ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
110 EDISI SPESIAL BOYBAND



Aron, David, Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Malvin, Andre dan Samuel, menunduk menahan malu. Saat ini mereka sedang duduk di dalam restoran namun bukan ruangan privat, tentu saja banyak pengunjung lain yang ada di restoran itu. Seharusnya Hannie juga ada di sana, hanya saja ibu dari baby Kai itu ada jadwal praktek sekarang.


Tidak lama kemudian Zion datang, dia memandang ke arah sembilan pria lainnya sambil menahan tawa, walau sebenarnya dia juga malu.


Maka kini sepuluh pria tampan itu mrnjadi pusat perhatian. Mereka bagaikan boy band yang ingin mengadakan jumpa fans. Zion berdeham saat sudah sampai di meja mereka, lalu dia duduk begitu saja dengan gaya cool dan songongnya.


Pelayan datang memberikan daftar menu pada mereka, yang langsung diusir dengan helaian tangan oleh Samuel.


"Jadi sekarang kita menjadi korban ibu hamil itu lagi?" tanya Malvin.


"Berapa bulan lagi sih dia melahirkan?" Ryu menghela nafas panjang. Hidupnya terasa berat akhir-akhir ini.


"Kalian berencana punya anak satu saja, kan? Aku tidak sanggup jika suatu saat nanti dia hamil lagi." Kali ini Andre yang berkomentar.


"Waktu dulu Hannie hamil, enggak gini-gini amat nasib kita." Kenzi juga ikut nengoceh.


"Wanita hamil hamil apa memang menyeramkan seperti itu?" tanya Samuel.


"Aku jadi takut menikah, mungkin sekaranglah saatnya psikiater berkonsultasi ke psikiater." Tentu saja yang ini diucapkan oleh Yosuke.


"Jomblo ternyata menyenangkan," ucap Aron si jomblo bahagia.


Kenzo tidak berani berkomentar apa-apa, karena dia sendiri sudah memiliki istri. Siapa tahu saja nanti Hannie hamil lagi dan ngidamnya bisa lebih parah dari Lexa. Jadi sebaiknya dia menjaga omongan sebelum karma menghampiri.


David juga diam saja, sambil tetap menunduk malu.


"Ck, bisa diam enggak sih. Yang kalian bicarakan itu istriku, wanita tercantik dan menggemaskan. Penuh pesona dan anggun."


"Ck, sesama pria itu harus kompak," kata Ryu.


"Dih, ngapain aku kompak sama kalian?"


"Lah ini buktinya apa?" Samuel menunjuk kemeja dan dasi yang mereka gunakan.


Ya, betul betul betul ... saat ini kesepuluh pria itu menggunakan kemeja dan dasi warna pink pemberian si ibu hamil yang doyan membuat mereka uring-uringan tapi dia sendiri tertawa bahagia.


Tidak lama kemudian ...


"Loh, kalian juga di sini?" tanya Arkan, rekan bisnis Zion yang juga senior Lexa dan Hannie dan teman satu angkatan David yang waktu itu ikut ngerujak bareng di kantor Zion.


Ini benar-benar memalukan. Restoran ini memang sering di jadikan pertemuan para pebisnis atau hanya sekedar makan siang para pengusaha terkenal.


Arkan sebenarnya ingin ketawa, tapi dia tskut dikeroyok oleh sepuluh pria tampan itu. Para pelayan juga tak henti-hentinya memandang mereka. Merasa beruntung bisa melihat mereka sekaligus. Apalagi pelayan yang tadi ingin memberikan daftar menu.


Orang-orang sebenarnya ingin mengambil foto mereka, tapi takut. Kesadisan Lexa sudah sangat terkenal. Mereka sangat ingat pesan Lexa di acara konferensi pers beberapa waktu lalu, bahwa siapa yang berani mengusik Lexa dan orang-orang di sekitarnya maka akan mendapat balasannya. Apakah mengambil foto mereka termasuk mengusik? Lebih baik mencegah daripada menderita.


Ngomong-ngomong soal Gladis, keluarganya besarnya dinyatakan bangkrut total. Itu disebabkan oleh para investor yang menarik semua saham mereka, rekan bisnis juga membatalkan kerja sama dengan perusahaan keluarganya. Baik sepupu, besan, om, tante ... semua yang ada hubungan dengan keluarga inti Gladis ikut terkena imbasnya. Para investor dan rekan bisnis itu tidak ingin terlihat terlibat dengan keluarga Setiawan, meskipun Zion ataupun Lexa tidak pernah mengancam mereka.


Seperti itulah Lexa bertindak. Bagaimana orang mengusiknya, begitu juga cara dia menghancurkan orang itu. Seperti Arthur, dia ingin melecehkan Karina dan memukul Lexa, maka dia yang menyebarkan video itu. Bukan dengan cara menghancurkan perusahaannya.


