ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
40 SMP



Lexa keluar dari kelasnya dengan keadaan yang sudah sangat berantakan.


“Nona, apa yang terjadi?” tanya sopir pribadinya.


“Ini semua salah aku!” kata Hannie.


“Bukan kamu, tapi mereka. Sudahlah, ayo kita pulang!”


Setelah David lulus SD, Lexa lah yang selalu mengantar Hannie pulang hingga sampai rumahnya karena jam pulang David lebih lama dari mereka.


David masuk ke SMP milik orang tua Lexa juga.


Saat Lexa tiba di rumahnya, ternyata sudah ada Zion dan kedua orang tuanya.


“Lexa, kenapa kamu?”


Zion mendekati Lexa yang sudah bau telur.


Sebenarnya tadi Lexa sudah disuruh pulang duluan oleh kepala sekolah, tetapi dia tidak mau karena ingin menemani Hannie.


Lexa lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi selama ini di sekolahnya.


Lexa memang tidak pernah mengadu pada siapa pun termasuk pada orang tuanya.


Keesokan harinya, semua murid yang melakukan pembullyan itu datang ke sekolah bersama para orang tua mereka.


Alex dan Diana tidak pernah menyangka ada kasus seperti ini di sekolah miliknya.


Para orang tua itu meminta maaf kepada orang tua Lexa. Mereka juga menyuruh anak-anak mereka meminta maaf pada Lexa dan orang tuanya.


“Cepat minta maaf pada Hannie dan berjanji tidak akan seperti itu lagi!”


Mereka akhirnya meminta maaf pada Hannie dengan hati penuh ketidak ikhlasan.


☆☆☆


Waktu bergulir.


Kini Lexa, Hannie dan Tiara sudah SMP. Lexa, Hannie dan David kembali bersama.


Anak-anak itu semakin terlihat cantik dan tampan. Banyak yang menyukai David di sekolahnya.


Meskipun masih SMP, tetapi aura yang dimiliki oleh David semakin terlihat. Dia menjadi idola di sekolah itu. Banyak murid perempuan yang menyukainya.


Sebenarnya banyak murid laki-laki yang tidak menyukainya tapi karena David pandai bergaul maka murid-murid yang tidak menyukainya itu berbalik menjadi mengaguminya bahkan bersahabat dengannya.


Nasib yang sama masih dialami oleh Hannie dan Tiara. Mereka masih menjadi korban bully. Kalau dulu Hannie sering di bully secara terang-terangan, maka kini dilakukan secara diam-diam. Seperti merobek tasnya, mencoret-coret bukunya. Dilihat dari CCTV juga tidak ketahuan siapa pelakunya.


☆☆☆


Hannie dan David sedang bersedih. Orang tua mereka kini tengah berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan lalu lintas.


Lexa duduk menemani mereka yang kini menunggu di luar ruang operasi.


Dokter keluar dari ruang operasi.


“Bagaimana keadaan ayah kami, Dok?” tanya David.


Dokter menggelengkan kepalanya.


Apa maksudnya itu?


“Maaf, tapi korban tidak dapat diselamatkan!”


Lexa langsung memeluk Hannie dan David. Mereka bertiga berpelukan seperti Teletubies.


Dokter merasa prihatin dengan murid sekolah itu namun dia jufabtidak dapat berbuat apa-apa. Ini sudah takdir.


David menenangkan Hannie yang sangat terpukul. David sangat menyayangi ayahnya meskipun laki-laki itu bukan ayah kandungannya.


Pria itulah yang telah membesarkannya sejak dia berumur satu tahun. Pria pertama yang David panggil ayah. Pria yang menerima ibunya yang seorang janda beranak satu dengan tangan terbuka dan tidak pernah membeda-bedakan antara anak kandung dengan anak tiri.


Kini yang tersisa hanya ibunya yang juga sedang sekarat. Lexa menyuruh anak buah ayahnya untuk mengurus semua biaya administrasi dan pemakaman.


“Jangan bersedih, masih ada ayah bunda aku yang juga orang tua kalian!” hibur Lexa.


Lexa masih memeluk David sedangkan Hannie sudah terduduk lemas di bangku.


Tidak lama kemudian dokter yang menangani ibunya Hannie menyampaikan berita buruk.


Ibunya dinyatakan meninggal karena gagal jantung. Dalam satu hari David dan Hannie resmi menjadi anak yatim piatu.


Hannie pingsan dalam pelukan Lexa.


