ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
138 PLEASE, JANGAN PERGI



"Dia sadar ... dia bangun!"


Perlahan Lexa membuka matanya, tatapannya kosong, mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Ingatan tentang tragedi di pesta itu berkelebat dalam pikirannya.


Lexa memegang perutnya, dan menghela nafas sesaat, merasa lega karena perutnya masih besar, pertanda bahwa masih ada babynya di dalam sana.


Luka yang dialami Lexa memanglah tidak terlalu besar meskipun dia mendapatkan dua tembakan. Di lengannya dan pundaknya. Keadaan janinya juga baik-baik saja selain Lexa yang merasa syok atas kejadian tersebut.


"Zion dan David?"


Lexa teringat akan kedua pria tersebut, yang sama-sama melindungi dirinya.


"Jangan khawatir, mereka baik-baik saja."


Tapi bohong!


Mereka berdua tidak baik-baik saja. Bagaimana mungkin keadaan mereka berdua baik-baik saja jika terkena beberapa tembakan yang hampir mengenai organ penting mereka.


Tapi bagaimanapun juga, Lexa bukanlah wanita bodoh. Lagi-lagi dia tahu kalau mereka berbohong.


Air mata keluar dari sudut matanya. Lagi-lagi dia harus merasakan hal yang sama. Dulu saat dia kehilangan baby Arion, dia bukan sekedar bermimpi, tapi dia yakin bahwa dia menggendong baby Arion dan mengajaknya bermain.


Lalu kini, lagi-lagi dia merasa yakin bahwa apa yang dia alami bersama Zion dan David itu bukanlah sekedar bermimpi.


Tolong kalian kembalilah.


Air matanya semakin deras keluar. Ada rasa sesak di hatinya, melihat secara langsung pembantian yang terjadi saat itu.


Dua hari kemudian


Lexa melihat keadaan Zion dan David di ruang ICU.


Seperti ini kah yang mereka rasakan dulu, saat aku terbaring koma hingga berbulan-bulan?


"Bangun, Zi. Nanti aku lahiran sama siapa? Kamu harus bangun ... "


Tidak ada reaksi dari Zion.


"Bangun, enggak!"


Lexa menepuk-nepuk lengan Zion.


"Kalau kamu enggak bangun nanti aku cari papi baru buat anak aku. Kamu mau nanti anak kamu manggil pria lain papi?"


Lexa semakin mengguncang-guncang tubuh Zion.


"Sudah, Xa!" ucap Yosuke.


Sudah tiga hari Lexa tidak selera makan, meski orang-orang disekitarnya sudah mengingatkan. Bagaimana mungkin dia bisa makan sementara Zion dan David masih berbaring tak berdaya.


☆☆☆


Dokter berlari menuju ruang ICU Zion. Detak jantung Zion melemah, nafasnya juga putus-putus.


Zion


Zion


Zion


Zion


Dalam hati, Lexa terus menyebut nama Zion di doanya. Haruskah anaknya menjadi yatim saat masih dalam kandungan?


Haruskah dia kehilangan lagi?


Haruskah hanya sampai di sini saja kisahnya dengan Zion?


Lexa memegang tangan Zion dan mengarahkannya ke perut Lexa. Lexa merasakan perutnya yang bergerak sangat aktif, membuatnya sedikit meringis. Cukup lama dia meletakkan tangan Zion, dan baby mereka masih saja bergerak, seolah meminta untuk segera keluar.


"Bangun dong, Zi! Kamu tega banget. Kamu boleh tega sama aku, boleh jahat, boleh marah. Tapi jangan tega dan jahat sama anak kamu!"


Lexa mengguncang-guncang tubuh Zion.


"Kalau kamu ninggalin anak aku, aku bakalan benar-benar nyari papi baru buat dia!" ancam Lexa.


Tidak ada reaksi apapun dari Zion.


Mereka yang menyaksikan itu hanya dapat menahan tangis. Berharap mukzizat itu ada. Berharap kalau Zion dan David kembali sadar. Dulu Lexa sadar setelah berbulan-bulan koma.


"Apa lagu itu sebagai lagu perpisahan kamu, Zi?"


