ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
94 SAHABAT SEJATI



"Berarti aku hebat juga ya, Yang. Sekali praktek langsung jadi."


Lexa mencibirkan bibirnya dan mendelik kesal pada Zion


"Tadi enggak ngaku!"


"Ya kalau yang hamil kamu, aku baru ngaku."


"Jangan-jangan selama ini kamu sering menghamili perempuan terus enggak mau ngaku, lagi?"


"Astagfirullah ... ya enggak lah, Beb! Kok kamu baru bilang sekarang, sih?"


"Kan kamu yang kabur, kenapa aku yang disalahin? Nomor kamu juga enggak bisa dihubungi."


"Hehehe ... iya aku yang salah. Berarti usia kehamilan kamu sudah dua bulan lebih, ya."


"Kenapakamu enggak nanya sama daddy dan mommy, atau Aron nomor ponsel aku?"


"Ck, sok penting banget kamu, sampai aku nyari-nyariin kamu kaya gitu!"


Zion benar-benar gemas dengan jawaban Lexa. Padahal selama ini para perempuan selalu menanyakan tentang dirinya pada Aron.


Zion mengelus dan mencium perut Lexa yang sekarang ada calon anak mereka. Zion meneteskan air matanya. Zion bersyukur Lexa mau mendatanginya ke Belanda dan tidak menutup-nutupi masalah kehamilannya, memberikannya kesempatan untuk menjadi seorang ayah. Air matanya keluar, sebagai tanda syukur atas kehamilan Lexa.


"Kamu sudah makan?"


"Belum."


"Ya sudah, ayo makan."


Zion merangkul pundak Lexa dan keluar dari ruangannya. Senyum menghiasi wajah tampannya.


Aron berjalan hilir mudik di depan ruangan Zion. Kedatangan Lexa yang tiba-tiba tentu saja membuatnya kaget. Dia yakin Lexa akan marah-marah pada Zion yang sampai sekarang belum menanda tangani surat perceraian itu.


Pintu ruangan Zion terbuka. Rambut Zion yang berantakan dan mata yang masih merah seperti menandakan bahwa baru saja terjadi pertengkaran yang hebat antara suami istri itu, yang tentu saja dimenangkan oleh Lexa, terlihat dari penampilan perempuan itu yang masih rapih dan baik-baik saja.


Aron menelan salivanya, tidak tega melihat keadaan sang sahabat.


Zion langsung memeluk Aron.


"Ron, aku akan menjadi seorang ayah. Lexa sedang hamil."


"Anak kamu?"


Zion langsung menoyor kepala Aron.


"Ya anak aku lah, masa anak kamu. Mau mati, kamu?"


"Kok bisa?"


"Apa harus aku jelasin proses terjadinya secara rinci?"


"Enggak."


"Ck, kamu enggak mau kasih selamat sama aku dan Lexa?"


"Eh? Oh iya, selamat ya."


Aron cengar-cengir sambil menggaruk kepalanya. Dia masih takjub dengan apa yang dia dengar. Tadi pagi dia masih mendengar rentetan lagu galau di ruang kerja Zion.


Apa ini mimpi ya, pikir Aron. Jangankan Aron, Zion saja masih tidak percaya.


"Ayo Ron, ikut aku makan siang," ajak Lexa.


Aron ingin menolak karena ingin memberikan kesempatan pada Zion dan Lexa untuk membicarakan banyak hal.


"Sudah jangan kebanyakan mikir, ayo!" perintah Lexa.


Setibanya di loby, Zion melihat David yang duduk di sofa.


"Mau ngapain dia di sini?" tanyanya penuh kekesalan.


"Jangan galak-galak sama David! Dia yang menemaniku sampai sini dan selalu memasakkan makanan-makanan yang aku mau."


"Iya, Beb!"


Iyain saja deh, dari pada urusannya panjang terus ngambek dan minta cerai, itu lebih membahayakan. Setidaknya pria itu sudah tahu kalau Lexa sekarang sedang mengandung anak aku, jadi dia tahu kalau Lexa milik aku.


Mereka menikmati makan siang mereka dengan tenang.


"Besok aku mau pulang ke Jakarta," kata Lexa.


"Aku juga pulang ke Jakarta besok. Aku enggak mau jauh-jauh dari kamu dan anak aku."


"Tadi enggak mau diakuin. Malah enak-enakan sama perempuan lain."


"Sudah napa, Yang. Masih dibahas saja yang tadi. Lagian itu perempuan bukan siapa-siapa aku. Kamu kan juga tahu aku ini pria most wanted."


"Dia enggak mau mengakui anaknya?" tanya David mendelikkan matanya pada Zion.


"Dah, jangan pada berisik!"


"Selama ini kamu ngidam apa saja? Kamu sering mual-mual?"


