ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
32 CEMAS



Lexa membuka pintu apartemen David.


"Kamu di sini juga, Hannie?"


"Iya. Aku kebetulan aku sedang ada di dekat sini lalu sekalian saja mampir untuk meminta oleh-oleh! Ya sudah, aku pergi dulu ya."


"Kenapa cepat sekali, aku kan baru saja tiba!"


"Sebentar lagi jadwalku praktek."


"Yakin? Kamu seperti selingkuhan yang sedang tertangkap basah oleh pacar kekasihmu!" sindir Lexa.


David dan Hannie langsung melotot ... tapi mereka kemudian tertawa.


"Berhati-hatilah kamu, aku akan merebut pacar tercintamu!" balas Hannie.


"Coba saja kalau kamu bisa!"


"Sudah-sudah, apa-apaan sih kalian, ini!"


"Bye sahabat, bye selingkuhan!"


Lexa mencibikan bibirnya.


"Kenapa manyun begitu?"


"Kenapa akhir-akhir ini dia jadi menyebalkan seperti itu?"


"Sudah jangan dipikirkan!"


"Kenapa kamu sudah pulang? Katanya masih bulan depan?"


"Karena aku mengkhawatirkan kamu!"


"Khawatir sama aku, atau sama Hannie?"


"Ck, kamu sensi deh. Lagi PMS ya?"


Lexa tidak menjawab.


"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya David.


"Tidak ada!"


"Bagaimana hubungan kamu dengan pria itu?"


"Seperti biasa."


"Kamu jatuh cinta padanya?"


"Tidak."


David menatap Lexa.


Apa yang kamu sembunyikan dariku, Lexa?


"Kamu tidak percaya padaku?"


"Aku percaya sama kamu tapi ... "


"Tidak ada tapi-tapian, kalau percaya ya percaya saja!"


Kenapa dia sensi sekali, ya? Apa gara-gara PMS? Hannie saja sudah cukup memusingkan, sejak dia hamil dia jadi sensitif sekali. Eh? Hamil? Tidak mungkin Lexa juga hamil, kan?


David mengatur degup jantungnya.


"Kamu kenapa? Kok kelihatan cemas begitu?"


Lexa melihat David yang seperti orang kebingungan dan takut.


"Aku tidak apa-apa. Kamu benar baik-baik saja? Apa akhir-akhir ini kamu merasa mual atau pusing atau sangat menginginkan sesuatu?"


"Kamu tahu darimana?"


DEG!


"Hmmm ... ayo kita ke dokter!"


"Tidak mau!"


Hening sesaat


"Ayo kita main bunge jumping!"


"Tidak boleh!"


"Kenapa? Ayolah ... ayo ayo ayo!"


"Aku akan melakukan dan memberikan kamu apa saja kecuali yang berbahaya untuk dirimu!"


Lexa tersenyum.


Davidnya memang selalu perhatian dan pengertian.


☆☆☆


Bagaimana kalau dia benar-benar hamil?


David benar-benar merasa cemas.


Dia memandang wajah Lexa yang sedang tertidur. Dia ingin memanggil dokter untuk memeriksa Lexa tapi hatinya merasa berat.


Kehadiran seorang anak pasti akan menyenangkan terutama untuk orang tuanya. Tapi dalam situasi seperti ini rasanya malah mengkhawatirkan.


David sedang berpikir apa yang harus dia lakukan.


☆☆☆


Yang satu mengkhawatirkan kehadiran seorang anak.


Yang satu lagi mengharapkan kehadiran seorang anak.


Lexa nampak santai dengan memakan cemilannya yang semuanya sangat pedas.


"Perut kamu bisa sakit. Kamu seperti wanita ngidam, makan yang pedas-pedas dan asam terus," ucap Zion.


Eh?


Ngidam?


Dia tidak sedang hamil, kan?


Seharusnya Zion merasa senang tapi tidak mungkin. Kalau Lexa hamil itu sudah pasti bukan anaknya!


Sialan!


Zion mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras dan sorot matanya dipenuhi oleh amarah.


"Kamu sakit perut!" tanya Lexa.


Ck, aku bukannya mules, Lexa. Tapi sedang marah. Memangnya kamu tidak bisa membedakan mana orang mules, mana orang marah?


Zion mengacak-ngacak rambutnya frustasi.


Kalau dia benar-benar hamil, maka dia dan David akan kembali bersama.


Sial!


Sial!


Sial!


Dua orang pria sedang duduk di ruang kerja masing-masing dengan perasaan cemas.


Sang wanita yang dikhawatirkan sedang muntah-muntah di kamar mandi.


Setelah merasa enakan, dia membaringkan badannya di atas kasur.


