ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
83 PERJALANAN PENUH CINTA (BAGI ZION)



Menjelang sore kapal itu baru berlayar. Deru angin yang menyentuh kulit membuat Lexa merapatkan lengannya. Zion tepat berada di belakang Lexa, memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Menghirup aroma apel bercampur mint.


"Apaan sih, lepas enggak!"


"Ck, biar romantis Xa, seperti film Titanic!"


Lexa mendengus kesal, namun lengan kokoh Zion tetap tidak mau lepas. Pasrah saja lah!


"Rambut kamu wangi banget sih! Oya, disini kan juga ada ruang perawatan, kamu bisa spa, luluran atau apapun lah yang perempuan suka. Tadi aku belum kasih lihat tempatnya."


Entah berapa banyak uang yang Zion habiskan untuk kapal itu. Itu murni uang dari 4C group, perusahaan yang dia dirikan sendiri. Bukankah sungguh beruntung Lexa memiliki suami seperti Zion? Bagaimana kaum hawa tidak iri padanya?


Apalagi Tiara, pantas saja wanita itu sangat berambisi pada Zion, apalagi kalau dia dari dulu tahu kalau pemilik 4C group adalah Zion.


Langit mulai menjingga, pantulan warnanya yang terkena air laut semakin menambah suasana romantis. Zion semakin mempererat pelukannya untuk memberikan kehangatan pada Lexa. Sunset pertama yang mereka lihat dari kapal ini membuat Zion senang.


"Kamu kedinginan, untung aku peluk, jadi kamu lebih hangat!"


"Untung, untung, itu mah modus!"


Zion menahan tawanya.


Nah itu, tahu!


Zion menggulung rambut Lexa ke arah depan, setelah tengkuk putih mulus Lexa itu terlihat, dia lalu memainkan jarinya di area itu, menggerakan tangannya dengan lembut dan pelan.


Lexa bergidik geli.


"Jangan macam-macam deh!"


"Aku cuma mau tahu, ada panu apa enggak!"


Cih, alasan apa itu?


Zion terus menggerakan tangannya, mengitari leher dan kuping Lexa bagian belakang. Lalu keluarlah suara lenguhan itu.


Oke, jadi di situ area sensitifnya!


Zion tersenyum puas. Benar-benar keisengan yang membuat Lexa kesal. Lagi-lagi dia menahan tawanya.


Ini belum ada satu hari, my honey!


Terkadang cara licik itu harus dipakai untuk mempertahankan milik kita. Toh dia tidak melakukan cara licik untuk merebut milik orang lain, kan? Sangat berbeda jauh dengan Tiara.


Cup!


Tanpa aba-aba Zion langsung mengecup area itu. Wajah Lexa langsung merah padam. Dia membalik badannya, bersitatap dengan Zion, sang suami yang menyebalkan.


Cup!


Tentu saja Zion tidak melewatkan kesempatan, dia langsung mengecup bibir ranum Lexa.


"Apaan sih?"


"Kamu yang kenapa? Tiba-tiba balik badan gitu, pasti minta dicium, kan?"


Zion menaik turunkan alisnya.


"Mimpi!"


"Ngapain mimpi, jelas-jelas ini nyata!"


Cup


Cup


Cup


Cup


"Tuh, rasain sendiri! Nyata, kan?"


Zion langsung berlalu sambil tersenyum puas.


Kamu pikir aku bakalan menyianyiakan kesempatan, Xa?


Lexa sendiri masih merasakan sensasi dari bibir Zion yang dingin saat mengecup kening, kedua pipi juga bibirnya.


Huft, aku tidak akan kalah dari kamu, Zion!


Lexa membuka lemari yang ada di dalam kamar itu. Deretan baju-baju perempuan dan laki-laki tertata dengan rapih. Baju-baju itu masih baru dan sesuai dengan ukuran badannya. Ternyata Aron juga sudah menyiapkan pakaian baru untuk Zion dan Lexa.


Lexa keluar kamar, mencoba membuka pintu kamar-kamar yang masih kosong. Terkunci!


Tentu saja Zion sudah memerintahkan agar kamar-kamar yang masih kosong dikunci, agar Lexa tidak tidur terpisah darinya.


"Percuma kamu buka, semuanya sudah dikunci!"


"Kamu licik banget sih!"


"Aku bukannya licik, tapi cerdas!"


"Ya enggak mungkinlah, aku sudah langsing dari sananya. Lagi pula aku pasti olah raga!"


"Ck, enggak usah sok polos deh, Xa!"


