ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
68 BERSIKAP DEWASA



Tiara mengepalkan tangannya. Dia mendengar pembicaraan para sipir penjara yang mengatakan kalau Alexa Elora William telah pulih. Nafasnya naik turun.


Kenapa selalu saja beruntung. Dasar wanita sialan! Seharusnya kamu mati saja agar Zion ataupun David menderita.


"Arrrgghhh ... !" Tiara berteriak histeris.


Seharusnya dulu kelima pria bodoh itu membunuhnya!


Dia menikmati hidupnya sedangkan aku malah terkurung disini.


Jika aku tidak bahagia, maka kamu juga tidak boleh bahagia!


Kebencian Tiara kepada Lexa semakin menjadi.


Meskipun aku terkurung saat ini, tapi aku pastikan hidupmu tidak akan tenang, Alexa Elora William!


☆☆☆


Hannie dan Lexa sedang berjalan-jalan ke mall. Lexa nampak antusias memasuki toko boneka, pernak-pernik anak-anak, dan yang lebih parahnya lagi, baju anak perempuan. Hannie hanya dapat menghela nafas.


Kalau tahu seperti ini, aku tidak akan mengajaknya ke mall. Untung saja aku hamil, jadi orang-orang berpikir Lexa membeli semua itu untuk calon anakku.


Setelah puas berbelanja, mereka makan di cafe. Lexa memasan es krim dengan berbagai rasa.


Tidak lama kemudian Zion dan David datang. Kebersamaan mereka bukan karena Zion dan David sudah akur, tapi ini karena keinginan Lexa tang mengajak mereka jalan bersama. Dengan sigap Zion langsung duduk di samping Lexa. Bersikap sebagai seorang suami di hadapan masyarakat umum.


Selain dokter dan orang-orang terdekat, tentu saja tidak ada yang tahu kondisi Lexa yang sebenarnya.


☆☆☆


"Tiga hari lagi ada pesta ulang tahun perusahaan. Zion, datanglah ke pesta itu bersama Lexa! Jika Lexa tidak datang, maka akan banyak pertanyaan dan itu bisa merugikan perusahaan," ucap Alex.


"Baik Ayah."


Sehari menjelang pesta, orang-orang nampak sibuk. Bukan! Bukan sibuk menyiapkan pesta. Mereka malah sibuk menyiapkan Lexa. Menunjukkan beberapa foto CEO-CEO perusahaan dan pembicaraan bisnis. Mereka benar-benar seperti mengajari seorang anak kecil.


Bagaimana tidak? Lexa mendengarkannya sambil makan coklat dan es krim. Sesekali kepalanya bergoyang kanan kiri karena mengantuk. Ada saatnya wajahnya serius tapi pikirannya entah kemana.


Tapi bukan berarti Lexa tidak cepat tanggap. Dia justru langsung mengerti apa yang Alex, Zion dan David ajarkan.


Di akhir pelajaran, ketiga pria itu melihat Lexa yang tertidur di sofa sambil memeluk boneka panda kesayangannya dan bungkus coklat yang berserakan di lantai.


☆☆☆


Lexa dan Zion berjalan di red karpet dengan anggun dan gagah. Tangan Lexa diselipkan di lengan Zion. Ratusan pasang mata nampak kagum melihat keserasian keduanya.


Namun, ada yang sangat berbeda di pesta kali ini.


Wajah cantik itu mengumbar senyum yang membuat para pria terhipnotis. Jangankan pria, para wanita saja sampai terpesona.


Wajah cantik itu selama ini tidak pernah memperlihatkan senyumannya di khalayak ramai. Dulu Lexa selalu terlihat dingin dan datar.


Kini senyuman hangat itu diberikan kepada orang-orang yang dilihat Lexa.


Zion mendengus kesal. Tidak rela Lexa memberikan senyum itu kepada orang-orang.


"Senang bertemu kalian, Mr and Mirs Wilson. Saya mendoakan semoga Wilson junior segera hadir!"


Mrs Wilson? Wilson junior? Maksudnya apa ya? Tanya Lexa dalam hati.


Lexa memang belum diberitahu kalau sebenarnya dia telah menikah dengan Zion. Setelah berkonsultasi dengan psikolog, sebaiknya memang Lexa tidak dibebankan dengan banyak hal terlebih dahulu. Hal itu agar Lexa tidak terlalu banyak berpikir dsn memaksakan dirinya untuk mengingat semua kejadian sebelum dia mengalami kecelakaan. Semua harus dilakukan secara perlahan.