☆☆☆


Suasana pemakaman terlihat sepi.


Orang-orang sudah pulang ke rumah masing-masing, namun masih ada tiga pelajar yang memandangi pusara itu.


☆☆☆


Setiap hari Lexa selalu menghibur Hannie. Dia juga sering mengajak Hannie dan David menginap di rumahnya.


Orang tua Lexa memperlakukan David dan Hannie dengan baik. Hannie tidur bersama Lexa, sedangkan David tidur di kamar sebelahnya.


Di rumah Lexa, David sering membaca buku-buku mengenai bisnis dan arsitektur. Dia juga sering bertanya pada ayah Lexa.


☆☆☆


Lexa berada di rumah Zion. Zion sedang melihat gadis berkuncir kuda itu memakan es krimnya.


“Tumben Tiara tidak diajak?”


Lexa mendongakkan kepalanya.


Kenapa dia bertanya tentang Tiara?


“Kangen?”


Zion hanya tersenyum.


Lexa memanyunkan bibirnya. Dia balik menatap Zion. Sahabat kecilnya itu semakin terlihat tampan.


“Iya, aku memang ganteng. Tidak usah dilihat terus.”


Lexa hanya diam saja. Entah melayang ke mana pikirannya saat ini. Tiba-tiba saja dia menghela nafas panjang. Dia kembali melanjutkan memakan es krimnya dengan suasana hati yang sudah berubah.


☆☆☆


Lexa sedang belajar membuat kue yang dibantu oleh koki di mansionnya.


Mulai dari kue brownies, rainbow cake, hingga kue tradisional.


Ini pertama kalinya dia belajar memasak. Lexa sangat menikmatinya meskipun lebih banyak koki yang melakukannya.


Ini hanya percobaan saja, selanjutnya dia sendiri yang akan membuatnya tanpa bantuan siapapun.


Dia ingin Zion yang pertama kali merasakan hasil kue buatannya. Lexa bernyanyi riang sambil berjoget ala cacing yang disembur garam.


Bisa dibayangkan?


Dia memperhatikan langkah demi langkah proses pembuatannya agar tidak ada yang dia lupakan.


Setelah semua kue itu jadi, Lexa langsung mencicipinya. Ternyata rasanya sangat enak. Tentu saja enak, karena dibantu oleh koki profesional.


Wajah Lexa terlihat ceria. Dia sudah tidak sabar untuk membuat kuenya sendiri dan diberikan untuk Zion dan sahabat-sahabatnya yang lain.


Malam ini Lexa tidur dengan perasaan senang. Dia sudah membayangkan Zion memakan kuenya dan menyukai kue itu.


Malam ini dia bermimpi indah.


☆☆☆


Lexa sudah tidak sabar sampai di rumahnya. Dia baru saja pulang dari swalayan untuk membeli sendiri perlengkapan membuat kue.


Dia benar-benar ingin melakukan semuanya sendiri. Dia memilih bahan terbaik agar hasilnya memuaskan.


Sesampainya di mansion, Lexa langsung berlari menuju dapur. Dia lalu mengeluarkan bahan-bahan dan menatanya di atas meja.


Kurang lebih dua jam Lexa membuat kue itu. Dia akan membawanya ke tempat Zion biasa latihan futsal bersama teman-temannya.


Dia ingin memberikan kejutan Lexa menghias kue itu dengan toping buah-buah segar. Dia potong menjadi beberapa bagian untuk di berikan kepada Zion, David, Hannie dan Tiara.


Tapi tetap Zion lah orang pertama yang harus merasakannya. Dia memasukkan kue itu ke dalam kotak yang ada tiga. Satu kotak untuk Zion, satu kotak untuk David dan Hannie lalu kotak yang terakhir untuk Tiara.


Selesai dengan urusan kue Lexa lalu bersiap untuk bertemu Zion. Penampilannya sangat sederhana tapi selalu cantik.


“Lexa, kamu mau pergi?” tanya Tiara.


“Hai Tiara, kamu datang? Padahal nanti aku mau ke rumah kamu.”


“Ada apa?”


“Aku membuat kue untuk Zion, kamu dan David Hannie. Tapi aku ingin memberikannya pada Zion dulu.”


“Oh.”


“Kamu mau ikut?”


“Boleh?”


“Tentu saja boleh. Ayo!”


Lexa pergi dengan hati berdebar. Apakah Zion akan menyukai kuenya? Kue yang dia buat dengan sepenuh hati.