ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
102 CABE-CABEAN



Perbincangan hangat tentang kejadian di loby itu masih ramai. Setiap kali Lexa datang ke perusahaan Zion, mereka menunduk, antara hormat dan takut. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana sangarnya Lexa. Wanita yang tetlihat cantik dan berkelas, namun akan sadis jika diusik. Banyak pria di perusahaan itu diam-diam semakin mengaguminya, sifat wanita itu menambah pesonanya.


Bagi mereka, wanita yang lemah mudah dipermainkan dan sangat cocok untuk pria brengsek. Untuk pria yang suka berselingkuh, tentu saja Lexa adalah daftar pertama wanita yang harus dihindari.


Bagaimana kalau mereka ketahuan selingkuh? Sudah bisa dipastikan, bukan hanya wanita selingkuhannya saja yang akan sial, tapi juga si pria.


Mungkin karena itulah tidak ada pria yang mudah mendekatinya.


Zion sungguh beruntung, bisa memiliki Lexa. Pikiran itu tentu saja berlaku bagi mereka yang tidak mengetahui bagaimana perjuangan Zion dan kehidupan pernikahan mereka.


Zion sendiri senang akan sikap Lexa itu, karena dia bisa menunjukkan bahwa Lexa bukanlah wanita lemah dan mudah diprovokasi, jadi tidak ada lagi wanita yang dengan sengaja menggodanya apalagi merusak rumah tangganya.


☆☆☆


Lexa telihat sibuk di dapur. Sejak tadi dia merasa gelisah, ingin mengolah dan makan sesuatu. Maka sekarang dia memasaknya.


Dia tidak ingin meminta koki atau siapapun yang mengerjakannya. Wajahnya terlihat berbinar. Para orang tua dan sahabat juga Zion mengerutkan kening, sejak tadi Lexa ke dapur dan belum kembali hingga saat ini. Maka mereka memutuskan untuk menyusulnya, takut terjadi sesuatu pada Lexa.


"Apa yang kamu makan itu, Lexa?"


Mereka melihat Lexa sedangkan memakan tumis cabe.


Benar, tumis cabe!


Berbagai jenis cabe dan beraneka warna paprika ditambah bawang bombai dan daun bawang.


"Jangan dimakan, Lexa!"


"Jangan bawel, aku lagi pengen ini."


Lexa terlihat sangat menikmati makanan itu.


"Han, cobain deh. Enak tahu!"


Hannie meringis. Tapi dia mencoba juga sedikit masakan Lexa itu.


"Enak banget, Xa!"


Hannie kemudian memakannya dengan roti tawar bakar yg sudah diolesi dengan mentega.


Walaupun itu tumis berbagai jenis cabe, ternyata tidak sepedas itu. Sepertinya Lexa sudah membuang sebagian biji cabe itu agar rasa pedasnya berkurang.


Mereka yang melihat merinding dengan selera kedua wanita itu. Zion dan David mau tidak mau langsung ikut mencicipi, khawatir akan keadaan kedua wanita itu setelah memakannya.


Ternyata, rasanya memang tak semengerikan penampilannya. Memang ada rasa pedas, namun tidak seextreme itu.


Kadang mereka berpikir, terutama Zion, akan seperti apa anak perpaduan Lexa dan Zion nanti, mengingat selama ini Lexa ngidamnya yang ... unik.


Kalau wajah, tidak perlu diragukan lagi, pasti sangat ganteng atau cantik.


☆☆☆


Zion dan Arkan sedang membahas kelanjutan kerja sama mereka. Arkan mengakui bahwa Zion memang hebat ... dan beruntung. Saat masih sekolah sebenarnya Arkan menyukai Lexa, namun wanita itu selalu bersama David meskipun tidak jelas apa status hubungan mereka. Arkan dulu juga diam-diam sering mengambil foto Lexa dengan ponselnya. Sekarang, masihkah Arkan menyukai Lexa?


Masih!


Meskipun Lexa telah menikah, namun perasaan itu tidak hilang.


Kesepakatan dicapai, Zion dan Arkan kini resmi bekerja sama. Untuk merayakan kerja sama ini, Arkan mengajak Zion dan Lexa untuk makan malam bersama.


Alasan, itu hanya alasan agar Arkan dapat bertemu dengan Lexa, sang wanita pujaan.


Biarlah, walau hanya dapat memandang wajahnya saja, Arkan sudah merasa senang.


Arkan melihat boneka panda yang berukuran besar di ruangan Zion. Dia sangat tahu bahwa Lexa menyukai boneka panda. Saat masih sekolah, Lexa selalu memakai gantungan boneka panda. Mulai dari gantungan tas dan ponsel. Bahkan peralatan sekolahnya bermotif panda.


Lexa sedang bersiap-siap untuk makan malam ini. Penampilannya sangat elegan. Dia menggunakan heels yang tidak terlalu tinggi dengan gaun kuning tanpa lengan. Rambutnta dibiarkan tergerai.


Zion memang selalu kagum dengan penampilan Lexa.


"Beb, kamu cantik banget sih ... aku juga ganteng banget, deh!"


Cih, muji diri sendiri.


