ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
31 BUNGA-BUNGA BERMEKARAN



Masih ingat dengan pria yang menyentuh tangan Lexa dulu? Bagaimana keadaannya?


Pria itu kini tengah menikmati kehancurannya. Siapa pelakunya?


Dua tersangka utama, Zion dan David.


Baru satu tahun pria yang bernama Kevin itu merintis usahanya dengan bermodalkan ketampanan dan bermulut manis. Maksudnya adalah dia mendekati anak-anak perempuan para pengusaha.


Dia meminta mereka untuk membujuk ayah mereka agar mau berinvestasi di perusahaannya. Gaet sana gaet sini, rayu sana rayu sini maka keluarlah uang dalam jumlah yang besar dari para wanita bodoh tersebut dan masuk ke rekening Kevin.


Mungkin Kevin terlalu percaya diri. Ingin mencoba peruntungannya. Saat dia melihat Lexa di pesta tersebut, dia langsung terpikat dengan pesona wanita itu. Tidak peduli apakah wanita itu telah bersuami atau belum. Tidak peduli kalau level suaminya berada jauh di atasnya. Juga tidak mau tahu kalau masih ada David sebagai pelindung Lexa.


Dia ingin memikat Lexa, seperti yang dia lakukan pada wanita lainnya. Dia akan mengeluarkan modal lebih dulu. Memanjakan wanita itu dengan barang-barang branded.


Saat pertama kali dia menyentuh kulit wanita itu, darahnya berdesir. Otaknya langsung memberikan sinyal ke hatinya kalau dia ingin memiliki wanita itu, seutuhnya.


Bagaimana bisa?


Pria yang sudah menjadi suami wanita itu saja belum bisa memiliki dia seuntuhnya.


Terlalu banyak bermimpi!


☆☆☆


Lexa dan Zion duduk berdampingan dalam satu sofa empuk sambil menikmati pop corn, lemon tea, dan salad dengan lampu redup. Mata mereka menikmati film yang sedang diputar dalam ruang teater di mansion mewah tersebut.


Kalau orang-orang yang menonton film romance mungkin akan saling berpegangan tangan dan sang wanita akan menyenderkan kepalanya di bahu sang kekasih.


Kalau menonton film horor mungkin akan menjadi kesempatan bila si wanita merasa ketakutan lalu menutupi wajahnya di bahu pria pujaannya lalu si pria akan dengan senang hati mengusap-ngusap kepala pacarnya dan berkata 'Jangan takut, ada aku di sini!'


Lalu apakah Lexa dan Zion akan seperti itu?


Oh tentu saja tidak!


Tangan mereka sibuk menyuapi makanan ke dalam mulut sendiri.


Mata mereka tetap fokos ke arah layar.


Yang nampaknya tidak bekerja seperti biasa adalah jantung mereka. Jantung mereka berdetak lebih kencang dari yang biasanya.


Apakah bunga-bunga tengah bermekaran?


Apakah cinta telah tumbuh di hati dua insan yang sering bertengkar itu?


Jawabannya lagi-lagi tidak!


Tentu saja jantung mereka berpacu dengan cepat karena mereka sedang menonton film pembunuhan yang diangkat dari kisah nyata.


"Ih, ngagetin saja, sih!"


"Ih, buruan kek, kabur! Jangan malah sembunyi di situ!"


"Ya elah, bukannya di silent tuh hape!"


Zion hanya menggelengkan kepalanya mendengar Lexa yang sedari tadi ngoceh-ngoceh terus.


"Sudah dong, Xa! Ini kan hanya film!"


"Ini kan kisah nyata."


"Ya percuma juga kamu ngoceh-ngoceh sekarang. Sudah kejadian juga, kok!"


Iya sih!


Akhirnya mereka selesai nonton film itu.


"Kamu mau apa?" tanya Lexa menatap Zion.


"Aku mau tidur sama kamu."


"Tidur sana sendiri!"


"Enggak, ah. Tadi kan habis nonton film pembunuhan."


"Kamu takut?"


"Bukan aku! Aku tidak mau nanti malam kamu ketakutan terus tidak bisa tidur. Jadi aku mau temani kamu tidur sambil melukin kamu biar kamu tenang."


"Cih, dasar tukang khayal. Mendingan kamu jadi penulis skenario saja, sana!"


Lexa membanting pintu kamarnya tepat di depan wajah Zion. Zion hanya tertawa.


Tiap malam kita juga tidur bareng, Xa!


Lexa langsung masuk ke ruang gantinya. Dia mengambil botol obatnya lalu meminum obat itu.


