
Hari ini jadwal Lexa memeriksakan kandungannya. Zion sangat antusias mengantar Lexa. Jantungnya berdegup kencang dan tangannya keringat dingin.
Mereka melihat perkembangan janin yang sudah berusia sepuluh minggu itu, kondisi bayi itu sangat sehat, membuat Zion sangat bersyukur.
“Kondisi ibu dan anak semuanya sehat ya. Apa ada keluhan?”
Lexa hanya menggelengkan kepalanya, selama ini yang sering mengalami keluhan adalah Zion. Pria itu yang selalu mengalami morning sickness, susah tidur, ingin ini ingin itu. Lexa hanya sesekali saja merasakan ngidam, meskipun ngidam ala Lexa itu membuat Zion dan David cs geleng-geleng kepala.
“Untuk frekuensi hubungan suami istrinya jangan terlalu sering, ya. Dilakukan dengan pelan-pelan juga."
Wajah Zion langsung merona merah, entah karena malu atau kesal. Dia seperti perawan ABG yang sedang dinasehati tentang pengetahuan s*x.
Dokter sialan, ngapain bilang gitu, sih.
Berbanding terbalik dengan Lexa yang terlihat datar dan cuek, seolah jiwa mereka tertukar.
“Ini saya resepkan obat dan vitaminnya, ya. Jangan terlalu lelah dan banyak pikiran!”
Seharusnya Lexa diperiksa oleh Hannie, tapi Hannie dan baby Kai sedang sakit.
Zion tersenyum lebar, dia menggenggam tangan Lexa menuju apotek untuk mengambil obat.
“Ada yang kamu inginkan sebelum kita pulang.”
“Aku pengen main prosotan, deh.”
Tuh kan, kenapa sih selalu ingin yang aneh-aneh gitu. Lagi hamil malah pengen main prosotan.
“Jangan dong, Beb. Bahaya loh, nanti kalau kamu dan baby kita kenapa-kenapa gimana?”
“Ck, makanya jangan nanya-nanya.”
Enggak nanya, nanti dibilang enggak perhatian.
“Kok diam? Seharusnya kamu nanya mau apa sebagai gantinya.”
“Kamu main kuda-kudaan saja, ya. Nanti aku deh yang jadi kudanya.”
Pletak ...
“Awww, sakit, Yang!” Zion mengelus keningnya yang disentil oleh Lexa.
“Jangan mesum, deh!”
“Siapa yang mesum, aku kan hanya menawarkan kamu naik kuda-kudaan, biar aku yang jadi kudanya.”
Lexa menyipitkan matanya, menatap kesal pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Zion berpikir apa salahnya. Sesaat dia terdiam, lalu tersenyum menyadari kalimat yang memiliki banyak makna itu.
“Ih kamu kok mikirnya mesum gitu sih, Yang? Maksud aku kan, kuda-kudaan seperti anak kecil yang naik ke punggung ayahnya. Dulu kita kan waktu masih kecil juga sering main kuda-kudaan.”
Zion terkekeh, mengingat masa kecil mereka yang dulu sangat membahagiakan.
“Eh, jangan-jangan kamu lagi ngasih kode, ya, buat nanti malam, gara-gara tadi dokter bilang seperti itu?”
“Tuh, emang kamunya aja yang mesum.”
Zion dan Lexa berjalan beriringan tanpa bergandengan tangan membuat hati Zion merana, karena tidak seperti pasangan lainnya yang baru saja memeriksakan kandungan.
"Beb, kapan-kapan kita nonton dangdutan, yuk!"
"Kamu yang nyanyi, aku yang joget?"
"Jangan, dong!"
"Terus?"
"Aku pengen lihat si Davdav itu joget dangdut."
"Davdav? Siapa tuh?"
"Ck, itu loh, si David."
"Cieee, Davdav ... punya panggilan sayang nih, yee! Jangan-jangan benci jadi Cinta!" ujar Lexa.
Zion tersedak salivanya sendiri.
"Amit-amit dah, kamu kalau ngomong yang benar dong, Yang!"
Lexa menahan tawanya, membayangkan bagaimana jadinya jika Zion jatuh cinta pada David.
"Kenapa sih, Yang, senyum-senyum gitu?"
"Aku lagi nyari judul."
"Judul apa?"
"Judul film ... 'Cinta Tak Biasa' atau 'Kasih Terlarang' hahaha!"
"Film buat apaan?"
"Itu, film yang menceritakan tentang kamu dan Davdav, hahaha."
Zion hanya bisa mengelus dada.
"Ngomong-ngomong, jangan lupa kamu suruh Davdav dangdutan ya, Beb!"
Sepertinya Zion ngidam, atau mungkin dendam? Mencari kesempatan untuk bisa mengerjai David.
"Apa yang mau kamu tawarin ke aku, kalau aku bisa membujuk David dangdutan?"
