ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
14 SETELAH PERNIKAHAN



Lexa menanggalkan perhiasannya satu persatu. Matanya masih terlihat sembab.


Pernikahan berujung air mata!


Sudah bisa dipastikan ini akan menjadi perbincangan panas dalam jangka waktu yang tidak dapat ditentukan.


Dia sendiri tidak merasa malu dengan apa yang telah terjadi dalam pesta pernikahannya, toh bukan orang lain yang mengacaukannya, tapi dia sendiri!


Di kamar hotel yang lain, Zion melepaskan jasnya dan melemparkan ke atas ranjang.


Pesta pernikahan apa ini?


Dia mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.


"Kacaukan AR Group secara perlahan, ingat jangan gegabah! Jangan sampai meninggalkan jejak!"


ARD Group merupakan perusahaan milik David.


Sementara itu, di apartemen mewah, berkumpul orang-orang yang juga sedang menyusun rencana besar.


"Aku ingin RW Group hancur hingga tak bersisa."


"Kamu tenang saja, kami semua akan membantu."


"Aku akan menemukan kelemahan pria itu."


"Bagaimana kalau ternyata pria itu benar-benar mencintai Lexa?"


"Maka Lexa akan menjadi kelemahannya."


"Tidak masalah kalau dia mencintai Lexa, yang penting bukan Lexa yang jatuh cinta padanya."


"Lexa akan membantu Lexa menghancurkan pria itu."


"Benar! Lexa nampak sangat membenci pria itu."


David tersenyum sinis.


"Apa kamu yakin Lexa akan baik-baik saja?"


"Aku percaya dengan Lexa. Dia tidak mudah goyah, kalian juga sudah tahu itu."


David mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Lexa.


"Besok pagi aku ingin bertemu, aku akan menjemput kamu."


"Baiklah!"


"Ya sudah, kamu istirahatlah. Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku."


"Iya, aku tahu."


Pembicaraan David dengan teman-temannya berlangsung hingga jam dua malam.


Di malam pengantin, Lexa dan Zion tidur di kamar yang terpisah.


Zion menghela nafas berkali-kali seperti orang yang lelah hati lelah pikiran.


Dia seperti seorang wanita yang ditinggalkan seorang suami di malam pengantin. Untung saja dia bukan seorang wanita, kalau tidak mungkin dia akan menangis tersedu, meratapi nasib, menulis di buku harian, atau menonton drakor sebagai pelampiasan, bisa juga curhat kepada teman dan menceritakan bagaimana tragis malam pengantinnya yang sia-sia.


Sungguh sial!


Di kamar yang lain, seorang wanita sedang membaca komentar-komentar tentang pernikahannya.


Banyak yang mengucapkan selamat.


Banyak juga yang kepo soal hubungan mereka bertiga.


Ada juga yang lebih peduli dengan perhiasan yang Lexa kenakan.


☆☆☆


Lexa terbangun dari tidurnya, tidak lama kemudian dia bergegas mandi.


Jam tujuh David sudah tiba untuk menjemput Lexa tanpa mempedulikan tatapan puluhan mata yang sangat ingin tahu.


Mereka menuju sebuah restoran dan memasuki ruang VVIP.


"Ini untuk kamu, ambil dan simpan baik-baik. Bawa kemanapun kamu pergi, jangan sampai lupa!"


"Apa ini?"


"Ini obat untuk menghilangkan mabuk, pusing, ataupun obat anti perangsang!"


Lexa langsung memahami apa yang dimaksud oleh David.


"Ingat, jangan makan dan minum dari yang dia berikan. Kalau kamu tiba-tiba merasa pusing langsung minum obat ini."


"Aku mengerti. Terima kasih sudah memikirkan dan menjaga aku."


"Itu sudah menjadi kewajiban aku."


"Aku beruntung sudah mengenal dan memiliki kamu."


"Itu tidak benar. Akulah yang beruntung sudah mengenal kamu. Aku bukan apa-apa tanpa dirimu."


Sarapan tersaji di hadapan mereka. Tidak lama kemudian beberapa orang masuk.


"Kenapa lama sekali?"


"Maaf kami kesiangan, kamu tahu sendiri kan, tadi malam kita mengobrol hingga jam dua malam."


"Bagaimana bisa kamu menikah dengan pria arogan itu?"


"Aku hanya sedang sial!"


"Apa rencana kamu selanjutnya?"


