
Zion langsung membopong tubuh Lexa ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Wajah Lexa nampak pucat disertai keringat dingin. Perasaannya sangat cemas, dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu.
Jangan lagi, ya Allah!
Ingatan akan Lexa yang terbaring koma hingga berbulan-bulan dan sempat mati suri yang membuat dunia berasa runtuh menimpa dirinya kembali hadir, membuat dia ketakutan dan mencengkram kemudi mobil dengan erat. Zion membunyikan klakson mobil berkali-kali, jarak antara mansion Lexa dengan rumah sakit terasa sangat panjang.
Sesampainya Zion di depan lobi UGD, dia langsung berteriak memanggil perawat dan menggendong Lexa. Para perawat yang melihatnya bergegas mendorong brankar agar Zion dapat membaringkan tubuh Lexa di atasnya.
Mereka segera memasuki ruang UGD. Zion menghubungi ayah mertuanya juga daddynya sendiri.
Lima belas menit kemudian para orang tua datang diikuti oleh Aron dan David cs. Zion tidak peduli darimana David tahu. Itu tidak penting.
Mereka berdiri dengan gelisah. Rasanya seperti dejavu. Keadaan dimana dulu mereka juga seperti ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Zion?" tanya Alex.
"Tadi pagi aku ke mansion. Aku melihat wajah Lexa yang sangat pucat dan keringat dingin, dia juga tiba-tiba sesak nafas lalu pingsan. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, aku langsung membawanya ke rumah sakit."
David cs saling berpandangan. Biasanya Lexa akan seperti itu bila dia merasa stres dan tertekan. Kali ini apa penyebabnya?
Tidak lama kemudian dokter keluar.
"Bagaimana keadaannya Dok, apa yang terjadi?"
"Nona Lexa mengalami guncangan berat dalam dirinya. Dia sepertinya sangat tertekan dan kelelahan. Saat ini dia masih tidur. Tolong jangan membebankan dia dengan bsnyak hal. Saya juga sudah memberikan obat penghilang rasa sakit dan obat penenang. Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Tolong jangan ganngu dia, biarkan dia istirahat dulu."
Suster mendorong brankar yang diatasnya terbaring tubuh Lexa. Wajah itu masih terlihat pucat. Zion menggenggam tangan Lexa sesaat sebelum perawat kembali mendorong brankar tersebut.
Kembali lagi Lexa membuat mereka khawatir. Mereka menunggu Lexa bangun dengan perasaan cemas dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Apa atau siapa yang membuat dia seperti ini.
Perlahan Lexa membuka matanya. Matanya menyesuaikan diri dengan penerangan kamar inapnya. Dia melihat orang-orang yang menungguinya dengan cemas. Matanya tertuju pada Zion.
Pria yang dulu pernah menjadi sahabat dan kini sudah menjadi suaminya.
Pria yang pernah dicintainya.
Pria yang pernah memberi warna dalam hidupnya.
Pria yang pernah membuat dia tertawa dan menangis.
Pria yang pernah menyakitnya.
Kini pria itu menungguinya di rumah sakit dengan wajah cemas.
Lexa tidak tahu harus merasa senang atau marah. Aneh memang, sebelum dia mengingat semuanya, dia merasa berdebar saat bersama Zion. Berharap Zion menyukainya. Kini? Dia jadi bingung sendiri.
Tidak jauh dari tempat Zion berada, ada David.
Pria yang selalu menjaganya dengan sangat baik.
Pria yang tidak pernah membuat dia menangis.
Pria yang selalu menemaninya dalam suka dan duka.
Pria yang selalu membuat dia merasa aman dan terlindungi.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya bunda.
Lexa hanya memberikan senyuman.
"Maafkan aku yang sudah membuat kalian khawatir. Aku hanya kelelahan saja karena banyak pekerjaan dan sering meeting hingga malam."
Lexa langsung memberikan penjelasan sebelum banyak orang yang mengajukan pertanyaaan.
"Kalau begitu sebaiknya kamu cuti dulu, berliburlah ke tempat yang kamu suka!" kata Alex.
