ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
61 SAKSI MATA



Semua orang melebarkan mata saat Tiara menyebut nama itu.


“Jangan menfitnah David, kamu!”


Hannie adalah orang pertama yang bereaksi.


“Coba Om dan Tante pikir, selain aku siapa lagi yang akan diuntungkan kalau Lexa dan Zion tidak bersama?”


“Apa maksudmu?”


“Kalian!”


Tiara menunjuk David dan Hannie juga teman-temannya.


“Sejak dulu David sudah menyukai Lexa tetapi Lexa menyukai Zion. Kalian pasti tahu itu, kan?”


Tiara tersenyum sinis.


“Kalian juga mengincar harta Lexa!”


“Jaga bicaramu!”


“Siapa yang tidak mau menjadi suami Lexa? Putri semata wayang dan penerus AW Group? Yang menjadi suaminya pasti akan mendapatkan hartanya juga. Lalu nantinya akan menjalani AW Group.”


“Kalau aku melakukannya, aku pasti tidak akan membiarkan Lexa menikah dengan Zion!”


“Bukankah pernikahan mereka hanya satu tahun? Setelah itu akan bercetai dan kamu bisa menikah dengannya!”


“Aku tidak mungkin membiarkan para pria itu menyakiti Lexa.”


“Memang tidak. Bukankah memang rencananya kamu datang di waktu yang tepat? Menjadi penyelamatnya. Dengan begitu Lexa akan berterima kasih dan berutang budi padamu!”


“Dasar pembual!”


“Kenapa kalian tidak melaporkan kejadian itu pada polisi atau kedua orang tua dia?”


Tiara terus mengajukan pertanyaan yang menyudutkan David.


“Itu karena Lexa yang memintanya dan kami sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun pada siapapun!”


“Halah, alasan! Kalian bisa saja melaporkannya diam-diam tanpa sepengetahuan Lexa. Tapi kalian malah membawanya ke Jepang, karena memang seperti itu rencana kita. Lexa dan kamu di Jepang, sedangkan aku dan Zion di London."


“Aku tidak membutuhkan harta Lexa. Aku bisa membuat perusahaan sendiri dan itu terbukti. Lagi pula Lexa pasti akan tahu kalau kami melaporkan kejadian itu karena dia pasti akan ditanya-tanya."


“Sedikit banyaknya dengan bantuan Lexa, kan, kamu bisa sesukses sekarang?”


“Aku mendirikan perusahaan itu demi Lexa.”


“Karena kamu tidak ingin di pandang sebelah mata. Tentu saja yang menjadi suami Lexa juga bukan orang sembarangan yang hanya bermodal cinta.”


“Dasar wanita ular, mulutmu benar-benar berbisa,” Hannie benar-benar kesal.


“Kamu dan aku sama saja. Sebenarnya kamu juga iri kan, pada Lexa. Hanya saja kamu sok polos. Kalian terus menerus menyudutkan aku. Memang, kita punya kesepakatan tidak akan saling melibatkan kalau rahasia ini terbongkar. Tapi aku berubah pikiran!”


Kali ini Hannie benar-benar emosi. Dia langsung menjambak, menampar dan mencakar Tiara. Tiara juga tidak segan-segan membalasnya.


“Coba buktikan kalau kami terlibat!”


“Kalian tidak ingat kalau semua barang bukti sudah kita lenyapkan? Kalau memang itu bukan ulah kalian, kenapa kalian tidak benar-benar mencari tahu kebenarannya? Itu karena kalian memang ini menjadikan Zion tumbal!”


“Apa kamu pikir kami benar-benar diam saja? Sampai sekarang kami masih mencari kelima orang itu tapi tidak pernah ketemu!”


Lagi-lagi Tiara tersenyum.


“Tentu saja tidak akan ketemu,


“Jadi kamu dalang semuanya?”


Zion langsung menonjok David!


“Bukan aku. Bisa saja kamu dan perempuan ini bersekongkol untuk memfitnahku. Bisa saja itu memang perbuatan kamu.”


Perkelahian akhirnya tidak dapat terelakkan lagi.


“Kamu yang melakukannya!”


“Bisa saja kamu!”


Orang tua Lexa benar-benar bingung dengan keadaan ini. Harus diakui kalau perkataan Tiara bisa saja benar. Bisa saja itu memang ulah David.


“Bukankah tadi kamu juga mengancam Tiara? Bisa saja dia hanya mengikuti kemauan kamu untuk memfitnahku,” ucap David.


“Dan bisa juga apa yang dikatakannya memang benar kalau kalian bekerja sama untuk memisahkan aku dan Lexa.”


