ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
25 RIWAYAT KESEHATAN LEXA



Orang tua Lexa dan Zion datang diwaktu yang hampir bersamaan. Mereka (Zion dan kedua orang tuanya juga kedua orang tua Lexa dan dokter Adam) berbincang di ruang kerja Zion.


"Bunda, apa selama ini Lexa pernah sakit seperti ini?"


"Tidak pernah, memangnya apa yang terjadi?"


"Saya tidak dapat mengatakan apapun saat ini, karena harus berdasarkan pemeriksaan yang akurat. Tetapi sepertinya Nona Lexa memiliki trauma akut!"


"Apa? Apa maksudnya?"


"Yosuke itu seorang psikiater yang terkenal di Jepang. Mungkin saja saat berada di Jepang nona Lexa mengalami kejadian yang tidak menyenangkan atau memiliki masalah pribadi yang membuat dia cemas berlebihan."


"Selama ini Lexa tidak pernah mengatakan apa-apa. Aku akan menyuruh orang untuk menyelidikinya."


"Apa David sudah mengenal Lexa sejak lama?"


"David? Mereka sudah lama saling mengenal. Memangnya ada apa?"


"Ada David di sini. Bunda dan Ayah tanyakan pada pria itu. Kalau aku yang bertanya dia tidak akan menjawabnya!"


"Baikkah!"


Mereka lalu ke kamar Lexa.


"David, Hannie, kalian juga disini?"


"Iya, Tante!"


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Lexa? Apa terjadi sesuatu yang buruk selama dia ada di Jepang?"


"Maksudnya?"


"Apa selama di Jepang Lexa mengalami hal yang tidak menyenangkan sehingga membuatnya sakit atau trauma? Kalau ada, tolong ceritakan yang sebenarnya. Kami ini orang tuanya, kami berhak tahu!"


"Tidak terjadi apa-apa, Tante. Tante tenang saja!"


"Lalu kenapa Lexa seperti ini?"


"Dia hanya terlalu banyak pikiran saja, apalagi pernikahannya tidak pernah bahagia. Kalian kan tahu sendiri itu. Kalianlah yang membuat dia seperti ini."


JLEB ... mereka seperti disindir.


"Kamu tidak sedang berbohong kan, David?"


"Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa menanyakan sendiri dengan Lexa saat dia sembuh nanti. Kalian juga bisa menyelidikinya sendiri!" tantang David.


Tidak ada keraguan dalam nada bicaranya. Sorot matanya pun terlihat yakin.


Disaat mereka berbicara, Lexa masih tidur. Semua orang memperhatikannya.


☆☆☆


Malam hari tiba, keempat orang tua itu sudah pulang.


Hannie, David, Yosuke masih berada di kamar Lexa. Begitu juga dengan Zion dan Adam. Mana mungkin Zion ke kamarnya disaat ada pria lain di kamar Lexa. Memangnya dia sudah gila?


Mereka duduk di sofa.


Terdengar isakan dari mulut Lexa.


"Jangan ... jangan ... !"


Sepertinya Lexa sedang mengigau.


"Lexa tenanglah!"


Hannie menggenggam tangan Lexa. Isakan itu semakin terdengar jelas.


"Lepaskan!"


Lexa berteriak histeris.


David segera memeluk Lexa dan mengusap-ngusap kepalanya.


"Lepas!"


Lexa masih terus memberontak meski matanya masih tertutup rapat.


"Ini aku, David! Tenanglah, kamu hanya mimpi buruk!"


Tubuh Lexa menghentak-hentak. Tangannya mencoba mendorong dan kakinya menendang udara kosong.


Yosuke segera menyiapkan suntikan.


"Tahan badannya!" perintah Yosuke.


Hannie naik ke tempat tidur dan memegang sebelah tangan Lexa. Sementara tangan Lexa yang diinfus bergerak bebas dan menjatuhkan tiang infus. Adam langsung merapihkan infusan dan Zion menahan kaki Lexa.


Yosuke langsung menyuntik Lexa walau sedikit susah karena wanita itu tidak bisa diam.


Setelah disuntik, perlahan Lexa mulai tenang.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Zion.


"Sepertinya dia bermimpi buruk. Efek dari sakit, kelelahan dan banyak pikiran mempengaruhi alam bawah sadarnya. Aku sudah sering bilang padanya untuk tidak terlalu sering nonton film thriller tapi dia tidak pernah mau mendengar!" terang Yosuke.