Dua orang pria sedang galau karena wanita yang sama.


Apa dia mau mengakuinya?


Orang tua kami akan berpikir kalau anak yang dalam kandungan Lexa adakah anakku.


Hingga jam dua malam kedua pria itu tidak dapat tidur.


Ponsel David berbunyi.


Hannie


[Aku mau seblak!]


Dasar bumil, tidak tahu apa sekarang jam berapa?


David jadi membayangkan bagaimana dia harus menghadapi dua wanita hamil sekaligus. Membelikan mereka makanan yang tidak mungkin ditemukan tengah malam seperti ini.


Seharusnya dia merasa setres saat membayangakannya, tapi dia justru terkekeh geli.


Astaga, hidupku sepertinya akan berubah.


Senyuman itu langsung sirna lagi.


Sudahlah, hadapi saja!


☆☆☆


Sudah tiga hari dua pemilik perusahaan besar itu nampak uring-uringan.


Mereka sering melihat Lexa yang sering makan banyak tapi badannya semakin kurus dan sering muntah-muntah.


Mereka ingin mengajak Lexa periksa ke dokter, tapi wanita itu tidak mau.


Ingin memeriksakan Lexa saat wanita itu tidur, rasanya juga sulit.


Keduanya menggeram frustasi.


☆☆☆


"Kamu lagi banyak masalah?" tanya Tiara pada Zion.


Zion menggeleng.


"Kalau ada apa-apa cerita saja sama aku."


Zion hanya diam. Pikirannya benar-benar kacau.


"Bagaimana keadaan Lexa?"


"Hmmm ... baik!"


Tiara menangkap keraguan dalam diri Zion saat mengatakan kata baik.


"Kalian akan berpisah?"


Zion mengernyitkan keningnya.


"Lexa bilang begitu?"


"Ya tidak secara langsung, sih!"


Zion langsung meninggalkan Tiara begitu saja.


Sementara itu di tempat David.


"Aku gak sabar beli perlengkapan bayi."


" ... "


"Pengen cepat-cepat kasih nama."


" ... "


"Laki-laki atau perempuan, ya?"


" ... "


"Kira-kira mirip mamanya atau papanya, ya?"


" ... "


"Daviiiddd! Aku tuh lagi bicara sama kamu. Kamu kok cuek gitu, sih?"


"Perut kamu juga masih rata, Han. Jangan mikirin itu dulu. Yang penting kamu dan dede bayi selalu sehat."


"Ah kamu mah tidak sayang aku, lagi."


"Sayang lah Han. Dari dulu sampai sekarang selalu sayang, tidak pernah berubah. Jangan mikir yang aneh-aneh, deh!"


Hannie langsung tersenyum bahagia.


Sejak hamil wanita itu semakin manja pada David. Dia ingin David melakukan ini itu untuknya.


Apa Hannie tahu, ya? Tapi rasanya tidak mungkin. Kalau Hannie tahu dia pasti sudah marah besar. Aku juga tidak ingin bertanya padanya. Aku tidak ingin Hannie dan bayinya kenapa-kenapa. Mereka juga penting dalam hidupku.


☆☆☆


Malam ini bintang tidak ada karena hujan.


Sunyi, gelap dan dingin.


Sesunyi, segelap dan sedingin empat hati berselimutkan kegundahan.


Ingin mengalihkan pikiran namun sulit.


Kecemasan itu tidak hanya mengganggu pikiran, tapi juga menyengsarakan hati.


Malu bertanya sesat di jalan.


Mau bertanya tapi takut.


Tidak bertanya tapi penasaran.


Serba salah.


Yang mereka khawatirkan adalah reaksi dari wanita itu.


Juga takut mendengar kalau ternyata jawabannya iya.


Lalu mereka harus bagaimana?


Kenapa keadaan menjadi serumit ini?


Hari-hari jadi terasa amat panjang dan melelahkan, padahal aktifitas yang mereka lakukan sama saja seperti sebelum-sebelumnya. Semua ini karena beban pikiran yang berat.


Huek ... huek ... huek ...


Hannie dan Lexa muntah bersamaan tapi di tempat yang berbeda.


Lexa lalu mengambil ponselnya lalu segera mengirim pesan ke seseorang.


[Hannie, ayo besok kita ngerujak!]


[Kamu seperti orang ngidam!]


[Memang. Lalu aku harus meminta pertanggung jawaban pada siapa?]


[Padaku, karena aku yang melakukannya padamu!]


[Dasar sarap!]


[Yang lain juga diajak?]


[Hmmm ... jangan! Mereka bawel]


[Benar juga]


[Ya sudah sampai besok]