Bahkan bila aku mati, kukan berdoa pada Illahi, tuk satukan kami, di surga nanti ...


Perut Lexa terasa bergejolak. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Yaudah kalau enggak mau bangun, biar Davdav yang jadi papinya!"


Saat Lexa akan beranjak pergi ...


"Ja ... ngannn!"


Jantung Yosuke seakan berpacu, antara bingung, terharu dan senang. Dia menatap yang lain, meyakinkan satu sama lain.


"Zion sadar!"


Lexa kembali menghampiri Zion, mencubit pipi suaminya itu dengan gemas.


"Aku enggak sedang mimpi, kan?" tanya Lexa.


Zion menghela nafas pelan, memandang wajah istrinya itu dengan penuh kerinduan.


"Terima kasih telah kembali dengan selamat."


Bukan Lexa yang mengatakan itu, tapi Zion yang mengatakan itu kepada Lexa dengan suara lirih dan tersendat, juga air mata yang perlahan menetes membasahi pipinya.


Dia benar-benar takut kehilangan Lexa dan terjadi hal yang buruk kepada istri dan calon anak mereka. Jika itu terjadi, rasanya dia tak sanggup hidup lagi.


Rasanya lega saat dia membuka mata, yang pertama dia lihat adalah wajah Lexa dengan perut besarnya.


Besryukur bahwa anaknya juga baik-baik saja.


Ada tangisan syukur, maka ada juga tangisan khawatir.


Dua dari tiga orang kini sudah sadar dan keadaan mereka sudah baik.


Tinggal satu orang.


David


Keadaannya makin hari makin memburuk.


Zion menatap David yang masih setia memejamkan matanya. Di dalam pikiran dan hatinya mengatakan banyak hal.


Cepatlah sadar, jangan membuat Lexa menangis lagi.


Zion mengatur nafasnya. Rasa nyeri di lukanya masih terasa sangat sakit, tapi dia tidak peduli. Dia juga ingin ikut memantau perkembangan David.


Aron, Yosuke, Kenzi, Kenzo, Samuel, Malvin, Ryu, dan Andre juga tak pernah absen untuk berjaga di rumah sakit. Jika bukan mereka, siapa lagi?


Bahkan Hannie dan Lexa juga selalu tidur di rumah sakit, di ruangan VVIP yang sudah menjadi seperti apartemen. Baby Kai dititipkan pada orang tua Lexa.


Orang tua Lexa tentu saja tidak keberatan, karena mereka juga sangat menyayangi Hannie dan David seperti anak kandung mereka sendiri. Jadi baby Kai juga sudah dianggap sebagai cucu mereka.


Apalagi David bisa seperti ini karena melindungi Lexa dan calon cucu mereka. Setiap hari orang tua Lexa dan Zion selalu mengantarkan makanan untuk mereka semua.


Sarapan, makan siang, makan malam beserta cemilan dan minumannya.


Para bodyguard menjaga di setiap sudut rumah sakit dan mereka berpakaian preman.


Ada yang berpura-pura menjadi cleaning service, pasien, security.


David


David


David


David


Lexa juga menyebut nama David dalam doanya. Dadanya terasa sakit melihat keadaan David seperti ini.


"David, tolong kembalilah. Jangan tinggalkan kami. Jangan tinggalkan aku!" Lexa memegang tangan David yang terasa dingin.


Tangan Hannie dan Lexa saling menggenggam, menguatkan satu sama lain. Wajah dua wanita itu sangat pucat, mata mereka bengkak dan merah. Mereka terlihat seperti mayat hidup.


Sudah dua kali Hannie merasakan seperti ini. Dulu saat Lexa terbaring koma, lalu sekarang David.


Rasanya Hannie tidak sanggup lagi menahan ini lebih lama.


David adalah ayahnya, ibunya, kakaknya dan sahabatnya. Dia tidak ingin kehilangan David.


Lexa tak henti-hentinya menangis bersama dengan Hannie. Takut kehilangan orang yang disayangi ternyata seperti ini rasanya.


Ada perasaan tak rela jika harus kehilangan, meski semuanya sudah takdir.


Mimpi buruk ini menyakitkan.