"Iya!"
Lexa kembali menatap Zion. Pandangan matanya dan Zion bertemu. Entah mengapa Zion merasa ada yang berbeda dari pandangan itu. Zion merasa seperti pandangan perpisahan. Buru-buru Zion menghilangkan pikiran buruk itu.
FLASHBACK OFF
Zion merasa dirinya diterjang tsunami, menenggelamkan dirinya dalam lautan duka. Baru saja dia berdoa pada yang maha kuasa untuk selalu menyatukan dirinya dengan Lexa. Lalu kenapa seperti ini? Apa yang salah dalam doanya?
"Tapi Xa, semua yang terjadi di masa lalu hanyalah salah paham saja. Semua itu perbuatan Tiara. Tolong jangan hukum aku seperti ini. Kamu boleh marah, atau memukul aku, tapi jangan minta bercerai!"
Hancur sudah pertahanannya. Air mata itu kini mengalir. Zion tidak peduli. Hatinya sangat sakit. Bagaimana tidak, wanita yang dicintainya kini meminta berpisah. Tentu saja dia tidak rela. Memang apa salahnya? Dia hanyalah korban fitnah dan keegoisan dari seorang wanita yang terobsesi dengannya. Toh hatinya dan tubuhnya tetap setia pada Lexa, tidak pernah berubah.
Zion merengkuh Lexa dalam pelukannya. Memeluknya sangat erat. Lexa dapat merasakan tubuh Zion yang bergetar. Tidak ada penolakan ataupun balasan dari Lexa.
Harus dengan cara bagaimana lagi aku harus menunjukkan rasa cinta ini? Kenapa kamu harus menyakiti aku seperti ini, Xa? Tidak adakah cinta darimu untukku?
Cinta memang tak harus memiliki, tapi bukan berarti bisa dengan mudah untuk melepaskannya apalagi melupakannya.
Mengapa harus merasakan cinta bila tak dapat bersama?
Mengapa harus merasakan sakit bila mati jauh lebih baik?
Aku tak pernah lelah menunggu, seumur hidup pun aku akan menunggu, agar kamu tahu bahwa aku selalu mencintai kamu.
Tidak peduli orang mengatakan aku pria bodoh.
Tidak peduli orang mengatakan aku diperbudak oleh perasaan yang tak terbalas.
Yang pasti, selama aku bernafas, kamu akan selalu ada di hatiku.
Setidaknya kamu masih hidup, tidak pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Dengan begitu aku masih bisa melihat wajahmu, bidadariku.
Zion masih memeluk erat tubuh Lexa. Lexa dapat merasakan air mata Zion yang sedikit membasahi rambutnya.
Seperti itulah rasanya patah hati. Remuk dan terasa pilu. Ingin berteriak sekencang-kencangnya dan berkata sesak sekali. Ada yang ingin melempar apa saja yang ada di hadapannya, ada juga yang berasa ingin bunuh diri agar semua rasa sakit itu ikut menghilang.
Ada yang dengan cepat melupakan dan dengan mudah menemukan penggantinya. Ada juga yang setelah bertahun-tahun masih memendam rasa itu. Bahkan, ada yang hingga akhir hayatnya gagal move on.
Permainan takdir memang tidak ada yang tahu. Beberapa hari yang lalu Zion merasa kalau cintanya akan dibalas dengan perasaan yang sama. Kini, ternyata luka yang dia rasakan. Dia bukan hanya putus cinta, tapi bercerai. Bahkan dia belum memiliki anak bersama Lexa. Tidak ada pengikat antara dia dan Lexa. Tidak ada yang bisa dia jadikan alasan agar bisa terus bertemu apalagi bersama Lexa dengan ikatan yang lebih kuat.
Satu-satunya pengikat antara dia dan Lexa kini adalah persahabatan orang tua mereka dan pekerjaan. Ada perasaan sesal dalam diri Zion.
Seharusnya sejak awal kita menikah, aku langsung saja menghamilimu, Lexa!