
“Papi, aku wan papi sow sok mani wit daddy en al ayah on telebi”
“What do you mean, Davis?”
“Sok mani papi, sok mani.”
“Honey, sepertinya kita harus membuat kamus terjemahan anak-anak,” keluh Zion pada Lexa, istri semata wayangnya itu.
“David, coba kamu translate bahasa mereka.”
Lexa menatap penuh harap pada David.
“Davis mau apa?” tanya David akhirnya, dia juga pusing dengan bahasa anak-anak itu.
“Sok mani, daddy. Alyu wakalimasta?”
“Ryu, kamu wakalimasta?”
“Apa itu wakalimasta?” tanya Ryu, yang juga sama tidak memgertinya.
Di saat seperti ini, yang bisa mereka andalkan hanya Kai. Kemampuan mereka sebagai CEO nyatanya tidak bisa digunakan untuk hal ini.
Sayangnya, saat ini Kai sedang bobok ganteng di kamarnya.
Sekarang adalah jadwalnya mereka bermain di rumah Kenzo.
"Ayu pipa ita ain sok mani."
Tidak lama kemudian Kai bangun, dan mereka langsung mengucapkan syukur dalam hati.
"Kai Sayang, coba kamu tanya Davin mau apa."
"Davin mau apa?"
"Aku wan papi sow sok mani wit daddy en al ayah on telebi."
Kai mengerjap-ngerjapkan matanya.
Dia mulai menganalisa kata demi kata.
Satu menit
Dua menit
Lima menit
Tiga puluh menit
"Oh, aku tahu sekarang," ucap Kai.
"Apa?" tanya yang lain.
"Aku want papi show shock money with daddy and all ayah on terebi."
(Note: alyu wakalimasta. Maksudnya : are you wakarimashita. Wakarimashita \= mengerti)
Mereka melongo.
Ya ampun, tiga bahasa dicampur dalam satu kalimat.
Tapi sepertinya kalimat itu tetap aneh.
(Terebi dalam bahasa Jepang berati TV)
"Apa itu shock money?"
"Sok mani papi, di tipi."
Memangnya ada shock money di TV?
"Ya ampunnnn ...."
Lexa menepuk jidatnya.
"Kenapa Yang?"
"Shock money, maksudnya uang kaget bukan, sih?"
"Memangnya ada uang yang kaget? Baru dengar, aku."
"Heni!" panggil Lexa.
Heni adalah salah satu baby sitter untuk anak Lexa.
"Iya, Nona."
"Di TV ada uang kaget?"
"Ada ... bla bla bla ...."
Baby sitter itu menjelaskan secara rinci. Lalu mereka mencarinya di youtube.
"Maksud Davin ini?"
"Yes mami."
Mendengkus, itulah yang para orang dewasa itu lakukan. Uang kaget aja sok-sok'an dibilang shock money.
"Terus Davin mau apa sama uang kaget? Davin mau uang?"
"No mami antik."
(antik, maksudnya cantik)
Lexa tersenyum, anaknya walau masih kecil memang pintar memuji, apalagi kalau ada maunya.
"Terus?"
"aku want papi ayah daddy show uang kaget di tipi."
"Hmmm ... tunggu dulu boy. Maksudnya kami harus membuat acara u*ng k*get?" tanya Ryu penuh kecemasan.
"Etul etul etul ...."
Mode Upin Ipin tapi kurang huruf B-nya.
"Nanti pipa yang jadi mistel mani."
Jantung Zion berdenyut, bukan karena jatuh cinta apalagi patah hati, ini ... lebih horor (heleh, dia pasti akan lebih memilih jantungnya berdenyut karena hal ini, dari pada harus berdenyut patah hati kerena Lexa.
"Nanti daddy jadi ayudan (ajudan)."
"Teyus ayah Liyu jadi yang dapat okane (uang)."
"NO!"
Mereka serempak menolak.
☆☆☆
"Okane, okane."
Davin mengulurkan tangannya pada Kenzi saat pria itu datang.
"Okane buat apa, Vin?"
"Li es klim."
Kenzi mengeluarkan uangnya dari dalam dompet dan memberikan selembar uang pada Davin.
Bocah itu kegirangan lalu memasukkan uang itu ke dalam celengannya.
Tidak lama kemudian Ryu datang.
"Okane, okane," kata Davin lagi.
"Untuk apa?"
"Li es klim."
Ryu melakukan hal yang sama seperti Kenzi, dan bocah itu kembali memasukkan uang ke dalam celengannya.
"Tadi katanya mau beli es krim?"
"Nanti papi ulang mau eli'in es klim untuk kami."
Kenzi dan Ryu membelalakan matanya. Jadi mereka kena tipu?
Bukan hanya mereka berdua saja yang menjadi korban kejahilan bocah-bocah itu, yang lain juga sudah mengeluarkan isi dompet mereka.
