
Kondisi kehamilan Tiara semakin memburuk, hal itu dikarenakan penyakit yang dideritanya ditambah oleh faktor setres. Saat ini dia merenungi nasibnya, sebuah ambisi sejak kecil yang justru menjerumuskannya dalam kehancuran. Dia berpikir bagaimana kalau dia harus melahirkan di penjara? Melahirkan dengan status tahanan? Bagaimana nasib anaknya nanti? Yang jelas pasti akan lebih buruk darinya.
Anaknya akan memiliki seorang ibu narapidana. Sedangkan ayahnya? Hingga saat ini ayah dari janinnya saja tidak pernah datang.
Tiara akan memberikan luka yang dalam untuk masa depan anaknya. Satu hal lagi, apakah anaknya ini akan sehat?
Apakah Tiara menyesal dengan apa yang telah dia lakukan? Entahlah!
Sesekali dia tersenyum di antara tangisannya.
“Ada yang ingin bertemu denganmu!” kata seorang petugas lalu membuka pintu sel.
Tiara melangkahkan kakinya keluar sel. Ini pertama kalinya ada yang ingin bertemu dengannya.
Di hadapannya kini ada Alex dan seorang pria berkaca mata yang juga sudah berumur.
“Selamat siang, Nona Tiara!” ucap pria itu.
“Saya Budiman, pengacara tuan Alex.”
Tiara hanya diam saja.
“Nona, saya harap Anda dapat bekerja sama untuk mengungkap masalah enam tahun yang lalu. Katakan sejujurnya, siapa saja yang terlibat dalam masalah itu atau apa Anda hanya melakukannya seorang diri dan menyuruh kelima orang itu?”
“Aku sudah menceritakannya saat di rumah sakit. Keterangan yang aku berikan pada polisi juga sama.”
“Apa Anda memiliki bukti-bukti yang memperkuat pernyataan Anda?”
“Tidak ada!”
“Jika Anda kooperatif, kami dapat membantu untuk meringankan hukuman Anda saat persidangan nanti. Ingat kalau Anda saat ini sedang hamil, Nona. Masa depan anak Anda, ada di tangan Anda!”
Tiara menghela nafas.
“Carilah buktinya!”
Hanya itu yang Tiara katakan.
“Coba pertimbangkan baik-baik, Nona. Ditambah lagi saat ini Anda sedang sakit, harus fokus dengan penyembuhan. Jika Anda mau bekerja sama, Tuan Alex akan membantu pengobatan Anda. Jika Anda berbohong mengenai Tuan David, maka hukuman Anda akan bertambah besar dengan tuduhan pencemaran nama baik dan kesaksian palsu.”
“Tiara, kami sudah menganggap kamu sebagai anak kami sendiri. Kakek kamu sudah sudah lama bekerja dengan keluarga William dan kami sangat menghargainya meskipun dia seorang sopir. Pikirkanlah masa depan kamu dan calon anak kamu. Bagaimana perasaan kakek dan orang tua kamu jika tahu keadaan kamu seperti ini. Mereka pasti akan sedih dan kecewa.”
Tiara terus memikirkan perkataan mereka. Jika dia dipenjara selama dua puluh tahun, maka saat itu anaknya juga akan berusia dua puluh tahunan. Lalu bagaimana kalau seumur hidup? Apa anaknya akan mengakui dia sebagai ibunya? Apa anaknya akan malu mengakui dia sebagai ibunya? Malu? Ya, tentu saja anaknya akan malu. Dia saja malu akan keadaannya saat kecil dulu yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja, padahal keluarganya tidak memiliki cacat hukum. Sedangkan dia? Dia seorang tahanan, hamil sebelum menikah dan sakit.
☆☆☆
“Sayang, bangunlah. Jangan tidur terus, aku mohon!”
Zion mengecup kening perempuan yang masih berstatus istrinya itu. Andai waktu dapat diputar, maka Zion akan memperbaiki semuanya. Sejak awal.
Dia tidak akan membuang kue itu ke dalam tempat sampah.
Dia akan memakan steak yang Lexa bawakan.
Dia akan selalu mengajak Lexa ke semua pesta yang dia datangi.
Dia akan langsung menemui Lexa di hari wisudanya.
