ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
46 DENDAM LEXA



“Jangan! Lepaskan aku! Lepaskan akuuuuuuu! Aaaaaaaaarrgghhh!”


Lexa terus saja berteriak dan memberontak dalam dekapan David. David masuk ke dalam mobil dengan Lexa yang masih ada dalam pelukannya.


“Ini aku! Tenanglah! Tidak akan ada lagi yang akan menyakiti kamu. Maafkan aku! Maafkan aku!”


David menangis.


Air matanya jatuh ke atas wajah Lexa dan menyatu dengan air mata gadis itu.


Yang lain juga sama shocknya. Andre mengendarai mobil itu. Untung saja jalanan sudah sepi jadi dia bisa lebih cepat.


"Ke rumah sakit!” ucap Yosuke.


Untung saja Andre tahu seluk beluk Jakarta jadi dia tahu rumah sakit terdekat.


Mobil berhenti di depan loby UGD dan terparkir asal-asalan. Perawat langsung membawa Lexa ke ruang UGD.


David memaki-maki. Segala penghuni kebun binatang diabsennya. Kata-kata neraka dan penghuninya juga dia sebut.


Belum pernah dia sekasar dan semarah ini. Yang lain pun tak kalah geram.


Untung saja mereka datang, kalau tidak?


Entahlah!


Tidak ada satupun dari mereka yang ingin membayangkan apalagi memikirkannya.


Dokter keluar.


“Bagaimana keadaannya, Dok?”


Dokter menghela nafas berat.


“Banyak bekas sayatan benda tajam. Kulit kepalanya juga terluka dan banyak bekas memar di wajah dan tubuhnya. Ada bekas cekikan di lehernya.”


Dokter menjeda sesaat lalu kembali melanjutkan.


“Dia mengalami trauma yang parah. Sebaiknya pasien ditangani secara serius oleh psikiater!”


Dokter itu juga memperhatikan keadaan David dan yang lainnya yang juga luka-luka sedangkan Hannie masih tetap menangis.


“Kalian juga obati luka kalian!”


Kalau tidak ada Hannie, mungkin saja dokter itu menaruh curiga pada David dan teman-temannya.


“Saya sudah memberikan obat penenang untuk pasien. Jangan biarkan dia sendiri!”


Pikiran mereka menjadi tidak fokus.


Antara menghubungi orang tua Lexa, melapor polisi dan menunggu Lexa di rumah sakit. Di saat pikiran kacau, mengambil keputusan yang tepat terasa sulit.


Kata Hannie, kedua orang tua Lexa sedang berada di Singapura.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu Lexa di rumah sakit sambil menunggu pikiran mereka tenang.


Lexa sudah dipindahkan ke ruang inap. Untungnya, Yosuke yang memang calon psikiater bisa mengendalikan situasi.


Entah berapa jam sudah berlalu.


Tidak ada satupun dari mereka yang merasa lapar dan haus.


“Aaaaa ... lepas! Jangan! Pergi!”


Suara teriakan Lexa langsung membuat mereka terkejut. David dan Hannie yang memang duduk di samping brankar Lexa langsung berusaha menenangkan gadis itu.


“Lexa, ini aku Hannie. Jangan takut!”


Lexa melihat sekelilingnya. Dia melihat David dan beberapa pria yang tidak lain adalah sahabatnya itu kembali histeris. Dia sangat ketakutan.


“Lexa, tenanglah! Ini kami! Jangan takut! Kami tidak akan menyakiti kamu.”


Yosuke berusaha menenangkan Lexa.


“Lexa, ini aku David. Kamu tidak ingat dengan aku dan Hannie? Aku David, Lexa!”


Tetap tidak ada tanggapan dari Lexa. Tatapan matanya kosong!


Hannie langsung memeluk Lexa.


“Lexa!”


Air mata kedua gadis itu sama-sama keluar. Mereka yang melihatnya hanya bisa diam.


“Lexa, ini David. Kamu ingat kalau saat kecil dulu aku pernah berjanji akan selalu melindungi kamu? Maafkan aku yang sudah gagal dan melanggar janjiku!”


David berusaha menggenggam tangan Lexa.


Yosuke yang ada di samping David memperingati pria itu agar bersikap tenang agar Lexa tidak kembali histeris.


Psikiater yang ditunjuk untuk menangani Lexa segera menangani gadis itu.


