ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
21 TIARA



"Bisakah kita melakukan gencatan senjata?"


" ... "


"Setidaknya selama masa pernikahan kita!"


Zion dan Lexa kini berada di restoran Korea.


Zion menggenggam tangan Lexa.


"Lexa, aku ... "


"Zion!"


Lagi-lagi ada wanita yang hadir ditengah kebersamaan Zion dan Lexa.


"Tiara?" ucap Zion dan Lexa bersamaan.


"Lexa? Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu!"


"Aku baik. Bagaimana kabarmu?"


"Ya, seperti inilah."


Ada nada kekecewaan dalam suaranya. Wanita yang bernama Tiara itu melihat Zion dan Lexa bergantian.


Tiara adalah sahabat Lexa sejak kecil tetapi mereka tidak pernah satu sekolah.


Tiara adalah seorang model di London dan memiliki kedekatan dengan Zion selama dia masih sekolah dulu.


"Kapan kamu kembali ke Jakarta?" tanya Zion.


"Tadi malam!"


"Bagaimana pekerjaanmu?"


"Baik. Aku juga ada tawaran pekerjaan di Jakarta, jadi aku akan tinggal lebih lama disini."


"Oh, baguslah."


Lexa menyadari bahwa hubungan Zion dan Tiara tidaklah biasa.


"Lexa, kapan-kapan ayo kita jalan bersama. Aku sangat merindukan kamu."


"Tentu saja, hubungi saja aku kalau kamu ingin bertemu."


"Baiklah. Oya, berapa nomormu?"


Lexa dan Tiara akhirnya bertukar nomor ponsel.


"Aku tidak menyangka kalian menikah."


"Kamu tahu?"


"Tentu saja, Lexa! Siapa yang tidak tahu. Saat pernikahan kalian aku ada pemotretan di Sidney, jadi tidak bisa datang."


"Zion mengundangmu?"


"Tentu saja! Aku selalu tahu apa yang dia lakukan. Aku sudah mengenalnya sejak kecil, apalagi kami sama-sama tingal di London sudah lima tahun. Selama inu kamu kemana saja? Kenapa tidak menghubungi aku?"


"Setelah lulus SMA aku tinggal di Jepang."


"Jadi kamu di Jepang bersama David?"


"Tentu saja, dia selama ini selalu menemani dan menjaga aku."


"Benar. Aku ingat dulu kamu selalu menceritakan tentang David. Tidak aku sangka kalian benar-benar bersama. Eh ... maaf, aku tidak bermaksud ... "


"Sudah tidak apa-apa!"


"Ya sudah aku pergi dulu ya. Jangan lupa sisihkan waktu untuk kita jalan bersama. Bye Lexa, sampai bertemu lagi Zion."


Sepeninggal Tiara, suasana nampak canggung. Lexa bukannlah wanita bodoh. Dia tahu Zion dan Tiara menyembunyikan sesuatu darinya.


"Bagaimana perasaan kamu?"


"Maksudnya?"


"Bertemu dengan mantan kekasihmu, atau masih kekasihmu?"


"Jangan sok tahu."


"Masih tidak mau mengaku. Aku sudah berteman lama dengan Tiara."


"Bukankah terasa menyakitkan? Pacar menikah dengan sahabat sendiri."


Ada nada kecewa dan luka dalam suara Lexa yang tidak dapat dimengerti oleh Zion.


"Dikhianati itu menyakitkan, dikecewakan itu tidak menyenangkan. Kenapa kamu selalu seperti itu?"


"Maksudmu?"


"Akan banyak orang yang terluka dengan pernikahan ini."


Lexa mengepalkan tangannya.


"Kamu bisa menceritakan padanya tentang pernikahan kontrak ini dan kembali padanya."


"Lexa, aku tidak ... "


"Apa mempermainkan wanita membuat kamu bangga?"


"Kamu ini kenapa?"


"Apa kamu tidak bisa mencintai seorang wanita dengan tulus?"


"Jangan mengguruiku!"


"Apa pernikahan bisnis ini begitu penting bagimu, hingga kamu mengorbankan perasaan banyak orang?"


"Serendah itukah kamu menilaiku?"


"Benar! Di mataku kamu sangat rendah."


Lexa meninggalkan Zion yang melihat kepergian Lexa. Tangan mereka saling terkepal.


Entah kenapa kedatangan Tiara yang tiba-tiba di hadapannya membuat suasana hatinya sangat buruk.


☆☆☆


Hiks ... hiks ... hiks ...


Suara isakan Lexa dalam pelukan David.


"Jangan menangis lagi!"


"Kamu wanita yang kuat, kenapa sekarang harus menangis?"


"Entahlah, mungkin karena aku sedang PMS!"


David terkekeh geli dan mengacak-ngacak rambut Lexa.


"Ya sudah, sekarang kamu mau aku masakin apa?"


"Aku mau spageti dan salad!"


"Oke My Grace, hidangan akan segera datang!"


