ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
26 MENYELIDIKI



Lexa sudah benar-benar sehat. Dia sudah kembali bekerja. Hubungannya dengan Zion juga kembali normal (bertengkar, acuh, dingin). Tidak terlihat seperti orang yang pernah mengalami tekanan jiwa atau apapun yang dikatakan oleh dokter Adam.


"Mungkin dia yang mengalami tekanan batin selama menjadi dokter!" ucap Lexa ketus saat Zion menanyakan tentang kondisi Lexa yang sebenarnya pada wanita itu.


"Apa ada yang kamu tutupi dari aku?"


"Tentu saja ada."


"Apa?"


"Hatiku!"


Seperti ditolak mentah-mentah!


Tapi ini kan lagi membahas masalah kesehatan, bukan masalah perasaan.


Apa wanita ini sedang memancingku?


"Cinta dan benci itu berbeda tipis Lexa. Bisa saja kamu sangat mencintai seseorang di detik berikutnya kamu sangat membencinya juga sebaliknya kamu sangat membenci seseorang lalu kamu sangat mencintainya."


"Itu benar! Kamu juga pasti sangat tahu itu."


Zion menatap wajah Lexa yang menunjukkan luka yang mendalam.


"Banyak wanita yang menyukaimu, bisa jadi beberapa diantara mereka sekarang memendam dendam padamu."


Zion mengangguk.


"Mungkin!"


"Lalu apa yang akan kamu lakukan kalau wanita-wanita itu benci dan dendam padamu?"


"Itu bukan urusan aku. Aku tidak akan mempedulikannya selama mereka tidak mengusik hidupku. Memangnya aku yang meminta mereka jatuh cinta padaku? Mereka sendiri yang mengejar-ngejar aku. Mengincar kekayaan aku."


"Kalau kamu bertemu mereka bagaimana?"


"Ya bersikap seperti biasa saja. Anggap saja mereka tadinya fans fanatik lalu berubah menjadi haters."


Kali ini Lexa yang mengangguk.


"Kamu tidak punya hati juga, ya!"


"Tentu saja punya, dan hatiku hanya untukmu!" ucap Zion sambil mengedipkan matanya.


"Cih!"


"Ck!"


☆☆☆


Zion dan Tiara masih sering bertemu, dan Lexa mengetahui semuanya dari orang-orang suruhannya.


Dia melakukan ini bukan karena cemburu, tetapi ingin mencari alasan agar dapat menggugat cerai Zion. Memang kesepakatannya mereka tidak akan mencampuri urusan masing-masing. Tetapi pendapat publik sangat berpengaruh, kan?


☆☆☆


Zion sudah menyuruh orang untuk menyelidiki tentang Lexa selama dia di Jepang dulu. Dia tidak akan percaya begitu saja dengan perkataan David, Yosuke maupun Lexa sendiri.


Universitas


Rumah sakit


Perusahaan


Semua tidak lepas dari penyelidikan tapi hingga kini belum menemukan titik terang.


Zion benar-benar dibuat penasaran.


Wanita itu sangat arogan tapi terkadang aku melihat rasa sakit yang mendalam dalam tatapan dan bicaranya. Tapi apa peduliku ... ?


Sementara itu Lexa sedang duduk bertopang dagu. Dia memain-mainkan pullen dalam genggamannya. Sesekali dia menghela nafas. Dia merasa bosan dengan kegiatan yang monoton ini.


Bangun - kerja - pulang - tidur


Seperti itu terus!


Dia ingin kembali ke Jepang. Dulu di Jepang dia sering bersama dengan David, Hannie dan yang lainnya. Tanpa ada celotehan-celotehan!


Dia memutuskan untuk ke mall saja, menghabiskan waktu untuk shopping dan perawatan.


Di kejauhan dia melihat Zion dan Tiara yang terlihat mesra. Dia menghampiri mereka.


"Kalian benar-benar tidak takut paparazi ya!"


Perkataan itu mengagetkan Zion dan Tiada. Mereka langsung menengok ke belakang.


"Kalian seharusnya memakai masker, menyewa ruang VVIP dan memesan kamar hotel khusus!"


Diucapkan dengan sangat santai, tanpa ada beban sedikitpun.


"Hati-hati Tiara! Karirmu bisa hancur sampai ke akar-akarnya. Eh, tapi kamu pasti sangat percaya diri sekali ya karena memiliki Zion yang akan selalu menjagamu?"


Tiara menatap Lexa.


Lexa sudah berubah. Dia tidak seperti yang aku kenal dulu! Tapi dia semakin cantik.


Ponsel Lexa berdering.


"David kamu dimana? Aku sudah menunggu kamu."


"Aku sudah di parkiran."


"Ya sudah."