“Jangan takut. Kami hanya ingin menolong kamu. Kamu sudah aman. Tidak perlu takut!” ucap psikiater itu.


David mulai menyentuh lagi tangan Lexa, berusaha memberikan ketenangan.


Setelah itu dia mengusap air mata Lexa dan memeluknya.


Lexa hapal pelukan itu.


Seketika tangisnya kembali pecah.


“David!”


“Iya, ini David!”


“David! Kenapa Zion sejahat itu padaku? Dia menyuruh aku datang hanya untuk menipuku. Dia tidak pernah datang ke taman itu. Dia bilang dia tidak suka dan benci padaku. Dia menyuruh orang-orang itu untuk menyakiti aku. Tidak masalah kalau dia tidak menyukai aku. Tapi kenapa dia harus berbuat seperti ini? Kenapa tidak dia sendiri yang mengatakannya? Kenapa harus menyuruh orang lain?”


Orang-orang sangat shock mendengarnya.


Mereka tadi memang mendengar ada yang menyebut-nyebut nama Zion dan London. Tapi bukan itu yang menjadi fokus mereka saat itu, tapi Lexa.


“Aku membencinya. Aku membencinya dari lubuk hatiku terdalam. Aku ingin dia juga menderita!”


Sebuah ucapan yang akhirnya membawa Lexa dan yang lainnya pada dendam. Dendam yang harus dibayar lunas.


Tidak lagi ada Zion di hatinya. Entah itu sebagai sahabat apalagi lebih. Rasa sakit hati ini harus terbalas.


Lexa masih terus menangis dalam pelukan David. Mereka membiarkan Lexa melepaskan emosinya agar perasaan gadis itu lebih baik.


“Aku akan melaporkannya ke polisi!”


“Jangan!” larang Lexa.


“Kenapa? Dia sudah berbuat jahat padamu!”


“Aku tidak ingin ada yang tahu termasuk orang tuaku. Jangan ceritakan apapun pada mereka!”


“Tapi ... “


“Jangan!”


Lexa kembali berteriak.


“Baiklah, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan.”


☆☆☆


Lexa kembali tertidur karena obat bius.


“Kenapa Lexa tidak ingin melaporkannya?” tanya Hannie.


“Itu karena dia malu dan takut!” ucap Yosuke.


Yang lain menyimak perkataan Yosuke.


“Bagi korban pelecehan, hal yang dialaminya itu tentu saja merupakan aib. Bukan hanya untuk dirinya tapi juga untuk keluarga. Apalagi Lexa berasal dari keluarga terpandang!” tutur Yosuke.


“Ngomong-ngomong, siapa Zion itu?” tanya Samuel.


“Zion Melviano Wilson! Sahabat Lexa sejak kecil, kedua orang tua Lexa dan pria itu sudah lama bersahabat. Aku juga belum pernah bertemu dengannya, hanya sering mendengar cerita tentang dia dari Lexa.”


“Pemilik RW Group?” tanya Malvin.


“Kamu tahu?”


“Tentu saja! Siapa yang tidak tahu. Orang tuaku juga sering bercerita tentang AW Group dan RW Group.”


“Sudah semakin jelas, kan? Kalau orang-orang tahu tentang masalah ini, pasti akan menggemparkan. Wartawan pasti akan memberitakan hal ini secara besar-besaran. Apalagi pria itu dari keluarga terpandang dan berkuasa. Korban dan pelaku yang berasal dari pemilik perusahaan besar!” ucap Yosuke.


Memang berat apa yang dialami oleh Lexa.


Jika orang biasa yang mengalami ini, orang-orang mungkin akan membicarakannya sehari dua hari. Wajah dan namanya akan dilupakan. Tapi untuk keluarga terpandang? Akan diingat seumur hidup. Diceritakan dari mulut ke mulut. Akan didongengkan ke anak cucu.


Korban juga pasti akan mengalami trauma yang susah untuk disembuhkan.


Dilakukan oleh satu penjahat saja bisa menimbulkan trauma, apalagi sampai lima?


Saat ini David hanya bisa menahan semuanya dalam hati. Yang menjadi fokusnya sekarang adalah Lexa. Dia tidak ingin kejadian ini terulang lagi.


David juga memeluk Hannie untuk menenangkan adiknya itu. Hannie juga terlihat kacau.


Maafkan aku Lexa!


Aku berjanji akan membalaskan dendammu