ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
93 AKIBAT PENASARAN



Masih ingat saat reoni sekolah Zion? Inilah cerita selengkapnya.


FLASHBACK ON


Pesta masih terus berlangsung selama tiga hari. Malam kian larut. Lexa melihat di meja paling pojok, terdapat berbagai jenis minuman berakohol yang dibawa oleh teman-teman Zion. Mulai dari sake, soju, wine dan sebagainya. Walaupun Lexa lama tinggal di Jepang dan sering keluar negeri, tapi dia belum pernah meminum alkohol, termasuk sake. Selama ini David selalu melarang Lexa dan Hannie meminum alkohol. Setiap mereka pergi, maka David atau yang lain akan mengawal Lexa dan Hannie, agar terhindar dari hal-hal yang mengerikan seperti yang pernah dialami oleh Lexa dulu.


Lexa merasa penasaran dengan minuman-minuman tersebut. Dia mulai mendekati meja yang menyajikan deretan minuman tersebut.


Segelas saja enggak apa-apa kan, ya?


Akhirnya Lea meminum satu gelas kecil sake. Ya, memang hanya satu gelas kecil. Lalu ditambah satu gelas kecil soju dan jenis minuman yang lainnya. Akhirnya semua sudah dia cicipi, entah seperti apa keadaan perutnya itu.


Apa yang Lexa lakukan itu lepas dari pengawasan Zion, karena pria sedang berbicara dengan temannya untuk membahas masalah kerja sama yang akan mereka lakukan untuk mempererat hubungan persahabatan mereka.


Zion yang mencari-cari Lexa terkejut melihat keadaan Lexa yang sudah oleng. Dia langsung menggendong Lexa menuju kamar.


Lexa yang sudah mabuk, meracau tidak jelas.


"Eh, Zion ya? Kamu kok, ganteng sih? Tapi David juga ganteng."


Zion yang tadinya tersenyum, langsung cemberut saat Lexa mengatakan kalau David ganteng.


Cih, aku pria yang paling ganteng seantero dunia.


"Zion, Zion, main yuk!"


Lexa mencubit-cubiti pipi Zion dan mengacak-acak rambut pria itu.


Sesampainya di kamar, Zion langsung membaringkan Lexa di kasur.


Keesokan paginya, tepatnya jam empat, Lexa terbangun dengan kepala yang terasa sakit.


"Aarrrgggg ... apa yang kamu lakukan, Zion?"


Zion terbangun dari tidurnya dalam keadaan kaget. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Apa yang kamu lakukan Zion?"


Seperti kebiasaannya saat kesal dengan Zion, Lexa akan mengacak (baca: menjambak) rambut Zion.


"Sssttt ... dah jangan ngambek, udah terlanjur terjadi, Xa."


"Seeanaknya saja kamu melakukannya di saat aku enggak sadar. Kamu pasti maksa aku, kan?"


"Dih sembarangan, kamu tuh yang godain aku. Makanya jangan mabuk."


"Kamu pasti bohong. Lagian justru kamu yang dalam keadaan sadar seharusnya bersikap waras, mencegah hal itu terjadi dan tidak memanfaatkan situasi."


"Justru karena aku sadar, makanya aku bersikap waras dan memanfaatkan keadaan," ucap Zion tanpa dosa.


"Lagian kamu duluan kok yang mulai."


"Enggak mungkin."


"Sayang saja di kamar ini enggak ada CCTV."


Perdebatan masih terus berlanjut.


"Ini aku ceritain kronologisnya. Apa sekalian reka ulang kejadian, ya?"


Zion cengar-cengir, benar-benar tidak merasa bersalah.


"Tadi malam tuh kamu g***e-g***e aku, menggerayangi tubuh aku. Nyium aku ... "


"Stop!"


"Kan sudah aku bilang kamu harus dengar kronologisnya, kalau perlu kita reka ulang kejadian."