"Siapa yang sok polos!"


"Selangsing-langsingnya perempuan, suatu saat juga akan ada saatnya perutnya membesar."


"Maksudnya ... hamil?"


"Nah itu pintar!"


Zion tersenyum sumringah, berbanding terbalik dengan wajah Lexa yang judes tapi sangat menggemaskan bagi Zion.


"Ayo, sudah waktunya makan malam."


Mereka makan malam dengan alunan piano dan biola yang dimainkan dengan sangat merdu. Banyak alat musik disana. Ada harpa, harmonika, gitar, dramb dan lain-lain.


Makanan dihidangkan dengan sangat mewah. Lexa nampak bingung dengan apa yang disajikan di hadapannya.


"Ayo makan!"


Lexa mulai memakannya dan ...


"Nasi uduk?"


Zion mengangguk.


Nasi uduk yang dikemas dengan mewah, Lele yang di sajikan tanpa tulang dengan sambel yang cukup pedas (baca: pecel lele) juga ada ayam yang juga tanpa tukang dan digoreng empuk (baca: pecel ayam).


Lexa benar-benar tak habis pikir. Bukannya dia tidak suka dengan makanan yang banyak di jual di pinggir jalan itu, hanya saja dia tidak menyangka kalau di dalam kapal pesiar mewah ini, makan malam pertama mereka justru pecel lele dan pecel ayam. Makanan itu ditata dengan sangat elegan seperti di restoran mewah.


"Biar beda, Xa. Besok pagi kamu mau apa? Gado-gado, ketoprak, lontong sayur?"


Sepertinya Zion benar-benar berniat membuat Lexa tidak akan melupakan perjalanan ini.


Lexa mulai menikmati makan itu. Bukan hanya pecel lele dan ayam, bahkan ada wedang jahe dan bubur kacang hijau. Perjalanan mewah yang merakyat.


Apa jangan-jangan dia kehabisan uang karena liburan ini?


Lexa menahan tawanya. Tentu saja perjalanan ini memakan banyak biaya. Mulai dari membayar para pekerja, perizinan dan sebagainya.


Malam semakin dingin, mereka memang makan di luar ruangan sambil menikmati cahaya bulan. Kapal berjalan dengan pelan. Cuaca yang cerah menampilkan deretan bintang yang membuat langit semakin bersinar.


Dari dulu aku ingin melakukan ini bersama kamu, Xa. Aku ingin menjadikan kamu wanita yang paling bahagia saat bersamaku.


Zion masih sangat ingat saat Lexa masih kecil dulu (sebelum SD) dia pernah mengatakan ingin keliling dunia dengan kapal pesiar, kini Zion ingin mewujudkan impian masa kecil Lexa, juga impian-impian yang lain.


Kira-kira jam sembilan Lexa masuk ke kamar. Dia berdecak kesal saat membayangkan harus satu kamar apalagi satu kasur dengan Zion. Dia sudah berganti pakaian. Dia melebarkan kaki dan tangannya, agar Zion tidak dapat tidur satu kasur dengannya.


"Wah, posisi kamu menantang sekali ya! Pengen aku apa-apain ya?"


Zion menaik turunkan alisnya, mencoba menggoda Lexa. Lexa langsung merapatkan tangan dan kakinya. Menarik selimut lalu menutup tubuhnya.


"Kamu tidur di sofa atau di lantai!" perintah Lexa.


"Enak aja."


Zion langsung merebahkan badannya di samping Lexa, ikut merasakan kasur yang empuk itu.


"Aku enggak mau tidur sama kamu!"


"Berisik!"


"Menjauh sana!"


"Jangan bawel!"


"Kamu mau aku tendang?"


"Ya sudah tendang saja!"


Sebelum Lexa memendang Zion, Zion sudah lebih dulu memeluk Lexa seperti guling.


"Jangan mesum, Zion!"


"Buruan tidur Xa, besok pagi kita lihat sunrise dari atas kapal, pasti bagus!"


Seberapa kuat Lexa memberontak, tapi pelukan itu tidak mau lepas juga. Hingga akhirnya terdengar nafas Zion yang mulai teratur. Lexa menghela nafas kasar.


Tidak lama kemudian, Lexa ikut tertidur. Riak kecil air laut menemani perjalanan mereka.


Zion membuka matanya.


"Akhirnya kamu tidur juga. Good night my wife, have a nice dream."


Zion mengecup kening Lexa dengan penuh kasih sayang disertai doa agar Allah selalu menyatukan mereka di dunia dan di akhirat kelak.