ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
22 LICIK



"Apa, bercerai? Kalian baru dua bulan menikah kenapa ingin bercerai?" tanya bunda Lexa yang datang bersama suaminya dan kedua orang tua Zion.


"Bukan uusan kalian!"


"Lexa, kalau ada maalah tolong bicarakanlah baik-baik!"


"Bukan urusan kalian!"


"Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan."


"Aku bilang bukan urusan kalian. Kenapa tidak mengerti juga? Bukankah sudah sangat jelas di perjanjian itu jangan pernah mencampuri urusan rumah tangga kami!"


Emosinya mulau tak terkontrol.


"Aku benci pada kalian. Kalian membuat aku muak."


"Astaga Lexa, kami ini orang tuamu. Jangan bicara seperti itu!"


"Jangan bilang kalian orang tua aku kalau kalian justru membuat aku menderita!"


Lexa lalu keluar, menyalakan mesin mobilnya dan langsung pergi dengan mengebut.


Orang-orang yang ada di ruang tamu menghempaskan badannya di sofa.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ronald pada putranya itu.


"Hanya salah paham."


"Bersabarlah menghadapi Lexa. Kalau dia keras, maka kamulah yang harus lembut. Kalau dia berteriak, kamu jangan ikut-ikutan berteriak."


Nasihat mulai dikeluarkan oleh mereka yang sudah berpengalaman itu. Zion hanya menghela nafasnya dengan berat.


Dia sudah sangat lelah, pulang-pulang malah bertengkar dengan Lexa, dan sekarang mendapat ceramah dari empat orang.


Kepalanya sudah mau pecah!


Tahu begini tadi tidak usah pulang saja!


Lagi-lagi Lexa ke tempat David, mencari penghiburan di sana.


"Secepatnya tinggalkan pria itu! Aku tidak pernah tenang kalau kalian masih satu atap!"


"Aku juga tidak mau satu atap dengannya!"


"Apa orang tuamu selalu membela pria itu?"


"Iya, dan aku semakin membenci pria itu."


"Sudahlah, kan masih ada aku!"


Lexa tersenyum dan mengangguk.


☆☆☆


Zion tidak dapat memejamkan matanya. Berkali-kali dia melihat jam. Sudah jam dua belas lewat lima belas menit, tetapi Lexa belum pulang juga. Membuat Zion semakin merasa kesal. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, ada sebuah pesan masuk.


Tiara


[Kamu sudah tidur?]


Zion


[Belum!]


Tiara


[Aku ingin bertemu dengan kamu besok]


Zion


[Kalau tidak sibuk aku akan menghubungi kamu]


Tiara


[Baiklah, sampai besok. Sudah malam, cepat tidur agar besok tidak kelelahan!]


Zion


[Ya!]


Zion membaringkan tubuhnya, menutupi wajahnya dengan lengan.


Ck!


Dia duduk lagi dan melemparkan bantalnya. Seperti ini rasanya menunggu istri pulang? Rasanya sangat mengesalkan. Lalu bagaimana perasaan istri yang menunggu suaminya pulang?


☆☆☆


Tiga hari Lexa tidak pulang. Dia juga tidak ada di kantornya.


Pekerjaan di kantor diurus oleh asisten dan sekretarisnya.


Ponselnya tidak dapat dihubungi. Orang-orang Zion sudah mencari keberadaan Lexa, mereka juga mengawasi David tetapi hasilnya nihil. Lexa tidak mereka temukan.


Jika seperti ini terus, rasanya pernikahan ini tidak akan bertahan lama. Tetapi bukankah ini yang Lexa inginkan?


Kamu sengaja membuat aku marah agar aku menceraikan kamu? Mimpi saja kamu, Lexa!


Aku tidak akan pernah memberikan keinginan kamu itu. Kamu lihat saja! Semakin kamu berusaha untuk terlepas dariku, semakin aku akan mengikatmu!


Jangan pernah kamu meremehkan aku. Lakukan apapun yang kamu suka! Tapi jangan harap aku akan menceraikan kamu begitu saja.


Kemanapun kamu bersembunyi, pada akhirnya kamu akan kembali dan aku akan mengikatmu dengan status yang kamu benci ini, yaitu istriku.


☆☆☆


Detik, menit, jam dan hari silih berganti.


Di suatu apartemen, seorang wanita cantik sedang tertidur nyenyak tanpa mempedulikan kalau kedua orang tuanya sangat mengkhawatirkannya.


