
Para lelaki sedang istirahat selepas bermain futsal. Lexa memandang wajah yang penuh dengan keringat itu. Pria yang dulu sering dia lihat bermain futsal bersama sahabat-sahabatnya, pria yang menjadi cinta pertamanya dan kini masih berstatus sebagai suaminya. Entah akan dibawa kemana hubungan ini. Akankah terus berlanjut sebagai suami istri atau tetap berakhir di meja hijau.
Lexa bukanlah wanita bodoh, dia sangat tahu alasan Zion mengajak dia liburan.
Zion menengadahkan kepalanya lalu meneguk air dingin dalam kemasan botol. Sikapnya seolah dia adalah pemain iklan sebuah minuman bersuplemen. Otot-ototnya yang kekar, paras yang tampan, kulit yang putih mulus, alis yang tebal, hidung mancung dan bibir yang sedikit merah alami. Bagaimana para wanita tidak terpesona dengannya?
Zion berjalan ke arah Lexa.
Dugh!
Cup!
Zion tersandung dan tanpa sengaja mengecup Lexa.
“Duh, pake kesandung segala, lagi!”
“Gak usah pura-pura! Sengaja, kan!”
Zion terkekeh geli, akal bulusnya tentu saja diketahui oleh Lexa.
Tadi malam pria itu habis diunyeng-unyeng oleh Lexa gara-gara masalah getaran yang ternyata hanya gombalan. Bagaimana tidak? Mereka sudah panik, saling mengucap kata maaf bila saja itu adalah saat terakhir teman-teman mereka bertemu.
Sang suami yang mengucapkan kata cinta dan sayang pada anak istri, sang kekasih yang menyesal belum menikahi pacarnya, seorang pria yang merasa tragis karena belum mendapatkan jodoh. Malah ada yang berpikir kalau sang suami tewas tapi anak atau istri selamat, maka mereka akan menjadi janda dan anak yatim. Ternyata oh ternyata, itu hanyalah sebuah gombalan.
FLASHBACK ON
“Arrgghhh ... sakit, Yang!”
“Bodo amat!”
“Stop!”
“Berisik!”
Lexa terus saja menarik-narik rambut Zion. Zion bukannya menahan sakit, tapi lebih tepatnya dia menahan tawa. Sebenarnya Zion sangat menikmati apa yang dilakukan oleh Lexa. Bukan karena jambakan Lexa tidak sakit, tentu saja itu sangat sakit. Namun Zion sangat menyukainya. Hah, cinta memang membuat orang menjadi aneh.
“Udah dong, Yang! Nanti kalau aku botak, gimana?”
“Biarin!”
Aksi jambak menjambak itu terjadi di kasur, tentu saja Zion mengharapkan Lexa melakukan kekhilafan.
“Hah ... hah ... !”
Nafas Lexa tersengal-sengal, namun rasa kesalnya pada Zion belum juga reda. Lexa membaringkan badanya di kasur.
“Dari pada jambakin rambut aku yang memakai sampo dengan ramuan khusus, jadi selalu tebal dan tidak mudah rontok, kuat dari akar hingga ujungnya, selalu halus dan wangi, mendingan tenaga kamu buat olah raga yang lebih bermanfaat, Yang. Bisa membakar kalori, menambah pahala, juga menghasilkan keturunan!”
Bugh!
Kini bantal empuk itu mendarat di wajah tampan itu.
“Yang, emang kamu enggak ngiri sama yang lain? Yang lain sudah punya anak. Nanti ada gosip pada bilang gini ‘dih itu si Lexa, masa belum hamil juga. Cantiknya doang, tapi payah’ hayooo ... !”
Dasar kompor!
Benar-benar mulut yang penuh dengan akal bulus dan tipu muslihat.
“Jangan mau kalah Yang, sama yang lain. Tunjukin ke orang-orang kalau kamu tak terkalahkan!”
“Pasti yang lain tambah ngiri Yang, sama kamu. Apalagi pasti nanti anak kita ganteng dan cantik!”
Zion melihat ke arah Lexa yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perkataannya.
“Dih, pantasan saja dari tadi mukaku enggak kena timpuk lagi. Kok kamu malahan tidur sih, Xa? Ck, sia-sia dari tadi aku ngomong panjang lebar.”
Zion mengerucutkan bibirnya.
Lama-lama aku kasih obat perangsang juga deh. Tapi dosa apa enggak ya, kasih yang begituan ke istri sendiri?
