ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
75



"Kamu bawain aku apa, Yang?"


Yang? Maksudnya, sayang? Aisshh ... jangan baper, Xa!


"Aku bawain spageti, steak salmon juga salad buah dan sayur. Aku juga bawain jus apel buat."


Zion tersenyum senang. Dia merasa seperti suami yang dibawakan bekal makan siang oleh istrinya. Ya, memang benar sih. Hanya saja Lexa yang tidak mengetahuinya. Tak apalah, begini juga sudah membuatnya bahagia.


Mereka berdua menikmati makanan itu diselingi canda tawa. Kedua orang itu seperti sedang pedekate. Wajah mereka berseri-seri. Sesekali mereka juga akan saling menyuapi. Untung saja di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua. Kalau tidak, pasti akan semakin membuat iri kaum adam dan hawa.


Oke, kini Zion benar-benar bersyukur pernah meletakkan CCTV pribadi yang dia lasang secara diam-diam di dalam ruangannya. Akhirnya CCTV itu bermanfaat juga. Dia bisa menyimpan kegiatan ini di dalam file pribadi miliknya yang semua isinya tentu saja tentang Lexa.


Zion berasa jadi ABG lagi, meskipun sekarang dia juga belum tua-tua banget. Seulas senyum terbersit di bibirnya. Seperti inikah indahnya berkencan dengan istri sendiri? Meskipun yang mereka lakukan hanyalah makan siang bersama dalam ruangan kantor yang didekor maskulin tanpa ada bunga ataupun lilin-lilin dan musik yang mengalun merdu.


Semua yang dia lakukan bersama Lexa akan sangat menyenangkan meskipun itu adalah hal yang sangat sederhana.


Tapi ...


Dimana ada kebahagiaan, disitu ada juga kecemasan.


Cemas saat nanti Lexa sudah mengingat semuanya.


Cemas akan perasaan Lexa.


Zion langsung membuang jauh-jauh semua ketakutan itu. Yang harus dia lakukan saat ini adalah menikmati setiap detik waktunya bersama Lexa.


☆☆☆


Hubungan Tiara dengan Marni, teman sesama napinya semakin dekat. Marni sering menceritakan tindakan kejahatan yang sering dia lakukan.


"Aku sudah sering menipu orang. Dari yang hanya ratusan ribu sampai puluhan juta."


"Untuk apa uang itu?"


"Untuk membiayai pengobatan ibu dan adikku yang sakit-sakitan. Mungkin karena itulah, meskipun aku seorang penipu dan berakhir di penjara, tetapi mereka tidak bisa membenciku."


Marni terdiam sesaat, lalu kembali melanjutkan perkataannya.


"Aku lebih memilih menjadi penipu, dari pada menjual narkoba, mencopet, apalagi menjadi PSK. Ck, gini-gini juga aku tidak ingin sembarangan melakukan kejahatan. Suruh siapa mereka terlalu bodoh, gampang kena tipu hanya karena iming-iming yang menjanjikan tanpa pikir panjang."


Tiara hanya diam saja mendengarkan. Jauh di lubuk hatinya dia merasa tersinggung.


Dia seorang pemakai.


Dia pernah menyuruh orang untuk menyingkirkan Lexa selamanya, meskipun gagal.


Dia memanfaatkan tubuhnya untuk mendapatkan uang ektra.


Dia menipu sahabatnya dan pria yang dia menjadi targetnya meskipun bukan dalam bentuk uang.


Jika dilihat dari semua tindak kejahatan yang dia lakukan, maka hukuman mati atau penjara seumur hiduplah yang pantas dia lakukan.


Tiba-tiba saja dia merasa gemetaran membayangakn hukuman yang akan dia dapatkan.


Memang belum diputuskan akan seperti apa kehidupannya nanti karena sidang pertama saja belum dilakukan. Sepertinya Alex sengaja menunda-nunda kasus ini, agar Tiara merasa tertekan dan menderita.


Jika Alex membalas Tiara dengan membuat Tiara tertekan.


Zion menghukum Tiara dengan fisik dan psikis.


Lain lagi dengan David, pria itu menyuruh orang menyuntikan sesuatu pada Tiara secara diam-diam pada saat malam ketika wanita itu tertidur.


Masing-masing punya caranya sendiri untuk membalas kejahatan Tiara. Tapi tujuan mereka sama. Merrka tidak akan membiarkan hidup Tiara tenang meskipun dia ada di dalam jeruji besi dan pagar beton.