Meskipun sering jahil, mereka bukanlah anak-anak nakal.
Masih ingat saat mereka jalan-jalan ke mall dan menguras isi dompet mereka?
Barang-barang belanjaan itu dengan suka cita diberikan kepada anak-anak panti atas keinginan mereka sendiri saat pulang dari mall.
Ya, meskipun masih kecil, mereka memang sudah terbiasa datang ke panti dan memberikan barang-barang baru.
Itulah sebabnya David dan yang lain tidak pernah marah kepada lima bocah matre tapi dermawan itu.
Masalah iseng, tentu saja sifat itu menurun dari kedua orang tuanya.
Tidak lama kemudian Zion datang membawa makanan dan minuman.
"Papi, i want okane untuk buy satsu balu."
(Satsu \= baju)
Kepala Zion mendadak pening.
Memang lima bocah itu bisa bahasa Jepang, tapi tidak begini juga kali. Mencampur tiga bahasa dalan satu kalimat, untung dia masih bisa mengerti kalimat sakti anak-anaknya, coba kalau tidak.
Lexa dan yang lain kadang memang bicara bahasa Jepang. Zion dan Aron sendiri juga bisa bahasa Jepang karena klien mereka juga banyak yang orang Jepang.
"Indonesia go de hanashimasu."
(Translate \= Bicara dengan bahasa Indonesia)
"Papi ayah, gak isa ahasa pang. Ajalin papi ahasa pang, Mi."
(Translate \= Papi payah, enggak bisa bahasa Jepang. Ajarin papi bahasa Jepang, Mi)
Dan ini menjadi pembuka obrolan yang semakin rumit untuk dimengerti.
Ngomong-ngomong soal shock money, besok adalah hari mereka melakukannya (dengan berat hati). Lexa dan Hannie justru kegirangan. Memang dua ibu muda itu tidak pernah mengerti dengan penderitaan pria-pria tampan itu.
Keesokan harinya ....
Di salah satu mall (nego loh ini, tadinya mau di pasar, tapi enggak jadi karena para bocil sudah diimingi jalan-jalan dengan kereta api milik Zion).
Yang jadi penerima uangnya juga bukan salah satu dari mereka.
"Kami sudah sangat kaya, bahkan mall itu bisa kami beli hanya dengan mengedipkan mata saja."
Cih, sombing sekali.
"Woi Malvin, hati-hati kamu kalau bicara pada mereka. Bisa-bisa nanti mereka minta ini itu hanya dengan kedipan mata kita saja."
"Dikiranya kita jin."
"Pokoknya aku harus cepat-celat menikah dan memiliki anak perempuan, aku pesan satu dari mereka untuk anakku."
"Kamu lupa kalau mereka berasal dari bibitnya Lexa dan Zion, nanti cucumu akan sama seperti mereka."
"Iya, ya. Untung belum di ACC."
"Ck, calon besan, ayo kita show shock money," ucap Lexa meniru perkataan anaknya.
Lexa tersenyum senang, tidak peduli dengan sahabat-sahabatnya yang tadi membicarakan dirinya.
Jadilah mereka memilih dua orang secara acak.
Kamera sudah dipegang oleh masing-masing kru.
Saatnya beraksi.
$$$$$$$$$$$$$
Sekolompok orang berkostum luar biasa memasuki salah satu mall terbesar. Mereka memakai pakaian Ultraman, Batman, Superman dan super hero lainnya.
"Halo permisa, jumpa lagi dengan saya ... Profesor Bucin di duit kejut."
Tadinya mau bilang Mr. Mon*y dan u*ng ka*et, tapi takut dianggap plagiat, bisa-bisa mereka dituntut.
Profesor bucin mengenakan kostum satria baja hitam lengkap dengan topengnya. Untung lah, sebab yang ada di balik topeng itu adalah Zion.
Ngomong-ngomong, apakah Zion sadar bahwa baru saja dia mengatai dirinya sendiri dengan sebutan Profesor Bucin?
Dua orang pria yang beruntung mendapatkan shock money adalah seorang pria yang berprofesi sebagai ojek online. Satunya lagi sebagai cleaning service di mall itu.
"Ini u*ng kag*t bukan, sih?"
"Kayanya bukan."
Bisik-bisik terus berlanjut.
Dua orang yang beruntung itu masih loading.
Setelah pembukaan acara versi Zion, meeka mulai berlari untuk belanja.
"Papi ... run papi, run. hali ap (hurry up)!"
Eh?
Maksudnya dia juga harus lari?
Kok gitu?
Bukannya dia bisa duduk santai sampai nanti mereka kembali.
"Daddy, lun. Meleka udah lali."
Jadilah mereka ikut lari-larian dengan kostum itu. Yang paling keren yang pakai kostum Superman, jubahnya melambai-lambai.