Zion lalu melanjutkan.


"Terus kamu bilang begini 'Ziiioonnn ... ak ... '"


"Stop!"


Lexa langsung membekap mulut Zion yang sepertinya akan mengeluarkan suara desahan.


Zion melepaskan tangan Lexa yang menutup mulutnya.


"Kamu bilang gini 'Ak ... '"


"Aku bilang jangan diteruskan!"


"Ah, kamu mah bawel. Kepotong-potong mulu nih ceritanya. Kan jadi enggak seru! Kan harus dibayangin juga, Yang."


Zion cekikikan mendengar perkataannya sendiri.


"Udah diam aja, enggak usah diceritain lagi!"


"Enggak ah, aku mau cerita, biar enggak penasaran. Ini kan adegan yang udah lama ditunggu-tunggu. 'Ziiiooonn ... hhhh ... akkhhhh ... ' lalu kamu mulai membuka kancing kemejaku, memberikan kecupan-kecupan ringan di leherku, lalu ... bla bla bla ... "


Lexa mulai menarik-narik lagi rambut Zion.


"Kamu agresif banget sih, Xa. Memang yang tadi malam kurang? Kurang lama? Kurang banyak? Atau kurang ku ... "


Lexa langsung melempar bantal ke wajah Zion. Sepertinya Lexa frustasi dengan perkataan Zion yang baginya sangat vulgar itu.


"Udah napa Xa, nanti kalau jadi pengen lagi, gimana?"


"Lalu setelah kita melakukan itu, kamu membenamkan wajahmu di bawah ketiak aku!"


Zion tersenyum malu-malu, mengingat kejadian tadi malam.


Tapi ... bukankah biasanya kalimat yang seharusnya orang-orang karakan membenamkan wajahmu di dada bidang****ku ... kenapa malah di bawah ketiaknya?


Sungguh mengerikan, pikir Lexa sambil bergidik ngeri.


Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam?


Tadi malam, saat Zion membaringkan tubuh Lexa, gadis itu memeluk Zion sambil meracau tidak jelas. Nafas Lexa terasa di leher Zion saat gadis itu mengendus-ngendus aroma winyak wangi yang selalu Zion gunakan.


"Ih, kamu pakai minyak tawon ya?"


"Bukan, aku pakai minyak tanah!"


"Rambut kamu bagus, hitam banget, pakai semir sepatu merek apa?"


"Aku pakai oli, makanya rambutku bisa sehitam dan selicin ini."


Percakapan yang mulai amburadul. Bodohnya, Zion selalu menjawab pertanyaan Lexa yang masih memeluk Zion.


Kesempatan, pikir Zion.


"Kamu enggak gerah? Sini aku bukain baju kamu!" tanya Lexa.


Eh?


"Aku ambilin baju ganti kamu dulu, ya."


Lexa mulai berjalan sempoyongan menuju lemari dan mengambil baju tidur untuk Zion.


"Ini, ayo aku gantiin!"


Zion menatap baju yang dipegang Lexa ...


Daster dengan pita dan renda ...


Lexa saja tidak pernah memakai daster itu selama berada di kapal pesiar, tapi kini dia memberikan itu untuk dipakai oleh Zion.


Zion mulai memijat keningnya. Yang mabuk Lexa, tapi yang pusing malah Zion.


Mungkin Lexa pikir Zion adalah boneka barbie yang dia punya saat masih kecil.


"Bibir kamu kok bisa merah gitu, sih?"


Lexa mulai mendekati Zion, mengamati bibir yang berwarna sedikit pink alami itu.


Tindakan tersebut membuat Zion deg-degan dan membuatnya merinding.


Lakukan?


Jangan!


Lakukan?


Jangan!


Mumpung dia enggak sadar!


Ck, lakukanlah dengan cara terhormat!


Halah, sok alim. Toh dia istrimu, juga. Ntar nyesel, baru tahu rasa!


