ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
134 PEMAKAMAN



Yang lain masih sangat gemas dengan Lexa yang menurut mereka ... hmmm ... bingung mereka juga mengungkapkannya. Sedangkan Zion mengecup-ngecup sambil menggigit pelan pipi Lexa. Mau marah kan enggak mungkin.


"Lain kali aku gak mau lagi rapat di luar."


Ya, selain para sahabat, rekan bisnis yang lain tidak pernah rapat di mansion Zion. Hanya David cs saja yang boleh rapat disana, mau jam berapa juga ayo aja karena status mereka yang memang sababat dekat. Sedangkan sahabat-sahabat Zion (selain Aron) bisa dengan rapat online. Rapat langsung itu terjadi jika memang para rekan bisnis yang tidak terlalu dekat itu ingin bertemu secara langsung dengan Zion.


☆☆☆


Hannie tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita dari Kenzo tentang Lexa.


"Lucu banget ya, Yang."


"Iya. Enggak kebayang gimana reaksi Zion saat tahu Lexa jadi doyan nonton dan baca cerita perselingkuhan, hahaha."


☆☆☆


Berita tentang Lexa yang masih belum ada kepastian masih saja diberitakan.


Tiara, memandang dengan tatapan kosong setiap kali mendengar berita itu. Berkali-kali dia menghela nafas. Memikirkan banyak hal, berpikir tentang anaknya, juga berpikir tentang Lexa dan Zion. Dia ingin mengakhiri semua ini.


Ya, keputusannya sudah bulat. Dia akan mengakhiri semua ini dengan caranya sendiri.


"Menjadi baik atau jahat itu pilihan. Tidak ada yang terlahir sempurna, semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bisa saja orang terlahir di keluarga kaya, tapi dia sakit-sakitan. Mungkin saja ada orang yang memiliki pasangan kaya dan tampan atau cantik, tapi sering diselingkuhi ... "


Perkataan yang pernah Tiara dengar dari seseorang.


Ya, seharusnya dia memahami semua itu. Dulu dia memiliki teman sekolah yang kaya namun broken home, terlibat dengan narkoba sampai akhirnya dikeluarkan dari sekolah.


Ada juga teman sekolahnya yang berwajah cantik, menjadi primadona sekolahnya, lalu hamil saat masih kelas tiga lalu dikeluarkan juga dari sekolah. Mendapat cibiran dari orang-orang dan memberi aib untuk keluarga.


Teman yang lainnya, berasal dari keluarga biasa-biasa saja, berwajah biasa juga, fokusnya adalah belajar agar selalu mendapat beasiswa dan membantu perekonomian keluarga. Wajah yang biasa itu membuat dia tidak digoda oleh pria-pria, sekarang sudah menjadi pengacara, menikah dan memiliki anak.


Rasa iri telah membunuhnya, membunuh hatinya.


Tiara mengambil secarik kertas, lalu menulis dengan perasaan yang bergejolak.


Dua hari kemudian


"Seorang narapidana perempuan berinisial TA tewas dengan luka lebam akibat perkelahian antar napi. Perkelahian tersebut terjadi ketika salah satu napi berinisial W ...."


Lexa mengganti saluran TV.


"Hari ini media dihebohkan dengan berita seorang napi yang juga mantan model berinisal TA tewas akibat perkelahian ...."


Lexa mengatur nafasnya berkali-kali. Penyiar berita itu masih membawakan berita tentang kematian Tiara ... Tiara Anastashya ... mantan sahabat Lexa.


Haruskah Lexa menangis, atau bahagia?


Berita itu bukan hanya mengagetkan Lexa, tapi juga sebelas orang lainnya dan para orang tua.


Hati Lexa bergejolak, ingin menghadiri pemakaman namun ragu. Apa yang akan dilakukannya di depan makam Tiara? Menangis, tertawa, menyumpahi meskipun yang disumpahi telah pergi?


Akhirnya dia memilih untuk tetap di istananya ini. Menyusun potongan-potongan puzle tentang dia dan Tiara.


Suasana pemakaman Tiara nampak sepi. Tidak ada kerabat maupun teman dekat. Tidak ada air mata yang mengiringi pemakaman maupun ratapan kehilangan. Semua terasa hampa.


Tidak ada karangan bunga turut berduka cita. Tidak ada perwakilan yang mengucapkan agar kesalahan almarhumah dimaafkan.


Tiara pergi begitu saja. Tanpa jejak bahwa dirinya pernah berarti untuk seseorang. Tanpa bekas bahwa dirinya pernah menjadi teman seseorang.