Seperti biasa, saat mereka bersama David akan memasakan makanan yang Lexa inginkan.


Sementara Lexa menghabiskan waktunya bersama David, Zion juga menemui seseorang.


"Aku masih tidak percaya. Kenapa kamu malah menikah dengannya?"


"Kami dijodohkan oleh orang tua dan aku tidak dapat menolaknya!"


"Lalu aku bagaimana? Selama bertahun-tahun akulah yang selalu bersama kamu."


"Aku tahu!"


"Kalian tidak saling mencintai."


"Aku tahu!"


Tiara menahan air matanya.


"Lexa adalah sahabat aku. Bagaimana aku harus bersikap padanya, dan bagaimana pikirannya tentang aku?"


"Ya seperti biasa saja, tetaplah bersahabat dengannya!"


"Akan terasa aneh, Zion. Diantara kami ada kamu."


"Dan diantara aku dan dia ada kamu!"


"Haruskah aku bilang ada dia diantara kita?"


Zion menghela nafas. Kini persoalan menjadi sulit. Kenapa banyak cobaan dalam pernikahannha yang baru seumur jagung, ini?


Baru satu bulan! Masih hangat-hangatnya! Punya dosa apa dia di masa lalu hingga pernikahannya tidak lancar seperti ini?


"Cobalah mengerti, Tia!"


"Lalu kapan kamu akan mengerti aku?"


Zion diam saja.


"Apa kamu bisa menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta? Apa kamu akan menjalaninya seumur hidup?"


"Itu urusan aku. Kamu tidak perlu ikut memikirkan dan memusingkannya!"


"Tapi aku peduli padamu."


"Kalau begitu percayalah padaku!"


☆☆☆


Sudah larut malam, tapi belum ada yang pulang ke rumah itu. Rumah yang hanya dijadikan tempat singgah oleh sang tuan rumah tanpa ada canda dan tawa.


Pergi pagi pulang malam!


Kapan akan ada keceriaan di rumah itu? Rumah yang sangat luas dengan fasilitas lengkap namun tidak dapat menghadirkan kehangatan dan kebahagiaan untuk tuan dan nyonyanya.


Hingga pagi menjelang, sepasang suami istri itu tidak ada yang pulang. Tidak saling mencari atau menanyakan keberadaan masing-masing.


Pernikahan seperti apa ini? Haruskah tetap dijalankan hingga waktu yang ditentukan benar-benar berakhir?


Mereka benar-benar petarung sejati!


☆☆☆


Sejak kedatangan Tiara, hubungan Lexa dan Zion semakin kaku. Hanya bertemu dalam urusan pekerjaan. Di rumah saja jaang bertemu. Terkadang Zion tidak pulang, terkadang Lexa yang tidak pulang. Malah kadang mereka berdua sama-sama tidak pulang.


Untung saja Lexa tidak mencintai Zion, kalau tidak, dia bisa makan hati.


Untung saja Zion tidak mencintai Lexa, kalau tidak, dia bisa sakit hati.


Tapi mereka berdua sama saja!


"Kemana saja kamu selama ini?" tanya Zion.


Mereka bertemu di ruang tamu, dan untuk pertama kalinya berbicara diluar masalah pekerjaan sejak satu bulan belakangan.


"Bukan urusan kamu!"


"Hormati aku Lexa, aku ini masih suami kamu. Suka atau tidak!"


"Harusnya kamu sendiri berkaca. Selama ini juga kamu jarang pulang. Memangnya aku tidak tahu! Tapi aku tidak pernah mempermasalahkannya."


"Aku sibuk keluar kota."


"Aku juga!"


"Kerja apaan? Kamu sibuk sama cowok kamu itu, kok!"


"Kamu juga, sibuk sama cewek kamu itu, kan!"


Zion semakin kesal dengan Lexa yang selalu saja menyahuti perkataannya.


"Kamu menyuruh aku untuk setia padamu dan kamu akan setia padaku, tapi kamu sendiri yang melanggarnya. Untung saja aku tidak pernah percaya padamu!"


"Jangan asal tuduh!"


"Aku tidak pernah menuduh, apa yang aku katakan memang fakta."


"Hubungan aku dengan Tiara tidak seperti hubungan kamu dengan pria itu."


"Benar sekali. Aku dan David tidak pernah sembunyi-sembunyi. Kami menunjukkannya sejak awal. Sedangkan kamu? Kamu bermain di belakang. Bersikap seolah kamu suami yang menjadi idaman para wanita. Munafik!"


Pertengkaran itu didengar oleh para asisten rumah tangga, satpam dan bodyguard.


"Kamu pikir kamu sudah menjadi istri yang baik?"


"Tidak! Aku akui aku memang bukan istri yang baik untukmu. Bukankah sejak awal sudah aku katakan? Jangan pernah berharap aku akan menjadi istri seperti yang kamu inginkan!"


"Jadi mau kamu sekarang apa?"


"Ayo kita berpisah! Terlalu lama menunggu hingga satu tahun."