Nanti lexa bisa marah.


Marah mah urusan belakangan. Kali aja langsung hamil!


Ah, berisik kalian berdua!


Terus gimana maunya?


Ingat, kesempatan enggak datang dua kali.


Ya udah deh, anggap saja ini jalan keluar untukku.


Akhirnya terjadilah kejadian yang harus disensor tersebut berkali-kali untuk memperbanyak stok bibit calon anak mereka.


Mudah-mudahan saja ada yang lulus review dan segera di acc.


Tetap saja Lexa tidak ingat apa yang terjadi tadi malam. Apa benar dia yang menggoda Zion. Padahal itu hanya akal-akalan Zion untuk mendramatisir keadaan, seolah Lexa adalah sang pelaku sedangkan Zion adalah korban (yang mengharap).


Lexa terus menimpuki Zion dengan bantal yang empuk itu, sama sekali tidak sakit.


"Kalau kamu marah, kamu bisa membalas aku dengan perbuatan yang sama!"


"???"


"Aku ikhlas kok, kalau kamu melakukan hal yang sama ke aku!"


"?!?!?!"


"Aku akan menerima hukuman itu sekarang juga, ayo enggak apa-apa!"


Lexa mendengus kesal.


Hukuman apa itu, dia yang tetap enak, aku yang rugi.


☆☆☆


Zion menyiapkan air hangat dengan berbagai aroma terapi untuk Lexa. Dengan dibantu oleh Zion, Lexa menuju kamar mandi.


Hah, seharusnya aku mengingat nasihat David. Gara-gara penasaran malah jadi seperti ini. Enggak lagi deh, aku minum minuman-minuman itu.


Dalam bathub itu Lexa gemetaran, bayangan kejadian enam tahun yang lalu memenuhi memorinya, tapi dia berusaha mati-matian untuk menepisnya.


Semua sudah terjadi, tidak ada David dan Hannie yang menolongnya. Yah, setidaknya yang melakukannya adalah Zion, pria yang statusnya adalah suaminya yang sah secara hukum dan agama.


Lexa terus merenungi apa yang telah terjadi antara dia dan Zion.


Zion melihat bercak darah yang ada di seprei. Perasaannya campur aduk, ada perasaan senang, lega, juga bersalah. Sebenarnya dia sangat ingin melakukannya dengan keadaan sama-sama sadar. Tapi kapan itu akan terjadi? Kalau dia memaksa Lexa dalam keadaan sadar, sama saja dia memperk**a istrinya itu, dan trauma Lexa bisa kembali kambuh. Zion sempat khawatir kalau saat Lexa bangun, traumanya akan kembali kambuh, itu berarti Zion telah membuat masalah baru lagi.


Zion sangat berharap kejadian ini akan mempererat hubungannya dengan Lexa, apalagi kalau Lexa bisa langsung hamil.


Setelah berhari-hari berlalu, hubungannya dengan Lexa bukannya semakin dekat malah semakin jauh. Setiap malam, Lexa selalu merasakan kecemasan dan teringat kejadian di taman dulu. Zion juga melihat kecemasan Lexa itu dan dia merasa bersalah.


Ada perasaan menyesal dalam diri Zion,namu tidak bisa dia pungkiri juga kalau dia juga senang sudah menjadi yang pertama untuk Lexa, bukan pria lain apalagi David.


Lexa selalu menghindarinya hingga mereka harus kembali ke Jakarta.


FLASBACK OFF


.


.


.


.


Gimana, puas dengan chapter ini? Tadinya isi dari chapter yang sebelumnya dan yang ini belum mau aku kasih, biar kalian sewot-sewot dulu, wkwkwkk.


Makasih pada yang masih setia membaca, walaupun Lexa sering bikin kalian kesal. Aku anggap itu keberhasilan membangun karakter Lexa dan biar tidak menyimpang dari judul ARROGANT WIFE.


Semoga menghibur ya ...