"Ya Allah, Yang, kamu sama suami sendiri kok bisnis gitu, sih! Aku lagi ngidam loh, ini!"
"Enggak usah bawa-bawa ngidam, deh!"
"Aku tuh bingung, Yang. Apa lagi, coba, yang mau aku tawarin ke kamu. Hartaku, hartamu juga. Hatiku, sudah dari dulu milikmu, tubuhku, hanya untukmu. Kamunya saja, yang sok malu-malu mau nggre*e-g***e aku."
"Ayo dong Yang, ya ya ya?"
Lexa tidak menjawab, tapi dia sibuk membayangkan bagaimana David yang menyanyi dan berjoget dangdut.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang dengan video call.
"Daviiiidddd saayaaaaanggggg!"
Zion langsung mengerem mendadak, saat Lexa menyebut David dengan panggilan manis itu.
"Kenapa, Xa?"
"Aku mau mengadakan konser dangdut."
"Hmmm ... kok, aku curiga ya, perasaanku jadi enggak enak nih."
"Davdav, kamu mau, kan?"
"Davdav? Siapa tuh?"
"Kamu lah, itu panggilan sayang dari saingan tersayangmu."
"Siapa saingan tersayangku?"
"Ya Zion, siapa lagi? Jangan bikin gemes, deh."
Zion masih menperhatikan video call itu dengan wajah cemberut dan kusut.
"Dih, dia mah enggak ada apa-apanya dibandingkan aku."
"Woyyyy, jaga tuh omongan. Dunia juga tahu aku yang mendapatkan Lexa, bukan kamu."
Zion berteriak tak terima.
"Dih, ikut nimbrung aja nih orang. Woyyy, dunia juga tahu, aku dan Lexa tak terpisahkan meski ada kamu."
David menahan tawa, sedangkan Lexa cuek dengan perseteruan dua pria tampan itu.
"Jadi gimana, kamu mau kan?"
"Jangan aneh-aneh dong, Xa!"
"Hey, istri tercintaku ini lagi hamil, turutin napa, kemauannya."
Tuh kan, aku yang dijadikan tumbal. Tadi kan dia yang minta, kenapa malah sekarang aku yang dijadikan alasan. Pasti dia takut David akan menolak kalau tahu dia yang mau.
"Dih, jangan bawa-bawa hamil loh. Kalau ada istri hamil terus ngidam cerai sama suaminya, kamu mau nurutin juga? Kalau ngidam selingkuh, gimana?"
Blenk!
Tiba-tiba saja pikiran Zion jadi blenk.
Sembarangan, enggak boleh. Lexa cuma punya aku!
"Kalau Lexa ngidam jalan-jalan berdua saja sama aku, boleh dong ya, kan lagi hamil, jadi harus dituruti."
David sepertinya sengaja menakut-nakuti Zion. Melihat wajah Zion yang panik itu sangat lucu bagi David.
Nyesel aku minta yang seperti ini.
Sementara mereka masih berdebat, Lexa malah ngantuk menunggu mereka memuaskan rasa rindu yang tertahan. Bagi Lexa, perdebatan antara Zion dan David itu sudah seperti hiburan baginya.
"Xa, kamu tidur?"
"Belum. Kalian sudah puas belum, kangen-kangenannya? Jadi mau, kan, Davdav?"
"Nanti malam kita omongin deh, Xa."
"Ya sudah nanti malam aku ke tempat kamu."
"Jangan, kamu lagi hamil jangan pergi-pergj terus. Aku saja yang ke tempat kamu. Bilang tuh sama Yonyon kasih sambutan ysng meriah untuk menyambut kedatanganku."
"Cieee, kamu juga punya panggilan sayang, nih?"
"Iya, habis dia bikin aku gemas, sih. Jadi pengen bawa pulang."
Lexa tidak dapat lagi menahan tawanya, sedangkan Zion sudah ingin muntah.
Malam harinya, David ke mansion Lexa.
"Kamu mau aku nyanyi dan joget dangdut?"
"Iya, tapi bukan hanya kamu, tapi kalian semua."
"Aku dan yang lain?"
"Iya. Kamu, Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Samuel, Malvin, Andre dan ... Zion juga Aron! Pengen aku posting, aku belum pernah posting-posting video dan foto orang (selalu foto dan video makanan atau pemandangan)"
What?
Zion menahan nafasnya.
Inilah yang dinamakan senjata makan tuan!
.
.
.
.
Alhamdulillah bisa up. Ini butuh perjuangan loh. Sudah beberapa hari ini HP kerestart mulu, apalagi pas lagi ngetik jadi ribet. Sinyal juga susah banget dari kemarin mau buka apa-apa susah. Mau up juga gagal mulu. Harap maklum, ya. Semoga selanjutnya bisa lancar sinyalnya.