
Belajar dari pengalaman, kini Zion dan para orang tua mereka tidak lagi banyak menuntut pada Lexa.
Para orang tua itu hanya bisa mendoakan dan pasrah akan kelanjutan pernikahan putra-putri mereka.
Lanjut, ya Alhamdulillah ... cerai ya sudah, mau diapain lagi. Benar-benar pasrah, kan?
"Aku harus ke Sidney!" ucap David.
"Ya sudah. Hati-hati ya."
"Kamu yang hati-hati."
David melihat wajah Lexa yang terlihat menggemaskan itu, lalu dia mencubit pipi itu sambil tertawa.
"Kamu mau aku bawakan apa dari Sidney?"
"Bawakan aku pria tampan, aku bosan dengan pria-pria yang ada di sini?"
"Apa aku kurang tampan dan membosankan?"
David mencibikan bibirnya.
"Ck, aku rasa kamu sudah mendua. Aku terabaikan!"
"Hahaha ... kamu ini ada-ada saja. Apa aku terlihat seperti itu?"
"Iya!"
"Ck, kamu ini terlalu jujur, Lexa. Berbohonglah sedikit!"
"Ingat, jangan selingkuh!"
"Siap Boss!"
Mereka berdua tertawa lalu melanjutkan acara nonton mereka sambil mengemil cemilan kesukaan Lexa.
Tidak lama kemudian Hannie datang dan dia duduk di samping David.
☆☆☆
Lexa terlihat bosan. Sesekali dia melirik Zion.
"Kenapa sih, curi-curi pandang gitu? Sudah mulai jatuh cinta?"
Lexa mendengus kesal.
Tapi lagi-lagi Lexa melirik Zion.
"Kamu mau apa, sih?"
"Aku mau jalan-jalan."
"Terus?"
"Maksudnya?"
"Kamu mau aku temani, kan? Ayo ngaku!"
"Kamu kan tadi nanya, ya aku jawab. Bukan berarti aku ngajak kamu jalan-jalan!"
"Ya sudah aku temani!"
"Aku enggak minta."
"Iya, aku yang mau!"
Diam-diam mereka saling menahan senyum.
"David lagi di Sidney, makanya kamu bisa nganterin aku. Kalau ada dia ya aku perginya sama dia!"
JLEB!
Sialan, aku dijadikan pelarian?
Kalau biasanya Lexa akan memilih ke mall, kali ini pilihan perjalanannya berbeda. Dia memilih wahana taman bermain.
Lexa menggunakan pakaian kasual dan menggunakan topi untuk melindungi wajahnya dari sengatan matahari.
Mereka menaiki beberapa permainan yang ekstrim.
"Aku jadi ingin berenang." Lexa mengelap keringatnya yang bercucuran dan membayangkan pasti akan menyenangkan bila dia berenang.
"Tidak boleh!" jawab Zion langsung.
Dia membayangkan Lexa akan menggunakan pakaian renang yang akan memperlihatkan lekuk tubuhnya dan kulit putih mulusnya.
Lah dia saja yang sudah menjadi suami Lexa beberapa bulan belum pernah melihatnya.
Pokoknya tidak boleh!
"Aku kan hanya bilang, bukannya bertanya!"
"Kalau mau berenang di rumah saja, tapi harus ada aku!"
Aku baru saja menyadari sesuatu, untung saja selama ini dia di rumah tidak pernah berenang. Apa di tempat lain? Di tempat pria itu? Bersama pria itu?
"Memangnya kenapa?"
"Aku akan menemani kamu. Aku jufa akan menyuruh para bodyguard itu pergi dulu agar tidak bisa melihatmu berenang."
"Dan kamu bebas melihat aku berenang?"
"Oh itu pasti!"
PLETAK!
Lexa memukul lengan Zion. Mengingat Lexa yang bisa bela diri, maka pukulan itu terasa sakit.
Dilakukan dengan sungguh-sungguh!
Mereka berdua menikmati acara jalan-jalan itu. Hingga tanpa terasa waktu sudah sangat sore.
Acara dilanjutkan dengan makan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Zion.
"Aku mau bakso beranak."
Mereka lalu menuju tempat yang menjual bakso beranak.
Dua mangkok bakso dengan porsi besar disuguhkan di hadapan Lexa dan Zion. Orang-orang nampak kagum dengan Zion dan Lexa yang mau makan bakso apalagi di tempat yang bagi golongan elit, tempat itu sangatlah sederhana sekali.
