
Lexa memandangi foto-foto mesra Zion bersama seorang wanita. Foto yang nampaknya diambil di waktu-waktu yang berbeda. Wanita itu bukan Tiara.
Jelas sekali kalau mereka sering bertemu. Nampak dari pakaian mereka yang berbeda-beda. Mereka selalu berada di hotel. Hotel yang berbeda-beda juga.
Lexa menatap foto-foto itu dengan sinis. Dia lalu bergegas menuju perusahaan Zion.
Sesampainya di perusahaan Zion, Lexa lalu menuju ruangannya.
"Selamat pagi, Nyonya ... "
Belum sempat sekretaris itu menyelesaikan perkataannya, Lexa sudah terlebih dahulu mendobrak pintu.
Dua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung kaget.
"Pergi kamu! Aku mau bicara dengannya."
Tiara langsung keluar dari ruangan Zion.
"Kenapa ... "
Lexa langsung melemparkan foto-foto itu pada Zion. Zion memunguti foto-foto yang berserakan itu.
"Apa maksudnya ini?" tanya Zion.
"Seharusnya aku yang bertanya, ini apa?"
"Apa ini caramu untuk menjebak aku, Lexa?"
"Apa maksud kamu?"
"Foto-foto ini perbuatan kamu, kan?"
"Untuk apa aku mengirimi foto ini ke diriku sendiri kalau aku yang melakukannya?"
"Bisa saja ini siasat kamu."
Lexa mendengus kesal.
"Tanda tangani surat percerain atau aku sebarkan foto-foto ini!"
"Sebarkan saja, aku tidak takut!"
Lexa meninggalkan ruangan Zion dengan penuh kekesalan.
Sial!
Umpat keduanya bersamaan meski sama-sama tidak saling mendengar.
☆☆☆
Lexa meletakan foto-foto itu di hadapan David. David melihatnya tanpa ekspresi.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan foto-foto itu?"
"Sedang aku pikirkan!"
Dua hari setelah itu, munculah berita tentang perselingkuhan itu. Beritanya sangat heboh.
'MUNCULNYA PIHAK KETIGA DI TENGAH RUMAH TANGGA ANAK PENGUSAHA SUKSES!'
'BELUM SATU TAHUN, PERIKAHAN DUA PEWARIS DIKABARKAN RETAK!'
BRAK!
Kali ini Zion yang membuka pintu ruangan Lexa dengan kasar.
"Jadi kamu benar-benar melakukannya?"
"Apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Pasti kalian kan yang menyebarkan foto-foto itu!"
"Bukan!"
"Jangan menyangkal!"
"Memang bukan!"
"Apa maumu?"
"Cerai!"
"Tidak akan!"
"Jadi apa maumu?"
Lexa balik bertanya.
☆☆☆
Mereka sedang duduk di hadapan para wartawan.
"Apakah benar suami Anda memiliki seorang kekasih?"
"Apa kalian akan bercerai?"
Berbagai macam pertanyaan diajukan untuk Zion dan Lexa.
"Itu tidak benar. Wanita itu atau wanita lainnya bukanlah kekasih saya dan kami tidak akan berpisah!"
"Tetapi di foto-foto itu kalian nampak mesra dan selalu berada di hotel."
"Dia hanyalah teman lama saya. Kami memang beberapa kali bertemu di hotel karena dia selama ini tinggal di London."
"Nona Lexa, bagaimana pendapat Anda!"
"Saya memang sering kali mendapat teror. Saya sering dikirimi foto-foto suami saya dengan banyak wanita."
Lexa menunjukkan wajah kecewa yang berkelas.
Tidak terlihat rapuh maupun sakit hati.
Tidak menunjukkan luka maupun air mata.
"Apa yang akan kalian lakukan jika menjadi saya? Haruskah saya mempertahankan pernikahan ini?"
Bukankah sudah dibilang, pendapat publik itu sangat penting?
"Jadi Anda akan menggugat cerai suami Anda?"
"Di dalam pernikahan itu yang dibutuhkan bukan hanya cinta. Kejujuran, kepercayaan, tanggung jawab dan materi itu sangat penting. Kalian tahu kan bukan kali ini saja suami saya terlibat skandal?"
"Saya bisa menjamin kalau masalah seperti ini tidak akan terjadi lagi. Siapapun pasti ingin menikah sekali seumur hidup. Begitu juga dengan kami. Jika kalian menjadi saya, apa kalian akan melepaskan istri sesempurna ini?"
Berbagai kritikan ditujukan untuk Zion dan berbagai doa dan dukungan diberikan untuk Lexa.