Lexa melihat kedatangan David. Dia langsung melambaikan tangan dan mengajak Zion untuk menemui David.


Orang-orang melihat intetaksi antara ketiganya. Terutama Lexa yang nampak tertawa dengan Zion dan David.


Apa mereka bertiga telah akur?


Itulah yang ada di dalam pikiran orang-orang.


☆☆☆


"Zion, ayo kita jalan-jalan dulu."


Zion tersenyum senang mendengar ajakan Lexa. Tentu saja hal itu tidak akan dia sia-siakan.


Zion mengajak Lexa keliling kota. Sepanjang perjalanan dia mendengar celotehan Lexa yang tiada henti. Sesekali dia mengusap kepala Lexa. Ada perasaan bahagia namun juga sedih.


Apa dia akan tetap tersenyum padaku saat ingatannya kembali lagi nanti? Entah aku harus bahagia atau tidak dengan semua ini. Apapun yang akan terjadi nanti, tetaplah bersamaku, Lexa!


☆☆☆


Pencarian kelima orang itu masih terus dilakukan. Seperti kata pepatah, ke ujung dunia pun akan dikejar.


Alex, Zion dan David ...


Mereka terus mencari dengan cara mereka sendiri.


Meskipun Zion dan David sering ke rumah untuk menemui Lexa, namun Alex tetap belum mempercayai mereka sebelum semuanya terbukti.


Zion dan David juga harus membuktikan kejujuran mereka.


Seandainya waktu dapat di ulang, mereka tidak akan membiarkan Tiara masuk ke dalam kehidupan Lexa walaupun hanya berupa bayangannya saja.


Wanita licik dengan mulut berbisa!


Mereka ingin membalas penderitaan yang selama ini Lexa rasakan karena perbuatan Tiara.


Kalau saja wanita itu tidak sedang hamil, mereka cukup mengunakan pistol dan langsung menembak kepala Tiara. Sayangnya sisi kemanusiaan mereka masih ada.


Zionlah yang paling memendam kebencian kepada Tiara. Ya, tentu saja!


Dia sudah menyiapkan berbagai rencana untuk membuat Tiara juga menderita, melebihi apa yang Lexa rasakan.


Mati begitu saja terlalu enak bagimu, Tiara! Kamu salah karena telah bermain-main denganku dan menyakiti Lexa. Jangan harap hidupmu di dalam penjara akan tenang!


Zion segera menelepon salah satu orang suruhannya.


"Segera jalankan rencana pertama!"


"Baik Bos!"


Zion selama ini memang selalu terlihat tenang dan santai. Tapi tidak ada yang tahu kalau dia bisa sangat kejam.


Bukankah air yang tenang itu menghanyutkan?


Kamu selama ini masih baik-baik saja di dalam penjara karena Lexa masih koma,Tiara. Kini Lexa telah sadar, maka aku akan memulai pembalasanku!


Zion tersenyum puas. Tidak ada lagi yang bisa menghalanginya membalas dendam pada Tiara.


☆☆☆


"Heh, model murahan, cepat sikat kamar mandi!" perintah salah satu napi senior.


Tiara hanya diam saja.


Merasa diabaikan, napi itu langsung menginjak telapak tangan Tiara dengan sangat kuat hingga Tiara berteriak kesakitan.


"Jangan pernah mengabaikan perkataannku. Jika aku berbicara, kamu harus mendengarkan! Jika aku bertanya, kamu harus menjawab! Jika aku menyuruh, maka kamu harus melakukan!"


Dia menekan kedua pipi Tiara dan mengarahkan wajah itu ke hadapannya.


"Jangan dikira kamu pernah menjadi model maka kamu akan diperlakukan istimewa di sini. Kamu hanyalah sampah yang dibuang! Bahkan tidak ada satupun yang sudi mengunjungimu!"


Kata-kata penuh profokatif yang membuat Tiara menggertakan giginya. Semakin bencilah dia kepada Lexa.


Tiara tidak pernah menyadari kalau dia sudah membangunkan Singa tidur yang akan terus membuat hidupnya menderita sehingga dia akan menyesal telah menyakiti Lexa.