Ponsel yang dia pakai selama ini selalu dia non aktifkan agar tidak dapat dilacak oleh siapapun.


Hidupnya terasa lebih tenang.


Tanpa ada hiruk pikuk.


Tanpa ada pertengkaran.


Bebas!


Itulah yang dia rasakan!


Lexa merapatkan selimutnya hingga ke dagu agar membuatnya lebih hangat.


Ponsel yang nomornya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu itu berdering, membuatnya terbangun. Mata indahnya terbuka perlahan.


"Halo?"


"Kamu masih tidur?"


"Iya!"


"Aku sudah tiba di Jakara."


"Kenapa tidak bilang kalau kamu mau ke Jakarta? Aku kan bisa menjemput kamu."


"Aku ingin memberikan kamu kejutan."


"Seharusnya kamu berdiri di depan pintu aparemenku dan mengatakan kejutan! Will you marrie me?"


"Hahaha ... dasar gila! Aku ini masih normal, My Honey!"


"Kamu datang bersama siapa?"


"Sama Kenzi dan yang lain."


"Baikkah. Ayo nanti malam kita berpesta, aku akan menghubungi David!"


"Oke, see you! Muach ... "


Lexa langsung bergegas ke kamar mandi setelah menerima telepon dari Hannie.


Berendam dengan menggunakan berbagai wewangian, lilin aroma terapi, pemandandangan kota dari ketinggian 60 lantai yang kacanya tidak dapat dilihat dari luar, menambah suasana nyaman untuk dirinya.


☆☆☆


Ruangan VVIP yang dipenuhi oleh suara tawa.


"Wow, pengantin baru, bagaimana kemajuan pernikahan kamu? Bulan madumu sangat berkesan sekali ya!"


"Hahaha ... !" suara tawa itu semakin keras.


"Tentu saja sangat berkesan, berkat kalian!"


"Kamu tahu?"


"Apa yang aku tidak tahu! Jangan remehkan Alexa Elora William!"


"Kamu benar-benar jenius!"


"Jadi siapa yang akan membebaskan wanita itu?"


"Aku!" jawab Lexa santai.


"Kamu akan meminta pria itu untuk mencabut tuntutannya?"


"Tentu saja tidak. Kamu pikir aku bodoh?"


"Aku akan mengirimkan uang lima milyar. Suruh orang untuk membebaskannya. Ingat, mereka harus tutup mulut!"


"Hebat sekali, seorang istri membebaskan wanita suaminya!"


"Ck, itukan kalian yang membuat keonaran. Tapi aku suka!"


"Kamu tidak sayang mengeluarkan uang lima milyar?"


"Tentu saja sayang, apalagi untuk hal seperti itu. Lebih baik aku shopping. Tapi apa kalian yang akan mengeluarkan uang sebanyak itu? Aku juga tidak rela, meskipun kalian lah dalang dibalik semuanya!"


"Lalu?"


"Aku akan mendapatkan uang itu dari suamiku yang sangat kaya itu. Untuk apa punya suami kaya kalau tidak dimanfaatkan? Apa hanya untuk dijadikan pajangan atau dipamerkan ke orang-orang saat pesta?"


Mereka terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu benar-benar istri yang licik!"


"Apa kamu akan mendapatkan uang sebanyak itu dari dia begitu saja? Dia pasti akan banyak bertanya."


"Aku akan mengurusnya."


Pesta terus berlanjut hingga pagi.


☆☆☆


"Tiara!"


Lexa memanggil Tiara saat melihat wanita itu duduk dalam cafe di salah satu mall.


"Hai Lexa!"


"Katanya kamu mau menghubungi aku untuk kita shopping!"


"Maaf, aku belum ada waktu luang!"


Lexa mengangguk paham.


"Tiara, maaf aku terlambat!"


Lexa langsung melihat ke asal suara.


"Luar biasa. Kamu tidak ada waktu luang untuk bertemu sahabat lama, tapi bisa punya banyak waktu untuk bertemu suami orang ya? Apa kamu punya kerja sambilan sebagai pelakor?"


"Lexa, jangan salah paham!"


"Ya ya ya ... hanya itu kata-kata orang yang tertangkap basah, 'Jangan salah paham!' basi!"


Lexa menatap Zion sinis begitupun sebaliknya.


"Kenapa kalian kelihatan canggung? Apa aku sangat mengganggu pertemuan kalian?"


"Tentu saja tidak!"


Pertemuan pertama Lexa dan Zion setelah berhari-hari tidak bertemu. Lagi-lagi harus seperti ini!