“Dulu kamu memfitnah Zion, sekarang memfitnah David! Apa maumu sebenarnya?” tanya Kenzo.


“Aku hanya menjawab pertanyaan yang diajukan padaku. Dimana letak kesalahanku?”


“Wanita ini benar-benar pintar bicara!”


“Berpikirlah dengan logika, bukan dengan hati!” lanjut Tiara.


“Stop! Perempuan ini hanya ingin memprovokasi kita, berpikirlah dengan tenang!” kata Yosuke.


“Berhenti kalian! Jangan bertengkar di sini! Keluar kalian semua, jangan pernah ada satupun dari kalian yang menemui Lexa sampai semua ini terungkap! Aku sendiri yang akan mencari keadilan untuk putriku.”


“Bawa Tiara ke kantor polisi!” lanjut Alex kepada anak buahnya.


“Mereka juga seharusnya dibawa, bukan hanya aku!”


“Keluar sekarang juga!”


Alex menyuruh Zion dan David cs keluar.


Dia langsung duduk di sofa, memegangi tengkuknya yang terasa sakit. Diana langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan suaminya. Jangan sampai suaminya itu jantungan atau terkena stroke.


“Apalagi yang kalian lakukan di sini? Cepat pergi!”


Tidak ada satupun dari mereka yang beranjak pergi.


Alex hanya menghela nafas dan menyandarkan badannya di sofa hingga dokter tiba dan memeriksanya.


☆☆☆


Saling curiga dan saling menuduh, itulah yang terjadi kini.


Bagi orang tua Lexa, perkataan Tiara cukup masuk akal. Bisa saja David iri dengan Zion, dan mengincar harta Lexa. Mengenal cukup lama bukan berarti tahu isi hati orang. Contohnya saja Tiara yang mereka kenal sejak kecil ternyata iri dengan Lexa dan bisa berbuat jahat. Bisa saja sebenarnya Hannie juga iri dengan Lexa.


Bisa juga Tiara berbohong dan menuduh David. Tapi apa alasannya? Apa mereka saling mengenal sebelumnya?


Mungkin saja Tiara berbohong karena diancam Zion. Tapi dengan mengatakan itu bukankah berarti membuka peluang bagi Zion dan Lexa tetap bersama dan membuat apa yang dilakukan oleh Tiara sampai sejauh ini malah sia-sia?


Yang dibutuhkan oleh Alex sekarang adalah saksi mata yang sebenarnya. Dia butuh bukti lain, bukan hanya mendengarkan perkataan mereka yang bisa saja ada udang dibalik batu. Saksi mata yang objektif. Selain lima tersangka malam itu. Mereka saja belum diketahui kebenarannya.


Tidak ada CCTV di tempat kejadian. Alex sudah memerintahkan kepada anak buahnya untuk menyelidiki kejadian enam tahun yang lalu dan semua yang terlibat termasuk Zion, menantunya sendiri.


Siapapun dalang semuanya, dia tidak segan-segan menghancurkan orang itu, meskipun menantunya sendiri. Alex tidak peduli persahabatannya dengan orang tua Zion. Dia akan memberikan keadilan untuk putrinya.


☆☆☆


Tiara meringkuk di dalam sel tahanannya. Tidak ada yang menjenguknya, termasuk managernya. Tiara hanya bisa tersenyum, entah senyum karena apa.


Apa karena telah menghancurkan David?


Atau senyum mengejek dirinya sendiri yang terlihat mengenaskan?


Berita tentang penahanannya juga ramai dibicarakan orang.


Aku masih belum kalah!


Zion dan David sama-sama ada di luar ruangan ICU Lexa, tepatnya di ruangan tunggu untuk keluarga. Mereka tidak ingin pergi meskipun Alex selalu mengusir mereka.


Hannie dan Aron masuk bersamaan. Masing-masing memberikan makanan untuk Zion dan David. Mereka berempat tidak ada yang bersuara tapi tatapan mereka menaruh curiga.


“Aku akan memberikan keadilan untuk Lexa!”


“Begitu juga aku.”


Mereka kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.


☆☆☆


Entah sudah berapa lama Lexa berjalan, dia tidak pernah tahu.


Sebenarnya aku akan kemana?


Apa yang aku cari?


“Lexa, pulanglah!”


Lagi-lagi Lexa mendengar suara itu, suara yang menyuruhnya untuk pulang. Dia berhenti sesaat dan melihat sekitarnya. Bukit hijau dengan bunga-bunga terlihat sangat indah. Dia tidak ingat dari arah mana tadi berjalan.


Bagaimana caranya aku pulang kalau aku tidak tahu arah untuk pulang?