Habis mau bagaimana lagi, istrinya tidak pernah memujinya.


"Kita ini ibarat jam dengan batrainya, Xa?"


"Kenapa begitu?"


Mulai lagi deh gombalannya.


Acara makan malam berjalan dengan lancar. Lexa yang memang pebisnis hebat tidak segan-segan menimpali percakapan Zion dan Arkan. Dia juga ikut memberikan saran yang sangat berguna.


Karena prinsipnya ya itu, perusahaan Zion akan menjadi miliknya. Dasar, memang tidak mau rugi tuh, Lexa. Berapa banyak perusahaan yang dinaungi oleh RW Group? Berapa banyak perusahaan yang dinaungi oleh 4C Group? Belum lagi AW Group dan perusahaan milik Lexa sendiri yang dirintisnya selama di Jepang.


Anak-anaknya sudah pasti menjadi anak sultan. Belum lagi saham-saham mereka di perusahaan orang lain.


Seluruh aset mereka ... sudahlah, jangan ditanyakan! Makanya, dengan tahunya orang-orang tentang kehamilan Lexa, maka dimulailah doa sejak dini agar mereka bisa berbesan dengan Lexa-Zion. Benar-benar niat, mereka. Siapa yang tidak ingin kehidupan anak cucunya terjamin? Mereka tidak munafik.


Ponsel Lexa berbunyi, pesan masuk dari salah satu sahabat perempuannya saat di sekolah. Dulu Lexa memang terkenal ramah, banyak yang dekat dengannya baik perempuan maupun laki-laki.


Kartika


[Xa, kalau boleh aku mau minta tolong sama kamu.]


Lexa


[Apa?]


Kartika


[Kalau tidak sibuk, besok siang kita bertemu di kafe depan perusahaan kamu saja. Gimana]


Lexa


[Oke!]


☆☆☆


Lexa sedang berbincang dengan sahabatnya, Kartika.


"Kamu tenang saja, aku tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Lexa.


"Makasih banyak ya, Xa."


Mereka melanjutkan makannya, sesekali Lexa tersenyum saat membayangkan apa yang akan dia lakukan.


"Kamu harus hati-hati, Tik!"


"Kamu juga, Xa. Kamu kan lagi hamil. Kamu dan baby sehat terus ya, Xa. Oya, gimana kabar Hannie dan kak David?"


"Mereka baik-baik saja. Biasanya akhir pekan kami kumpul. Sekali-sekali kamu datang ke tempat aku, dong."


"Iya. Eh, Xa ... teman kamu yang bernama Yosuke itu, sudah ada calon, belum?"


Lexa tertawa.


"Kamu suka sama Yosuke? Belum sih, dia sibuk sama pasiennya. Kamu pura-pura saja konsultasi sama dia!"


"Dih, nanti kalau ditanya apa masalahnya, terus aku jawab apa, coba?"


"Bilang saja penyakit hati!"


"Hah?"


"Lah, memang iya kan. Pasti yang konsultasi sama psikiater memang tentang kejiwaan, kan? Bilang kamu lagi jatu cinta sama orang yang hanya dapat dipandang namun sulit untuk diungkapkan."


"Dih, Lexa ... sudah dong jangan godain aku gitu."


"Hahaha ... Sahabat-sahabatku itu semuanya baik, aku senang kalau kamu berjodoh dengan salah satu dari mereka."


"Kata Hannie, dia dan Kenzo juga menikah karena dukungan kamu, Xa?"


"Hmmm ... ya pada dasarnya karena mereka juga memang jodoh. Yang namanya sahabat itu, ibarat tangan kanan dengan tanfan kiri. Jika tanfan yang satu tidak kuat mengangkat beban, maka tangan yang satu lagi akan membantu. Kalau tangan yang satu gatal, maka tangan yang lain akan menggaruk. Jika tangan yang satu terluka, maka tangan yang lain mengobati."


"Kamu benar. Sayang sekali kita semlat terpisah, aku tidak tahu dulu kamu berada fi Jepang, kalau aku tahu, pasti aku akan mengikutimu."


"Yang penting sekarang kita bertemu lagi. Untuk masalahmu, kamu akan mendaoatkan kabar gembira saat waktunya tiba."


Kartika mengangguk. Kartika adalah sahabat Lexa dan Hannie sejak SMP. Mereka juga satu SMA. Kartika merupakan anak seorang pengusaha dan ibunya adalah seorang arsitek. Saat SMA, Kartika pernah berkencan dengan teman satu sekolah dan seangkatan. Pria itu justru mengkhianati Kartika dan berselingkuh dengan gadis yang tidak menyukai Kartika. Mereka bertengkar di belakang sekolah, pria itu membela selingkuhannya. Lexa dan Hannie yang mengetahuinya langsung membantu Kartika.


Lexa yang sangat marah, langsung saja menampar dua orang itu. Satu bulan kemudian, perusahaan dari pria itu bangkrut dan gadis itu ketahuan hamil. Pihak sekolah berusaha menutupi berita tersebut dari murid-murid dan pihak luar juga mengeluarkan murid perempuan itu.


Pria itu menolak untuk bertanggung jawab dan kabur.