"Bakso saja beranak, kok kamu belum Xa?"
Lexa langsung tersedak bakso yang sedang dia makan. Untung saja dia memotongnya kecil-kecil.Tapi kuah yang pedas dan panas membuat dia semakin tersedak.
"Kamu mau bunuh aku dengan bakso?"
"Enggak lah, Honey. Aku hanya mau anak dari kamu!"
Zion tersenyum menggoda. Rayuan gombal Zion kembali keluar.
"Memangnya kamu mau anak berapa?"
Eh, dia nanya?
"Aku mau empat!"
"Pasti dua laki-laki, dua perempuan, kan?"
"Iya dong. Biar rame. Kalau hanya satu kan sepi. Kalau dua nanti kalau cewek semua atau cowok semua gak komplit. Kalau tiga nanti salah satunya enggak ada temannya."
"Yakin banget kamu kalau bakalan dapat anak cewek dan cowok."
"Iya dong. Kalau belum dapat ya produksi saja terus. Masa iya, tidak dapat-dapat!"
Pembicaraan apa ini? Gara-gara bakso beranak, akhirnya mereka membahas jumlah anak.
☆☆☆
Seperti orang yang ketagihan, akhir-akhir ini Lexa dan Zion sering menghabiskan waktu bersama untuk jalan-jalan.
Pantai
Kebun binatang
Taman
Puncak
Dibilang berkencan? Tidak juga.
Mereka tidak bergandengan tangan ataupun merangkul apalagi lebih dari itu.
Foto-foto? Tidak juga.
Mereka bahkan menutupi wajah mereka agar wisata mereka aman tentram tanpa harus di posting lagi di internet.
Mereka benar-benar menikmati liburan ini.
Tidak perlu barang-barang mewah. Cukup yang sederhana seperti boneka, syal dan topi rajutan, kaos couple, gantungan kunci, sudah membuat liburan ini terlihat sempurna.
Tidak perlu juga makanan mewah di restoran berbintang. Cukup makan cilok, siomay, bakso bakar, mie ayam bakso, jagung rebus dan bakar sudah sangat nikmat dengan suasana ramai akan pengunjung tempat wisata itu.
Tidak perlu mobil mewah. Cukup naik kuda, sewa sepeda, paralayang, sudah menambah keromantisan yang ada antara dua insan itu.
Tak ada kesenangan yang akan berlangsung terus-menerus. Itu memang benar. Tapi bisa kah mereka merekam semua ini dalam hati dan pikiran mereka.
"Setelah ini kamu mau apa?"
"Aku mau ke Sidney, nyusul David!"
Oke, salahkan Zion sendiri yang bertanya seperti itu. Seharusnya dia bertanya 'setelah ini kita mau apa?' bukannya hanya kamu!
Dasar, habis manis sepah dibuang!
Sementara itu ponsel Zion berbunyi. Lexa melihat nama yang tertera di layarnya.
Tiara!
"Kok gak diangkat? Takut ketahuan ya? Takut ketahuan istri atau takut ketahuan pacar?"
Zion langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo Tia, aku lagi sama Lexa nih. Sudah dulu ya."
Zion mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari Tiara.
"Gimana, puas?"
"Enggak. Seharusnya kamu bicara saja sama dia. Kenapa harus buru-buru gitu. Aku jadi merasa seperti selingkuhan kamu," sindir Lexa.
Jujur saja, sebenarnya Zion ingin sekali mencubit bibir istrinya dengan bibirnya. Membayangkan itu membuat Zion senyum-senyum.
"Jadi aku yang selingkuhan, dia yang sah?"
"Kamu imut banget sih, Yang, kalau lagi cemburu!"
Lexa mendelikkan matanya tajam.
"Makanya jangan duakan aku, kalau kamu juga tidak mau diduakan aku."
Apakah Lexa merasa tersindir?
Tentu saja tidak!
"Kalau begitu lanjutkan saja hubungan kalian!" tantang Lexa.
"Ah, nanti kamu nangis di kamar, guling-gulingan, gigitin bantal, nafsu makan hilang, kerja enggak konsen. Hmmm ... terus ala lagi ya?"
"Tidak akan!"
"Masa?"
"Iyalah!"
"Ayo nanti malam kita tidur sama-sama. Aku mau buktiin!"
Lexa menggigit lengan Zion hingga pria itu meringis.
"Ini tanda cinta dari kamu loh, Xa!"
Lalu dia tertawa, puas dapat membalas Lexa dengan caranya sendiri.