung jawab juga karena itu anaknya. Aku akan memanfaatkan kehamilan Tiara untuk berpisah dari Zion.
Aku dan Zion bertengkar. Dia juga mengatakan hal yang paling gila yang pernah aku dengar. Dia bilang Hannie hamil anak David. Cih, informasi yang dia dapat ternyata tidak akurat.
Aku bertanya pada Tiara anak siapa yang sedang dia kandung. Apakah anak Zion? Dia diam saja. Diam berarti iya, kan?
Berapa bulan kehamilannya sekarang? Bukankah itu berarti kehamilan itu terjadi setelah pernikahanku? Tidak bisakah mereka bersabar hingga satu tahun itu berlalu. Setelah itu mereka dapat bersama.
Aku pun ingin bahagia. Tapi rasanya sangat sulit. Dia tidak ingin menceraikanku. Lalu aku harus bagaimana?
Apakah lebih baik aku mati saja?
Benar!
Dengan begitu aku tidak akan merasa kesakitan seperti ini lagi. Aku benar-benar tidak kuat!
Maafkan aku ayah dan bunda.
Maafkan aku Hannie, sahabat terbaikku.
Maafkan aku David, kamulah pria terbaik dalam hidupku.
Maafkan aku Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Andre, Malvin dan Samuel.
Aku menyayangi kalian semua.
*Rasanya a*ku ingin mati saja!
FLASH BACK OFF