"Kamu juga Hannie, kalau diajak Lexa nonton film itu, jangan mau. Kamu kan juga suka ngigau kalau sudah kelelahan," lanjut Yosuke.


"Aku tidak seperti itu!"


"Jangan menyangkal, kami mendengarnya sendiri saat kita berlibur ke Cina. Di dalam jet kamu berteriak 'Jangan bunuh aku!' Memangnya siapa yang mau membunuhmu? Tikus?"


☆☆☆


Kondisi Lexa perlahan membaik. David, Hannie dan Yosuke masih berada di rumah Zion. Seperti Zion yang tidak ingin meninggalkan Lexa dengan David, begitu juga David, dia tidak ingin meninggalkan Lexa dengan Zion disaat Lexa sedang sakit seperti ini.


Hannie membuatkan makanan untuk Lexa.


"Kalian sejak kapan disini?"


"Sudah empat hari!"


"Kalian tidak bekerja?"


"Kami bekerja dari sini."


"Kamu dan Yosuke kan, seorang dokter."


"Kamu adalah pasien prioritas kami."


Hannie lalu menyuapi Lexa.


"Aku bisa makan sendiri, Hannie!"


"Sudah diam saja, ayo aku suapi. Kamu harus menghabiskan makanan ini. Aku sendiri yang memasaknya."


Mereka semua makan di dalam kamar itu, termasuk Zion dan Adam.


Apakah sakitnya Lexa telah menyatukan mereka? Tentu saja tidak!


Kemarin saja terjadi suasana tegang. Timnya David-Lexa mengunjungi Lexa bertepatan dengan timnya Zion. Suasana ramai seperti sebuah pesta tapi tidak ada canda tawa.


Mereka membentuk formasi seperti akan berperang. Untung saja tidak ada barang pecah. Mereka hanya saling menyidir.


"Masih saja berharap pada istri orang!"


"Istri, tapi tidak pernah bahagia dengan suaminya!"


"Perusak rumah tangga orang!"


"Sudah punya istri cantik tapi masih saja suka jalan dengan perempuan lain."


"Memangnya tidak bisa mencari perempuan lain, apa?"


"Tentu saja sangat bisa, tapi kalau orang yang setia ya seperti itu. Tidak akan mudah berpaling."


"Cari muka!"


"Dari pada doyan cari mangsa!"


"Tidak tahu diri!"


"Yang tidak tahu diri itu ya orang yang memaksa menikahi seorang wanita yang jelas-jelas tidak ingin menikah dengannya. Hanya mengandalkan perjodohan."


Seperti itulah perang kubu itu. Seperti emak-emak rempong yang sedang saling sindir tentang kejelekan masing-masing lawan.


Para bodyguard yang mendengar sebenarnya mungkin ingin tertawa. Kenapa tuan-tuan mereka bersikap seperti itu? Bukankah sebagai laki-laki seharusnya adu jotos saja dari pada menunjukkan sisi lain mereka yang doyan berceloteh.


Bela diri? Bisa!


Pistol? Punya!


Badan? Kekar


Kekuasaan? Ada!


Hannie yang menjadi satu-satunya perempuan disitu malah sibuk merekam mereka sambil mengemil. Bukan untuk di unggah di internet. Tetapi hanya untuk dijadikan dokumentasi pribadi.


Lexa menonton rekaman yang ada di ponsel Hannie itu.


"Kirimkan rekaman itu ke ponsel aku!"


"Oke!"


Kedua wanita itu menonton video itu tanpa mempedulikan empat pria yang sedari tadi melihat sikap mereka sambil menggelengkan kepala.


Dasar wanita!


Lexa dan Hannie kembali menonton video itu dengan serius seolah itu film yang sangat menarik.


"Kalian tidak bosan menonton itu?"


"Tidak sama sekali. Kami bosan, tidak ada hal yang menarik disini!"


"Kalian bisa menonton film yang lain?"


"Pembunuhan atau hantu?" tanya Lexa antusias.


"Jangan!" jawab semua pria itu serempak.


Lexa mencibirkan bibirnya.


"Aku mau salad buah dan sayur!"


"Aku sudah membuatnya, ada di kulkas!"


Tidak lama kemudian Lexa dan Hannie menikmati salad tersebut dalam mangkok besar sambil kembali menonton film itu.


David tersenyum kecil melihat tingkah dua wanita itu. Sementara Zion menahan tawa.


Yosuke dan Adam? Mereka hanya menghela nafas dan akhirnya ikut menikmati salad dengan potongan roti.