Menjadi pertanda bahwa dirinya tidak pernah menjadi sahabat siapapun.


Miris!


Di penjuru dunia lain, seorang anak kecil terlihat duduk menyendiri. Wajahnya terlihat tanpa ekpresi. Dia menyukai kesendirian dan hanya menatap sekilas lawan bicaranya.


Disaat yang lain bermain dengan sesamanya, dia hanya menatap langit sambil memegang mainan kecil yang diberikan untuknya.


☆☆☆


Yang sangat Zion sukai dari kehamilan Lexa saat ini adalah, Lexa bersikap romantis padanya. Setiap malam Lexa selalu ada dalam pelukan dada bidang milik Zion. Memeluk Zion dengan sangat erat. Hembusan nafas Lexa yang hangat selalu menggelitik leher sensual milik Zion yang membuat hidungnya kembang kempis. Apalagi disaat Lexa semakin mempererat pelukannya, rasanya ... ah sudahlah.


Lexa menghentakkan kakinya dan ... bugh ...


Zion ingin sekali melampiaskan kekesalannya. Dia mulai membekap mulut dan hidung si pemilik, mencubit, menonjok, menendang, mencekik dan melakukan kekerasan fisik lainnya. Bahkan Zion sangat ingin memutilasinya, tapi dia sangat takut, entah takut dosa atau takut dipenjara, atau mungkin diamuk massa. Zion ingin membalaskan rasa sakit hatinya terhadap sepuluh mahluk tak bernyawa yang dinamakan boneka.


Ya, boneka itu ada sepuluh, bahkan ukurannya sebesar manusia dewasa. Sepuluh benda menyusahkan pemberian sepuluh makhluk tak berperasaan yang tidak berpikir panjang akibat perbuatan mereka.


Lexa yang mendapat hadiah jadi-jadian itu langsung menidurkannya diatas ranjang mereka. Memperlakukan mereka bagai bayi mungil yang harus mendapat belaian lembut dan kasih sayang. Menjejerkan boneka itu satu-persatu, membuat tempat tidur sultan itu menjadi penuh.


Zion, yang ingin tidur langsung meletakkan boneka-boneka itu di lantai, membuat Lexa murka.


"Terus kita tidurnya gimana, Beb?"


"Ya di kasur. Awas jangan sampai ada yang ketiban!"


"Enggak muat, Beb."


"Ya sudah kamu tidur di sofa."


"Dih, masa boneka tidur di kasur, dipeluk dicium dimanja diberikan kehangatan tapi aku malah ngungsi ke kasur. Malu, dong."


"Malu sama siapa?"


"Sama kasur yang menjerit, tembok yang memandang, lampu yang berkedip, kordeng yang melambai dan hati yang meronta."


Dan ini tepat malam ketujuh dia tertindas oleh mahluk tak bernyawa itu. Di pagi pertama sejak kedatangan mereka, Lexa menjerit histeris saat boneka itu tergeletak dilantai. Seolah boneka itu baby mereka yang jatuh dari atas kasur dan mengalami patah tulang, leher keseleo, dan sudah pasti Zion yang diamuk.


Zion melirik sinis pada sepuluh boneka beraneka warna itu, rasanya dia sangat dendam.


Di malam kedua


"Hubby, mpok-mpok, dong."


Zion memicingkan matanya juga menahan nafas.


Apa sekarang aku harus mengempok-mpok boneka juga?


Dia memandang bagian bokong boneka itu, meringis dengan perasaan geli.


Yang pertama boneka Donald Bebek.


Yang kedua boneka Mickey Mouse.


Yang ketiga boneka Winnie The Pooh.


Yang keempat boneka Hello Kitty.


Yang kelima boneka Doraemon.


Yang keenam boneka Sinchan.


Yang ketujuh boneka Teddy Bear.


Yang kedelapan boneka Pinokio.


Yang kesembilan boneka Unyil.


Yang kesepuluh boneka Keroppi.


Tidak ada yang memberikan Lexa boneka Panda karena dia sudah punya banyak dari berbagai ukuran.


"Kok diam?"


Zion mengehela nafas lalu mengambil salah satu boneka dengan asal.


Zion mulai mengempok (lebih tepatnya meremas, eh salah, lebih tepatnya lagi memukul dengan kesal) bagian belakang boneka itu sambil bergumam pelan, yang sebenarnya sedang ngedumel tapi mungkin seperti nyanyian nina bobo bagi Lexa.


"Kamu ngapain?"


"Nidurin boneka, Yang," jawab Zion asal.


Entah siapa yang somplak di sini