ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
17 BULAN MADU



"Ayo kita jalan-jalan!"


"Aku ke sini untuk bekerja, bukan untuk berbulan madu seperti yang kalian harapkan."


"Bisakah kamu tidak selalu ketus? Setidaknya selama satu tahun ini, ayo kita jadi partner bisnis yang baik."


"Tidak bisa, memang sudah seperti ini sifatku."


"Bukankah kamu dulu tidak seperti ini?"


Zion teringat akan perkataan orang tua Lexa, kalau Lexa mulai berubah sejak lima tahun yang lalu. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Dari dulu aku sudah seperti ini."


"Tapi orang tuamu bilang ... "


"Mereka hanya ingin menarik simpatimu dan orang tuamu saja. Tidak kah kamu memahaminya?"


Benarkah?


"Lexa, bukankah kita dulu ... "


"Dulu kita kenapa?"


"Tidak!"


Zion tidak melanjutkan kata-katanya.


Memangnya dulu kami seperti apa?


Zion sendiri tidak tahu. Aneh!


☆☆☆


Tiga hari berada di Turkey yang dilakukan Lexa hanya meeting sana-sini. Dia sengaja meminta kliennha untuk meeting di Turkey, alih-alih di Jakarta atau negara lainnya.


Ingin membuat orang-orang yang berharap pada bulan madu ini merasa gondok.


"Kamu tidak ingin melihat bunga Tulip?"


"Jangan norak, deh. Aku bisa kesini lagi kapanpun aku mau. Kamu pikir aku orang susah, yang tidak mampu pergi ke luar negeri kapanpun!"


Orang lain yang mendengar bisa jadi sakit hati.


Aish ... dasar mulutnya! Haruskah aku jahit? Atau dicium?


Zion terkekeh.


"Kamu menggemaskan sekali, Honey!"


Misi pertama, keluarkan kata-kata manis.


"Kamu pikir aku madu?"


"Kamu memang semanis madu, bahkan lebih, dan aku selalu memujamu!"


Wajah Lexa memerah, bukan karena malu ataupun senang dengan kata-kata Zion, tapi lebih ke jijik.


"Kamu mau mati?"


"Aku hanya ingin mati dalam pelukan hangatmu! Apa kamu mau memberikannya?"


"Kamu sudah gila?"


"Gila karena dirumu, aku rela!"


"Dasar sinting!"


"I love you too!"


"Berhenti Zion!"


"Suaramu sangat merdu, Beb!"


"Enyah saja kau!"


"Kamu mau aku peluk?"


Lexa memejamkan matanya, mengatur nafas agar emosinya tidak meledak.


☆☆☆


Malam ini mereka menghadiri pesta seorang pengusaha Turkey. Zion dan Lexa nampak sangat serasi. Warna gaun yang digunakan Lexa nampak serasi dengan warna jas Zion, hitam.


Zion memeluk pinggang Lexa dengan posesiv.


"Lepaskan, ingat kesepakatan kita!"


"Apa kamu mau terlihat seperti istri yang diabaikan? Aku rasa itu akan melukai harga dirimu!"


Kata-kata yang penuh profokatif.


"Hai Mr. and Mirs Wilson. Nice to meet you!"


"Hai Mr. Arthur, nice to meet you!"


"Kalian sangat serasi sekali. Saya harap Wilson junior akan segera lahir."


"Terima kasih Mr. Arthur. Kami pun berharap begitu!"


Zion mengusap-ngusap punggung tangan Lexa lalu mengecup pipinya.


Lexa mencubit telapak tangan Zion, tetapi Zion tetap tersenyum sumringah.


Misi kedua, manfaatkan situasi dan kondisi. Masalah amukan, itu urusan belakangan.


Setiap kali bertemu dengan para pebisnis, Zion akan mencium Lexa. Entah itu pipi atau kening.


Belum bibir! Tapi lihat wajahnya, sudah sangat murka!


Zion tersenyum puas.


Lexa mulai merasa kedinginan, hari sudah semakin malam. Dia ingin segera pulang namun perbincangan tentang bisnis tak pernah berhenti.


Misi ketiga, bersikap lembut dan penuh perhatian.


"Pakai ini!" Zion memakaikan jasnya di badan Lexa dan mengusap-ngusap telapak tangan Lexa agar terasa hangat.


Zion mengambilkan minuman untuk Lexa.


"Kalian romantis sekali."


"Tentu saja!"


"Saya tidak pernah menyangka bahwa kalian akan menjadi pasangan suami istri."