FLASHBACK OFF
Para wanita terlihat senang menikmati semilir angin dari atas kapal. Ini memang liburan yang menyenangkan. Wanita-wanita itu, yang sebelumnya tidak pernah mengenal Lexa akhirnya bisa melihat sendiri bagaimana sikap Lexa. Selama ini pasangan mereka, yang merupakan sahabat Zion, selalu mengatakan bahwa Lexa adalah satu-satunya perempuan yang bisa mendekati Zion bahkan sejak masih kecil.
Secara fisik, Lexa memang tidak perlu diragukan lagi. Secara garis keturunan, dia juga bukan dari kalangan biasa. Bukan cerita cinderela cantik yang bertemu dengan pria tampan juga kaya dan bernasib mujur lalu menikah.
Secara karakter, yang sering mereka lihat di televisi, Lexa adalah wanita karir yang cerdas dan tangguh. Tidak mudah didekati, berkarisma. Banyak juga yang mengatakan dirinya angkuh. Bukan hanya Zion dan David yang mendekati Lexa, bahkan dari kalangan pejabat dan anak pejabat juga banyak yang mendekatinya.
Lexa termenung sendirian. Dia merindukan orang tuanya, David, Hannie dan yang lain. Dia juga merindukan pekerjaannya. Sesekali dia menghubungi orang tuanya juga pastinya David cs. Ternyata liburan yang terlalu lama itu membosankan juga. Dia rindu masakan David, ingin shopping bersama Hannie dan sebagainya.
Disisi lain, Zion sedang mengamati Lexa yang terlihat gelisah. Zion menghembuskan nafasnya perlahan.
Aku ingin mengikatnya, agar dia tidak pernah lepas dariku. Bukankah kehadiran seorang anak akan menyatukan orang tua mereka? Tapi boro-boro punya anak, diapa-apain aja belum pernah. Aku juga tidak ingin melakukannya dengan memaksa dia.
Zion terus saja berpikir dengan tak henti memakan buah.
Kasih obat tidur? Cih, tiap hari juga aku tidur di sebelahnya.
Kasih obat perangsang? Ck, tindakan tak terpuji, bisa-bisa bukannya aku menjadikan dia milikku seumur hidup, tapi malah dibenci seumur hidup.
Eh, diajak nonton film b***p kira-kira gimana, ya?
Astaga pikiranku, sungguh mengerikan. Aku adalah pria polos yang tak pernah menodai mataku. Dari pada melihat badan b***l orang lain, lebih baik melihat istri sendiri.
Pernah saat dia SMA dan kuliah dulu, teman-temannya menyodorkan film yang seperti itu untuk dia lihat. Apa yang terjadi? Zion langsung mengeplak kepala mereka dan bersungut-sungut marah.
"Lexa adalah wanita pertama yang akan mendapatkan kehormatan itu. Dia perempuan pertama yang akan aku lihat dalam keadaan polos dan mendapatkan benih pertama dariku. Stop! Jangan dibayangkan, apalagi membayangkan Lexa kalau masih mau hidup. Aku bisa tahu wajah kalian saat berpikiran mesum."
Untuk teman-teman SMA-nya, tentu saja rahu siapa itu Lexa. Berbeda dengan teman-teman kukiah Zion yang di Indonesia dan di London, mereka yang baru mengenal Zion saat kuliah tentu saja bertanya-tanya siapa itu Lexa dan seperti apa orangnya, seorang wanita yang bisa mendapatkan kesetiaan Zion dan yang membuat pria itu membentengi dirinya dari hal-hal yang bebas seperti itu.
Hanya saja Lexa tidak pernah tahu itu, karena saat itu Lexa sedang mengalami patah hati lalu penderitaan batin karena perbuatan Tiara.
Disaat yang lain menjaga hati dan raganya, dilain pihak yang satu mulai menanam kebencian dan dendam. Itulah yang terjadi dulu.
Lalu di masa sekarang, yang satu mencari cara untuk mempertahankan cintanya, pihak yang lain melamun akan seperti apa kedepannya.
.
.
.
.
Alhamdulillah bisa up juga aku hari ini. Maaf ya lama, bukan hanya kalian yang kecewa, aku pun sudah gelisah karena gak up. Kangen aku tuh sama Zion. Doain ya aku bisa up teratur seperti dulu lagi. Tengkyuuuuu ... semoga cerita ini bisa selalu menghibur kalian ya.
Salam sayang dari Zion dan David.