
Tiiittt ... tiiittt ... tiiittt ...
Terdengar suara panjang dari monitor. Dokter dan beberapa orang perawat bergegas ke ruang ICU tempat Lexa berada.
“Tolong tunggu di luar!” perintah dokter kepada mereka.
Belum apa-apa mereka sudah menangis. Wajah pucat dan tubuh bergetar.
Ya Allah, pemilik semesta alam, pada-Mu lah kami memohon pertolongan. Tolong selamatkanlah Lexa. Bukan kami menolak takdir dari-Mu, tapi berikanlah kami kesempatan untuk bersama lebih lama lagi.
Dapat dilihat dari layar monitor kalau detak jantung Lexa telah berhenti. Dokter segera menggunakan defibrilator, berusaha untuk mengembalikan detak jantung itu.
Setelah melakukan beberapa kali menggunakan alat itu, tapi tetap tidak ada tanda-tanda kalau Lexa akan kembali.
Dokter keluar dengan raut wajah yang sudah pasti orang-orang bisa langsung memahaminya, namun menolak untuk mempercayai.
“Maafkan saya, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi pasien tidak dapat diselamatkan. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya."
Tes
Tes
Tes
Tidak perlu ditanya dari siapa air mata itu mengalir.
Hiks
Hiks
Hiks
Tidak perlu ditanya siapa yang menangis pilu.
“Tidak mungkin! Itu tidak benar!”
Juga tidak perlu ditanya siapa yang menolak kenyataan ini.
Mereka langsung menerobos masuk.
Menjerit kesakitan.
Menumpahkan segala kesedihan karena ditinggal pergi begitu saja tanpa ada salam perpisahan. Selama tiga bulan lebih mereka hanya dapat memandangi wajah itu, berharap mukjizat akan datang untuk gadis cantik itu. Tapi nyatanya?
Mungkin saja mereka merasa seperti diberi harapan palsu. Menunggu seseorang untuk pulang namun yang ditunggu ternyata tidak pernah kembali.
Raga yang selama ini mereka ajak bicara tanpa pernah disahuti.
Apa mereka kurang banyak berdoa?
Apa hati mereka kurang khusyuk?
“Lexa, bangun, Sayang. Jangan tinggalkan aku sendiri!”
Zion, mengguncang-guncang tubuh Lexa. Tidak peduli kalau itu menyakiti Lexa. Toh Lexa sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi.
“Lexa, cepat bangun, kataku!”
Zion mengambil tangan Lexa dan menamparkan tangan itu ke wajah Zion. Tapi Zion tidak merasa sakit sedikit pun. Tangan gadis itu sudah terkulai lemas. Tidak akan memberikan rasa sakit untuk Zion.
Bunda Lexa sudah jatuh pingsan sejak tadi.
“Ini pasti mimpi, kan? Tadi aku juga memimpikan kamu, Xa.”
Hannie sudah menangis dalam pelukan Kenzo.
David memukul-mukul dadanya yang sesak.
Tidak ada satupun yang tidak menangis.
Zion masih memeluk tubuh Lexa dengan erat.
Dokter dan perawat sudah ingin melepas alat-alat yang terpasang di tubuh Lexa.
“Tunggu! Apa yang kalian lakukan? Siapa yang menyuruh kalian melepaskannya?” teriak Zion.
Zion mendorong dokter itu hingga terhuyung dan menabrak Andre dan yang lain hingga mereka terjatuh.
“Zion, tenangkan dirimu!” ucap Ronald, mencoba menenangkan putranya.
“Ikhlaskan Lexa, Zion!”
Bagaimana mungkin dia bisa tenang dan ikhlas.
Aku masih memiliki banyak impian yang belum aku wujudkan bersamamu, Lexa! Bangunlah sayang, ayo kita wujudkan semuanya bersama!
“Dia tidak boleh pergi begitu saja!”
Lagi-lagi Zion menolak menerima kenyataan.
Dia kembali mendekap tubuh Lexa.
“Kenapa kamu seperti ini, Xa? Haruskah aku benar-benar menceraikanmu agar kamu mau bangun? Kamu belum mendengar penjelasan dariku. Aku ingin kita menua bersama!”
“Kalau kamu seperti ini, Lexa tidak akan pergi dengan tenang, Zion!”
Zion tidak peduli, dia terus saja berbicara pada Lexa.
“Aku belum mencoba masakan kamu. Kamu juga belum pernah makan masakan aku. Ayo kita piknik lagi seperti dulu!”
Semua alat medis itu masih terpasang di tubuh Lexa.
Dokter dan perawat tidak lagi berani menyentuhnya di saat seperti ini. Mereka sangat mengerti akan duka yang mengisi hati untuk orang yang ditinggalkan. Bukan sekali dua kali saja mereka melihat isak pilu dari keluarga yang ditinggalkan.
Ruangan itu penuh dengan suara tangis.
Pria dan wanita.
Tua dan muda.
Mereka menangisi orang yang sama.
Yang selama tiga bulan lebih terbaring koma namun berakhir dengan kematian. Tiga bulan lebih harap-harap cemas.