Lexa menutup teleponnya sambil tersenyum.


Zion memperhatikan wajah Lexa yang langsung berubah ekspresi. Yang tadinya datar langsung merasa senang.


Tidak lama kemudian David datang dan langsung mengusap rambut Lexa. Dia juga melihat Zion dan Tiara dengan tatapan sinis.


"Ayo kita pindah tempat!" ajak David.


"Tidak perlu."


David menyuapi Lexa dengan penuh perhatian.


"Wajahmu pucat. Kalau masih sakit seharusnya tidak usah bekerja dulu. Setelah ini ayo kita ke dokter!"


"Aku yang akan membawanya ke dokter!"


"Urusi saja pacarmu itu!"


"Dia bukan pacarku!"


"Hahaha ... kamu lihat sendiri, Nona. Dia tidak mengakuimu. Seharusnya kamu tinggalkan saja pria seperti itu."


"Dia mungkin dibayar mahal, Vid! Makanya tidak mau lepas dari pria itu."


Wajah Tiara sudah merah padam. Entah perkataan dari siapa yang membuatnya malu dan sakit hati!


BRAK!


Zion mendobrak meja.


"Jaga bicara kalian!"


"Kalau begitu kamu jaga sikapmu!"


Orang-orang yang tadinya asik makan, kini menengok ke arah mereka. Ada yang langsung merekam tetapi langsung dicegah oleh para bodyguard.


Ini bukanlah hal yang pantas untuk di unggah ke internet. Bisa hancur reputasi mereka!


"Ayo pulang!" perintah Zion pada Lexa.


"Pulang saja sana sendiri!"


Zion menarik tangan Lexa.


"Lepaskan dia. Kamu menyakitinya!"


"Aku bisa lebih menyakitinya kalau kamu selalu ikut campur urusan kami."


David mengepalkan tangannya. Dia tidak rela kalau Zion menyakiti Lexa.


"Biarkan saja Vid. Selama ini kan dia memang selalu menyakitiku. Mungkin kalau aku belum mati dia tidak akan tenang!"


Perkataan Lexa justru semakin membuat Zion geram. Sedangkan David terlihat semakin cemas.


"Aku pulang dulu. Jangan khawatir!"


Lexa berusaha meyakinkan David dengan mengusap-usap lengan pria itu. David menganggukan kepalanya. Salah seorang bodyguard yang David sejak awal David perintahkan untuk mengawasi Lexa mengikuti mereka.


Sialan!


"Ayo kita ke rumah sakit!"


"Aku mau ke tempat Hannie saja."


"Aku bilang ke rumah sakit!"


"Aku bilang ke tempat Hannie!"


Dengan terpaksa Zion mengantarkan Lexa ke apartemen Hannie karena wanita itu sedang tidak ada praktek.


Hannie melihat Lexa yang berwajah pucat dengan khawatir. Dia langsung menyuruh Lexa masuk ke kamarnya.


Saat Zion ingin ikut masuk, wanita itu langsung mengusirnya.


"Ini kamar aku. Kamu tunggu saja di luar. Kalau perlu lulang saja sana. Tidak ada yang mengharapkan kehadiranmu di sini!"


BLAM!


Pintu kamar ditutup dengan sangat kencang.


Pantas saja mereka bersahabat. Sama-sama judes! Mana ada pasien yang mau memiliki dokter seperti dia!


Tik tok tik tok


Detik menit dan jam berlalu ...


Sudah empat jam tapi kedua wanita itu masih berada di kamar.


Apa sebenarnya yang mereka lakukan?


Zion mengetok pintu kamar Hannie.


Hingga beberapa menit kemudian baru pintu itu dibuka.


"Ada apaan sih? Ganggu saja!"


"Apa yang kalian lakukan, dimana Lexa?"


"Ya tidurlah! Memangnya mau apa lagi?"


Ya ampun, jadi dari tadi mereka tidur? Ck!


Zion langsung menerobos masuk dan menggendong dia.


"Hei, kamu mau apa?"


"Tentu saja membawanya pulang. Memangnya mau apa lagi!"


"Tidak boleh!"


"Jangan halangi aku atau aku akan menyakitinya!"


Seperti terhipnotis, Hannie langsung menggeser badannya memberikan jalan untuk Zion.


Zion membaringkan Lexa dalam pangkuannya sedangkan mobil itu dikemudikan oleh salah satu bodyguardnya.


Zion mengusap rambut Lexa. Dia melihat mata sembab Lexa. Lexa bergumam pelan saat Zion membelai ipinya yang halus.


Zion memejamkan matanya dan menghela nafasnya. Berbagai pikiran berkecamuk dalam benak Zion.


Kapan semua ini berakhir?