Yang paling penting, dia pasti akan langsung menikahi Lexa saat gadis itu lulus SMA. Tidak peduli kalau Lexa masih sangat muda dan dia sendiri masih kuliah. Dia mampu untuk menafkahi Lexa dan pasti sekarang mereka sudah punya anak yang lucu dan menggemaskan.
Dia tidak akan pernah ke London tanpa Lexa.
Tapi itu hanya seandainya. Kenyataannya sekarang inilah yang terjadi.
Ada kekhawatiran dalam diri Zion kalau dia tidak akan melihat Lexa lagi. Dia takut kalau hari itu adalah hari terakhir Lexa membuka matanya dan dia mendengar suara Lexa. Suara yang menangis ketakutan dan dialah penyebabnya.
☆☆☆
Lexa merasa pipinya basah. Bukan karena dia menangis, bukan juga karena air matanya.
Aku merasa rindu
Tapi entah untuk siapa rindu itu aku tujukan
Ada perasaan hampa yang tidak aku mengerti
Aku ingin melangkah lebih jauh
Jauh meninggalkan rasa kesakitan dan keputus asaan
Tapi seperti ada tangan yang menahanku
Bahwa ketakutan itu bukan untuk dihindari
Tapi dihadapi
Hidup memang tak selalu indah
Akan ada tawa setelah air mata
Jangan pergi dengan meninggalkan ketidak tenangan
Terkadang aku merasa ada hal yang belum tuntas
Berkali-kali aku memejamkan mata
Berharap akan segera menemukan jawabannya
Tali lihatlah diriku saat ini
Sendiri di tempat asing
☆☆☆
Beberapa orang di tempat yang berbeda-beda memegang sebuah map yang berisikan informasi dan beberapa lembar foto. Walaupun belum lengkap, tapi informasi tersebut cukup memuaskan mereka.
Alex menyuruh anak buahnya bekerja secara diam-diam. Dia tidak angin Zion atau David mengetahui perkembangan penyelidikan yang sedang dia lakukan. Walau bagaimanapun dia masih menaruh curiga pada kedua pria yang menjadi sahabat kecil putrinya itu.
Alex adalah orang yang berpengalaman. Dia tidak hanya bergaul dengan para pebisnis saja tetapi juga memiliki pengaruh di dunia hitam. Dia cukup memerintahkan anak buahnya mencari informasi di kalangan preman kelas teri maupun kelas kakap.
Mudah baginya mendapatkan berbagai informasi dari dalam penjara. Entah berapa banyak anak buahnya yang tersebar di pelosok dalam dan luar negeri. Dari kota besar hingga pedalaman. Semua berbaur dengan masyarakat.
Tidak ada waktu untuk menunggu Tiara mengatakan yang sebenarnya. Apakah memang benar wanita itu telah berkata jujur?
Orang-orang itu bekerja sesuai tugas masing-masing.
Ada yang bertugas mengumpulkan CCTV enam tahun yang lalu di berbagai lokasi.
Mencari informasi di rumah sakit Jakarta tempat Lexa dibawa juga rumah sakit di Jepang.
Tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan kejahatan. Pasti akan meninggalkan jejak sekecil apapun.
Alex akan memastikan kalau kelima orang itu akan menderita seumur hidup mereka.
☆☆☆
Zion dan David ...
Masing-masing dari mereka memegang sebuah map yang isinya tidak jauh berbeda.
“Sudah sampai sejauh mana Tuan Alex mendapatkan informasi?” tanya David kepada Kenzo.
“Belum ada perkembangan, masih terus mencari!”
“Ini semua karena perempuan busuk itu, aku jadi dicurigai!”
David mengepalkan tangannya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Sementara di tempat Zion ...
“Sepertinya ayah mertuaku masih menaruh curiga kepadaku tapi setidaknya David juga ikut merasakan itu.”
Zion membuka dompetnya. Melihat foto yang sudah bertahun-tahun masih tersimpan rapih di dalamnya. Bahkan ada foto pernikahannya bersama Lexa.
Foto yang selalu menggetarkan dan menghangatkan hatinya.
Foto yang selalu membuatnya bersemangat dan tersenyum.
Foto yang selalu mendapatkan kata-kata i miss you and i love you dari Zion. Untuk yang kesekian kalinya Zion berkata, “I miss you and i love you so much, my wife!”
.
.
.
.
.
Semoga aku up nya bisa lancar ya seperti biasanya, setiap hari bisa empat chapter.