
Suara riuh memenuhi kapal pesiar yang akan membawa para penumpang ke pulau pribadi.
Zion dan Lexa mengajak sahabat-sahabat mereka (12 F dan sahabat futsal juga kuliah Zion) beserta anak istri mereka merayakan ulang tahun si kembar yang kelima.
Kapal pesiar yang dulu Zion hadiahkan untuk Lexa kini terasa berbeda saat Zion kembali menaikinya. Tentu saja, dulu dia memeliki misi rahasia tanpa kehadiran sahabat-sahabat mereka. Kini, dia kembali menaikinya dengan membawa lima buntut.
Tahun lalu, mereka merayakan ulang tahun si kembar dengan tour keliling jawa dengan menaiki kereta api yang juga pernah dihadiahkan Zion untuk Lexa.
Tidak hanya asal jalan-jalan keliling Jawa saja, mereka juga memberikan santunan kepada panti asuhan yang ada di daerah tersebut.
Si kembar lima beserta anak-anak sahabat Lexa dan Zion sedang menonton cerita animasi dengan disuguhi makanan dan minuman.
Para orang tua bercerita tenrang masa-masa sekolah dan kuliah mereka.
Bhuahahaha ....
Suara tawa kembali memenuhi kapal itu saat video tentang kekonyolan 12 F diputar.
Zion, Aron dan David cs mendelik kesal pada Lexa yang membuka aib mereka. Sedangkan si tersangka merasa tidak berdosa dan tetap menampilkan senyuman bak miss universe.
"Jadi itu kalian? Aku kira siapa!" ucap salah satu teman kuliah Zion yang memang pernah melihat aksi sok mani di mall dulu.
Sahabatnya Zion yang berjumlah enam orang (termasuk Aron) itu hanya geleng-geleng kepala melihat kekonyolan-kekonyolan dalam video-video itu. Mereka tak habis pikir bahwa Zion, Aron dan David cs bisa bersikap seperti itu.
Bahkan para istri merasa iri sekaligus takjub pada Lexa karena mereka menganggap Lexa beruntung memiliki suami dan sahabat yang menyenangkan seperti itu.
Ya, lagi-lagi mereka yang tidak tahu apa-apa tentang kisah hidup Lexa akan merasa iri pada keberuntungannya. Tapi biarlah semua itu hanya menjadi rahasia bagi keluarga dan 12 F saja yang juga suatu saat nanti akan diceritakan pada anak-anak dan cucu mereka saat mereka sudah cukup dewasa.
Sebuah pulau sudah mulai terlihat dari kapal pesiar. Anak-anak memandang pulau itu dan bersorak riang.
"Itu pulau kami! Papi, aku mau memakai baju putri duyung!"
Siapa lagi yang berbicara seperti itu kalau bukan Ziola. Tidak lama kemudian Ziola datang dengan digendong bridal style ... ini bukan adegan romantis, karena Zio memang harus digendong seperti itu mengingat baju putri duyung yang dia gunakan menyerupai sirip ikan.
Anak-anak yang lain ada yang memakai pakaian bajak laut, nahkoda, pangeran, dan sebagainya yang sesuai tema.
Tidak lama kemudian mereka tiba di pantai, hamparan pasir putih nan halus dan hangat menyambut kedatangan mereka.
"Stop, kenapa tidak ada karpet merah yang menyambut?" tanya Davin.
"Benar, seharusnya ada taburan bunga juga."
"Para pengawal juga sebaiknya berbaris menyambut kedatangan kami."
"Apa tidak ada kamera yang meliput?"
Bagi mereka yang belum tahu sifat si kembar lima, pasti akan terperangah mendengar kenarsisan akut dari putra putri Zion Lexa itu, tapi bagi yang lain termasuk bodyguards dan baby sitter, itu sudah sangat biasa.
"Ah, ayah-ayah kurang keren, seharusnya ada helikopter yang membentangkan spanduk betuliskan happy birthday twins!"
Ya seperti itulah mereka, saking kompaknya keluarga yang tidak bisa dibilang kecil itu, yang dikritik pasti para ayah atau yang lain, bukan orang tuanya.
"Kenapa kalian narsis begitu?"
"Kami ini calon orang terkenal, harus membiasakan diri sejak dini biar gak malu-maluin."
Oke, salah satu sahabat Zion menyesal sudah bertanya dengan si kembar. Sedangkan yang lain hanya menahan tawa.
Ziola masih digendong oleh Zion. Di tengah pulau, berdiri resort mewah dengan kolam renang dan wahana bermain. Pohon-pohon kelapa berjejer di pinggir-pinggir dengan dihiasi lampu yang jika malam, akan terlihat sangat indah.
Mereka memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat dan akan bermain di pantai sore nanti.
Sore menjelang ....