"Enggak sama sekali."


"Jangan-jangan yang ngidam kamu, Zi? Selama ini kan kamu sering muntah-muntah dan suka makanan yang asam-asam," kata Aron.


Ya, Zion ingat dia sering merasa pusing, mual dan muntah, bahkan sejak masih di kapal pesiar. Dia pikir selama ini sakitnya disebabkan oleh faktor setres berlebih, seperti yang dulu Lexa rasakan, pusing dan muntah (yang dikira hamil oleh Zion dan David).


Zion bersyukur bukan Lexa yang merasakan keadaan itu. Siapa yang menduga kalau Lexa ternyata hamil.


FLASHBACK ON


Sudah beberapa hari ini Lexa merasa gelisah. Bagaimana tidak, sudah satu bulan lebih dia terlambat datang bulan. Tadinya dia mengira itu adalah faktor kelelahan karena melakukan perjalanan jauh dan lama, tapi apa selama ini dia telat?


Dengan memberanikan diri, dia menggunakan testpack, bukan hanya satu tapi lima sekaligus dengan berbagai merek. Setelah menunggu, dengan takut-takut Lexa melihat hasilnya. Yang pertama ... positif, kedua ... positif, begitu terus hingga yang kelima. Padahal dia berharap minimal ada satu saja yang menunjukkan negatif.


Tangannya bergetar. Dia bingung harus senang atau sedih.


Keesokan paginya, masih pagi-pagi buta ...


"Hikzzz ... Daviddddd aku hamiiillll, bagaimana iniiiiiiii ... "


Lexa mendatangi apartemen David sepagi itu dan menangis dalam pelukan pria itu.


"Anak Zion, kan?" tanya David takut.


Lexa mengangguk.


"Alhamdulillah, deh. Aku kira ada orang yang ngejahatin kamu. Alhamdulillah ternyata kamu hamil karena suami kamu. Zion sudah kamu kasih tahu?"


"Belum!"


"Ya kasih tahu dong, Xa. Dia kan ayahnya."


David terdiam sesaat.


"Tapi, kok bisa? Kamu dipaksa sama dia atau gimana?"


Lexa lalu menceritakan semuanya.


"Tuh kan, aku bilang juga apa. Jangan pernah minum alkohol. Untung saja itu Zion, coba kalau pria lain, gimana?"


"Iya maaf, aku nyesal."


"Jangan diulangi lagi. Tapi kamu enggak menyesal dengan kehadiran bayi ini, kan? Ingat Xa, anak ini enggak bersalah."


Lexa mengangguk, mana mungkin dia marah pada calon anaknya.


"Ya sudah, kamu istirahat saja dulu di kamar tamu, ini masih gelap. Nanti aku buatin sarapan untuk kamu, kamu mau makan apa?"


"Apa saja boleh."


"Nanti aku minta Hannie beli susu ibu hamil."


Selama satu bulan lebih Lexa menghubungi Zion tapi hasilnya nihil. Hanya David cs yang tahu masalah kehamilan Lexa, orang tuanya sendiri bahkan tidak tahu.


"Kamu mendingan cek ke dokter kandungan dulu deh, ditemani Hannie. Nanti kalau aku yang menemani lalu orang-orang tahu, malah jadi gosip dan itu bisa merusak nama baik kamu."


Akhirnya Lexa memeriksa kandungannya ditemani oleh Hannie dan ternyata dia benar-benar hamil.


Lexa dan David cs berkumpul di apartemen Hannie.


"Dia kan di Belanda, kita susul saja dia ke sana," kata Malvin.


"Dia bukannya kabur karena enggak mau tanggung jawab, tapi ketakutan ditinggal sama Lexa, hahaha," kata Andre.


"Benar, tahu sendiri gimana bucinnya Zion sama Lexa. Kalau tahu Lexa hamil, bisa jingkrak-jingkrak dan guling-gulingan dia di lantai," kali ini Kenzi yang bicara.


Mereka mengangguk mengiyakan.


"Dua hari lagi aku antar kamu ke Belanda. Aku yakin dia pasti bahagia banget. Aku janji akan selalu menjaga agar tidak ada orang lain yang akan menyakiti kamu lagi, seperti Tiara dulu."


"Benar, kita bersepuluh ini bukan hanya sebagai sahabat, tapi sudah seperti saudara!"


Lexa benar-benar bahagia dikelilingi oleh orang-orang seperti mereka, yang memang bukan hanya seperti sahabat, tapi lebih seperti saudara.


"Ingat, jangan banyak pikiran agar kamu dan anak kamu sehat selalu!"


Hannie memeluk Lexa.


"Asyikkk ... anakku nanti akan punya saudara."


FLASHBACK OFF