Begitu juga dengan Gladis, dia ingin mengkambing hitamkan Zion dan melakukan konferensi pers, maka dengan cara itu juga Lexa menghancurkannya, menyebarkan video yang menjadi bukti di acara konferensi pers yang Gladis sendiri yang mengadakannya. Benar-benar senjata makan tuan untuk kedua orang itu.


Kalau akhirnya perusahaan keluarga mereka hancur, itu hanya efek dari rasa segan para investor kepada keluarga William dan Willson. Apalagi Lexa dan Zion, walaupun masih muda tapi terkenal sadis. Tidak rugi melepaskan investasi di perusahaan lain asal tidak membuat kesal Lexa dan Zion. Lexa tahu jika nama baik sudah hancur, maka perusahaan akan terkena imbasnya. Sekali mendayung dua tiga pulau terlewati. Melakukan hal kecil tapi berakibat fatal untuk lawan-lawan Lexa.


"Kami akan melakukan meeting," Aron akhirnya menjawab pertanyaan Arkan.


Seorang wanita cantik berpakaian putih selutut menghampiri mereka.


"Halo pria-pria tampan, beruntung sekali aku bisa melihat kalian dalam keadaan seperti ini. Apa kalian janjian?"


Tentu saja wanita itu adalah Lexa, kalau bukan, sudah pasti Zion langsung dihajar habis-habisan oleh David cs.


"Beb, rambut kamu lembut dan wangi banget, sih."


"Iya dong. Aku kan sama seperti kamu."


"Kita memang harus memakai sampo dengan bahan khusus yang mahal, diracik oleh para ahli dan dikemas secara higienis. Sampo dengan aroma therapy, menjadikan rambut kita hitam, tebal dan kuat."


Malvin langsung menyumpal mulut Zion dengan tisu, sedangkan Arkan buru-buru ke mejanya yang sudah ada rekan bisnisnya.


Zion kembali akan mengoceh soal sampo yang sering dia banggakan itu.


*Apa dia dibayar untuk mengiklankan samponya itu di hadapan kami?


Memang apa sih merek samponya*?


"Buruan deh meetingnya dimulai."


"Kenapa enggak di kantor atau ruangan privat saja, sih?"


Mereka malu dengan kemeja dan dasi pink yang mereka gunakan. Rasanya ingin cepat-cepat pulang.


Lexa hanya tersenyum melihat sepuluh pria berkemeja dan dasi pink itu. Mereka akan membuka perusahaan baru dimana pemiliknya adalah mereka berdua belas. Hannie yang tidak hadir diwakili oleh Kenzo sebagai suami. Meskipun Kenzo dan Aron hanya sebagai asistan David dan Zion, lalu Hannie dan Yosuke yang sebagai dokter, juga ikut mendirikan perusahaan baru ini.


Siapa yang akan menjadi CEOnya? Jawabannya tidak ada yang mau.


"Aku pria tampan yang terkenal dengan sejuta pesona ini, sangat sibuk. Kalian kan tahu sendiri sudah banyak perusahaan yang kupimpin. 4C saja aku menyuruh sahabatku yang menjadi CEO.Kalau yang ini aku juga CEOnya, berapa banyak lagi wanita yang akan mengejar-ngejarku. Kalian enggak kasihan?"


Cih, kesombongan yang hakiki.


"Dah yang jadi CEOnya Kenzo dan wakilnya Aron," kata Lexa.


"Kenapa aku?" tanya Kenzo.


"Agar kamu bisa membuktikan kepada mereka, kamu bisa menjadi seorang CEO perusahaan besar. Lagian ksmu memang mampu, kan, menjadi seorang CEO. Terus kalau Aron, nanti dia jadi CEO di perusahaan yang satu lagi."


"Perusahaan siapa, Beb?"


"Perusahaan yang baru aku mau buat, Hannie dan Kartika juga terlibat tapi mereka enggak ada yang mau juga jadi CEO. Masa aku? Sudah banyak perusahaan yang aku pimpin, kalau sekarang aku juga yang jadi CEO, berapa banyak lagi wanita tang sirik sama aku. Kalian enggak kasihan?"


Benar-benar pasangan sombong, tapi memang benar sih apa yang dikatakan oleh Zion dan Lexa.


"Kamu kok banyak banget sih Beb bikin perusahaan?"


"Biar ciwik-ciwik tambah iri."


Mereka hanya terkekeh dengan perkataan Lexa.


"Lagian ini janji kami dulu. Dulu aku dan sahabat-sahabatku pernah punya keinginan untuk mendirikan perusahaan bersama, sekaranglah saatnya mewujudkan semua itu."


"Jangan terlalu lelah, Xa. Kasihan kamu dan baby kamu," kata Yosuke.


"Iya makanya Aron aja yang jadi CEO di perusahaan yang ini, dia juga mampu menjadi CEO dan Kenzo di perusahaan yang itu."


Kenzo dan Aron merasa terharu dengan Lexa. Lexa memang bermulut pedas dan kejam pada orang-orang tertentu, tapi dia sangat baik dan perhatian pada sahabat-sahabatnya. Sayang sekali Tiara berpaling dan mengkhianatinya.