"Hanya menikamati peran, bersikap sebagai istri yang tak terlupakan, lalu ... "


"Lalu?"


"Setelah puas lalu menghempaskannya!"


Hannie terkekeh geli.


"Apa kamu yakin bisa melakukannya?"


"Hei, kamu meremehkan kemampuan aku?"


"Tidak. Aku justru sangat percaya padamu."


"Itu harus."


☆☆☆


"Mulai hari ini kita akan tinggal di sini."


"Bukankah sudah aku katakan kita akan tinggal terpisah!"


"Baru kemarin kita menikah. Apa nanti kata orang kalau tahu kita sudah pisah rumah. Masih banyak wartawan yang mencari berita tentang kita. Kita tahan dulu ego masing-masing."


"Ya sudah. Tapi ingat kita harus pisah kamar. Kamu tidak boleh sembarangan masuk ke kamar aku. Minggir, jaga jarak dariku!"


Zion berdecak kesal.


Oke, permainan dimulai! Batin mereka berdua bersamaan.


☆☆☆


Aktifitas pagi dimulai. Lexa sudah siap dengan dandanan dan pakaian kerjanya, begitu juga dengan Zion.


"Kamu tidak sarapan dulu?"


Tentu saja tidak ada sahutan dari lexa, wanita itu langsung menuju mobilnya dan bergegas pergi menuju kantornya.


Ini adalah hari ketiga mereka menikah, tetapi mereka sudah mulai bekerja. Tidak seperti pasangan pengantin baru yang akan berbulan madu, bahkan walaupun tidak berbulan madu, pengantin baru biasanya akan menghabiskan waktu mereka beberapa hari di rumah.


Para karyawan melihat kedatangan Lexa, seperti biasa, selalu memukau.


"Kamu di sini?" tanya Alex pada putrinya.


"Memangnya mau dimana lagi? Kan ayah sendiri yang menyuruhku mengurus perusahaan, apa sekarang aku boleh ongkang-ongkang kaki? Atau kembali ke Jepang?"


"Kamu inikan baru saja menikah, kenapa tidak beristirahat saja di rumah, atau langsung saja berbulan madu!"


Lexa hanya mengedikkan bahunya.


Saat jam makan siang, Zion datang untuk menjemputnya makan bersama.


Mereka tengah duduk di dalam restoran. Bukan hanya mereka berdua, tetapi bertiga bersama David.


Kalau dalam keadaan normal, suasana seperti ini pasti akan terasa canggung.


Suami - istri - mantan pacar duduk dan berada di meja yang sama. Yang seharusnya merasa deg-degan seharusnya ya sang istri yang berada diantara suami dan sang mantan. Tapi tidak, Lexa tampak sangat santai. Begitu juga dengan David, tidak merasa bersalah sedikitpun. Sedangkan Zion? Dia terlihat masa bodo.


Mereka seperti tiga sahabat yang nampak akur dan sedang reoni. Tapi di dalam hati entahlah, mungkin saling menyumpah.


Ya begitulah sikap orang-orang yang dikenal publik, jaga image! Seharusnya mereka memesan ruang VVIP, jadi jika ingin melontarkan kata-kata kasar atau saling menonjok, tidak akan ada yang mendengar dan melihat.


Mungkin Zion ingin menunjukan pada orang-orang kalau hunungan dia dan Lexa baik-baik saja.


"Zion, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Wanita yang lagi-lagi seksi menghampiri Zion, dan duduk di sebelahnya.


Wanita itu dan Lexa saling menatap, lalu pandangan wanita itu beralih pada David.


Beruntungnya aku, bisa duduk bersama dua pria tampan. Rezeki memang tidak kemana.


Hanya duduk bersama saja sudah seperti mendapat durian runtuh. Lalu bagaimana dengan Lexa?


"Halo?"


"Ada masalah di perusahaan, segeralah kesini."


"Baiklah."


David memasukan ponselnya ke dalam saku.


"Aku harus segera kembali ke kantor. Maaf tidak bisa bersamamu lebih lama."


"Tidak apa, aku juga sudah mau kembali ke kantror."


David mengusap rambut Lexa lalu pergi tanpa melirik Zion.


Sedangkan Zion juga fokus dengan ponselnya.


"Ada masalah di kantor, segeralah kembali!" Begitulah isi pesan dari Aron.


"Ayo aku antar, aku juga harus segera kembali ke kantor."