"Papi, aku mau ke sana!"
Lima menit kemudian
"Ayah, aku mau ke sana!"
Lima menit kemudian
"Daddy, aku mau ke sana!"
Mereka menghela nafas.
"Zio ganti baju ya, kalau pakai baju putri duyung kan jadi enggak punya kaki buat jalan."
"No ayah, aku mau jadi putri duyung sampai pangeranku datang!"
Ck, dasar bocah.
Sahabat Zion merasa takjub dengan pulau ini, yang menyuguhkan kemewahan.
"Kalian enggak modal banget sih, masa ngasih kado tapi patungan!" keluh Zion kepada Aron dan David cs.
"Eh buset, kamu kira ini sejuta dua juta."
"Kamu tahu berapa biaya yang dikeluarkan untuk seluruh bangunan yang ada di pulau ini?"
"Ya M-M'an lah."
"Nah itu tahu kalau milyaran."
Zion hanya senyum-senyum ngeselin.
Pulau ini memang dibeli secara pribadi oleh Zion, tetapi semua bangunannya termasuk wahana bermain dibiayai oleh Aron dan David cs sebagai hadiah ulang tahun untuk si kembar.
Anak-anak sibuk bermain pasir dan yang dewasa bermain voli hingga lelah dan istirahat.
Mereka menatap Ziola yang selonjoran di pantai, tidak lama kemudian dia ngesot karena gak punya kaki buat jalan.
Sontak saja hal itu membuat para orang dewasa tertawa.
"Eh, jangan diketawain, anak aku itu," keluh Zion, enggak sadar diri kalau dirinya juga ngakak.
Kai kemudian menghampiri Zio dan mengendongnya di punggung walau agak susah karena pakain putri duyung itu.
Hal itu mengingatkan Lexa, Zion, David dan Hannie akan masa kecil mereka. Dimana Zion dan David dulu sering menggendong Lexa seperti itu.
Waktu ternyata cepat berlalu, dari jauh juga orang tua Lexa dan Zion melihat pemandangan yang membuat mereka terharu itu. Lima anak kembar yang menjadi cucu mereka, yang akan mewarisi kekayaan keluarga William dan Willson yang jumlahnya tentu luar biasa.
Hal itu juga tentu saja membuat mereka waspada akan keamanan si kembar. Mereka tetap merahasiakan identitas penerus mereka, bahkan ada yang bertanya-tanya tentang apakah Lexa dan Zion memiliki anak atau tidak. Kawasan 12 F dijaga dengan ketat agar paparazi tidak bisa menyusup.
Bahkan, mereka menyelidiki identitas teman-teman sekolah si kembar sampai ke akar-akarnya, siapa orang tua, kakek nenek, buyut mereka dan seterusnya karena tidk ingin mengulang tragedi menyakitkan itu lagi.
Malam harinya, mereka menyalakan api unggun dan melakukan pesta barbeque dengan tetap dijaga oleh para bodyguard agar tidak ada bocah yang berjalan terlalu jauh ke pantai.
Para orang dewasa (minus orang tua Lexa dan Zion yang hanya melihat) bermain truth or dare.
Putaran pertama berhenti pada Zion.
"Pilih apa?"
"Truth."
"Rahasia apa yang tidak pernah kamu ceritakan pada siapapun termasuk Lexa?"
Zion menggaruk tengkuknya, ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi dia sudah memilih truth dan pantang baginya untuk mengelak.
"Sayang, maafkan aku yang sebelumnya tidak pernah menceritakan ini padamu. Aku hanya tidak ingin kamu marah."
"Apa?" tanya Lexa dengan ketus.
"Se ... sebenarnya saat itu aku ingin membuat pemakaman yang indah untuk Davdav di sebelah makam baby Arion. Tapi enggak jadi karena ternyata Davdav masih hidup."
Suara tawa mulai terdengar.
Sedetik kemudian Zion sudah di smake down oleh Davdav, untung saja para bocah ada di jarak yang cukup jauh dari mereka.
"Ceburin woy!"
BYUR
BYUR
BYUR
Bukan hanya Zion dan David saja yang tercebur dalan kolam, tapi para pria lainnya juga, sedangkan yang perempuan malah kesenangan sambil memberikan yelyel penyemangat.
Anak-anak Zion dan yang lain terlihat sangat senang sambil bernyanyi lagu anak-anak. Si kembar memang sudah terbiasa bertemu dengan orang asing karena selain mereka sering berinteraksi dengan para ayah dan daddy, mereka juga sering ke panti asuhan yang sering bertambah penghuni baru.
Keesokan paginya saat sarapan.
Ziola nampak cemberut sejak bangun tidur.
"Zio, kenapa sejak tadi cemberut?"
"Itu karena sejak kemaren aku menunggu my prince tapi enggak datang-datang."