"Ini merupakan kebahagiaan khusus bagi saya, bisa menjadikan dia istri saya. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini."


Lagi-lagi Zion mengecup pipi Lexa.


Dia tidak akan mengirim pembunuh bayaran, kan?


Zion malah geli sendiri dengan pemikirannya ituh.


☆☆☆


"Dasar bastard, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan kamu, ya!"


"Mana mungkin aku seperti itu!"


"Cih, dasar munafaik!"


"Memangnya salah menyium istri aku sendiri? Kan bukan istri orang! Kamu juga boleh kok seperti itu. Kalau kamu kesel, ya tinggal balas aku saja. Nih, yang mana yang duluan? Pipi? Kening? Bibir juga boleh, aku pasrahlah kalau kamu balas!"


Pembalasan yang menguntungkan si korban. Dan calon pelaku tidak akan sebodoh itu, tentunya!


"Itu sih maumu!"


"Kamu juga mau, ayo ngaku!"


"Cih, ngarep!"


"Yang pertama dan yang terakhir!"


"Ayo kita bikin bisnis baru!"


"Bisnis apa?"


"Produksi anak!"


"Apa kamu bisa menjaga mulutmu?"


"Bukankah kita pasangan yang serasi? Mulutku madu dan mulutmu racun. Aku diciptakan untukmu dan kamu dihadirkan untukku!"


"Simpan kata-katamu itu untuk para jalangmu!"


"Mereka bukan jalangku, tapi ****** orang!"


"Dasar enggak mau ngaku!"


"Ya iyalah, ngapain aku ngaku-ngakuin punya orang. Aku juga enggak mau punyaku diaku-akuin orang. Kaya kamu, kamu kan punya aku, bukan punya orang."


"Tidak usah sok romantisan!"


"Aku bukannya sok romantisan, tapi hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Jangan bilang cih lagi!"


Jangan ladeni orang seperti ini, Lexa!


"Kamu tahu enggak bedanya kamu dengan kuah bakso?"


" ... "


"Lex?"


" ... "


"Xa?"


" ... "


"Lexa?"


" ... "


"Alexa?"


" ... "


"Sayang?"


" ... "


"Honey?"


" ... "


"Beb?"


" ... "


"Sweety?"


" ... "


"Darling?"


" ... "


"Love?"


" ... "


"Istrinya Zion yang cantik?"


"Enggak! Aku enggak tahuuuu!"


"Ya bedalah lah Xa! Memangnya kamu mau disamain sama kuah makanan?"


Astaga ini orang! Bikin sakit kepala!


"Kamu tahu tidak persamaan kamu sama upil?" kali ini Lexa yang bertanya.


"Tahu lah. Sama-sama nyebelin kan? Dianggap tidak penting. Bikin kamu kesel kalau susah dikeluarin, tapi kan bikin kamu penasaran. Tapi kamu lupa Xa, kalau upil itu ada di lubang pernafasan kamu. Seperti itu juga aku, tetap ada dibagian diri kamu."


Zion tersenyum.


Pintar kan aku?


"Besok kita jalan-jalan yuk! Memangnya kamu tidak mau pamer ke wanita-wanita sosialita itu kalau kamu sedang berbulan madu dengan suami tampan dan dibelikan barang-barang mewah? Mereka kan pasti kepo, sebahagia apa menjadi istri dari Zion Melviano Wilson!"


" ... "


"Sayang, kamu sariawan ya? Kan biasanya kamu cerewet!"


" ... "


"Ya sudah sini, aku kasih vitamin C!"


Zion mendekatkan badanya ke Lexa.


"Heh, kamu mau apa?"


"Kasih kamu vitamin C, biar kamu cepat sehat dan kembali ceria!"


"Terus ngapain dekat-dekat? Kasih ya kasih saja!"


"Kalau tidak dekat-dekat ya tidak bisa dikasih, dong. Gimana sih kamu, begitu saja tidak tahu!"


"Maksudnya?"


"Vitamin C! Ciuman, maksudnya!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Pukulan mendarat di pundak Zion.


"Dih, agresif banget sih, Xa!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"KDRT ini, tapi aku suka. Pukulanmu selembut sutra!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Awas ya Xa, awalnya mukul, lama-lama minta cium!"


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Dasar otak mesum. Pergi sana!"


"Oke My Sweat Hearth, aku akan pergi ke hatimu. Jangan lupa nanti kita bertemu di alam mimpi. Good night, have a nice dream. I love you too!"


Perdebatan itu akhirnya diakhiri dengan tawa Zion dan amukan Lexa.


...Satu - kosong!...