Tidak akan pernah!


☆☆☆


"Mommy, Zion ada?" tanya Lexa pada mommy Zion.


"Ada, lagi di kamar."


Lexa langsung menuju kamar Zion.


Lexa kembali menutup pintu kamar Zion dengan sangat kencang. Baru saja Lexa melihat Zion yang hanya menggunakan handuk dan badannya masih basah. Salah Lexa sendiri yang langsung membuka pintu tanpa mengetoknya terlebih dahulu (ingat, ini adalah kebiasaan Lexa sejak kecil dan mulai berubah sejak dia SMP).


Lexa langsung menuju dapur dan minum. Dia merasa mukanya sangat panas dan pastinya merah.


Zion turun dengan gaya cool. Padahal sebenarnya pria itu juga deg-degan. Yah, walaupun dia dan Lexa sudah menikah, tapi kehidupan pernikahan mereka tidaklah normal. Apalagi sampai sekarang mereka tidak pernah melakukan ritual malam pertama ataupun bermesra-mesraan.


Zion dan Lexa sama-sama terlihat cuek, padahal jantung mereka sudah maraton.


Lexa mencuri-curi pandang pada Zion. Persis seperti ABG yang grogi saat berdekatan dengan gebetannya.


Zion sendiri pura-pura tidak tahu dengan lirikan Lexa.


☆☆☆


"Menurutmu, bagaimana sikap Lexa nanti kalau ingatannya sudah kembali lagi dan mengetahui kebenarannya?"


"Entahlah."


"Apa dia akan bersama Zion, atau David?"


"Aku juga tidak tahu. Perasaan itu tidak mudah ditebak. Bisa saja selama ini Lexa sangat membenci Zion tapi di hati terdalamnya masih sangat menyukainya."


"Kamu benar. Kita lihat saja nanti perkembangannya!"


Dua orang itu menyesap minumannya.


☆☆☆


David dan Lexa sedang menanda tangani kerja sama perusahaan mereka. Mereka duduk santai di ruangan David yang bernuansa coklat keemasan, berbeda dengan ruangan Zion yang bernuansa silver.


"Karena kamu sudah mendapatkan proyek baru, seharusnya kamu mentraktirku!"


David tertawa mendengar perkataan Lexa. Gadis di hadapannya ini benar-benar tidak mau rugi. Dia memandangi wajah Lexa. David akui kalau sejak ingatan Lexa hilang, gadis itu terlihat lebih bahagia, tifak seperti enam tahun ini. Dia kembali seperti Lexa yang dia kenal. Itu membuat David sangat bahagia. Dia akan melakukan apapun untuk membuat Lexa bahagia, sesuai janji masa kecilnya.


David tersenyum memandangi wajah cantik Lexa. Wajah yang semakin lama semakin mempesona. Dia pandangi lekat-lekat wajah itu.


"Aku tahu aku cantik, tidak usah terpesona seperti itu!"


David kembali tertawa renyah. Bersama Lexa memang selalu membuat dia merasa senang.


Hal yang tidak akan dia lakukan adalah membuat Lexa menangis. Kalau sampai hal itu terjadi, maka itu adalah hal terakhir yang akan dia lakukan dan dia tentu saja tidak ingin melakukan itu.


David merasa belum bisa membahagiakan Lexa. Dia juga tidak tahu keputusan apa yang akan Lexa lakukan saat ingatannya kembali lagi. Apakah tetap bersama Zion atau tidak.


Sebuah pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh orang-orang di sekitar Lexa. Masih menjadi teka-teki yang mendebarkan hati, terutama untuk Zion.


David menghela nafasnya.


"Jadi gimana, kamu mau mentraktir aku tidak?"


"Tentu saja sweety!"


Lexa melebarkan senyumannya. Membuat dia semakin manis dan menggemaskan.


"Ayo!"


Lexa langsung berdiri dan menggandeng lengan David dengan cueknya. Sikapnya itu tentu saja membuat mata orang-orang memandangnya. Yang mereka tahu Lexa adalah istri dari Zion Melviano Wilson, musuh bebuyutan David Ardiansyah dan sekarang Lexa dengan cueknya merangkul lengan David.


Bisa-bisa terjadi perang besar antara David dan Zion. Itulah yang ada dalam pikiran mereka.


.


.


.


.


Maaf baru up, cuacanya lagi gak bagus jadi enggak enak badan. Semoga besok bisa lancar ya up-nya!