Ziola mulai menangis di pangkuan David.
"Dapdap, dapdap saja yang jadi pangeranku."
Zion keselek
Keselek biji salak
Untungnya biji salak yang dari ubi, bukan yang buah.
"No Zio!" sela Zion.
"Why papi?"
"Dia terlalu tua untuk menjadi pangeran."
Zio nampak berpikir.
"Tapi sepertinya kami jodoh, nama kami saja mirip."
Para orang dewasa saling melirik, dari mana kosa kata jodoh itu Zio dapatkan, memangnya dia mengerti artinya?
Zion mendengkus.
"Itu karena papimu ini yang memberikan nama Davia padamu, bukan berarti kalian jodoh!"
Zion cemberut, berasa senjata makan tuan atau boomerang atau apalah namanya.
David dan Zion saling melirik. Jika David tersenyum menggoda, maka Zion menjadi pucat.
"Arrggghhh ... aku tidak mau punya menantu yang bahkan usianya lebih tua dari istriku. Apalagi dia akan memanggil istriku mami?! Huaaa ... yang benar saja!" teriak Zion frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya.
Lexa dan yang lain menahan tawa melihat wajah konyol Zion yang cemas.
Memang benar Zion pernah berjanji akan selalu mendukung David dan menjadi orang terdepan yang akan membelanya, tapi enggak begini juga, kali!
Salahkan David yang hingga kini belum juga menikah.
Dasar bujang lapuk!
"Arrgggh ... My Darling, ayo kita carikan Davdav jodoh!"
Zion terus membayangkan bagaimana jadinya jika Davdav menjadi menantunya, mamanggilnya papi dan Lexa mami. Lalu menyium tangan dia dan Lexa sebagai bentuk hormat.
Yang Zion yakini bahwa keinginan sejak kecil apalagi sering disebut dalam doa bisa terkabul, contohnya doa dia agar Lexa menjadi jodohnya, yang terkabul.
AAAARRRGGGG
JANGANNNNNN
NOOOOOOOOOO
TIDAAAAKKKKKK
Sepertinya Zion terlalu banyak pikiran, dan tanpa sadar dia menyandarkan kepalanya di pundak Davdav yang duduk di sebelahnya yang masih memangku si bidadari kecil yang jodohnya masih dalam teka-teki.
Cekrek!
Lexa mengabadikan momen tersebut dengan tulisan.
♡♡♡MERTUA DAN CALON MENANTU♡♡♡
Sebagai kenangan-kenangan (baca: bahan ejekan) untuk Davdan dan Yonyon, dengan senyum menyebalkan.
--- END ---
☆☆☆ TAMAT ☆☆☆
♡♡♡ FINISH ♡♡♡
\*\*\* SELESAI \*\*\*
~~~ UDAHAN ~~~
.
.
Alhamdulillah, tamat ya. Mohon maaf bila ada kekurangan dan kekhilafan dalam novel ini, ambil yang positifnya buang yang negatif.
Cerita ini aku buat dengan sepenuh hati dengan resiko ditinggalin pembaca karena bab-bab yang tidak sesuai dengan keinginan mereka (bagian konflik), tapi memang seperti itu alurnya. Kalau gak begitu ya endingnya gak begini. Jadi ada sebab akibat ya, dinikmati aja :)
Yang penting happy ending, kan. Gimana kalau sad ending, ya? Bisa dimaki-maki aku. Itu aja udah ada yang sewot dan bilang ini itu, wkwkwkkk. Tapi biarlah, selera pembaca beda-beda. Ada yang suka happy ending ada juga yangvsuka sad ending.
Ada yang dukung istri balik lagi ke suami meski sudah disakiti ada juga yang mau nyari pasangan lain (cerita penulis lain). Jadi selera orang beda, gak bisa satu cerita ngikuti semua kemauan pembaca.
Klo ada yang bilang cerita ini gak romantis, hmmm ... klo menurut aku sih tergantung pikiran masing-masing orang ya.
Tapi, seperti inilah romatisme ala Zion Lexa, jangan dibandingin sama cerita lain :)
Hmm, mau bilang apa lagi ya ....
Terima kasih untuk ....
* Yang selalu setia membaca sampai akhir.
* Yang like
* Yang Vote
* Yang ngasih hadiah
* Yang komen
* Yang ngasih bintang lima
Semoga lebih banyak lagi ya, syukur-syukur ada yang mau promoin cerita ini di grup NT FB dan tetap menjadikan cerita ini favorite meski sudah tamat.
Yang mau nanya-nanya, bisa komen di bab yang ini, ya.
Ngomong-ngomong, kok aku sedih ya cerita ini tamat, belum apa-apa udah kangen aku sama gesreknya Zion Leza dan David, wkwkwkkkk ....
Sekali lagi, terima kasih ... :)