Selama ini tidak ada yang tahu kalau dia meminum obat itu, termasuk David dan Hannie. Dia juga tidak mendapatkan obat itu dari Yosuke.


Lexa menyembunyikan obat itu dalam lemari pakaiannya.


Lexa merebahkan dirinya di atas kasur. Matanya menerawang jauh. Perlahan, rasa kantuk mulai menghinggapi dirinya.


Zion memasuki kamar Lexa dan merebahkan dirinya disisi istrinya. Dia tersenyum memandangi wajah istrinya itu tapi hanya sesaat. Senyum itu langsung menghilang dan digantikan helaan nafas yang berat.


Kenapa kita seperti ini Lexa?


Zion menyusupkan lengannya dibawah leher Lexa, menjadikannya bantal untuk Lexa.


☆☆☆


Seperti tanaman yang ditanam, disiram dan dipupuk dengan rutin ... seperti itulah hubungan Lexa dan Zion.


Tapi di tanaman yang subur, pasti ada pengganggunya kan?


Bagi Zion, David adalah benalu yang harus dihilangkan.


Bagi Lexa, Tiara dan wanita lainnya adalah ulat bulu yang harus disingkirkan.


Apa karena masing-masing dari mereka sudah saling jatuh cinta?


Hanya hati mereka yang tahu!


☆☆☆


Tiara memandang wajah Zion yang akhir-akhir ini nampak berbeda. Pria itu terlihat lebih fresh. Senyum sering terukhir di wajah tampannya.


Apa mereka sudah saling jatuh cinta? Atau ada wanita lain?


Tiara menghela nafasnya perlahan.


Sementara itu ...


David mendapat laporan dari anak buahnya tentang Lexa dan Zion. Keningnya berkerut kencang.


"Siapkan penerbangan ke Jakarta sekarang!"


Dia harus segera kembali untuk bertemu Lexa. Mengingatkan wanita itu tentang rencana awal. Dia tidak mau kecolongan lagi.


Hannie juga tidak memberi kabar apapun padanya. Biasanya Lexa akan selalu cerita pada Hannie selain pada David.


Apa yang sebenarnya telah terjadi?


☆☆☆


Tidur nyenyak itu penting, agar pikiran menjadi ringan dan hati tetap riang.


Tapi tidak bagi Lexa.


Dia sering gelisah dalam tidurnya, meskipun dia tidak pernah terbangun. Zion selalu menenangkan Lexa dalam tidurnya.


Lexa larut dalam mimpinya


Aku harus membayangkan racun seperti madu


Agar aku dapat menelannya tanpa rasa cemas


Aku harus membayangkan api bagai hamparan pasir lembut


Agar aku dapat melewatinya tanpa rasa sakit


Aku harus membayangkan duri itu sutra


Agar aku dapat menyentuhnya tanpa takut luka


Tolong bawa aku pergi dari kesakitan ini


Menjadi gila mungkin akan lebih baik


Dari pada dalam kewarasan dengan rasa takut yang terus menghantui sepanjang hidup


Zion terus mengusap-ngusap rambut Lexa.


Apa yang kamu mimpikan?


Apa yang kamu takutkan?


Mungkin seharusnya tadi kami tidak menonton film itu


Tena**nglah, ada aku. Tidak akan ada yang dapat menyakiti kamu selama aku masih bernafas.


Entah itu cinta atau bukan


Entah itu obsesi atau bukan


Apa karena harga diri atau bukan


Apa karena ingin mendapat kemenangan atau bukan


Yang Zion tahu dan inginkan adalah wanita yang kini dalam pelukannya itu harus terus berada dalam dekapannya, dalam genggamannya.


Tidak ada yang boleh menghalanginya kecuali kematian.


Zion semakin mempererat pelukannya. Mengecup kening Lexa dalam-dalam.


Tangannya menyusuri setiap lekuk wajah Lexa. Hembusan nafas Lexa terasa di kulit wajahnya.


Cup!


Sekali lagi dia mengecup kening dan bibir istrinya itu.


Bibir yang selalu mengkerucut saat ada hal yang tidak dia sukai.


Bibir yang akan dia gigiti saat menahan kesal sebelum kata-kata singit keluar dari mulutnya.


Perlahan Zion memejamkan matanya dan ikut terlelap.


Ayo kita bertemu di alam mimpi. Karena hanya bertemu dengan kamu di dunia nyata saja rasanya tidak pernah cukup! Sebab aku ingin selalu melihat wajahmu dan mendengar suaramu.


Kamu milikku!


Aku milikmu!