Bocah-bocah itu ikut lari. Sebenarnya bukan mereka yang lari, karena mereka digendong oleh bodyguard yang harus ikut menanggung derita. Bodyguard itu juga memakai kostum musuh-musuh si super hero.
Yang dilakukan oleh Lexa dan Hannie hanya duduk santai di cafe sambil melihat layar yang sudah tersambung dengan kamera.
Bahkan Kai ikut menemani para pria itu berlari-lari.
Aron dan yang lain sudah pegal memegangi kamera. Mereka juga didampingi kameramen profesional.
Buk
Buk
Buk
Mereka saling tabrak. Batman tidak sengaja menginjak jubah Superman.
Pandangan mata Spiderman melihat salah satu rekan bisnisnya. Dia langsung ngumpet, takut ketahuan. Padahal tidak mungkin juga ketahuan, kan dia pakai topeng. Lagi pula siapa sih yang akan menduga kalau Zion dan yang lain akan seperti ini.
Uang sebanyak lima ratus juta untuk masing-masing orang itu masih tersisa.
"Stop!" teriak Zion.
Mereka mendadak berhenti. Ojol dan cleaning service itu terlihat sedih. Masih banyak tumpukan uang di koper.
"Ngaso dulu ya, Bang."
"Mbak, es teh manis ya, es batunya yang banyak."
Para pengunjung tertawa. Di kira ini warteg?
Para kru berkostum itu selonjoran di depan toko perhiasan.
"Wai belenti Papi?"
(Why berhenti papi?)
"Ngaso dulu, ya. Nanti kita lanjut lagi."
"Sini, Bang. Makan minum dulu kita."
Ojol dan cleaning servise itu saling memandang heran.
Bisa gitu istrihat dulu, terus lanjut lagi?
Sebenarnya uang itu akan cepat habis, karena ini mall besar dan barang-barang yang dijual juga sangat mahal. Tapi belanjalah sesuai kebutuhan, itu yang ada dalam pikiran mereka.
Makanan dan minuman yang dipesan datang. Topeng dibuka hanya sampai sebatas hidung saja, agar wajah mereka tidak terlihat.
Setelah istirahat selama dua jam yang diselingi dengan sesi memijat (punggung mereka dipijat oleh bodyguard), acara dilanjutkan kembali.
Sedangkan di tempat lain, dua ibu muda itu asik shopping dengan didamping bodyguard yang lain.
Tiga puluh menit kemudian.
"Bang, udahan yuk, capek saya," ucap Zion.
Uang dikoper masih juga banyak.
"Kembaliannya ambil aja, Bang. Buat beli motor, kek."
"Beneran, Prof?"
"Iya."
Meraka langsung memeluk para pahlawan itu dengan berderai air mata.
Sebelum acara dimulai, pengumuman di mall sudah disebarkan bahwa tidak ada yang boleh mengambil foto atau video dan menyebarkannya. Siapa pun yang melakukannya akan dituntut.
Acara ini hanya untuk dokumentasi pribadi saja, bukan untuk disiarkan di televisi.
Saat ini mereka (kecuali Lexa dan Hannie) sedang ada di restoran, masih di dalam mall itu. Para bocah tidur dalam gendongan baby sitter.
"Kenapa anak kalian bisa narsis seperti ini?"
"Waktu Lexa hamil mereka, dia tidak ngidam yang aneh-aneh seperti saat mengandung baby Arion."
"Kenapa mereka malah jadinya begini?"
"Masih untung mereka maunya yang ini, coba kalau yang lain, mengerikan."
"Memang ada lagi yang lebih mengerikan?"
"Ada."
"Apa?"
"Operasi gedung."
Mereka langsung membayangkan kalau mereka harus merenofasi gedung, apalagi kalau tinggi gedungnya lebih dari lima puluh lantai dan mereka yang harus menjadi kulinya.
Mereka jadi keringat dingin.
Jika sampai itu terjadi, lebih baik mereka resign menjadi ayah dan daddy bocah-bocah itu.
Biar saja Zion merana sendiri karena tidak mungkin dia ikut-ikutan resign menjadi papi mereka, bisa-bisa dia yang dipecat dengan tidak hormat oleh Lexa menjadi suaminya.
"Arrgggghh ... Davdav, jangan tinggalkan aku! Kamu harus tetap menjadi daddy mereka."
Zion berteriak frustasi sambil memeluk Davdav dengan erat.
Di saat yang bersamaan, Lexa dan Hannie masuk ke dalam restoran itu dan melihat apa yang sedang Zion dan Davdav, bahkan yang lain juga lakukan.
"Mereka semakin aneh, Xa."
"Betul."
.
.
.
**SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA. MAAF LAHIR BATHIN YA DARI AKU DAN ZION LEXA JUGA DAVID CS ....
Aku kasih yang agak panjang hari ini**.