Yang paling berdebar dengan berita ini adalah kedua orang tua mereka.
☆☆☆
"Segeralah punya anak, agar hubungan kalian lebih harmonis!"
"Tenang saja, ayah dan bunda akan segera punya anak. Tapi bukan dari dia, melainkan pria lain!"
"Lexa!"
"Apa? Kamu juga pasti sudah sering kan, menebar benih dimana-mana!"
"Jaga bicaramu dihadapan orang tua kita!"
"Siapa yang tahu apa yang kamu lakukan dengan para perempuan itu."
Bukannya berhenti, Lexa malah semakin memanasi keadaan.
"Bisa saja kamu juga memiliki anak dari perempuan lain yang tidak diketahui oleh orang-orang."
Sumpah, kalau saja dia laki-laki, Zion pasti sudah menghajar Lexa habis-habisan.
"Jangan bicara seperti itu tentang suamimu sendiri, Lexa!"
"Ck, terus saja membelanya. Ayah dan bunda memang tidak peduli padaku."
☆☆☆
"Kerjamu bagus!"
"Tentu saja."
"Jangan sampai ada yang tahu."
"Jangan khawatir, mereka selalu bekerja dengan rapih."
"Jika perceraian itu terjadi, aku akan menambah bagian kamu."
"Terima kasih."
"Lanjutkan rencana berikutnya."
"Baiklah. Kamu tenang saja, tunggu kabar dariku."
☆☆☆
Lexa memutar-mutar kursi kerjanya. Entah sudah berapa banyak foto yang dia miliki.
"Aku akan mentrasfer uangnya, bebaskan wanita itu."
Lexa langsung menutup panggilan telepon itu. Dia tidak langsung membebaskan Delima agar Zion tidak merasa curiga dengan uang pemberiannya.
Selang waktu beberapa hari, berita kebebasan Delima lagi-lagi membuat heboh.
Banyak yang bertanya-tanya apakah Zion sudah mencabut tuntutannya atau adakah orang yang membebaskannya. Kalau benar, lalu siapa orang itu? Mengingat uang lima milyar bukanlah jumlah yang sedikit.
"Jadi kamu mencabut tuntutan kamu?"
"Bukan aku!"
"Lalu bagaimana perempuan itu bisa bebas?"
"Tentu saja membayar lima milyar."
"Darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu?"
"Mana aku tahu!"
Lexa tersenyum sinis.
"Bisa saja kan kamu sendiri yang memberikan uang itu!"
"Jangan asal tuduh, Lexa. Untuk apa aku melakukannya? Memberikan uang untuk membebaskannya lalu uang itu masuk ke kantongku lagi."
"Bisa saja itu tipu muslihat kamu. Bisa juga uang itu kamu berikan untuknya."
"Aku bilang jangan asal tuduh!"
"Kamu juga menuduh aku soal foto-foto itu!"
"Balas dendam?"
"Tidak."
☆☆☆
Sebuah mobil mewah terpakir cantik di pekarangan mansion mewah.
"Ini mobil untuk kamu. Uang kebebasan wanita itu aku berikan untuk kamu dalam bentuk mobil. Kamu suka?"
"Jadi kamu mebelikan aku mobil dari uang gratisan?"
Bukannya senang, Lexa malah terlihat kesal.
Astaga, salah lagi aku? Kenapa dia sensi sekali?
"Nanti aku belikan vila dan jet pribadi untuk kamu."
"Mau meluluhkan aku dengan cara seperti itu? Kamu menyamakan aku dengan wanita-wanitamu itu? Kamu pikir aku sudah tidak mampu untuk membelinya?"
Begini salah, begitu salah. Apa sih maunya?
"Ya sudah, kamu mau apa kecuali cerai?"
Lexa tidak mengatakan apa-apa, dia menuju kamarnya dan meninggalkan Zion yang mengepalkan tangannya dengan geram.
Lexa itu berhati keras. Entah bawaan lahir atau faktor lingkungan. Dia perempuan yang mandiri dan tidak ingin tergantung pada siapapun.
Diluar lingkaran pertemanan Lexa, banyak orang yang penasaran bagaimana david bisa mendekati Lexa.
Baik? Banyak juga yang baik.
Banyak orang yang berusaha mencari tahu tentang David, tapi tidak mendapat hasil. Begitu juga dengan Lexa. Berita tentangnya dan teman-temannya tidak dapat ditemukan. Keprivasian mereka sangat terjaga melebihi seorang selebritis dan presiden.