Inikah jawaban dari penantian dan doa itu?
Tidak seperti yang diharapkan.
Orang tua yang menangisi anak semata wayang yang pergi mendahului mereka tanpa meninggalkan sebuah kenangan indah.
Suami yang menangisi istri tercinta tanpa diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan terlebih dahulu.
Mertua yang menangisi sang menantu kesayangan yang meninggalkan putra mereka seorang diri.
Semua air mata ini untuk Lexa.
Orang yang berharga dalam hidup mereka.
Kebahagiaan yang dicari.
Namun kesedihan yang menghampiri.
Sesakit ini rasanya ditinggalkan.
Ditinggalkan untuk selamanya.
Berkali-kali mereka menghela nafas.
Air mata dan ingus menjadi satu namun mereka tidak peduli.
Memangnya siapa yang akan memperdulikan penampilan mereka?
Zion mengusap-usap lembut wajah dan rambut Lexa. Berusaha untuk menenangkan. Entah siapa yang berusaha dia tenangkan. Lexa atau dirinya sendiri?
“Ayo bangun Lexa!”
Suaranya sudah sangat serak namun tidak menghalanginya untuk terus berbicara.
David menggenggam tangan Lexa yang sebelah lagi yang terasa sangat dingin dalam genggamannya.
Kenapa seperti ini Lexa?
Tidak tahukah kamu, kami di sini merasa sangat sakit?
Mereka terus saja berdiri. Tidak ada satupun yang beranjak untuk mengurus jenazah Lexa. Masih di dalam kamar itu. Masih menangisi dan meratapi juga berpikir kalau ini hanya mimpi.
Dokter dan perawat juga masih ada di sana.
Aron menepuk-nepuk punggung Zion. Mencoba memberi kekuatan untuk atasan dan juga sahabatnya itu. Aron sangat mengerti apa yang dirasakan oleh Zion. Dia sudah mengenal Zion dan Lexa sejak kecil. Dari dulu hingga sekarang, setiap kali dia bertemu dengan Zion, maka Zion pasti akan selalu bercerita tentang Lexa. Dia sangat tahu seberapa besar Zion mencintai Lexa. Dia juga sangat sedih akan keadaan Zion yang tidak sempat merasakan kebahagiaan bersama Lexa.
Satu-satunya perempuan yang Zion sebut dengan wajah yang cerah dan mata berbinar.
Entah akan seperti apa nanti jadinya Zion setelah ini.
Ditinggalkan karena kematian itu lebih menyesakkan dari pada ditinggalkan karena jarak atau putus.
Ditinggalkan karena jarak, maka kita masih bisa menghampirinya.
Ditinggalkan karena putus, maka masih ada kemungkinan untuk kembali lagi.
Tapi ini?
Aron menggelengkan kepalanya. Mencoba menepis pikiran negatifnya.
“Apa kamu bahagia sekarang, Lexa? Apa kamu bahagia sudah meninggalkan aku sendiri seperti ini? Apa kamu ingat, dulu saat kita masih kecil, setiap kali kita bermain petak umpet maka aku pasti berhasil menemukanmu dengan sangat mudah. Saat kita bermain kejar-kejaran, maka aku juga dengan gampang menangkapmu. Maka tunggulah aku, kita akan bertemu lagi. Bersabarlah!”
Perkataan Zion, bukannya menenangkan yang lain justru semakin membuat dada sesak.
Orang-orang dapat melihat bagaimana ketulusan hati seorang Zion.
Zion mengecup puncak kepala, kening, kedua mata, kedua pipi, hidung dan bibir Lexa seperti yang dia lakukan dalam mimpinya.
Sebuah mimpi perpisahan dari sang istri.
Untukmu istriku
Aku tahu tidak ada yang abadi di dunia ini
Baik itu kebahagiaan ataupun penderitaan
Apa kamu tahu?
Aku bukan hanya berdoa agar kamu bisa menjadi istriku
Tapi aku juga berdoa agar kamulah yang satu-satunya menjadi istriku hingga maut memisahkan
Tapi kenapa harus kamu yang pergi lebih dulu bahkan di saat usia pernikahan kita belum genap satu tahun
Apa kamu takut aku tidak menepati kontrak itu?
Meskipun kontrak itu berakhir dan aku menandatanganinya
Aku akan tetap mencari jalan agar kita selalu bersama
Karena kamu hal terindah dalam hidupku
Aku akan selalu bermimpi tentangmu hingga kita bertemu lagi di surga-Nya
Aku mencintaimu ...
Selalu dan selamanya
♡ THE END ♡
.
.
.
.
Gimana sama ceritanya?
Puas?
Kesel ya? wkwkwk ...
Aku tahu masih banyak kekurangan di cerita ini.
Terima kasih untuk semua pembaca.
Yang sudah like, komen, kasih bintang lima, juga vote.
Jangan dihapus dari favorit ya. Mungkin saja nanti aku mau kasih extra part untuk kalian.
Like n komen yang banyak biar aku semangat kasih bonusnya ... hehehe.
Sekali lagi, jangan dihapus dari daftar favorit.
See you next time